Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pagi itu, suasana di lorong rumah sakit terasa berbeda.
Hari yang selama ini dikhawatirkan sekaligus dipersiapkan oleh Aliya akhirnya tiba.
Meskipun tubuhnya masih terikat pada selang infus dan pemantauan medis, semangatnya untuk menyelesaikan pendidikan tidak padam.
Berkat izin khusus dan koordinasi yang dilakukan oleh keluarga Karadağ, pihak sekolah setuju untuk mengadakan ujian di dalam ruang perawatan.
Dua orang guru pengawas berjalan menyusuri koridor dengan langkah tenang, membawa amplop cokelat besar berisi soal-soal ujian.
Di depan pintu kamar VVIP, Emirhan sudah berdiri menunggu.
Wajahnya tampak tegang, lebih tegang daripada saat ia menghadapi rapat bisnis besar.
"Selamat pagi, Pak, Bu," sapa Emirhan dengan sopan.
"Selamat pagi, Nak Emirhan. Kami di sini untuk melaksanakan ujian bagi Aliya. Apakah dia sudah siap?" tanya salah satu pengawas.
"Dia sudah siap sejak subuh tadi. Silakan masuk," jawab Emirhan sambil membukakan pintu.
Sebelum para pengawas melangkah masuk, Emirhan mendekati Aliya sejenak.
Ia menggenggam tangan gadis itu, memberikan usapan lembut di punggung tangannya.
"Kamu pasti bisa, Aliya. Fokus saja pada soalnya, jangan pikirkan hal lain. Aku akan ada di balik pintu ini sampai kamu selesai," bisik Emirhan dengan penuh keyakinan.
Aliya tersenyum tipis, mengangguk perlahan. "Terima kasih, Emir. Doakan aku ya."
Emirhan kemudian melangkah keluar, menutup pintu rapat-rapat demi ketenangan Aliya.
Ia tidak ingin kehadirannya justru membuat Aliya merasa terbebani atau teralihkan.
Di lorong yang sunyi itu, Emirhan memilih duduk di kursi tunggu tepat di samping pintu.
Ia melirik jam tangannya setiap beberapa menit. Tangannya sesekali membolak-balikkan ponsel, namun pikirannya sepenuhnya berada di dalam ruangan itu.
Baginya, melihat Aliya berjuang untuk masa depannya adalah prioritas utama saat ini.
Di tengah badai keluarga yang baru saja mulai mereda, Emirhan ingin memastikan bahwa satu per satu impian Aliya tetap bisa tercapai, dimulai dari selembar kertas ujian di atas meja rumah sakit itu.
Setelah empat jam yang menegangkan, pintu kamar rawat akhirnya terbuka.
Kedua guru pengawas keluar sambil merapikan berkas ujian ke dalam tas mereka.
Mereka mengangguk sopan kepada Emirhan yang langsung berdiri menyambut.
"Aliya mengerjakan ujiannya dengan sangat baik dan tenang. Kami pamit dulu, besok kami akan datang kembali untuk mata pelajaran selanjutnya," ucap salah satu pengawas sebelum berlalu pergi.
Emirhan menghela napas lega. Ia tidak langsung masuk, melainkan mengambil sebuah bungkusan hangat yang baru saja dikirimkan oleh asisten pribadinya. Dengan senyum lebar, ia membuka pintu kamar perlahan.
Di dalam, Aliya tampak sedang bersandar pada bantal, wajahnya terlihat sedikit lelah namun terpancar raut lega setelah menyelesaikan tantangan hari ini.
"Sekarang waktunya kamu makan, Sayang," ucap Emirhan lembut sambil melangkah mendekat.
Ia menaruh nampan di atas meja lipat Aliya. Aroma harum langsung memenuhi ruangan—aroma rempah dan daging panggang yang khas.
Emirhan sengaja memesan Iskender Kebab dan Baklava manis, makanan khas Turki yang selalu menjadi favorit Aliya.
"Ujiannya sudah selesai untuk hari ini, jadi jangan pikirkan soal angka lagi," lanjut Emirhan sambil memotongkan daging kecil-kecil agar Aliya lebih mudah memakannya.
"Aku tahu kamu sudah bekerja keras selama empat jam tadi. Tubuhmu butuh asupan yang enak agar besok lebih siap lagi."
Aliya menghirup aroma makanan itu, matanya berbinar.
"Terima kasih, Emir. Baunya enak sekali. Kamu benar-benar tahu cara membuat suasana hatiku kembali baik."
Emirhan menyuapi Aliya dengan penuh kesabaran, sesekali menyeka sudut bibir gadis itu dengan tisu.
Di kamar rumah sakit yang putih itu, momen sederhana ini terasa begitu berharga bagi mereka berdua.
Bagi Emirhan, melihat nafsu makan Aliya kembali adalah kemenangan yang lebih besar daripada nilai ujian mana pun.
Suasana di ruang tengah mansion Karadağ terasa mencekam.
Onur duduk di kursi kebesarannya dengan wajah yang dingin dan tak terbaca.
Di hadapannya, Zaenab, Laura, dan Hakan berdiri dengan perasaan tidak menentu.
Zaenab, yang masih merasa memiliki kendali atas hati suaminya, mencoba memperbaiki tatanan rambutnya dan memasang wajah penuh harap.
"Ada apa, Onur? Kenapa kamu memanggil kami secara mendadak seperti ini?" tanya Zaenab dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
"Apakah kamu akan meminta kami kembali ke mansion ini lagi? Kamu tahu, paviliun itu sangat tidak layak untuk kami."
Onur hanya menatapnya datar, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Bukan itu alasannya. Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin aku beritahukan kepada kalian semua."
Tepat saat Onur menyelesaikan kalimatnya, suara pintu besar ruang tengah terbuka.
Ceklek.
Zartan melangkah masuk dengan langkah tegap. Ia tidak mengenakan pakaian mewah, namun aura kepemimpinannya kini terasa sangat kuat.
Tanpa ragu, ia menarik kursi tepat di hadapan Onur dan duduk dengan tenang, menatap satu per satu orang yang ada di ruangan itu.
Hakan, yang sejak awal sudah tidak menyukai Zartan, langsung berdiri dengan penuh emosi.
"Untuk apa kakak perempuan itu di sini, Ayah? Maksudku—si berandalan ini! Kenapa dia berani duduk di meja keluarga kita?"
"Hakan, diam dan hormati kakakmu!" bentak Onur dengan suara yang menggelegar, membuat Hakan tersentak kembali ke kursinya.
Onur kemudian berdiri, meletakkan kedua tangannya di atas meja, dan menatap Zaenab serta Laura yang mulai gemetar ketakutan.
"Dengarkan baik-baik. Mulai hari ini, tidak ada lagi rahasia. Dia adalah Zartan, anak kandungku. Darah daging klan Karadağ yang sah," ucap Onur tegas.
Zaenab dan Laura membelalakkan matanya. Napas Zaenab tercekat, wajahnya yang penuh riasan kini berubah pucat pasi.
Ia menyadari bahwa posisinya kini benar-benar terancam.
Bukan hanya Aliya yang menjadi penghalang rencananya, tapi sekarang muncul seorang putra kandung yang selama ini ia anggap sebagai sampah jalanan.
"Anak kandung? Tidak mungkin. Onur, kamu pasti bercanda!" teriak Zaenab histeris.
Namun, Onur tidak bergeming. "Aku tidak pernah seserius ini, Zaenab. Dan sebagai putra tertua setelah Emirhan, Zartan akan mengambil haknya di keluarga ini. Termasuk hak untuk mengawasi siapa saja yang telah mencoba menghancurkan keluarga kita dari dalam."
Zartan menyeringai tipis, menatap Zaenab dengan pandangan yang membuat wanita itu merasa seolah seluruh kejahatannya telah terbongkar. Permainan di mansion Karadağ kini telah berubah total.
Wajah Onur memerah, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang hampir meledak.
Ia melangkah maju, memperkecil jarak antara dirinya dan Zaenab hingga wanita itu terdesak ke pinggiran meja.
"Dari mana kamu mendapatkan racun itu, Zaenab? Jawab!" suara Onur menggelegar, membuat vas bunga di dekat mereka sedikit bergetar.
Zaenab hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan cepat, air matanya mulai merusak riasan tebal di wajahnya.
Tubuhnya gemetar hebat, menyadari bahwa tembok kebohongannya kini sudah runtuh total di hadapan dua pria Karadağ.
"Jawab!!" Onur menggebrak meja tepat di depan wajah Zaenab.
"Dari dukun yang pernah aku datangi di pinggiran kota," isak Zaenab akhirnya mengaku. Suaranya nyaris hilang karena ketakutan.
Mendengar kata 'dukun', Onur tertegun sejenak. Matanya menyipit, menyadari sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar percobaan pembunuhan terhadap Aliya.
Ingatannya kembali pada saat-saat ia sering merasa linglung dan menuruti semua kemauan Zaenab tanpa alasan yang jelas.
"Dukun?" ulang Onur dengan nada rendah yang mengerikan.
"Jadi kamu juga mendukunkan aku? Kamu menggunakan cara kotor itu untuk mengikatku dan menjauhkanku dari Maria selama ini?"
Zaenab tidak berani menatap mata Onur.
Ia hanya tertunduk sambil terus terisak, yang secara tidak langsung menjadi jawaban pembenaran bagi Onur.
Zartan yang sejak tadi hanya menyimak, kini berdiri dari kursinya.
Ia berjalan perlahan mengitari Zaenab seperti pemangsa yang mengintai buruannya.
"Pantas saja ayahku terlihat seperti orang yang kehilangan jiwanya selama bertahun-tahun. Ternyata kamu bukan hanya seorang pembunuh, tapi juga seorang penyihir pengecut."
"Onur, aku melakukan itu karena aku mencintaimu! Aku takut kehilanganmu!" teriak Zaenab mencoba membela diri.
"Cinta tidak menggunakan racun! Cinta tidak menggunakan sihir!" bentak Onur.
"Kamu telah merusak hidupku, menjauhkanku dari putraku, dan hampir membunuh Aliya. Mulai detik ini, jangan harap kamu bisa menghirup udara kebebasan lagi. Zartan, panggil polisi dan serahkan bukti yang kita punya."
Laura yang melihat bibi nya terpojok hanya bisa membeku di sudut ruangan, menyadari bahwa kekuasaan mereka di mansion ini telah berakhir dengan cara yang paling memalukan.