"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema dan Langkah Naga {2}
Asap tipis mengepul dari sela-sela baju zirah Juggernaut yang retak, beradu dengan hawa dingin yang memancar dari tubuh Yuuichi. Lorong itu kini hening, hanya menyisakan suara tetesan minyak hidrolik yang jatuh ke lantai vinil yang hancur. Yuuichi melangkah mendekati tubuh raksasa yang membeku itu. Setiap langkahnya terasa berat; penggunaan Tendangan Naga Biru Es baru saja menguras cadangan energinya secara signifikan.
"Peringatan: Energi berada di bawah 20%. Unit memori inti terdeteksi di koordinat sumbu leher belakang. Lakukan pembedahan dalam 30 detik atau sistem peledak otomatis tidak akan bisa dihentikan."
Yuuichi tidak membuang waktu. Ia membalikkan tubuh berat Juggernaut dengan kekuatan fisik murninya. Tangan kirinya memegang tengkuk monster itu, sementara tangan kanannya yang menggenggam katana Nichirin mulai dialiri energi es yang sangat tipis namun tajam secara mikroskopis.
"Tahan napasmu, Miu," gumam Yuuichi.
Dengan presisi seorang ahli bedah, Yuuichi menghujamkan ujung katananya ke celah pelat baja. Kriiiet. Suara logam yang terpotong terdengar ngilu. Ia mengungkit pelat tersebut, menyingkap sebuah kotak hitam kecil yang berkedip dengan lampu merah yang berdenyut cepat.
[ PENGAMBILAN DATA INTI BERHASIL ]
Tepat saat kotak itu terlepas, suara sirine darurat di seluruh fasilitas berubah menjadi nada tinggi yang melengking. Lampu neon putih yang stabil kini berganti menjadi merah darah yang berputar-putar.
"Protokol Penghancuran Diri Diaktifkan. Waktu Tersisa: 120 Detik."
Suara Kagawa terdengar lagi melalui sisa pengeras suara yang belum hancur, kali ini dengan nada tawa yang gila. "Jika aku tidak bisa memilikimu sebagai aset, maka kau akan terkubur di bawah satu juta ton beton, 007! Selamat tinggal di neraka!"
Yuuichi segera berlari menuju pintu laboratorium tempat Sakura dan yang lainnya bersembunyi. Ia menghantam pintu itu dengan bahunya. "KELUAR! SEKARANG!"
Sakura, Chika, Rina, dan Akari menghambur keluar. Wajah mereka pucat melihat kehancuran di koridor, namun mereka tidak punya waktu untuk terkejut. Yuuichi melemparkan kotak hitam itu kepada Rina yang menangkapnya dengan sigap.
"Rina, gunakan itu untuk membuka jalur lift darurat di ujung lorong!" perintah Yuuichi.
Mereka berlari melintasi reruntuhan. Di belakang mereka, ledakan-ledakan kecil mulai terjadi pada tabung-tabung eksperimen yang tersisa, memicu reaksi berantai kimia yang menghasilkan api berwarna hijau yang aneh.
"Liftnya terkunci dari pusat!" teriak Rina sambil menghubungkan tabletnya ke panel lift darurat. "Kagawa memutus jalur kabel fisik! Kita terjebak!"
Yuuichi menoleh ke belakang. Gelombang ledakan utama dari ruang reaktor di lantai bawah sudah mulai merambat naik. Getarannya membuat langit-langit koridor mulai runtuh. Balok-balok beton raksasa jatuh, menutup jalur mereka kembali.
"Mundur ke sudut lift!" teriak Yuuichi.
"Yuuichi-kun, apa yang akan kau lakukan?!" Chika berteriak di tengah kebisingan ledakan, matanya berkaca-kaca melihat Yuuichi yang justru berdiri menghadap ke arah datangnya ledakan.
Yuuichi memejamkan matanya. Ia memanggil seluruh sisa energi kristal yang ada di dalam inventarisnya. Kristal Berlian yang ia simpan sebagai kartu as terakhir kini ia hancurkan di dalam genggamannya. Energi murni mengalir masuk ke nadinya, membuat pembuluh darah di tangannya menonjol berwarna biru cerah.
"Peringatan: Kelebihan beban energi terdeteksi. Risiko kerusakan sel permanen. Kakak, jika kau melakukan ini, kau akan kehilangan kesadaran!"
"Lakukan saja, Miu! Lindungi mereka!"
[ KETERAMPILAN UNGGULAN: MANIPULASI ES - KATEDRAL ABADI ]
Yuuichi menghantamkan kedua telapak tangannya ke lantai. Seketika, es dalam jumlah yang tidak masuk akal meledak keluar dari tangannya. Bukan hanya sekadar dinding, tapi sebuah struktur kubah es yang sangat padat dan berlapis-lapis mulai menyelimuti Sakura dan yang lainnya.
BOOOOOOMMMMMMM!
Ledakan utama menghantam. Api dan tekanan udara yang luar biasa mencoba menelan segalanya. Namun, es Yuuichi terus tumbuh, melawan panas api dengan suhu nol mutlak yang ia paksa keluar dari jiwanya. Suara gemuruh ledakan yang memekakkan telinga berubah menjadi suara tumpul di balik dinding es yang tebal.
Yuuichi berdiri di luar kubah, menjadi tameng terakhir. Pakaiannya mulai terbakar, kulitnya memerah karena panas, namun ia terus menyalurkan energi es hingga tangannya membeku menyatu dengan lantai.
Di dalam kubah, Sakura memukul-mukul dinding es yang transparan. "YUUICHI! MASUK KE DALAM! YUUICHI!"
Yuuichi hanya menoleh sedikit, memberikan senyuman tipis dan tenang—sifat aslinya yang selalu santai di tengah badai. Ia memberikan tanda hormat dengan jarinya sebelum pandangannya mulai memutih.
Sesaat sebelum lantai lift itu runtuh sepenuhnya menuju jalur evakuasi bawah tanah yang lebih aman, Yuuichi melepaskan gelombang es terakhir untuk mendorong kubah itu masuk ke dalam poros lift yang sudah kosong.
"Pesan Sistem: Kesadaran Subjek Menurun... Memulai Mode Hibernasi Darurat..."
Tubuh Yuuichi jatuh ke dalam kegelapan tepat saat seluruh fasilitas Sektor 4 meledak menjadi bola api raksasa di bawah permukaan tanah. Distrik utara berguncang hebat, seolah-olah gempa bumi baru saja melanda, meninggalkan kawah raksasa yang menelan seluruh rahasia kelam Chimera di tempat itu.