Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.
Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.
Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.
Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
"Ian, Nathan, jangan sakiti dia ya. Dia masih belum tau dunia luar," ucap Natalie.
Keduanya tak menjawab. Mereka hanya diam. Nathan menarik tubuh Natalie agar bersandar padanya, tak lupa ia memberikan jaket yang di bawanya. Karena ia tau, Natalie pasti nggak akan bawa jaket kalau keluar malam. Sedangkan Fabian, ia mengusap-usap rambut halus Natalie. Memberikan ketenangan dan kehangatan untuk sahabatnya itu.
Usapan demi usapan membuat Natalie terkena dalam tidurnya. Matanya susah tak sanggup lagi untuk terbuka. Tubuhnya terlalu lelah melewati hari yang begitu berat.
Nathan menggendong tubuh Natalie. Mereka membawa Natalie pulang ke rumah Nathan. Karena tak mungkin kalau mereka membawa Natalie ke rumah Fabian—dengan kondisi rumah Fabian yang sama-sama berantakan.
Beruntung keduanya tadi bawa mobil, jadi lebih mudah membawa Natalie. Dan malam ini juga Fabian memang berencana untuk. menginap di rumah Nathan. Jadilah mereka berdua langsung meluncur ke rumah Nathan.
Sesampainya di rumah Nathan, Fabian berganti menggendong Natalie. Sedangkan Nathan membukakan pintu untuk mereka. Di dalam ketiganya di sambut oleh kedua orang tua Nathan dan adiknya.
"Yaampun, Nathan, Fabian. Itu Natalie kenapa …?" tanya bunda Nathan khawatir.
"Nggak apa-apa kok tante. Tadi Nata ketiduran, jadi kami bawa ke sini," ucap Fabian.
"Yaudah, bawa ke kamar Nathan aja kalau gitu."
Fabian membawa Natalie ke kamar Nathan. Sedangkan kedua orang tua dan adiknya Nathan menginterogasi anaknya di ruang tamu.
Di dalam kamar, Fabian menyelimuti Natalie dengan lembut. Ia meraih tangan Natalie yang memerah. Matanya menelusuri ke sekeliling kamar mencari kotak p3k, namun tak ia temukan.
"Bentar ya princess. Gue mau cari obat dulu untuk tangan, lo." Fabian mengecup pelan tangan Natalie, sebelum akhirnya menaruh tangan itu dengan pelan.
......................
Di ruang tamu, Nathan menjelaskan semua yang sudah terjadi pada Natalie. Respon mereka sama seperti Nathan dan Fabian yang di ceritakan langsung oleh Natalie.
"Kok ada ya orang kayak gitu. Kejam banget sumpah," geram Nara.
Suara ketukan sepatu menggesek lantai terdengar menggema di seluruh ruangan. Yang ada di ruang tamu, menoleh ke arah sumber suara. Di sana terlihat Fabian yang berjalan ke arah mereka.
"Tante, ada kotak p3k nggak?"
"Ada, bentar ya."
Fabian ikut bergabung dengan mereka di ruang tamu, sambil menunggu bunda Nathan mengambil kotak p3k.
"Gimana Nata? Kebangun nggak?" tanya Nathan bertubi-tubi.
"Tidurnya nyenyak, nggak akan bangun. Kayaknya dia kecapean, deh. Ini juga gue mau obatin tangannya," jawabnya.
Nathan menepuk jidatnya, meringis pelan. "Gue lupa kalau tangan Nata luka, astaga!"
"Fabian, ini kotak p3k-nya."
"Makasih, tan. Kalau gitu aku pamit ke kamar Nathan dulu ya, om,, tan."
"Kita ikut!" kata bunda Nathan.
Akhirnya semuanya ikut ke kamar Nathan, kecuali ayah Nathan tentunya.
"Astaga, itu kenapa kok bisa luka gitu?" tanya bunda Nathan.
"Bundaku yang cantik…, kan tadi udah Nathan ceritain," ucap Nathan yang gemas dengan bundanya itu.
"Sini Fabian biar tante aja yang obatin, kalian mending istirahat. Untuk malam ini kalian bisa tidur di ruang tamu dulu, soalnya kamar tamu lagi di perbaiki," kata bunda sambil membalut luka di telapak tangan Natalie.
"Iya, tan/bun," jawab keduanya kompak.
......................
Di sisi lain, di rumah Dewi, Nisa diam-diam mengintip ke luar saat melihat kepergian Natalie. Ia bahkan merekamnya untuk barang bukti yang akan ia kirimkan ke neneknya dan kedua orang tua mereka.
"Rasain, kamu. Aku aduin ke mama, papa, sama nenek sekalian. Biar kamu habis di marahin sama mereka," ucap Nisa dengan licik.
Nisa bersorak kesenangan saat mereka langsung membalas pesannya. Dengan senyum licik, nisa menaruh handphonenya.
"Ini baru awal, Natalie," gumamnya.
......................
Pagi telah datang, suasana di rumah Nathan begitu ramai.
"Nata, nanti lo berangkat ke sekolah sama gue ya," kata Fabian seraya memakan nasi goreng.
"Gue nggak sekolah," ucapnya santai.
"Lah, kenapa? Lo emang nggak kangen sama temen-temen centil lo itu?" tanya Nathan.
Sepertinya mereka sudah melupakan cerita Natalie semalam.
"Kan sekarang kembaran gue yang akan gantiin gue sekolah. Sedangkan gue akan gantiin dia homeschooling."
"Astaga, gue lupa," ringis Nathan.
"Jadi lo mau ke mana bentar lagi?"
"Pulang."
Selesai makan mereka berangkat masing-masing ke tempat yang akan di tuju. Berhubung Natalie semalam bareng Nathan dan Fabian, sekarang pun yang mengantarnya pulang mereka berdua. Sungguh perhatian sekali mereka. Rasanya kayak di treat like a princess.
"Nata, jangan lupa kabarin kita ya. Inget, jangan di matiin lagi hp-nya," peringatan Nathan.
"Iya…, udah sana kalian berangkat. Entar terlambat lagi," usir Natalie.
"Bye, princess!" teriak keduanya dengan lantang, membuat Natalie tak kuat menahan senyumnya.
Natalie masuk ke dalam rumah tantenya. Di dalam ia melihat Nisa yang masih belum berangkat ke sekolah, bahkan dia masih memakai baju rumah.
"Kok lo belum berangkat?" tanya Natalie heran.
"Seragamnya? Kan kamu yang punya seragamnya dan lagi, aku nggak tau di mana sekolah kamu. Jadi kamu harus anter jemput aku setiap harinya," ucap Nisa enteng.
Bener juga, pikirnya.
"Lo tunggu sini bentar." Natalie pergi ke kamarnya untuk mengambil peralatan sekolah serta seragamnya.
Di depan lemari, Natalie mengamati seragamnya sangat lama. Ada rasa tak rela dalam dirinya untuk memberikan seragam itu pada Nisa.
Drrtt … Drrtt …
"Mama," gumamnya.
"Halo, ma."
"Natalie, kamu mulai sekarang nggak perlu sekolah lagi. Kamu harus jaga Nisa dua puluh empat jam. Awasi dia, jangan sampai lecet sedikitpun. Apapun yang Nisa inginkan, kamu turuti."
"Tapi, ma. Bukannya kemarin mama bilang kalau aku haru gantiin Nisa homeschooling? Kenapa tiba-tiba berubah?"
"Mama udah izin cuti selama satu tahun. Jadi kamu nggak perlu gantiin Nisa atau apapun itu. Lagian, pelajaran yang kamu pelajari sama apa yang Nisa pelajari jauh berbeda. Kamu nggak akan bisa."
"Tapi—"
"Udah deh, kamu itu jangan kebanyakan protes. Nurut aja kenapa, sih."
"Maaf, ma."
Sambungan terputus. Natalie menghela napas berat. Lagi, lagi-lagi ia harus mengalah.
"Yaudah lah, mending gue ke sekolah sekarang"
"NATALIE, KAMU NGAPAIN AJA SIH. LAMA TAU NGGAK!" teriakan. Nisa terdengar sampai kamarnya.
"Nggak bisa sabar dikit apa. Heran gue," cibir Natalie.
Ia buru-buru mengemasi semua barang-barangnya, berdoa semoga Nisa nggak tantrum di bawah sana. Jujur, ia tuh capek sebenarnya. Tubuhnya butuh istirahat. Tapi realita kembali membuatnya tertampar.
"Kamu tuh ngapain aja sih di kamar lama banget. Lihat tuh, jam-nya udah mepet. Kamu mau. Aku terlambat ke sekolah hari pertama? Emangnya kamu mau tanggung jawab kalau aku di hukum?" omel Nisa.
"Ya, maaf. Nih, barang-barangnya."
Nisa mendengus kesal, mengambil barang-barangnya dengan kasar. Melengos begitu saja tanpa mengucapkan apapun.
Natalie memandang sebal kepergian Nisa. "Masih untung gue kasih tuh seragam."
"Nata, kamu udah makan apa belum?" tanya Dewi yang kebetulan mau ke dapur.
"Udah kok Tan tadi di rumah Nathan."
"Ooh, gitu. Yaudah Tante mau ke dapur dulu kalau gitu."
"Tan, tunggu!" cegahnya.
"Kenapa?"
"Aku nanti mau ijin cari kerja ya, Tan," ucap Natalie dengan nada pelan, takut Nisa mendengarnya.
"Kamu mau kerja? Ngapain. Emang uang kamu habis atau gimana? Bukannya Sarah ngasih kamu uang kemarin?" tanya Dewi bertubi-tubi.
"Jadi gini Tan. Uang tabungan aku mulai menipis, sedangkan keperluan aku masih banyak. Belum uang untuk bayar sekolah, belum lagi uang untuk cek-up Nisa. Terus masih banyak lagi lainnya. Untuk uang yang Mama kasih, aku putusin untuk nggak gunain uang itu sepersen pun. Ya … meskipun kemarin udah kepotong untuk beli tiket pesawat. Tapi udah aku ganti kok. Jadi uangnya masih utuh," jelasnya panjang lebar.
Hati Dewi tersentuh di buatnya. Ia tersenyum dengan tulus, membelai rambut Natalie.
"Nata, kalau kamu butuh apa-apa kamu bisa kok bilang sama Tante. Lagi pula untuk biaya sekolah dan lain-lain itu nggak seharusnya kamu yang tanggung. Masih ada mama Papa kamu. Tapi Tante juga nggak berhak ngelarang kalau kamu maunya kayak gitu. Tante akan selalu support kamu," ucap Dewi.
Natalie tersenyum haru mendengarnya. Dengan cepat ia memeluk tantenya dengan erat.
"Makasih ya, Tan. Tante memang yang terbaik. Selalu mensupport apapun yang aku lakuin. Aku sayang Tante Dewi."
.
.
.