Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Yang Tinggal Tidak Pernah Mati
Sunyi.
Tidak ada denyut.
Tidak ada ketukan.
Tidak ada suara yang saling bertumpuk.
Semua… berhenti.
Seperti dunia menahan napas.
Menunggu.
Kinasih berdiri di depan cermin.
Namun kali ini—
pantulannya hanya satu.
Tidak berlapis.
Tidak bergerak sendiri.
Hanya—
satu.
Dirinya.
Dengan mata yang setengah hidup.
Setengah… tidak.
“Kalau aku keluar…”
bisiknya lagi.
“…kamu siap tinggal?”
Sunyi.
Namun—
jawaban itu tidak datang dari luar.
Datang dari dalam.
Jelas.
Tegas.
“Iya.”
Bima.
Tidak ragu.
Tidak goyah.
Dan itu—
yang paling menakutkan.
Karena—
tidak ada lagi yang menahannya.
Tidak ada lagi yang bisa menggantikan.
Kinasih menatap pantulannya.
Lama.
Dan untuk pertama kalinya—
ia melihat dirinya.
Benar-benar melihat.
Semua yang sudah terjadi.
Semua yang sudah ia buka.
Semua yang sudah ia izinkan.
Dan—
semua yang tidak bisa dikembalikan.
“Kalau aku keluar…”
bisiknya pelan.
“…mereka ikut keluar?”
Sunyi.
Namun—
jawaban itu datang.
Bukan dari Bima.
Namun dari mereka.
Di dalam.
“Iya…”
Suara itu lembut.
Hampir seperti membujuk.
“…dan kami tidak akan kembali.”
Kinasih menutup mata.
Air matanya jatuh.
Namun—
tidak ada tangisan.
Tidak ada suara.
Hanya—
jatuh.
Pelan.
Ke lantai yang terasa seperti daging.
“Kalau aku tetap…”
bisiknya.
“…semuanya berhenti?”
Kali ini—
Bima yang menjawab.
“Iya…”
Sunyi.
Pilihan itu…
terlalu jelas.
Namun—
tidak sederhana.
Karena—
yang satu menyelamatkan dunia.
Yang satu—
mengorbankan dirinya.
Dan Kinasih—
tidak pernah benar-benar ingin jadi pahlawan.
Ia hanya…
ingin semua ini selesai.
Namun—
tidak semua akhir… bisa dipilih tanpa harga.
“Kinasih…”
Suara Bima melemah.
Seperti waktu untuknya… hampir habis.
“Kamu harus cepat…”
Dinding mulai bergetar.
Pelan.
Lalu—
semakin kuat.
Makhluk-makhluk itu mulai bergerak lagi.
Merayap.
Mengelilingi.
Menunggu.
Tidak sabar.
Karena—
mereka tahu.
Keputusan itu akan menentukan—
apakah mereka bebas.
Atau—
terkunci selamanya.
“Kami menunggu…”
bisik mereka.
Serempak.
Seperti doa.
Seperti ancaman.
Kinasih membuka mata.
Menatap cermin.
Dan—
tersenyum.
Namun—
senyum itu berbeda.
Tidak gelap.
Tidak kosong.
Namun—
tenang.
Sangat tenang.
“Bim…”
bisiknya.
“Maaf ya…”
Sunyi.
Namun—
Bima tidak menjawab.
Karena—
ia sudah tahu.
Apa yang akan ia pilih.
Dan—
ia tidak akan menghentikannya.
“Jangan minta maaf…”
bisiknya pelan.
“…gue di sini.”
Kinasih mengangguk.
Pelan.
Lalu—
ia mengangkat tangannya.
Menyentuh cermin itu.
Dan—
untuk pertama kalinya—
kaca itu terasa hangat.
Bukan dingin.
Bukan mati.
Namun—
hidup.
Seperti…
pintu.
“Kalau aku keluar…”
bisiknya.
“…tutup semuanya.”
Sunyi.
Lalu—
jawaban itu datang.
Pelan.
Namun—
pasti.
“Iya.”
Sekejap—
cermin itu retak.
Halus.
Seperti garis tipis.
Lalu—
melebar.
Dan—
cahaya keluar.
Terang.
Namun—
tidak menyilaukan.
Lebih seperti…
mengundang.
Kinasih menarik napas.
Dalam.
Dan—
melangkah.
Masuk.
Dunia di dalam—
tidak seperti sebelumnya.
Tidak gelap.
Tidak penuh.
Tidak padat.
Melainkan—
kosong.
Putih.
Tenang.
Namun—
di tengahnya—
ada sesuatu.
Sosok.
Bima.
Berdiri.
Menunggu.
Kinasih berjalan mendekat.
Langkahnya ringan.
Tidak ada beban.
Tidak ada suara.
Hanya—
mereka berdua.
Untuk terakhir kalinya.
“Lo beneran…”
bisik Kinasih.
Bima tersenyum.
“Lo juga…”
Mereka berdiri.
Saling menatap.
Tanpa makhluk.
Tanpa suara lain.
Tanpa gangguan.
Hanya—
dua manusia.
Yang tersisa.
“Takut?” tanya Bima.
Kinasih menggeleng.
“Enggak…”
Ia tersenyum kecil.
“…cuma capek.”
Bima tertawa pelan.
“Iya… gue juga.”
Sunyi.
Namun—
sunyi yang berbeda.
Bukan menekan.
Bukan menunggu.
Namun—
selesai.
“Ini terakhir…” kata Bima.
Kinasih mengangguk.
“Iya…”
Ia melihat ke sekeliling.
Kosong.
Putih.
Seperti awal.
Namun—
ini bukan awal.
Ini—
akhir.
“Atau awal yang lain…” bisik Kinasih.
Bima menatapnya.
“Lo yakin?”
Kinasih tersenyum.
“Enggak…”
Sunyi.
Lalu—
mereka saling mendekat.
Tidak menyentuh.
Tidak perlu.
Karena—
ini bukan perpisahan biasa.
Ini—
penggantian.
“Gue tinggal di sini…” kata Bima.
Kinasih mengangguk.
“Dan gue keluar…”
Sunyi.
Namun—
sebelum semuanya selesai—
Kinasih berbicara lagi.
“Bim…”
“Iya?”
“…makasih.”
Bima tersenyum.
“Udah dari awal.”
Dan—
ia mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu—
berhenti.
Kinasih menatapnya.
Lama.
Menghafal.
Untuk terakhir kalinya.
Lalu—
ia berbalik.
Dan—
berjalan.
Menuju cahaya.
Di luar—
rumah itu bergetar hebat.
Makhluk-makhluk itu menjerit.
Karena—
sesuatu sedang berubah.
Pintu-pintu menutup.
Dinding mengeras.
Denyut melambat.
“KEMBALIKAN!”
“MEREKA HARUS KELUAR!”
“JANGAN TUTUP!”
Suara mereka kacau.
Panik.
Marah.
Namun—
terlambat.
Karena—
pintu itu sudah hampir tertutup.
Dan—
dari dalam—
Bima berdiri.
Sendiri.
Menghadap semua itu.
Tidak takut.
Tidak ragu.
Karena—
ini pilihannya.
“Cukup…”
bisiknya.
Dan—
untuk pertama kalinya—
suara itu…
punya kekuatan.
Semua makhluk itu berhenti.
Menatapnya.
Dan—
untuk pertama kalinya—
mereka melihat sesuatu yang tidak bisa mereka lawan.
Kehendak.
Manusia.
Yang memilih.
“Ini selesai…”
lanjutnya.
Dan—
ia mengangkat tangannya.
Dan—
dunia itu mulai runtuh.
Dari dalam.
Pelan.
Namun—
pasti.
Pukul 05.19.
Jam bergerak.
Normal.
Cahaya pagi masuk.
Hangat.
Tenang.
Kinasih terbangun.
Di kamarnya.
Sendiri.
Napasnya teratur.
Matanya normal.
Tidak gelap.
Tidak retak.
Ia duduk.
Melihat sekeliling.
Semua—
kembali.
Cermin utuh.
Dinding biasa.
Tidak ada suara.
Tidak ada bayangan.
Tidak ada apa-apa.
Ia menyentuh dadanya.
Kosong.
Namun—
tidak sakit.
Hanya…
ringan.
“Kamu berhasil…” bisiknya.
Namun—
tidak ada jawaban.
Dan untuk pertama kalinya—
ia benar-benar sendiri.
Tanpa suara.
Tanpa mereka.
Tanpa… Bima.
Air matanya jatuh.
Namun—
ia tersenyum.
Pelan.
Karena—
ini akhir yang ia pilih.
Dan di suatu tempat—
yang tidak bisa dilihat—
yang tidak bisa disentuh—
Bima berdiri.
Sendiri.
Di dunia yang hancur.
Namun—
tidak kosong.
Karena—
sesuatu masih ada.
Satu.
Kecil.
Tipis.
Namun—
tidak mati.
Dan suara itu—
muncul.
Pelan.
Dari kegelapan.
Dari sisa-sisa yang tidak hancur.
Yang tidak ikut.
Yang…
menunggu.
“Aku…”
“…masih di sini.”
Dan—
untuk pertama kalinya—
Bima tersenyum.
Namun—
senyum itu…
tidak lagi miliknya sepenuhnya.