"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
"Pernahkah kalian menyadari bahwa kemewahan yang paling berharga bukanlah emas atau permata, melainkan kedamaian saat melangkah masuk ke rumah sendiri? Di episode ini, Bima mulai menyadari bahwa ia tidak sedang membangun surga bersama Clarissa, melainkan sedang menggali neraka dalam balutan gaun sutra. Mari kita saksikan bagaimana penyesalan mulai merayap di ulu hati sang tuan yang dulu begitu angkuh."
.
.
Jakarta sedang diguyur hujan deras saat Bima melangkah masuk ke dalam rumahnya. Tubuhnya lelah, pikirannya masih tertinggal di Sukamaju, pada pintu ruko yang dikunci Hana dan tatapan dingin yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ia berharap, saat pintu apartemen terbuka, ia akan menemukan kehangatan yang bisa menghapus rasa sesaknya.
Namun, yang ia temukan justru aroma menyengat dari kotak-kotak makanan katering yang berserakan di atas meja makan marmernya.
"Clarissa?" panggil Bima, suaranya parau.
Tidak ada jawaban. Bima melangkah ke ruang tengah. Ruangan yang biasanya rapi itu kini berantakan.
Bantal sofa berserakan di lantai, beberapa majalah fashion terbuka dengan halaman sobek, dan yang paling membuat mata Bima perih adalah tumpukan baju kotor yang menggunung di atas kursi pijat mahalnya.
"Clarissa!" Bima berteriak lebih keras.
Pintu kamar terbuka. Clarissa keluar dengan mengenakan gaun sutra tipis berwarna merah marun. Wajahnya tertutup masker wajah hijau, dan tangannya sibuk mengikir kuku.
"Astaga, Bima! Bisa tidak jangan berteriak? Aku sedang relaksasi. Seharian ini kepalaku pening memikirkan vendor dekorasi yang menagih pelunasan," sahut Clarissa tanpa dosa.
Bima menahan geram. Ia berjalan ke meja makan, membuka salah satu kotak makanan yang dipesan Clarissa. Isinya adalah steak wagyu yang sudah dingin dan berminyak.
"Kenapa katering lagi? Aku sudah bilang, aku ingin makan masakan rumah. Perutku sedang tidak enak," keluh Bima.
Clarissa memutar bola matanya malas. "Bim, tanganku ini untuk memegang tas branded, bukan memegang ulekan cabai. Kalau kamu mau makan masakan rumah, panggil koki pribadi. Jangan menuntutku. Lagipula, katering itu harganya jutaan, jangan disamakan dengan nasi goreng murahan."
Bima terdiam. Pikirannya melayang pada Hana. Hana yang meski sedang hamil besar, tak pernah membiarkan Bima pulang disambut meja kosong.
Hana akan memasak sop ayam jahe yang hangat atau lodeh kesukaannya. Hana selalu tahu bahwa Bima benci makanan berminyak saat lelah.
Bima menyuap sepotong daging itu, namun rasanya hambar. Rasa hambar yang mengingatkannya betapa hambar pula hidupnya sekarang.
Keesokan paginya, Bima bangun dengan terburu-buru. Ia ada rapat penting dengan investor untuk menyelamatkan saham perusahaannya yang mulai merosot. Ia membuka lemari pakaian, mencari kemeja putih kesayangannya.
Kosong.
Ia mencari kemeja biru. Kosong. Lemarinya hanya berisi jas-jas yang belum dibersihkan.
"Clarissa! Mana kemeja-kemejaku? Kenapa lemariku kosong?"
Clarissa yang baru bangun tidur hanya menggeliat di balik selimut sutranya.
"Oh, itu... sepertinya aku lupa menelepon layanan laundry eksklusif minggu lalu. Bajumu masih di tumpukan kursi ... Itu kan?"
Bima terpaku. "Masih di sana? Seminggu? Clarissa, aku ada rapat satu jam lagi!"
"Ya sudah, pakai saja yang ada. Atau beli baru, apa susahnya?" sahut Clarissa enteng, lalu kembali menarik selimut.
Bima merasakan dadanya seperti meledak. Ia melangkah ke tumpukan baju kotor itu. Di sana, kemeja mahalnya bercampur dengan baju-baju Clarissa yang penuh noda makeup.
Ia terpaksa membawa satu kemeja ke ruang cuci, mencoba menguceknya sendiri dengan tangan yang kaku.
Air dingin menyentuh kulitnya, dan saat itulah air mata Bima nyaris jatuh. Ia teringat bagaimana Hana selalu menyetrika bajunya hingga licin sempurna, menyemprotkan parfum yang menenangkan, dan menyiapkan dasi yang serasi di atas tempat tidur.
"Mas, kemejanya sudah siap. Di kancingnya jangan terlalu kencang ya, nanti sesak," suara lembut Hana terngiang di telinganya.
Kini, ia berdiri sendirian di ruang cuci yang sunyi, mencuci bajunya sendiri sementara istri yang ia puja sebagai dewi sedang mendengkur di kamar.
Saat Bima sedang mengeringkan kemejanya dengan setrika seadanya, ia mendengar suara tawa dari arah dapur.
Ia mengira Clarissa merasa bersalah dan membuatkan kopi. Namun, saat ia keluar, ia melihat Clarissa sedang menelepon seseorang sambil tertawa manja.
"Iya, Sayang... Bima sedang stres berat. Tenang saja, kartunya masih aktif kok. Besok kita jadi ya ke butik itu? I love you."
Bima mematung di ambang pintu. "Siapa yang kamu ajak bicara?"
Clarissa tersentak, segera mematikan ponselnya. Wajahnya berubah dalam sekejap menjadi manis. "Oh, itu... temanku, Sarah. Dia sedang galau, jadi aku menghiburnya."
Bima menatap Clarissa dengan tatapan menyelidik. Ada sesuatu yang tidak beres, tapi energinya sudah habis untuk berdebat.
Ia hanya menatap kemejanya yang tidak terlalu rapi, lalu menatap rumahnya yang terasa seperti sampah mewah.
"Hana tidak pernah membiarkan rumah seperti ini," gumam Bima lirih.
Clarissa mendengarnya. Wajah manisnya berubah menjadi sinis. "Lagi-lagi Hana! Kalau kamu begitu memujanya, kenapa tidak kau susul saja dia ke desa kumuh itu? Kenapa kau masih di sini?"
Bima tidak menjawab. Ia mengambil tasnya dan melangkah keluar tanpa berpamitan. Di jendela yang berdinding cermin, Bima melihat pantulan dirinya. Ia tampak kusam, lelah, dan tidak terurus.
Ia memiliki segalanya, rumah mewah, mobil mahal, dan istri cantik, tapi ia merasa seperti pengemis yang kelaparan akan perhatian.
~~
Rapat hari itu berjalan buruk. Investor merasa Bima tidak fokus. Puncaknya adalah ketika sekretarisnya memberikan sebuah amplop cokelat.
"Apa ini?" tanya Bima.
"Itu tagihan dari detektif Heru yang Anda sewa sebelumnya, Pak. Dan... ada tambahan laporan foto yang dia ambil sebelum kontrak diputus."
Bima membuka amplop itu di dalam mobil saat perjalanan pulang. Di sana ada foto Hana yang sedang tertawa sambil mengelap meja tokonya.
Hana terlihat sangat bahagia. Di sampingnya, dr. Adrian sedang membantu menggendong bayi Saka.
Tangan Bima gemetar. Ia melihat bagaimana Adrian menatap Hana, tatapan penuh lindungan yang dulu harusnya menjadi miliknya.
Bima meremas foto itu. Penyesalan itu kini bukan lagi sekadar rayapan, tapi sudah menjadi cengkeraman kuat di jantungnya.
Ia memilih pulang ke rumah, berharap menemukan kedamaian, namun ia disambut oleh suara musik keras dan Clarissa yang sedang berpesta kecil dengan teman-temannya di tengah kekacauan rumah.
Bima berbalik arah. Ia tidak masuk ke rumah. Ia duduk di tangga darurat, sendirian di kegelapan, menangis tanpa suara sambil memegang kemeja yang ia cuci sendiri pagi tadi.
Neraka itu nyata, dan Bima baru saja menyadari bahwa ia sendiri yang mengunci pintunya dari dalam.
Akankah Bima berani mengusir teman-teman Clarissa dan merapikan rumahnya sendiri?
Ikuti terus kehancuran Bima yang semakin dalam!
...----------------...
To Be Continue ....
Bima semangat 🔥💪🥰