NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cakrawala

Dua Wajah Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang yang Tercuri

Dua minggu berlalu. Waktu adalah pencuri yang paling lihai. Ia mengambil sela-sela waktu yang seharusnya milik kita, lalu menggantinya dengan kesibukan yang tak berujung. Bagi Aruna, SMA Cakrawala mendadak menjadi tempat yang asing. Lorong-lorong sekolah yang biasanya terasa sempit oleh aroma bensin dari jaket Aska, kini terasa terlalu luas dan sunyi.

Sudah seminggu Aska menjadi bayang-bayang. Ia ada di sekolah, fisiknya duduk di pojok kelas, namun jiwanya seperti tertinggal di tumpukan onderdil bengkel dan dinginnya aspal jalanan.

Aruna merindukan suara mesin motor yang kasar itu; ia merindukan ejekan narsis yang biasanya membuat harinya berwarna. Namun, setiap kali Aruna berangkat sekolah dan berharap menemukan motor butut itu sudah terparkir, yang ia dapati hanyalah barisan mobil mengilap yang bisu.

Aruna memahami, sangat memahami. Ia tahu Aska sedang bertarung dengan waktu demi pengobatan ibunya. Ia tahu setiap tetes keringat cowok itu adalah napas bagi keluarganya.

Namun, memahami bukan berarti tidak merasa sepi. Di tengah kekosongan itulah, Adrian masuk kembali dengan cara yang sama sekali tak terduga.

---

### Wajah Baru Sang Ketua OSIS

Siang itu, kantin SMA Cakrawala sedang riuh-riuhnya. Aruna duduk sendirian, mengaduk-aduk es jeruknya tanpa selera. Tiba-tiba, sebuah kursi di depannya ditarik. Adrian duduk di sana, tanpa buku latihan soal, tanpa bahasan tentang ambisi olimpiade. Ia hanya membawa dua cup es krim cokelat.

"Na, kamu tahu nggak? Aku baru sadar kalau es krim kantin kita rasanya mirip banget sama yang di mall mahal kalau dimakan pas lagi sumpek," ucap Adrian santai, lalu menyodorkan satu cup ke arah Aruna.

Aruna mengerutkan kening, menatap Adrian dengan tatapan sangsi. "Kak Adrian? Kakak kesambet apa? Tadi Pak Irwan nungguin di lab buat bahas materi tambahan, tapi Kakak malah di sini makan es krim?"

Adrian tertawa lepas. Sejak awal, Adrian memang selalu menggunakan aku-kamu saat berbicara dengannya, namun hari ini intonasinya terdengar jauh lebih ringan, seolah beban berat di pundaknya baru saja luruh.

"Aku bilang ke Pak Irwan kalau aku butuh istirahat dari semua urusan akademik hari ini. Aku cuma pengen santai. Kamu mau nemenin aku pergi ke toko buku bekas di pinggir kota sore nanti? Aku lagi cari komik lama buat koleksi, bosen baca jurnal sains terus."

Aruna tertegun. Panggilan "Kak" yang ia lontarkan terasa agak aneh bersanding dengan gaya bicara Adrian yang kini tidak sekaku biasanya. "Tapi... jadwal kita gimana, Kak? Bukannya Kakak yang paling disiplin kalau soal jam belajar?"

"Lupain jadwal sebentar, Na. Hidup itu bukan cuma tentang angka di atas kertas atau piala olimpiade. Aku pengen kita bisa menikmati waktu di sekolah ini dengan lebih manusiawi, seperti yang sering kamu bilang dulu," jawab Adrian sambil menatap mata Aruna dengan hangat.

"Aku nggak mau kamu ngerasa kalau aku cuma cowok membosankan yang nggak bisa diajak bercanda. Jadi, gimana? Kamu bersedia nemenin aku?"

---

Malam harinya, ponsel Aruna bergetar hebat. Grup video call bersama Sasha, Jelita, dan Lulu kembali aktif. Sasha, seperti biasa, memimpin jalannya sidang gosip malam itu dengan sheet mask yang hampir lepas karena ia terlalu banyak bicara.

"Gila! Gue dapet laporan dari anak-anak, lo tadi sore beneran pergi ke toko buku bekas sama Kak Adrian? Pakai mobil dia yang baru?!" Sasha membuka percakapan dengan nada melengking.

"Iya, Sha. Gue juga kaget. Kak Adrian asyik banget tadi. Dia nggak bahas olimpiade sama sekali. Ya emang sih dari dulu dia ngomongnya aku-kamu, tapi tadi tuh pembawaannya beda banget, nggak kaku sama sekali. Gue jadi agak kikuk sendiri," curhat Aruna, merebahkan tubuhnya di kasur.

Jelita yang sedang mengasah pedang kayunya menoleh ke kamera. "Wah, si Ketua OSIS mulai melakukan manuver cerdas ya? Dia tahu cara masuk ke ritme lo. Tapi ya gue akuin sih, Na, daripada lo nungguin si Aska yang kayak hantu, mending sama yang nyata-nyata aja. Setidaknya Kak Adrian ada pas lo lagi butuh temen ngobrol."

"Tapi Aska beneran nggak ada kabar, Na?" Suara lembut Lulu memotong keriuhan.

Aruna menghela napas panjang, menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan berkecamuk. "Nggak ada, Lu. Gue tahu dia lagi berjuang keras cari uang buat ibunya. Gue nggak mau ganggu dia dengan keluhan nggak penting. Tapi jujur, gue ngerasa kehilangan. Di saat Aska seolah menjauh, Kak Adrian malah hadir dengan cara yang... jujur aja, bikin gue ngerasa diperhatiin lagi di sekolah."

---

### Garis yang Berbeda

Esok harinya, saat bel pulang berbunyi, Aruna berniat memberikan kotak makan birunya ke bengkel Aska. Ia ingin kepastian. Namun, saat sampai di gerbang sekolah, ia melihat sebuah pemandangan yang membuat hatinya mencelos.

Aska sedang berada di atas motornya di seberang jalan, memakai jaket hijaunya yang sudah kusam. Ia sedang menerima uang dari seseorang, nampak kelelahan yang luar biasa di wajahnya.

Sebelum Aruna sempat memanggil, motor Aska sudah menderu pergi, melesat membelah kemacetan. Aska bahkan tidak menoleh ke arah gerbang sekolah, seolah dunianya benar-benar sudah terpisah dari hiruk-pikuk Cakrawala.

Di saat yang bersamaan, sebuah mobil putih bersih berhenti tepat di depan Aruna. Kaca jendela turun, memperlihatkan wajah Adrian yang segar.

"Na, kamu mau ikut aku cari udara segar ke taman kota? Aku denger di sana lagi ada pameran bunga musiman, mungkin bagus buat menyegarkan pikiran kamu," ajak Adrian dengan senyum yang begitu sopan namun sangat hangat.

Aruna menatap ke arah jalanan di mana asap motor Aska masih tertinggal, lalu menatap Adrian yang menunggunya dengan sabar. Ada sebuah kehampaan yang menuntut untuk diisi. Aruna merasa bimbang; satu sisi hatinya masih tertambat pada noda oli Aska, namun sisi lain hatinya mulai menikmati kehangatan dan keseruan yang ditawarkan Adrian.

"Ayo, Kak," ucap Aruna akhirnya.

Di dalam mobil yang sejuk, Aruna mencoba tertawa mendengar cerita-cerita lucu Adrian tentang anggota OSIS yang sering bertingkah konyol. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa inilah masa SMA yang seharusnya ia jalani. Menyenangkan, ringan, dan tanpa beban pikiran yang berat.

Namun, jauh di lubuk hatinya, Aruna tetap merasa ada yang hilang. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, Aska sedang berhenti di lampu merah beberapa kilometer dari sana, menatap layar ponselnya yang retak. Di sana tersimpan pesan yang belum sanggup ia kirim: "Na, maaf ya kalau aku terkesan ngilang. Aku lagi berusaha keras biar semua urusan ibu selesai secepatnya. Sabar ya, jangan lupain aku dulu."

Aska menarik gasnya dalam-dalam, menembus debu jalanan dengan mata yang memerah menahan kantuk. Ia tidak tahu bahwa di taman kota sana, Aruna sedang berusaha keras untuk melupakannya dalam tawa yang dipaksakan bersama Adrian.

Aruna merasa sedang ditarik oleh dua gravitasi yang berbeda. Yang satu menjanjikan ketenangan tanpa badai, yang satu lagi adalah badai yang membuatnya merasa lebih berharga meski harus terluka.

Tiba-tiba, Adrian memutar lagu lembut di radio mobil. "Aku harap sore ini bisa bikin perasaan kamu lebih baik, Na."

Aruna tersenyum, tapi pikirannya tetap melayang pada deru motor yang kini makin jauh dari jangkauannya. Apakah ia sedang mengkhianati rasanya sendiri, ataukah ia hanya sedang berusaha untuk tetap bertahan di tengah kesepian yang makin mencekik? Hanya langit sore yang tahu jawabannya.

1
Eti Alifa
bacanya merinding thor....nano2 jg.
Alex
😭😭😭😭
nyesek didada rasanya
Alex
bawangnya terlalu banyak thor😭😭
lanjut thor
minttea_: hehehe, siappp tetep terus dukung author dan baca ceritanya ya😍
total 1 replies
Eti Alifa
bagus bngt ceritanya, sumpah authornya jenius.
👍🏻
minttea_: wow, makasih banyak kak💐✨
total 1 replies
Eti Alifa
asli ceritanya bagus banget👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!