Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Koper dan Perpisahan
Minggu-minggu terakhir di Blok 4 terasa berjalan lebih lambat bagi Senara. Setelah hiruk-pikuk pengumuman kelulusan, sebuah kesunyian yang asing menyelimuti rumah kecilnya. Tidak ada lagi tumpukan buku latihan soal SMP yang berserakan di meja belajar. Semuanya telah dikemas rapi ke dalam kardus bekas, menyisakan meja kayu yang tampak kosong dan luas.
Senara duduk di pinggir tempat tidurnya, menatap sebuah koper tua berwarna biru kusam yang ia pinjam dari saudaranya. Di dalamnya, hanya ada beberapa pasang pakaian sehari-hari, alat tulis, dan perlengkapan mandi sederhana. SMA Garuda Nusantara telah mengirimkan daftar perlengkapan yang sangat mendetail, namun Senara harus memutar otak untuk memenuhi daftar itu tanpa harus membebani ibunya lebih jauh.
"Nara, ini Ibu belikan sepatu hitam baru. Untuk upacara pembukaan nanti," ujar ibunya, masuk ke kamar dengan sebuah kotak sepatu murah namun bersih.
Senara menerima kotak itu dengan tangan bergetar. Ia tahu ibunya pasti lembur berhari-hari untuk bisa membeli sepatu ini. "Ibu tidak perlu repot-repot... sepatu lama Nara masih bisa dipakai."
"Jangan, Nak. Kamu akan masuk ke sekolah yang besar. Ibu ingin kamu berdiri tegak di sana, sama seperti anak-anak lainnya," ibunya mengelus rambut Senara, matanya menyimpan kesedihan yang coba ia sembunyikan. "Ibu akan kesepian di sini, tapi Ibu tahu ini adalah jalanmu untuk mengubah nasib kita."
Senara memeluk ibunya erat. Di saat itulah, untuk pertama kalinya, Senara merasa takut. Selama ini ia bertarung di medan perang yang ia kenal. Warnet kumuh, perpustakaan sekolah, dan gang-gang sempit Blok 4. Kini, ia akan masuk ke asrama di mana ia tidak bisa pulang setiap hari, di mana ia akan tinggal satu atap dengan orang-orang seperti Bima selama tiga tahun ke depan.
Senara melirik ke arah robot biru yang tergeletak di atas koper, benda itu sudah ia bersihkan hingga mengilap. Ia memasukkan robot itu ke bagian paling dalam kopernya, diapit oleh tumpukan baju, seolah ingin menyembunyikannya dari dunia luar. Bagi Senara, robot itu kini bukan lagi sekedar mainan atau alat, itu adalah jangkar pengingat akan asal-usulnya.
Sementara itu, di kediaman Wijaya, persiapan menuju asrama Garuda dilakukan dengan presisi militer. Dua orang pelayan sedang memasukkan setelan jas khusus, perlengkapan olahraga bermerek, dan gadget terbaru ke dalam serangkaian koper carbon fiber milik Bima.
Bima berdiri di balkon kamarnya, memperhatikan kesibukan itu dengan tatapan kosong. Baginya, pindah ke asrama Garuda bukan tentang kemandirian, tapi tentang perpindahan dari satu sangkar emas ke sangkar emas lainnya. Namun, ada satu hal yang membuatnya bersemangat. Netralitas Medan.
Di asrama nanti, tidak ada supir yang menjemput, tidak ada ayah yang mengawasi setiap geraknya secara langsung, dan yang terpenting, Senara tidak akan punya rumah untuk bersembunyi. Mereka akan berada di bawah radar yang sama, mengonsumsi makanan yang sama, dan bernapas di koridor yang sama.
"Tuan Muda, semua perangkat digital Anda sudah disinkronkan dengan sistem keamanan asrama Garuda," lapor salah satu asisten teknisnya.
"Bagus. Pastikan tidak ada celah di protokol enkripsiku sendiri," jawab Bima. "Aku ingin masuk ke sana dengan tangan bersih."
Bima mengambil sebuah kotak kecil dari mejanya. Isinya bukan alat sadap, melainkan sebuah jam tangan mekanis analog yang sangat mahal, hadiah kelulusan dari ayahnya. Ia memakainya, merasakan berat logam itu di pergelangan tangannya. Kali ini, ia tidak akan mengandalkan frekuensi radio atau peretasan nirkabel yang mudah dideteksi. Ia akan menggunakan pengamatan manual, ia akan mempelajari pola tidur Senara, teman-temannya, dan cara gadis itu menghabiskan waktu luangnya di asrama.
"Kamu tidak bisa terus-menerus memakai topeng di tempat yang mengharuskanmu tinggal selama dua puluh empat jam, Senara," bisik Bima pada bayangannya di kaca.
H-1 sebelum keberangkatan, Senara memutuskan untuk mengunjungi warnet langganannya untuk terakhir kali. Ia berniat untuk berpamitan pada Bang Jaka, pemilik warnet yang sering memberinya diskon waktu internet.
"Wah, si juara udah mau pergi ke asrama ya?" Bang Jaka tertawa sambil menyerahkan segelas es teh manis gratis. "Jangan lupakan warnet butut ini kalau sudah jadi orang hebat nanti."
Senara tersenyum tipis. "Terima kasih sudah membiarkan saya belajar di sini selama ini, Bang."
"Satu saran dariku, Nara," suara Bang Jaka merendah. "Di sekolah asrama itu, yang paling berbahaya bukan pelajarannya, tapi politik di dalamnya. Tetaplah rendah hati, tapi jangan biarkan siapa pun menginjak harga dirimu."
Senara mengangguk. Ia duduk di kursi warnet favoritnya selama lima menit, hanya untuk merasakan aroma kopi saset dan debu CPU yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama tiga tahun terakhir. Ia merasa seolah sedang meninggalkan satu versi dirinya di sini.
Malam terakhir di rumah, Senara tidak bisa tidur. Ia membantu ibunya menyiapkan bahan gorengan untuk besok pagi, pekerjaan terakhir yang bisa ia lakukan sebelum pergi. Mereka bekerja dalam diam, hanya suara pisau yang memotong tempe yang mengisi keheningan malam.
"Nara," panggil ibunya tiba-tiba. "Nanti di sana, kalau kamu merasa berat, jangan dipaksa. Pulanglah, Ibu selalu punya tempat untukmu."
Senara menahan air matanya. "Nara akan baik-baik saja, Bu. Nara akan jadi lulusan terbaik di sana."
Pukul empat pagi, sebuah minibus jemputan resmi dari SMA Garuda Nusantara sampai di depan gang Blok 4. Kehadiran mobil mewah di lingkungan itu membuat beberapa tetangga keluar dari rumah dengan wajah heran. Senara menyeret kopernya perlahan, diikuti ibunya yang membawa tas kain berisi bekal makanan untuk di perjalanan.
Senara naik ke dalam bus, duduk di dekat jendela. Ia melihat ibunya berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan dengan wajah yang mencoba tegar. Saat bus mulai bergerak meninggalkan Blok 4, Senara merasa dunianya baru saja bergeser. Ia melihat deretan toko kelontong, pangkalan ojek, dan tumpukan sampah yang biasanya ia lewati, perlahan menghilang dan digantikan oleh pemandangan kota yang lebih modern.
Di dalam bus itu, sudah ada beberapa siswa lain. Salah satunya adalah seorang gadis berkacamata yang tampak ramah, yang langsung menyapa Senara. "Hai, aku Rika. Kamu dari SMP 12 ya? Senara yang peringkat satu itu?"
Senara tersenyum canggung. "Iya, salam kenal."
"Wah, hebat banget! Kita bakal satu asrama nih selama tiga tahun. Katanya asrama Garuda itu disiplinnya kayak militer, tapi fasilitasnya kayak hotel bintang tujuh," ujar Rika bersemangat.
Senara hanya mendengarkan, namun matanya tetap menatap keluar jendela. Bus tersebut kemudian berhenti di sebuah titik penjemputan elit di pusat kota. Pintu bus terbuka, dan seorang remaja laki-laki dengan koper carbon fiber hitam masuk dengan langkah yang penuh percaya diri.
Bima.
Pandangan mereka bertemu selama satu detik yang terasa abadi. Bima tidak tersenyum, tidak juga mengejek. Ia hanya mengangguk kecil, seolah-olah sedang menyapa seorang rekan kerja, lalu duduk di kursi yang berada tepat di seberang baris Senara.
Bus kembali melaju, kali ini menuju pinggiran kota di mana kompleks SMA Garuda Nusantara berdiri tegak di atas perbukitan. Di dalam kendaraan yang sunyi itu, dua rival ini duduk hanya berjarak satu lorong sempit. Senara dengan koper tuanya dan kenangan tentang ibunya yang menangis, sementara Bima dengan koper mewahnya dan ambisi yang membara.
Persiapan telah selesai. Masa liburan yang tenang telah berakhir. Di balik gerbang asrama yang megah itu, sebuah kehidupan baru telah menunggu mereka, sebuah kehidupan yang akan memaksa mereka untuk melepaskan segala kenyamanan masa lalu dan menghadapi satu sama lain dalam intensitas yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.