"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. liburan ke kampung halaman
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, atau alur cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan
.
Seorang gadis cantik bertubuh mungil sedang mengemas pakaiannya ke dalam koper. Ia berencana untuk liburan ke kampung halaman neneknya yang sudah lama meninggal. Sekaligus menengok rumah warisan yang telah sah menjadi miliknya
"Dira, bunda boleh masuk?" tanya sang bunda Dnegan nada lembut
"boleh bund, masuk aja" ucap gadis itu yang bernama Nadira Slavina
"kamu yakin nak mau menginap dirumah itu?" tanya bunda yang nampak khawatir
"yakin bund, soalnya rumah itu juga udah lama nggak di tempatin. kasian juga simbok Minah kalo disuruh ngurus sendiri" ucap Nadira sambil tersenyum
"maksud kamu? Kamu mau tinggal di sana dalam waktu lama?" tanya bunda agak terkejut
"nggak juga sih bund, selama belum dapet pekerja baru untuk rumah itu aja. Lagian Dira masih bisa ngelanjutin nulis disana juga kan ada sinyal" ucap Nadira
Nadira memang tidak bekerja di sebuah perusahaan sang ayah karena ia tidak tertarik dengan berkas-berkas kantor. Ia memilih menjadi penulis novel bergenre romance komedi atau horor.
Nadira menjadi penulis sejak duduk di bangku kelas satu SMA dan mendapat teman seprofesi bernama Elsa. Elsa sendiri tinggal dikota ini ngekos karena ia yatim piatu
"kamu hati-hati disana nak, ingat kelebihan kamu. Dan jangan sekalipun kamu meninggalkan sholat" pesan bunda
"baik bunda, Dira bakal ingat pesan bunda. Dan do'ain semoga perjalanan Dira lancar ya" ucap Nadira dengan memeluk sang bunda
"oh iya, Elsa jadi mau ikut liburan kesana?"
"jadi bund, kan kita emang amplop sama perangko hehe"
mereka berdua berbincang sebentar sebelum sholat Zuhur dan makan siang. kebetulan Elsa sehabis Zuhur sudah datang kerumah mereka
"jadi gimana nih, kita mau naik bis aja? Nggak nyewa travel aja"? Tanya Elsa sambil mengecek bawaannya, tak ketinggal laptop untuk menulis
"bis aja deh kayaknya, habis itu dari terminal ke desa kita naik ojek. Kalo travel kayaknya nggak sanggup" jelas Nadira
"kenapa emangnya? kata kamu jalannya udah bagus" tanya Elsa penasaran
"yah, kamu tahu sendiri travel sekarang kalo masuk agak jauh dari jalan pasti nggak mau" jawab Nadira
memang Desa Pandan wangi jauh dari jalan tol. Jika warganya ingin keluar maka akan memerlukan waktu empat jam baru ketemu jalan menuju kota. Dulu ketika Nadira masih kecil, mereka naik travel sekeluarga karena belum ada mobil. Dan akhirnya baru masuk gapura si sopir tidak mau melanjutkan karena nanti pulangnya kejauhan.
"ya udah, ini udah aku siapin semua tinggal berangkat deh" ucap Elsa
"ya udah yuk, mumpung masih siang. Nanti kalo kemaleman malah susah" ajak Nadira
"bunda ayah, Dira pamit ya" Nadira menyalami kedua orang tuanya
"Dira, ingat pesan ayah. Kalian Jangan percaya siapa pun kecuali dirimu sendiri. terkadang apa yang terlihat baik belum tentu itu baik. Dan apa yang terlihat buruk itu juga belum tentu buruk. Jangan ceroboh dan terburu-buru. Ingat sandarkan semuanya pada Allah" ucap sang ayah yang membuat Nadira merasa jika liburannya kali ini tidak akan mudah
"baik ayah kami akan ingat pesan ayah, dan sampaikan sama kakak jika ia pulang, Dira akan menginap mungkin paling lama dua minggu" ucap Nadira
"baiklah nanti jika ada apa-apa langsung hubungi kami. Dan jangan lupa juga untuk mengabari kakakmu. Dia akan sangat khawatir karena kamu pergi kesana tanpa dirinya" ucap ayah
Nadira mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Zayyan Bukhori. Sudah menikah dan mendirikan sebuah pondok pesantren di dekat pusat ibukota.
"kami pamit Tante, om, assalamualaikum "
Nadira dan Elsa pergi dengan taksi menuju terminal. mereka tidak lupa untuk berdo'a dan berzikir sepanjang jalan. Elsa sendiri menyadari jika ada sesuatu di kampung halaman nenek Nadira hingga sang ayah memberi pesan yang begitu dalam baginya.