NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29| Usulan Kai

Ruangan kelas di jam kedua begitu berisik, dengan diskusi berkelompok. Jam kosong merupakan surganya para siswa SMA, entah untuk menikmati kegiatan bergosip atau pun bermain game. Karina di samping Aluna terlihat sibuk memperbarui foto profil sosial medianya, sesekali menganggu Aluna yang tampak tengah asik membaca buku novel. Hanya untuk bertanya dari ratusan foto yang diambil saat study tour, foto mana yang paling cantik. Lucunya, setelah Aluna memberikan pendapat. Karina malah memasang foto berbeda, Aluna sontak saja berdecak sebal dan memutar bola matanya.

"Liat gue diam-diam motret si Gavino," kata Karina menunjukkan foto yang ia ambil saat mereka berada di pantai.

"Ya, ya. Simpan aja," sahut Aluna acuh tak acuh, ia kembali fokus pada buku novel di tangannya.

Karina menutup buku novel di tangan Aluna, gadis di sampingnya itu melotot tak senang.

"Lo belum cerita soal apa yang terjadi kemarin, ampek lo jadi bad mood," ujar Karina memicingkan kedua matanya penasaran.

"Zea," jawab Aluna pelan, "dia yang bikin gue bad mood, lo sendiri tau 'kan kalo gue paling nggak suka sama dia."

Kepala Karina mengangguk-angguk mengerti, Aluna jadi kembali mengingat permainan 'truth or dare' yang di mainkan di mobil mini bus. Hingga membuat keadaan satu ruangan menjadi tak nyaman, Gavian memang terlalu blak-blakan mengatai Zea. Apalagi ketika Gavian memintanya memilih antara dirinya dan Jayden, beruntung Jayden tidak begitu terpengaruh dengan keanehan Gavino.

"Lo mau gue tangani si cecunguk Zea itu, huh?" tawar Karina bersemangat sekali, kilatan kelicikan di mata Karina terlihat jelas.

Tidak aneh lagi di mata Aluna, Karina memang tokoh antagonis di dalam novel. Kebencian dan rencana licik sudah mengakar di dalam diri Karina—antagonis, Aluna mengerutkan pangkal hidungnya. Karakter tokoh Zea—protagonis terlampau jauh bergeser, seakan-akan Zea tidak lagi berperan menjadi tokoh protagonis wanita di dalam novel.

Zea yang digambarkan penulis novel memiliki hati yang murni, kebaikan yang tiada matinya untuk orang-orang yang berniat jahat. Seperti tokoh Aluna dan Karina, ia terus memberikan maaf untuk keduanya.

'Ya, itu benar. Zea yang gue liat sekarang malah begitu picik dan licik,  dia bahkan lebih ahli bersandiwara dibandingin sama Karina. Keempat tokoh protagonis pria pun mulai berubah, mereka tidak lagi mengejar-ngejar Zea. Apa semuanya terjadi karena kehadiran gue di sini? Karena gue ngehindar dari alur ceritanya?' Aluna mengigit bibir bawahnya, pandangan matanya tampak kosong.

"Lun!" seru Karina, ia menepuk paha Aluna cukup keras.

Aluna tersentak, menoleh ke samping. Karina mendesah berat, dan tangannya bergerak menunjuk ke arah lorong depan kelas.

"Calon lakik lo manggil lo tuh," sambung Karina, ia menarik-turunkan alis matanya menggoda Aluna.

Aluna tersenyum lebar, ia membuang asal buku novel yang masih ia pegang ke atas meja. Berdiri dan melangkahkan menuju pintu keluar, Jayden ikut mengulas senyum tanpa ia sadari.

"Di kelas lo juga nggak ada gurunya?" tanya Jayden basa-basi, ia juga sudah melihat jika kelas Aluna tidak ada kegiatan ajar-mengajar.

Kepala Aluna mengangguk, "Ya, nih. Gimana sama kelas lo?"

"Lagi kosong juga," sahut Jayden cepat, "mau ke kantin bareng?"

Jayden berdehem kecil, menggaruk leher belakangnya. Aluna mencondongkan tubuhnya ke depan, Jayden membuang muka dengan rona merah di daun telinganya. Aroma parfum manis memasuki indera penciuman Jayden, jakunnya bergulir naik-turun.

"Ayo, kalo gitu." Aluna meraih tangan Jayden, ia lebih dulu berinisiatif menggenggam telapak tangan Jayden.

Darah di tubuh pria jangkung itu berdesir saat telapak tangan Aluna tenggelam tertutupi oleh telapak tangan besarnya, jari jemari lentik yang menelusup mengisi ruas-ruas jemari Jayden yang kosong mengundang perasan menggelitik di perutnya. Jayden melirik ke samping di sela langkah kaki mereka menuju kantin sekolah, kerutan halus di dahi Jayden terbentuk.

Aluna tampak biasa saja, sementara jantungnya berdetak begitu cepat. Ada banyak pertanyaan bergelayut di otak Jayden, entah itu tentang bagaimana perasaan Aluna padanya. Apakah gadis berparas ayu di sampingnya itu juga merasakan debaran jantung sekeras miliknya.

"Kenapa? Kok muka lo makin merah kek gitu, hm?" Aluna merasa ditatap sontak saja mendongak membalas tatapan Jayden.

Jayden terbatuk dua kali, dan menggeleng ringan. Baru saja keduanya melalui tikungan, suara serak keras menghentikan langkah kaki keduanya.

"No, no! Nggak bisa kek gini. Dilarang pegangan tangan di area sekolah." Kai mulai rusuh sendiri bergegas memisah keduanya.

Jayden bergerak lebih sigap dibanding dengan Kai—sahabatnya, ia menarik Aluna untuk berdiri di belakang tubuhnya. Kai berkacak pinggang, menatap garang keduanya. Bagaimana bisa ia terlambat satu langkah dari seorang Jayden, pria yang hanya tahu cara melototi kaum hawa. Lihatlah kemajuan apa yang diperbuat Jayden, sahabatnya yang kaku pada wanita itu telah mampu menggenggam erat tangan wanita.

"Ingat! Berdua-duaan nggak baik, apalagi gandengan tangan," celetuk Kai mengarang cerita. "Aluna Sayang, jangan mau gandengan tangan sama Jayden. Nanti lo dikokop kalo sama dia. Mending sama gue aja."

Jayden menatap tajam sahabat terkutuknya itu, Aluna memutar malas kedua bola matanya.

"Yee! Enak aja kalo lo ngomong. Sama lo gue malah celaka dua belas, bukannya dikokop lagi. Yang ada gue garis dua!" sela Aluna terlalu blak-blakan.

"Hehe..., tau aja lo. Eh, nggak kok. Gue ini cowok baik, nggak bakalan hamidun," tukas Kai setelah terkekeh geli, Aluna bahkan mampu membaca pikiran kotornya.

"Cari cewek lo sendiri sana. Dia punya gue," balas Jayden mengklaim jika gadis yang berdiri di belakangnya itu adalah miliknya.

Aluna merona, ia bahkan mengangguk menyetujui. Ekspresi wajah Kai langsung berubah, ia mendesah frustrasi.

"Mana boleh kek gitu," gumam Kai nyaris berbisik, atensinya bergerak ke arah wajah cantik Aluna.

Dahi Aluna berkerut, tak paham kenapa Kai malah menatapnya aneh seperti itu. Kai berdiri tegap, dan mendesah berat.

"Gini aja deh," ujar Kai lagi, "lo sundul aja 'Big Kai'. Biar gue juga punya kesempatan yang sama buat jadiin lo milik gue. Ayo, sundul Sayang! Sundul!"

Speechless.

Baik Aluna maupun Jayden saling lirik satu sama lain, dengan dahi berkerut. Sebelum atensi keduanya secara serentak menoleh ke depan, di mana Kai merentangkan tangannya dan kedua kelopak mata terpejam. Terlihat pasrah untuk disundul, Aluna merasa penulis novel pasti bukan cuma memberikan sedikit otak pada tokoh Kai untuk berpikir. Tapi benar-benar sama sekali tidak memberikan otak saat menciptakan tokoh Kai, itulah kenapa usulan nyeleneh keluar dari mulut Kai.

Suara tawa yang melambung menyentak ketiga orang yang berdiri di lorong, entah sejak kapan Gavian berdiri tak jauh dari ketiganya. Ia seakan menikmati drama konyol tiga orang di depan sana, Gavian bahkan terbatuk-batuk disertai air mata mengalir di sudut kelopak matanya. Kai membuka kelopak matanya, mendelik kesal Gavian yang menertawakan usaha Kai untuk mendapatkan Aluna.

'Cih! Sialan. Gue malah diketawain sama psikopat Gavino.' Kai memaki dalam diam, mencibir Gavino yang masih tertawa.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!