NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Kontrak Dosa dan Pahala.

Malam itu, di kediaman kyai Fakih Zayyad.

Ruang keluarga yang cukup luas difungsikan sebagai ruang prosesi akad.

Tidak ada dekorasi berlebihan. Tidak ada suara gaduh, karena yang hadir memang tidak ramai. Hanya beberapa orang yang memang perlu ada--dan mereka paham, ini bukan perayaan.

Kyai Fakih duduk di posisi wali. Tegak. Terlihat tenang. Tapi bukan tenang yang ringan.

Di hadapannya, Sagara Deva Adinata.

Pakaiannya rapi. Sikapnya lurus seperti biasa. Tatapannya stabil--selalu begitu. Ia tidak terlihat gugup. Tapi juga tak terlihat terlibat. Seolah bukan dia tokoh sentral dalam acara itu. Dia Seperti seseorang yang datang hanya untuk menyelesaikan satu tahap--bukan untuk memulai satu fase kehidupan baru.

Agam duduk di sampingnya. Mendampingi. Justru kegugupan terlihat di wajahnya.

Shafiya duduk di tempat terpisah. Ditemani Winda, dan seorang santri putri kepercayaan keluarga.

Wajahnya sedikit pucat. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Sesekali bergerak, lalu kembali diam.

Ia tidak menunduk.

Tapi juga tidak benar-benar melihat.

“Saudara Sagara Deva Adinata…”

Suara penghulu terdengar jelas. Memulai acara. Ia menyebutkan semua syarat. Semua rukun dijelaskan.

Kalimat demi kalimat berjalan sebagaimana mestinya.

Sempurna, secara aturan.

Belum tentu sempurna secara niat.

Kyai Fakih menarik napas sekali. Cukup dalam, sebelum mulai mengucapkan ijab. Dengan bahasa Indonesia--sebagaimana permintaan Sagara.

Lugas. Tidak panjang. Tidak dengan suara bergetar--meski saat itu, jiwanya runtuh. Karena beliau tahu ini harus dilakukan.

“Saya nikahkan dan saya kawinkan putri saya, Shafiya Elara Hanum … dengan engkau, Sagara Deva Adinata…”

Kalimat itu selesai.

Udara seperti berhenti sesaat.

“Saya terima nikahnya…”

Jawaban Sagara langsung.

Sangat jelas. Tegas. Tidak terbata.

Seperti caranya menandatangani setiap keputusan kerja sama. Sebatas itu. Tak ada janji.

“Sah.”

Satu kata itu jatuh, menggema. Sampai di telinga Shafiya seperti guntur yang membahana. Ia pejamkan mata. Dan kali ini satu titik bening jatuh di wajahnya. Memang tidak terisak, tapi satu titik itu cukup menceritakan banyak hal, tanpa perlu rangkaian bahasa.

Detik berlalu. Shafiya menyendiri di ruang itu. Ruang yang beberapa saat lalu menjadi saksi terbentuknya ikatan baru.

"Sudah sah."

Kyai Fakih duduk di sampingnya.

"Abi." Shafiya tersenyum. Hanya itu sisa kekuatan yang ia punya. Tersenyum pada abinya--Satu-satunya pilar yang ia punya, sejak uminya berpulang beberapa tahun silam.

"Ada yang tersisa, Shafa?" Kyai Fakih tahu banyak hal yang belum selesai dalam diri Shafiya, meski status yang ia minta kini telah terlaksana.

Shafiya mengangguk. "Saya minta maaf, Abi."

Kyai Fakih menatap putrinya, lama. Seolah ingin memastikan, yang duduk di hadapannya saat ini masih anak yang sama--yang dulu ia kenal tanpa ragu.

“Sudah abi maafkan, Nak.”

Kalimat itu begitu ringan. Sangat ringan untuk sesuatu yang sebenarnya tidak ringan.

Shafiya menunduk. Bukan karena tak sanggup menatap abinya yang begitu lapang, begitu bijak. Tapi karena ia tahu, jika ia menatap lebih lama, hatinya bisa runtuh di tempat itu, di depan abinya. Dan ia tak ingin memberi tambahan beban pada beliau.

“Abi tidak ingin bertanya apa pun?” Ia bertanya pelan, kemudian. Hampir seperti bisikan.

Kyai Fakih tidak langsung menjawab. Kembali menatap putrinya sejenak.

“Kalau Abi bertanya … apakah kamu akan menjawab jujur, Shafa?”

Shafiya diam.

Pertanyaan itu sederhana. Tapi justru jatuh dengan berat di hati Shafiya.

Jujur--bukan perkara berani atau tidak. Tapi tentang siapa saja yang akan ikut hancur setelahnya. Dan ia belum siap. Sekali lagi Shafiya tak ingin menambah beban abinya atas hal yang bahkan ia juga belum tahu jelas.

“Ada hal…” Shafiya menarik napas. Pendek. “yang belum bisa saya jelaskan.”

Karena untuk hal yang akan dijelaskan, Shafiya sendiri masih butuh penjelasan--tentang kehamilan itu.

Kyai Fakih mengangguk. Tidak mendesak.

Meski ingin tahu. Meski kecewa.

“Kalau begitu, Abi cukup tahu satu hal saja.” Suara beliau tetap tenang. “Yang kamu jalani ini … sudah kamu pahami risikonya.”

Shafiya mengangguk. Kali ini tanpa ragu.

Ia paham, bukan hanya risiko dunia.

Tapi juga risiko yang tak terlihat. Yang tak semua bisa dibicarakan. Yang tak bisa ditimbang oleh manusia.

“Ini bukan pernikahan yang lahir dari niat yang utuh, Bi.” Akhirnya kalimat itu keluar. Pelan. Tertata.

Kyai Fakih tidak menyela. Ia tahu putrinya belum selesai.

“Ada yang ingin saya jaga…” lanjutnya, “tapi ada juga yang mungkin sedang saya langgar.”

Hening. Shafiya tak mampu menjelaskan lebih jauh. Juga tak bisa membela diri sedemikian rupa.

Karena Shafiya tahu--ini bukan perkara benar atau salah yang sederhana.

Pernikahannya dengan Sagara adalah kontrak. Kontrak yang berdiri di atas dosa dan pahala.

Kedengarannya sangat berat. Tapi itu faktanya. Pernikahan itu berdiri di atas banyak hal, alasan, kepentingan, yang semuanya ada yang berpotensi pahala, tapi juga ada yang berpotensi dosa/problematis.

Shafiya menikah untuk menjaga kehormatan( hifdzul 'Irdz):

Menjaga nama baik abinya, pesantren Darun najah, dan dirinya sendiri dari fitnah sosial. Itu berpotensi pahala.

Ia juga ingin melindungi anak yang dikandung, tidak menggugurkannya--meski sangat tidak menginginkan hadirnya. Mempertahankan kehidupan, itu jelas potensi pahala.

Dan yang berikutnya, mereka menutup aib, tidak menyebarkannya. Tidak membuka, siapa, kenapa, dan bagaimana. Dalam etika islam, menutup aib itu sangat dianjurkan.

Dan Sagara bersedia mengambil tanggung jawab, memberi status, meski terpaksa. Ia tidak lari dari situasi, bahkan tampil menyelamatkan harga diri Shafiya dan keluarganya. Ini potensi tindakan yang berpahala juga.

Akan tetapi, di balik pahala itu, ada konsekuensi dosa juga yang mereka tanggung.

Pertama: Niat pernikahan yang tidak lurus, bukan karena ibadah. Bukan karena membangun rumah tangga. Tapi karena tekanan, strategi, dan menutup masalah.

Dengan itu, mereka menjadikan akad sebagai alat. Pernikahan dijadikan solusi praktis, bukan ikatan sakral. Ini arahnya kemana sudah jelas. Dosa.

Pernikahan mereka juga berpotensi menipu publik ( meski dengan tujuan baik). Dunia melihat pernikahan mereka sah, dan itu normal. Tapi realitasnya, hanya kontrak emosional. Artinya mereka melakukan kebohongan yang tidak terang-terangan.

Dan yang terakhir--mungkin, mereka memaksa diri dalam ikatan tanpa kesiapan batin.

Shafiya menekan dirinya sendiri, harus menikah dengan pria yang bahkan tidak percaya pada ikatan.

Dan Sagara menolak makna pernikahan, tapi tetap bersedia menjalani.

Ini bisa jadi bentuk ketidakjujuran pada diri sendiri. Bahkan bisa jadi bentuk kedzaliman pada pasangan.

Dan di antara dosa dan pahala yang bahkan tanpa sekat itu, Shafiya berdiri di tengah.

Tidak sepenuhnya benar. Tidak juga sepenuhnya salah.

Kyai Fakih memejamkan mata sejenak.

“Dalam hidup,” ucapnya pelan, “tidak semua yang terlihat benar itu sepenuhnya benar. Dan tidak semua yang terlihat salah itu tanpa alasan.”

Shafiya mengangkat wajahnya.

“Apa yang kamu jalani hari ini…” lanjut beliau, “akan jadi jawabanmu sendiri di hadapan Allah. Bukan di hadapan manusia. Juga abi."

Kalimat beliau tidak menghakimi Shafiya, tapi juga tidak membenarkan.

Namun justru itu--yang membuat dada Shafiya terasa lebih sesak.

Karena ia sadar bahwa tidak ada tempat bersembunyi untuk sebuah kesalahan,

bahkan di balik niat baik sekalipun.

“Jalani dengan sadar, Shafa.” Suara Kyai Fakih lebih dalam. “Jangan berlindung di balik alasan.”

Shafiya menunduk lagi. Air matanya diam-diam jatuh.

“Karena pahala…” lanjut beliau, “tidak akan menghapus dosa yang sengaja kita abaikan.”

Dan kalimat abinya itu menetap

Tepat di tempat yang paling ia hindari sejak awal. Hatinya.

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!