Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
"Tapi aku... aku belum siap untuk menghadapi orang banyak," ucap Nara dengan suara pelan, menundukkan pandangannya ke arah bunga yang dipegangnya. "Setelah apa yang terjadi kemarin malam, aku merasa belum mampu untuk bertemu dengan banyak orang, Ren."
Rendra mengangguk memahami, ekspresinya tetap penuh perhatian. "Kamu tidak perlu khawatir tentang itu," ucapnya dengan lembut. "Aku tidak akan membawamu ke tempat yang ramai. Aku tahu sebuah tempat yang tenang dan indah, jauh dari kebisingan kota. Hanya ada kita berdua dan alam sekitarnya. Mungkin udara segar dan pemandangan yang indah bisa membantu membuat hatimu sedikit lebih ringan, Nara."
Nara merenung sejenak. Hatinya merasa bingung, di satu sisi dia masih terluka oleh apa yang dilakukan Arga dan merasa tidak berhak mendapatkan perhatian dari orang lain. Namun di sisi lain, ajakan Rendra membuatnya merasa sedikit hangat dan ada harapan bahwa mungkin ada cara untuk melupakan rasa sakitnya meskipun hanya sesaat.
"Baiklah, kalau begitu aku ganti baju dulu ya, Ren."
"Tentu saja, Nara," jawab Rendra dengan senyum hangat, dalam hatinya dia bersorak penuh kemenangan. "Aku tunggu disini saja ya,"
Nara mengangguk dengan senyum lembut sebelum berjalan cepat masuk kedalam rumah. Udara segar di sekitarnya membuat langkahnya sedikit lebih ringan dibandingkan tadi. Dia langsung menuju kamarnya yang semalam dia tinggalkan untuk mengganti pakaiannya.
Setelah mengganti baju, dia berdiri di depan cermin kamar, menatap pantulan dirinya disana. Wajahnya masih tampak sedikit lesu, namun ada kilatan harapan di matanya yang tidak ada kemarin malam. Dia mengambil sweater cream dari gantungan lemari dan memakainya, lalu mengambil potongan bunga mawar merah yang diberikan Rendra dari atas meja dan menyimpannya dengan hati-hati di dalam tas kecilnya.
Nara mengambil napas dalam dan berjalan keluar menemui Bi Imah yang sedang berada di dapur. "Bi Imah, saya mau pergi keluar sama teman. Kalau nanti mas Arga telepon dan nanyain saya, bilang saja saya sedang tidur,"
Bi Imah terkejut saat dia disuruh untuk berbohong, tapi wanita berusia lima puluh tahun itu akhirnya mengangguk, "Baik, Non. Nanti Bibi akan bilang seperti yang Non suruh kalau mas Arga telepon."
Nara mengangguk dan memberikan senyum lembut padanya sebelum berjalan menuju pintu depan. Rendra sudah menunggu di depan mobil dengan tubuh bersandar pada sisi mobil, wajahnya langsung bersinar lebih cerah saat melihat Nara keluar.
"Silahkan, tuan putri," ucap Rendra dengan lembut sambil membuka pintu mobil untuknya.
Nara tertawa kecil mendengar sapaan dari Rendra. "Terima kasih, Rendra,"
Setelah Nara masuk dan Rendra menutup pintunya dengan lembut, dia menyusul masuk ke dalam jok pengemudi dan menghidupkan mesin mobil. Perjalanan awal terasa sunyi namun tidak canggung, Rendra menjaga konsentrasi pada jalanan sambil sesekali menoleh pada Nara yang duduk disampingnya, sementara Nara menikmati pemandangan luar jendela dengan pikiran menerawang, memikirkan nasib rumah tangganya dengan Arga yang kini terasa hambar.
-
-
-
Setelah sekitar satu jam perjalanan, mobil akhirnya memasuki gerbang besar yang dihiasi ukiran kayu elegan. Sebuah villa bergaya kontemporer dengan aksen arsitektur tradisional menghiasi lereng bukit, dikelilingi oleh taman yang terawat rapi dan kolam renang yang airnya jernih memantulkan langit.
"Kita sudah sampai, Nara," ucap Rendra dengan bangga saat dia memarkirkan mobil di garasi yang luas. "Ini villa keluargaku, biasa digunakan untuk berlibur atau menerima tamu penting."
Nara terpana melihat kemewahan tempat itu, mulai dari batu alam yang menghiasi dinding luar hingga taman bunga yang beragam jenisnya. "Ren, ini benar-benar luar biasa... aku merasa seperti sedang berada di resor mewah," ucapnya dengan mata penuh kagum saat turun dari mobil.
Rendra mengambil alih tas kecil ditangan Nara, lalu menggenggam tangan wanita itu dan membimbingnya masuk ke dalam villa. Saat pintu besar terbuka, ruang tamu yang luas dengan langit-langit tinggi dan lantai marmer bersih menyambut mereka. Furnitur mewah dari kayu jati berkualitas tinggi ditempatkan dengan rapi, dan lukisan-lukisan seni yang indah menghiasi dinding. Jendela kaca besar menghadap ke pemandangan kebun teh yang luas dan pegunungan yang menjulang di kejauhan.
"Duduklah, aku akan bawakan kamu minuman hangat," ucap Rendra sambil mengarahkan Nara ke arah sofa besar yang empuk. Tak lama kemudian, dia kembali dengan cangkir teh herbal dan hidangan kecil berupa kue tart buah segar yang dibuat oleh juru masak keluarga mereka.
Nara menatap wajah Rendra cukup lama, "Ren, kenapa kamu sangat baik padaku?"
Rendra terdiam sejenak, matanya menatap dalam kedalam mata Nara. Dia menaruh cangkir teh di atas meja sebelum duduk disamping Nara dengan tenang.
"Karena kamu layak diperlakukan dengan baik, Nara," jawabnya dengan suara lembut namun tegas. "Kamu tidak pantas untuk disia-siakan apalagi sampai dibuat terluka."
Nara terdiam sejenak, matanya menahan air mata yang ingin mengalir. Dia menundukkan sedikit wajahnya dan tersenyum lembut.
"Aku selalu merasa bahwa mungkin aku tidak cukup baik untuk mendapatkan perhatian seperti ini," ucapnya pelan, menundukkan pandangan ke arah cangkir di atas meja. "Buktinya mas Arga sampai mengkhianatiku dengan sekretarisnya, itu berarti aku tidak cukup baik. Mungkin aku belum bisa menjadi istri yang baik baginya."
Rendra menjulurkan tangannya dan menyentuh tangan Nara dengan lembut. "Jangan pernah bicara seperti itu, Nara. Pengkhianatan yang dilakukan Arga bukan karena kamu tidak cukup baik, itu adalah pilihan yang dia buat sendiri. Semua kesalahan ada pada dirinya, bukan padamu."
Rendra menggenggam tangan Nara dengan lembut, membuat wanita itu mengangkat wajah dan menoleh ke arahnya. "Kamu telah melakukan yang terbaik sebagai istri. Kamu selalu mencintainya dengan tulus dan berusaha membuat rumah tangga kalian bahagia."
Dia menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. "Jangan pernah biarkan perilaku Arga membuatmu meragukan nilai dirimu, Nara. Kamu layak mendapatkan cinta yang setia dan tulus."
Nara tersentuh dengan kata-kata Rendra, tanpa sadar air matanya menetes ke pipinya. Rendra dengan lembut menyeka air matanya menggunakan ibu jarinya.
"Aku tahu rasanya sakit, sangat sakit. Tapi percayalah padaku, waktu akan membantu kamu sembuh. Dan selama proses itu, aku akan selalu ada di sini untukmu, sebagai teman, sebagai pelindung, atau dalam peran apapun yang kamu butuhkan." ucap Rendra dengan tulus.
Nara menutup matanya sebentar, merasakan sentuhan lembut Rendra di pipinya yang membuatnya merasa lebih tenang. Dia mengangguk perlahan, lalu mengusap wajahnya dengan tangannya sendiri.
"Terima kasih, Ren," ucapnya dengan suara yang masih sedikit bergetar, memaksakan sebuah senyuman diwajahnya. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku akan menghadapi semua ini tanpa kamu."
Dia melihat ke arah jendela, di mana sinar matahari siang itu mulai menyinari hamparan kebun teh yang luas. Udara segar dari pegunungan masuk melalui celah jendela, membawa aroma khas daun teh dan bunga-bunga yang tumbuh di halaman.
"Tempat ini benar-benar tenang," ucap Nara pelan, matanya tetap terpaku pada pemandangan luar. "Bisa membuatku merasa lebih tenang."
Nara menoleh kearah Rendra yang masih duduk di sampingnya, "Oya, Ren, adikku Tiara ingin berkenalan denganmu. Maukah kamu..."
"Aku tidak tertarik pada adikmu," potong Rendra cepat dan tegas, menatap Nara dengan pandangan yang dalam dan wajah yang lebih serius. "Aku lebih tertarik pada kakaknya, yaitu kamu Nara."
-
-
-
Bersambung...