NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Lampu jalanan Jakarta malam itu tampak seperti coretan cahaya yang kabur di balik kaca mobil Bentley yang melaju kencang. Aeryn bersandar pada jok kulit, matanya menatap kosong ke luar, namun pikirannya tertuju pada ponsel di pangkuannya yang tak henti-hentinya bergetar. Notifikasi berita masuk seperti berondongan peluru.

“Skandal Berlian: Putri Mahkota Valerine Jewels Ternyata Anak Narapidana?”

“Aeryn Arkananta: Ratu Baru atau Penipu dari Selokan?”

Foto wanita berbaju oranye dari amplop Bianca tadi terus terbayang. Mata itu. Mata yang sangat mirip dengannya. Aeryn merasa seolah-olah seluruh identitas yang ia bangun selama dua puluh enam tahun terakhir hanyalah lapisan bedak tebal yang kini luntur disiram air kotor.

"Nyonya, kita sudah sampai," suara Hugo memecah keheningan.

Aeryn tidak menjawab. Ia turun dari mobil dengan langkah pelan. Mansion Arkananta yang biasanya terasa megah kini tampak seperti penjara berlapis emas. Ia masuk ke dalam, melewati foyer yang sunyi, menuju ruang makan.

Xavier ada di sana. Duduk tegak di ujung meja kayu ebony yang panjang, menyesap red wine dengan ketenangan yang nyaris menghina kekacauan yang sedang terjadi. Di depannya, sebuah tablet menyala menampilkan tajuk berita utama malam ini.

"Kau terlambat sepuluh menit untuk makan malam," ucap Xavier datar tanpa menoleh.

Aeryn berhenti di ujung meja yang berlawanan. Ia meletakkan clutch peraknya dengan suara debum pelan. "Kau sudah lihat beritanya."

"Sulit untuk melewatkan sesuatu yang sedang dibicarakan oleh seluruh negeri, Aeryn." Xavier menatapnya sekarang. Tatapannya sedingin es, tak terbaca.

Aeryn tertawa kering, sebuah suara yang penuh dengan kepahitan. "Lalu? Kenapa aku masih di sini? Bukankah Arkananta Group tidak mentoleransi cacat pada citranya? Aku sekarang adalah beban. Seorang putri narapidana tidak cocok berada di samping 'The Ice King'."

Xavier meletakkan gelasnya perlahan. "Kau pikir aku serendah itu? Membuang aset hanya karena sedikit kebisingan di luar?"

"Sedikit kebisingan?" Aeryn melangkah maju, suaranya naik satu oktav. "Bianca memiliki dokumen DNA. Dia punya foto ibuku di penjara! Ayahku—maksudku, pria yang kupanggil ayah selama ini—sedang menyiapkan dokumen untuk menghapus namaku dari ahli waris. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan padamu, Xavier. Kontrak kita batal secara alami karena aku bukan lagi pemegang kunci Valerine Jewels."

Xavier terdiam. Ia memperhatikan Aeryn yang napasnya mulai memburu, bibirnya bergetar meski wanita itu berusaha keras menjaga bahunya tetap tegak.

"Duduk, Aeryn," perintah Xavier pelan namun tegas.

"Tidak. Aku akan pergi. Aku akan mencari hotel atau—"

"Aku bilang duduk."

Aeryn terpaku. Otoritas dalam suara Xavier membuatnya menarik kursi dan duduk dengan kasar. Ia menatap meja, enggan melihat mata pria itu.

Xavier mendorong sebuah map biru ke arahnya. "Buka."

Aeryn membukanya dengan tangan gemetar. Isinya bukan surat cerai atau pengusiran. Itu adalah surat tuntutan hukum yang sudah ditandatangani, serta sebuah laporan investigasi privat.

"Apa ini?"

"Tuntutan pencemaran nama baik dan tindakan tidak menyenangkan terhadap Bianca Valerine," jawab Xavier. "Dan laporan itu? Itu adalah audit forensik terhadap laboratorium yang mengeluarkan hasil DNA yang dibawa adikmu ke butik."

Aeryn membaca baris demi baris. Matanya membelalak. "Hasilnya... dipalsukan?"

"Laboratorium itu menerima suntikan dana gelap dari rekening luar negeri milik Kaelan Dirgantara tiga hari yang lalu," Xavier menyandarkan punggungnya, wajahnya tetap datar. "Bianca adalah pion yang berisik, tapi Kaelan adalah sutradara yang ceroboh. Mereka ingin menghancurkan mentalmu agar kau menyerah tanpa perlawanan."

Aeryn menelan ludah. "Tapi foto itu... wanita di penjara itu..."

"Namanya Maryam. Dia memang seorang narapidana, dan dia memang memiliki kemiripan fisik denganmu. Tapi dia meninggal sepuluh tahun yang lalu tanpa pernah melahirkan seorang anak pun," Xavier menatap Aeryn tajam. "Kaelan mencari siapa saja yang bisa menyerupaimu di arsip kriminal hanya untuk menciptakan narasi 'anak selokan' ini."

Aeryn merasakan dadanya sesak. Antara rasa lega yang luar biasa dan amarah yang mendidih. "Kenapa kau melakukan ini? Kau bisa saja diam dan melihatku hancur, lalu mengambil alih Valerine saat sahamnya anjlok."

"Aku tidak suka cara yang kotor, Aeryn. Dan aku lebih tidak suka lagi ketika seseorang mencoba menyentuh barang yang sudah aku beli," Xavier berdiri. Ia berjalan mengitari meja panjang itu, langkahnya pelan, seperti predator yang mendekati mangsa yang terluka.

Aeryn mendongak saat Xavier berhenti tepat di samping kursinya. Jarak mereka sangat dekat. Ia bisa mencium aroma maskulin Xavier—campuran tembakau mahal dan cold air.

"Kau merasa hancur karena kata-kata seorang Bianca?" Xavier bertanya, suaranya rendah.

"Dia menyerang ibuku, Xavier. Dia menghancurkan satu-satunya hal yang kupunya: identitasku."

"Identitasmu bukan ditentukan oleh siapa yang melahirkanmu atau dokumen apa yang dibawa musuhmu ke butik," Xavier mengulurkan tangannya, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Aeryn, memaksanya menatap langsung ke matanya yang gelap. "Identitasmu adalah apa yang kau tunjukkan di depanku sekarang. Seorang wanita yang sanggup melumpuhkan suplai berlian dalam semalam. Itu yang aku nikahi."

Aeryn tertegun. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Xavier.

"Tapi media... mereka akan terus menggali," bisik Aeryn.

"Biarkan mereka menggali lubang mereka sendiri," sahut Xavier. "Besok pagi, tim hukumku akan merilis pernyataan resmi. Kita akan menuntut setiap media yang menyebarkan berita tanpa verifikasi. Dan Bianca? Dia akan belajar bahwa mulutnya adalah liang kuburnya sendiri."

Aeryn merasakan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh satu tetes. Ia merasa sangat rapuh, sangat lelah menghadapi badai ini sendirian selama bertahun-tahun di rumah ayahnya.

Xavier tidak menghapus air mata itu. Ia membiarkannya jatuh, namun cengkeramannya di dagu Aeryn tidak mengendur. Ia seolah ingin Aeryn merasakan kekuatannya.

"Kau tahu apa yang paling menyakitkan bagi orang seperti Kaelan dan Bianca?" tanya Xavier.

Aeryn menggeleng pelan.

"Melihatmu tetap berdiri tegak di puncak, saat mereka pikir mereka sudah mendorongmu ke jurang."

Xavier melepaskan dagu Aeryn. Aeryn merasa seolah ia baru saja mendapatkan napas buatan dari pria yang paling berbahaya di kota ini.

"Makanlah. Kau butuh tenaga untuk besok," ucap Xavier sambil kembali ke kursinya.

"Besok?"

"Ya. Kita tidak akan bersembunyi di sini seperti pecundang."

Aeryn menghapus air matanya dengan kasar, mencoba mengembalikan sisa-sisa harga dirinya. "Apa rencananya?"

"Ayahmu mengundang kita makan malam besok. Katanya, ada hal penting yang ingin ia sampaikan mengenai 'posisimu' di perusahaan. Kaelan dan Bianca pasti akan ada di sana untuk merayakan kemenangan mereka."

Aeryn mengepalkan tangannya di bawah meja. "Mereka pikir mereka akan melihatku memohon ampun."

"Dan mereka akan kecewa," Xavier menyesap kembali wine-nya, senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di bibirnya. Senyum yang menyimpan janji akan kehancuran bagi siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

Xavier berdiri dari meja makan, ia tidak langsung pergi ke kamarnya. Ia berjalan mendekati Aeryn yang masih duduk mematung. Kali ini, ia meletakkan satu tangannya di sandaran kursi Aeryn, mengurung wanita itu dalam dominasinya.

Tanpa ekspresi namun dengan nada yang sangat tegas, ia berbisik tepat di telinga Aeryn.

"Jangan percaya apa pun yang keluar dari mulut ular, kecuali kau sendiri yang memegang buktinya. Besok, kita akan bertemu ayahmu dan menyelesaikan kebohongan ini. Bersiaplah, Aeryn. Kita akan menunjukkan pada mereka bagaimana seorang Arkananta membalas dendam."

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!