NovelToon NovelToon
Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Genius / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.

Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.

Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.

Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 14.

Sementara itu, mobil hitam Veronica meluncur memasuki halaman Rumah Sakit Cakrawala.

Ia turun dengan langkah anggun, para staf langsung menundukkan kepala memberi salam.

“Selamat datang, Dokter Veronica.”

Veronica tersenyum tipis, matanya segera mencari seseorang.

“Di mana Bang Angkasa?” tanyanya.

Salah satu staf menjawab cepat.

“Tuan Angkasa baru saja pergi beberapa menit yang lalu.”

Veronica berhenti.

“Pergi?”

“Iya, Nona. Tadi beliau datang membawa seorang wanita yang mengalami kecelakaan.”

Senyum Veronica perlahan memudar. “Wanita?”

“Iya, sepertinya seorang dokter juga. Dia yang mengobati luka Tuan Angkasa.”

Beberapa detik hening.

Veronica menurunkan kacamata hitamnya perlahan. “Siapa nama wanita itu?”

Staf itu berpikir sebentar. “Saya kurang tahu, Nona. Sepertinya… Tuan Angkasa sangat memperhatikannya.”

Veronica tidak mengatakan apa pun lagi, namun sorot matanya berubah dingin.

Ia mengangkat kembali dagunya dengan senyum tipis. “Begitu ya…”

Dalam hatinya, satu pikiran mulai terbentuk, seorang dokter yang dekat dengan Angkasa.

Menarik!

Veronica berbalik menuju lift rumah sakit. Senyumnya kembali muncul, namun kali ini penuh perhitungan.

“Sepertinya… aku perlu mengenalnya.”

Dan satu konflik lagi, baru baru saja melangkah masuk ke dalam permainan.

____

Malam sudah semakin larut ketika Arunika akhirnya kembali ke apartemennya, kata-kata Angkasa masih terngiang di kepalanya.

“Aku tertarik padamu.”

Arunika menghela napas pelan, bukan karena tersentuh. Lebih karena merasa... terganggu.

Selama bertahun-tahun hidupnya dipenuhi perhitungan dan kewaspadaan. Ia belajar menutup emosi, mengabaikan hal-hal yang tidak penting. Dan perasaan... jelas termasuk dalam kategori itu.

Namun pria seperti Angkasa itu berbeda, pria itu terlalu tenang dan terlalu percaya diri. Dan yang paling berbahaya, Angkasa terlalu tajam dalam membaca situasi.

“Kalau memang keluarganya terlibat…” gumamnya lirih.

Maka hubungan apa pun dengan pria itu tidak akan pernah sederhana.

___

Sementara itu di dalam ruangan kerjanya, Angkasa duduk di kursinya.

Damar datang untuk melapor.

“Tuan,” katanya pelan.

Angkasa menoleh.

“Saya sudah mengirim orang untuk memeriksa mobil yang menabrak Dokter Arunika tadi.”

“Bagus.”

Damar menatap luka kecil di pelipis atasannya. “Lukanya tidak terlalu parah ya, Tuan?”

Angkasa tersenyum tipis. “Memang tidak.”

Damar tersenyum tipis. “Tapi akting Anda cukup meyakinkan.”

“Kadang-kadang sedikit drama diperlukan.”

Damar mengangkat alis. “Untuk apa?”

“Untuk membuat seseorang tinggal sedikit lebih lama...”

Damar menghela nafas kecil. Selama bertahun-tahun bekerja untuk Angkasa, ia jarang melihat atasannya menunjukkan minat pada wanita. Angkasa biasanya dingin, fokus pada bisnis, bahkan sering menolak pertemuan sosial yang tidak penting.

Namun sejak bertemu Arunika, ada sesuatu yang berubah. Dan Damar cukup pintar untuk menyadarinya.

“Tuan,” katanya lagi.

Angkasa berhenti.

“Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

Damar menatap tablet di tangannya.

“Orang yang menabrak Nona Arunika tadi menggunakan mobil curian, platnya palsu.”

Angkasa tidak terlihat terkejut. “Sudah kuduga.”

“Tapi ada sesuatu yang aneh.”

“Apa?”

Damar memperbesar gambar pada layar. “Truk yang hampir menabrak Tuan Simon… menggunakan pola yang sama. Artinya seseorang ingin membungkam semua orang yang menyentuh kasus lama itu.”

Arunika berada dalam bahaya.

Sorot mata Angkasa seketika mengeras, berubah dingin dan tajam.

“Kirim beberapa orang untuk melindungi Arunika, secara diam-diam. Jangan sampai wanita itu menyadarinya,” perintah Angkasa dengan suara tegas. “Apa pun yang terjadi… keselamatan Arunika adalah yang paling penting.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, suaranya tetap dingin. “Dia dokter jenius yang sangat penting bagi proyek kita… dan juga—”

Kalimatnya terhenti, sisa kata itu hanya terucap dalam hatinya.

Dia sangat penting bagiku.

*****

Beberapa hari kemudian, suasana Rumah Sakit Cakrawala jauh lebih sibuk dari biasanya.

Arunika berdiri di ruang rapat proyek dengan setumpuk dokumen di tangannya. Di layar besar di belakangnya terpampang rancangan pengembangan fasilitas medis baru—proyek ambisius yang menjadi perhatian banyak pihak.

Sejak resmi ditunjuk sebagai kepala tim proyek, hampir seluruh jadwalnya dipenuhi rapat dan koordinasi.

“Divisi penelitian akan dipindahkan ke gedung timur,” ujar Arunika dengan suara tenang. “Laboratorium lama terlalu sempit untuk peralatan baru.”

Beberapa dokter senior mengangguk, salah satu dari mereka mengangkat tangan.

“Dokter Arunika, bagaimana dengan ruang operasi khusus yang direncanakan untuk program bedah kompleks?”

Arunika membuka dokumen di tangannya. “Kita akan menambah dua ruang operasi tambahan, sistem sterilisasinya juga akan diperbarui. Saya sudah mengirimkan desainnya ke bagian konstruksi.”

Cara bicaranya tenang dan tegas. Tidak bertele-tele, tetapi sangat jelas. Itulah alasan mengapa dalam waktu singkat, seluruh tim mulai menghormatinya sebagai pemimpin proyek.

Namun di luar ruang rapat, rumor mulai beredar. Di ruang perawat, dua orang staf sedang berbicara pelan.

“Dokter Arunika itu luar biasa ya,” bisik salah satu perawat.

“Bukan cuma hebat… katanya dia Dokter Jenius yang selama ini dicari-cari direktur.”

“Serius?”

Perawat itu mengangguk cepat. “Dan katanya… Tuan Angkasa sendiri yang menunjuknya.”

Perawat lainnya langsung merendahkan suara. “Aku juga dengar sesuatu.”

“Apa?”

“Katanya Tuan Angkasa sering datang ke ruang proyek akhir-akhir ini.”

“Bukankah dia pemilik rumah sakit?”

“Iya, tapi biasanya dia jarang muncul langsung di sini.”

Perawat itu mendekat sedikit. “Dan setiap datang… dia selalu mencari Dokter Arunika.”

Keduanya saling bertukar pandang.

“Jangan-jangan…”

Kalimat itu tidak selesai, tetapi maknanya sudah jelas. Rumor itu menyebar cepat. Dalam hitungan jam saja, hampir seluruh staf rumah sakit sudah mendengarnya. Pemilik rumah sakit yang terkenal dingin, sedang dekat dengan kepala tim proyek mereka.

Sementara itu, di ruang kerja proyek. Arunika sedang memeriksa laporan keuangan pembangunan ketika pintu diketuk pelan.

“Masuk.”

Pintu terbuka.

Damar muncul dengan ekspresi sopan.

“Nona Arunika, Tuan Angkasa ingin bertemu.”

Arunika bahkan tidak mengangkat kepalanya. “Ada keperluan apa?”

“Beliau membawa revisi anggaran dari pihak investor.”

Baru kali ini Arunika mendongak. “Suruh dia masuk.”

Beberapa detik kemudian, Angkasa masuk ke ruangan itu. Seperti biasa, jasnya rapi, langkahnya tenang. Tatapannya langsung jatuh pada Arunika yang duduk di balik meja kerja penuh dokumen.

“Kau terlihat lebih sibuk dari yang kubayangkan.” Pria itu duduk di depannya.

Arunika tidak menanggapi komentar itu. “Apa yang Anda bawa?”

Angkasa meletakkan sebuah map di atas meja. “Revisi dana tahap kedua.”

Arunika membuka map itu dan membaca cepat, beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Angkasa memperhatikan Arunika bekerja, cara wanita itu membaca dokumen sangat cepat. Mata Arunika yang tajam, fokus, dan tidak melewatkan detail sekecil apa pun.

“Anggaran alat bedah ini terlalu tinggi,” kata Arunika tiba-tiba.

Angkasa mengangkat alis. “Kau langsung menemukannya?”

“Perbedaan tiga puluh persen dari harga pasar.” Arunika menutup map itu. “Kita bisa mengganti vendor.”

Angkasa tersenyum tipis. “Baik, aku akan suruh tim keuangan memperbaikinya.”

Arunika kembali menatap dokumen lain. “Masih ada hal lain?”

“Apa kamu selalu bekerja sekeras ini?”

Arunika mendesah kecil. “Tuan Angkasa, ini jam kerja.”

“Jadi?”

“Jadi pertanyaan seperti itu tidak relevan.”

Angkasa tersenyum kecil. “Kamu benar-benar sulit didekati.”

Arunika menutup map terakhir. “Kalau tidak ada hal lain, saya masih punya rapat berikutnya.”

“Bagaimana kalau kita makan malam bersama?”

“Tidak, terima kasih,” jawab Arunika tegas tanpa ragu.

Sorot mata Angkasa seketika meredup. Namun ia tidak tampak terkejut. Sejak awal, ia sudah menduga… kali ini Arunika akan menolaknya.

“Baiklah, sampai nanti Dokter.”

Arunika tidak menjawab.

Namun begitu Angkasa keluar dari ruangan, sekretaris proyek yang berdiri di luar langsung menatapnya dengan ekspresi aneh.

“Tadi… Tuan Angkasa ada di dalam?”

Arunika menjawab singkat. “Ya.”

Sekretaris itu ragu-ragu. “Dokter… boleh saya tanya sesuatu?”

“Apa?”

Sekretaris itu menurunkan suara. ”Apakah benar… Anda dan Tuan Angkasa sedang berada dalam suatu hubungan, kalian dekat?”

Arunika menatapnya datar. “Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Namun justru itu membuat rumor semakin liar, karena beberapa staf yang lewat tadi melihat sendiri… Pemilik rumah sakit keluar dari ruang kerja Dokter Arunika dengan senyum tipis di wajahnya.

Sementara di ujung koridor, seseorang berdiri diam—Veronica.

Wanita itu melihat semuanya dari kejauhan, tatapannya perlahan mengeras. Tangannya mengepal kuat, rumor tentang Angkasa dan Arunika… ternyata bukan sekadar gosip kosong.

1
Mundri Astuti
masa ga bisa bedain si arunika, mana yg tulus dan mana yg modus, kan kamu pernah sama Simon yg modus itu
Aditya hp/ bunda Lia: bener ...
total 1 replies
Tiara Bella
wow ternyata Kenzo jg menyadar klu selama ini angkasa memburu dia
merry
knp gk ksh tau knp gk mau rujuk sm Simon selain di anggp tek berguna blg ajj Simon selingkh dgn doktr riana 🤣🤣🤣🤣
Titien Prawiro
Diperlakukan Arunika.
Titien Prawiro
Malunya diseluruh dunia diperlukan Arunika, dulu dihina gk punya pekerjaan
Aditya hp/ bunda Lia
si Mirna dasar gak tau malu ...
Aditya hp/ bunda Lia
jangan terlalu pede Arunika ntar kalo ternyata cinta itu datang gimana?
Tiara Bella
bagus Arunika Simon sm ibunya mending di gituin biar kapok....
Rere💫: Wkwkwk yesss 🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak yakin kali ini kau yang menang Arunika yang selalu waspada ,dan jangan lengah terus selidiki,pasti bisa.Kejahatan akan kalah oleh kebaikan
sunaryati jarum
Nanti kau akan berakhir ditangan orang,- orang yang orang tua atau kerabatnya kau bunuh Kenzo,jangan jumawa
Muft Smoker
Masih byk Teka teki siih ,,
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tandang aling aling langsung usir
vj'z tri
lah dia dalang nya Mpok /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Tiara Bella
ternyata angkasa udh tw tentang Kenzo ini ya plot twist bngt...Vero sadar dong km cm sodara angkat....
Tiara Bella
oh ternyata begono ....
merry
pdhll orgtua vero msh hdp cm di twnn sm Kenzo
Muft Smoker
duuh udh tbc aj niih kak ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️
Rere💫: okeoke
total 1 replies
sunaryati jarum
Kenzo mungkin akan hancur oleh obat buatannya sendiri,dan Angkasa jika kau berjanji akan melindungi Arunika,itu benar.Untuk jangan menyalahkan Arunika,itu salah kamu sendiri yang abai padanya selama ini
Rere💫: Simon kak yg abai, Angkasa itu bukan suaminya yg abai🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Secara tidak langsung ibu Angkasa yang diracun sebagai uji coba obat penawar racun berbahaya buatan Arunika sendiri.Membuatmu makin dikenal.Kau saja bisa lepas dari niat jahat pemberi racun dan kecelakaan ,semoga selanjutnya selalu selamat
sunaryati jarum
Semoga semua teka- teki yang menghantui Arunika segera terkuak dan Arunika selalu selamat dari semua tindak kejahatan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!