Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Motor Arkan baru saja berhenti tepat di depan pagar rumahku. Aku masih merasakan sisa kehangatan dari markas rahasianya, sebuah perasaan yang membuatku merasa dunia tidak terlalu jahat sore ini.
"Makasih, Arkan. Buat semuanya," ucapku sambil melepas helm.
Arkan tersenyum, matanya memancarkan ketulusan yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Sama-sama, Ra. Inget ya, asuransi lo berlaku 24 jam. Kalau butuh apa-apa, telepon gue."
Aku mengangguk kecil dan melambaikan tangan saat ia mulai menjauh. Namun, langkahku terhenti tepat di teras rumah. Getaran di saku rok seragamku terasa berbeda. Bukan notifikasi WhatsApp yang ringan, melainkan getaran panjang dari sebuah panggilan telepon.
Satu nama muncul di layar. Nama yang sudah kuhapus dari daftar kontak, tapi nomornya sudah terpahat mati di ingatanku.
Ayah.
Jantungku yang tadi berdegup hangat karena Arkan, kini mendadak mencelos, dingin dan kaku. Tanganku gemetar saat menggeser ikon hijau.
"Halo?" suaraku nyaris berbisik.
"Nara? Ini Ayah, Nak."
Suara itu. Suara yang dulu selalu membacakan dongeng sebelum tidur, yang kemudian berubah menjadi suara yang paling ingin kulupakan. Suara yang pergi bersama koper-koper besar tujuh tahun lalu.
"Mau apa lagi?" tanyaku datar. Es di hatiku yang mulai mencair karena Arkan, seketika membeku kembali, bahkan lebih tebal dari sebelumnya.
"Ayah... Ayah cuma mau bilang selamat ulang tahun buat lusa nanti. Ayah ada di kota ini, Nara. Ayah mau ajak kamu makan siang. Ada banyak hal yang mau Ayah jelasin tentang... tentang keluarga baru Ayah."
Duniaku serasa berputar. Keluarga baru. Kalimat itu menghantamku seperti godam. Di saat aku baru saja mulai percaya pada laki-laki lagi, di saat Arkan baru saja menunjukkan padaku bahwa "hancur itu tidak apa-apa", Ayah datang untuk mengingatkanku siapa yang menghancurkanku pertama kali.
"Nggak perlu, Yah. Nara sibuk. Nara banyak tugas Kimia," jawabku dengan suara bergetar.
"Nara, Ayah mohon—"
Aku langsung mematikan sambungan telepon itu. Dadaku sesak. Oksigen seolah menghilang dari sekitarku. Aku lari masuk ke dalam rumah, melewati Mama yang sedang menyiram tanaman tanpa sepatah kata pun.
Aku membanting pintu dan merosot di baliknya. Air mata yang selama ini kutahan, yang kupikir sudah kering, luruh begitu saja.
"Bohong," bisikku parau. "Kebahagiaan itu emang beneran jebakan."
Pikiranku langsung tertuju pada Arkan. Aku merasa bodoh karena sempat berpikir dia berbeda. Bagaimana jika Arkan juga sama? Bagaimana jika suatu hari nanti dia juga akan membawa "keluarga baru" dan meninggalkanku di tengah hujan seperti yang Ayah lakukan?
Ting!
Sebuah pesan masuk. Dari Arkan.
Arkan P: Baru nyampe rumah nih. Kok perasaan gue nggak enak ya? Lo oke, kan? Jangan lupa minum susu cokelatnya, Ra.
Aku menatap layar itu dengan pandangan kabur. Jemariku yang tadi ingin membalas dengan kata-kata manis, kini justru mengetikkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang menjadi mekanisme pertahananku selama bertahun-tahun.
Nara: Jangan jemput gue besok. Jangan ke kelas gue juga. Gue mau sendiri.
Aku melempar ponselku ke atas tempat tidur. Aku kembali menjadi Nara yang dulu. Nara yang menarik diri sebelum ditarik paksa. Nara yang lebih memilih datar daripada hancur di akhir.
Sore yang indah itu hancur berkeping-keping. Dan aku, kembali meringkuk di pojok kamar, memeluk luka lama yang ternyata belum benar-benar sembuh.