NovelToon NovelToon
Menikahi Perempuan Gila?

Menikahi Perempuan Gila?

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kyky Pamella

"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MPG_31

Setelah memastikan kondisi Raka benar-benar stabil dan sudah diperbolehkan beristirahat tanpa pengawasan intensif, Narendra dan Rayna akhirnya berpamitan untuk pulang. kemarin sesuai arahan dokter keluarga, Raka kembali di bawa ke rumah sakit agar observasi dapat optimal.

Lorong rumah sakit masih berbau khas antiseptik, lampu-lampu putih menggantung dingin di langit-langit, sementara suara langkah kaki perawat dan keluarga pasien lain saling bersahutan.

Rayna menoleh sekali lagi ke arah kamar Raka sebelum pintu lift tertutup. Ada kelegaan di wajahnya, namun juga sisa kecemasan yang belum sepenuhnya luruh. Narendra berdiri di sampingnya, diam, wajahnya tegang seperti menahan banyak pikiran yang berdesakan di kepala.

Begitu mereka tiba di parkiran bawah, Narendra langsung membuka pintu mobil dan mempersilakan Rayna masuk lebih dulu. Mesin mobil dinyalakan, deru halusnya memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka.

Baru beberapa meter mobil melaju, Narendra tiba-tiba mengernyit. Tangannya refleks merogoh saku celana.

“Sial,” gumamnya pelan.

Rayna melirik sekilas. “Kenapa?”

Narendra tidak langsung menjawab. Ia mengambil ponselnya, menekan tombol daya yang sudah berhari-hari tak disentuhnya. Layar menyala. Dalam hitungan detik, ponsel itu bergetar keras terus menerus.

Notifikasi masuk bertubi-tubi. Satu… dua… puluhan… bahkan ratusan pesan dan panggilan tak terjawab memenuhi layar.

Rayna mengangkat alis, setengah geli, setengah heran.

“Buset,” katanya santai namun bernada menyentil, “itu ponsel udah berapa abad nggak dinyalain?” sarkas Rayna

Narendra hanya melirik Rayna sekilas, lalu kembali fokus pada layar ponselnya. Wajahnya menegang saat melihat satu nama yang mendominasi hampir seluruh notifikasi.

Ajeng.

Rayna tentu tahu. Bahkan tanpa perlu bertanya, ia sudah bisa menebaknya. Namun berbeda dengan Rayna beberapa minggu lalu—yang mudah terbakar cemburu dan tersulut emosi—Rayna kali ini memilih diam. Ia menyandarkan punggung ke jok, menatap lurus ke depan.

Perubahan sikap Narendra selama beberapa hari terakhir sudah lebih dari cukup baginya. Narendra lebih hadir, lebih tenang, dan—untuk pertama kalinya—tidak terlihat panik setiap kali ponselnya jauh dari tangan. Itu saja sudah menjadi jawaban sementara yang Rayna butuhkan.

Empat puluh lima menit kemudian, mobil mereka memasuki area parkir Agonda Residence. Lampu-lampu taman menyala redup, angin sore menggerakkan dedaunan palem, menciptakan suasana yang tenang—kontras dengan pikiran Narendra yang semakin kusut.

Mobil berhenti.

“Kamu turun,” ujar Narendra singkat. “Aku langsung ke kantor.”

Rayna menoleh. Nada suara itu dingin, tegas, khas Narendra ketika sedang menghindari sesuatu.

“Langsung ke kantor,” Rayna mengulang, tangannya sudah meraih gagang pintu, “apa langsung nemuin Ajeng?”

Narendra terdiam. Tidak ada jawaban.

Rayna tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip pernyataan ketimbang pertanyaan. Ia membuka pintu dan turun tanpa menunggu respons. Sebelum menutup pintu, ia menatap Narendra sekali lagi.

Pintu mobil tertutup. Narendra terpaku beberapa detik sebelum akhirnya menginjak pedal gas dan melaju pergi.

---

Sementara itu, di kantor Tunggal Jaya Group, suasana terasa tidak biasa sejak pagi. Ajeng sudah duduk di ruang kerja Narendra—ruangan yang seharusnya steril dari siapa pun tanpa izin langsung dari pemiliknya.

Ia duduk di kursi kerja Narendra seolah itu miliknya, kaki disilangkan, mengenakan dress mini ketat berwarna gelap yang menonjolkan hampir seluruh lekuk tubuhnya. Di wajahnya, tersungging ekspresi tidak sabar bercampur ambisi.

Ponsel Narendra kembali bergetar. Nama Ardi muncul di layar.

“Ya, Ar,” jawab Narendra singkat.

“Maaf, Pak,” suara Ardi terdengar ragu, “hari ini Bapak jadi ke kantor, nggak?”

“Ini lagi OTW. Lima belas menit lagi sampai,” jawab Narendra cepat. “Kenapa? Hari ini nggak ada jadwal meeting, kan?”

“Nggak ada, Pak… tapi Bu Ajeng sudah datang ke kantor. Dia sudah sekitar sepuluh menit nunggu di ruang kerja Bapak.”

“Apa?!” suara Narendra meninggi. “Kenapa kalian izinin dia masuk? Kalau sampai ada yang laporan ke Papah gimana?!”

“Maaf, Pak. Saya juga kurang tahu,” jawab Ardi gugup. “Tadi saya lagi nganterin berkas. Pas saya buka pintu, Bu Ajeng sudah ada di dalam.”

“Pastikan dia nggak bikin ulah,” desis Narendra. “Sebentar lagi saya sampai.”

Telepon diputus. Narendra menginjak gas lebih dalam.

“Ya Allah,” gerutunya sepanjang jalan, “masalah apa lagi sih yang harus gue hadapin? Kenapa dia nggak capek-capek bikin hidup gue kayak bom waktu gini?”

Begitu tiba di kantor, Narendra menghentikan mobil tepat di depan pintu utama. Ia melemparkan kunci mobil ke arah satpam tanpa menoleh.

“Siang, Pak,” sapa beberapa karyawan.

Tak satu pun dibalas.

“Pak,” panggil Ardi yang sudah menunggu di lorong loby

“Ajeng masih di dalam?” tanya Narendra tanpa berhenti melangkah.

“Masih, Pak.”

Langkah Narendra semakin cepat. Pintu ruangannya dibuka keras.

Dan benar saja.

Ajeng ada di sana.

“Ngapain kamu di sini?” tanya Narendra tanpa basa-basi.

Ajeng tersenyum manja. “Akhirnya yang ditunggu datang juga. Kenapa sih baru datang langsung marah-marah? Kamu nggak kangen sama aku?”

“Kamu ngapain ke sini, Jeng?” ulang Narendra, suaranya ditekan.

Ajeng berdiri, berjalan mendekat. “Menurut kamu? Kamu sadar nggak sih udah empat hari kamu nggak hubungin aku. Empat hari, Ren! Sejak tiga tahun kita bareng, baru kali ini kamu cuekin aku separah ini.”

“Kamu pasti udah denger soal kecelakaan mas Raka kan?” jawab Narendra dingin. “Aku sibuk ngurusin itu.”

“Ngurusin Raka, ipar kamu itu? atau ngurusin adiknya?” Ajeng menyeringai sinis, “

“Pelanin suara kamu. Ini kantor.”

“Lihat!” Ajeng menunjuk Narendra. “Bahkan kamu nggak ada niat minta maaf.”

Narendra terdiam. Ia sendiri heran. Tidak ada rasa bersalah seperti dulu. Tidak ada dorongan untuk menenangkan Ajeng.

“Perempuan gila itu ngelarang kamu ketemu aku, ya kan?” tantang Ajeng.

“Ajeng, jaga mulut kamu!”

Ajeng tersentak. “Kamu bentak aku karena aku bilang dia gila?”

“Jangan pernah sebut Rayna kayak gitu lagi,” jawab Narendra tegas.

Ajeng tertawa getir. “Kenapa? Karena kamu udah jatuh cinta sama dia?”

“Selama aku sama dia, dia nggak pernah ngejelekin kamu. Aku harap kamu juga bisa.”

“Segitunya kamu belain dia,” suara Ajeng meninggi. “Tiga tahun kebersamaan kita kalah sama satu bulan sama dia? kamu berubah Ren," raung Ajeng

“Aku nggak berubah,” jawab Narendra. “Perasaan aku juga sama.”

“Kalau gitu,” Ajeng menyipitkan mata, “aku mau hari ini juga urus administrasi penthouse. Besok aku harus sudah bisa tempatin.”

Perkataan itu menampar pikiran Narendra. Kata-kata Bagas dan Bayu terngiang.

*Apa Ajeng cuma cinta sama uang gue?*

“Nanti aku suruh sekretaris siapin,” jawabnya datar.

“serius?” mata Ajeng berbinar.

“Iya. Sekarang keluar lewat pintu belakang. Aku nggak mau ada yang lihat.”

“Aku pacar kamu, bukan simpanan!”

“Semua orang tahu aku sudah menikah,” balas Narendra tajam. “Di mata mereka, aku suami Rayna.”

“Aku bakal bunuh istri kamu itu!”

“AJENG!” pekik Narendra. “Jaga mulut kamu!”

“Kamu jahat!”

“Aku capek,” suara Narendra melemah. “Tolong jangan bikin ribut.”

“Pilih aku atau dia!”

“Jeng, please—”

“PILIH SEKARANG!”

“Maaf, Pak,” suara Ardi terdengar dari pintu. “Pembicaraan Bapak terdengar keluar.”

Narendra menatap Ajeng tajam. “Keluar.”

“Aku nggak akan pergi sebelum kamu pilih.”

“Dalam hitungan ketiga,” suara Narendra dingin dan berbahaya, “kalau kamu masih di sini, pembelian penthouse batal.”

Kepalan tangannya mengeras. dan jelas saja Ajeng lenih memilih melangkah pergi dari pada ia harus kehilangan hunian impian nya

Sementara itu, di Agonda Residence, Rayna berdiri di balkon, menatap langit sore. Dadanya naik turun, tapi matanya tegar.

“kali ini aku nggak akan kalah,” bisiknya. “Bukan sama dia. atau sama siapa pun.”

Dan untuk pertama kalinya, Rayna tahu—dia siap melindungi apapun yang menjadi miliknya meski harus berdarah-darah.

1
Isti Qomah
cerita nya tanggung
Kyky Pamella: sabar next part ya kak ☺
total 1 replies
Rika Pulungan
up
Kyky Pamella: sudah dong ☺
total 1 replies
Shinta Apriyani
👍👍
kalea rizuky
cerai aja Reyna laki bloon
Kyky Pamella: sabar kak 🤭
total 1 replies
Wina Yuliani
aku harus apa? mau sedih tp malah pengen ngakak, tp takut dosa sih 😁
Kyky Pamella: ngakak aja kak, aku temenin 🤣🤣
total 1 replies
kalea rizuky
harusnya ketauan biar raka tau kelakuan adek. ipar nya
Kyky Pamella: sabar kak, nanti tamat kalau langsung ketahuan 😁
total 1 replies
kalea rizuky
cweknya oon baru gini di ewe mau dih GIBLOK
kalea rizuky
suami goblok ya di buang ya kali di piara soryy ya Thor MC mu menye menye
kalea rizuky
goblok harusnya biarin aja mama mu tau kelakuan mantu yg dia pilih. oon
kalea rizuky
laki goblok
Atin Supriatin
mampir
Wina Yuliani
eng ing eng di gantung nih kita, kayak jemuran yg gk kering kering
plisss dong kk author tambah 1 lagi
Nurhartiningsih
woilahhh ..knp rayna??
lovina
kirain cwenya hebat taunya luluh jg bego...pasaran ceritanya..kirain beda..bkn hasil dari otak author haisl baca2 novel lain🤣, dan ini semua para author lakukan..
PanggilsajaKanjengRatu: coba baca punya aku kak, Siapa tau gak pasaran🤭 judulnya “Cinta Yang Tergadai ” ada juga soal cinta virtual yang berhasil ke pelaminan “Akara Rindu dalam Penantian”
total 1 replies
Nurhartiningsih
baru awal baca udah nyesek
Wina Yuliani
seru.... ceritanya ringan tp bikin gereget, penasaran, ada sedih tp ada manis manisnya juga, gaskeun lah pokonya mah 👍👍👍👍
Wina Yuliani
rayna yg di kasih kartu aku yg ikut kelepek2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!