NovelToon NovelToon
Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."

Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..

Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.

Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Sisi Manusiawi yang Mengganggu

Bab 9: Sisi Manusiawi yang Mengganggu

Hujan badai mengguyur Jakarta malam itu, seolah mewakili kekacauan yang terjadi di dalam kediaman Wijaya. Setelah serangkaian teror pesan singkat dan ancaman foto pribadi yang berhasil dilacak Kenzi ke sebuah warnet kumuh di pinggiran kota, ketegangan mental Alana mencapai titik jenuhnya. Sistem pertahanan psikologis gadis itu runtuh secara total.

Di dalam kamar mewahnya, Alana terbaring menggigil di balik selimut tebal. Wajahnya yang biasanya memancarkan aura pemberontakan kini tampak pucat pasi, dengan rona merah yang tidak sehat di area pipi. Keringat dingin membasahi dahinya.

Kenzi berdiri di ambang pintu, melakukan pemindaian visual rutin.

Analisis Target: Alana Wijaya. Suhu tubuh (estimasi termal): 39,2°C. Laju pernapasan: Meningkat (takipnea). Diagnosis awal: Demam tinggi akibat stres akut dan kelelahan sistem imun.

"Nona, Anda butuh bantuan medis," ujar Kenzi. Suaranya tetap pada frekuensi datar yang sama, namun matanya mengamati setiap tremor kecil pada tubuh Alana.

"Pergi... Kenzi," gumam Alana lirih. Suaranya parau, nyaris habis. "Jangan biarkan siapa pun masuk. Aku tidak ingin Ayah melihatku seperti ini. Dia hanya akan menganggapku lemah... beban bagi perusahaannya."

Kenzi melangkah masuk. Ia tahu Tuan Wijaya sedang berada di Singapura untuk pertemuan darurat mengenai Proyek Phoenix, dan Bram beserta tim keamanan lainnya sedang berfokus pada perimeter luar yang baru saja ia rombak. Sesuai protokol pengawalan tunggal yang kini ia pegang, keselamatan subjek adalah tanggung jawab absolutnya.

Kenzi mendekati tempat tidur. Tanpa ragu, ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Alana. Panas yang menyengat merambat ke kulitnya.

"Suhu Anda berbahaya. Secara klinis, jika tidak ditangani dalam dua jam, risiko kejang meningkat 40%," ujar Kenzi. Ia berbalik dan mengambil handuk kecil serta baskom berisi air hangat yang sudah disiapkan pelayan di depan pintu tadi.

"Kenapa kau... selalu bicara soal angka?" Alana membuka matanya sedikit, menatap Kenzi dengan pandangan kabur. "Kau tidak punya hati, ya? Kau hanya sebuah mesin yang kebetulan punya nama."

Kenzi tidak menjawab. Ia memeras handuk dan meletakkannya di dahi Alana. Gerakannya sangat presisi—efisien namun, entah bagaimana, tidak sekasar biasanya. "Emosi adalah variabel yang tidak stabil, Nona. Data lebih bisa diandalkan."

"Bohong," desis Alana. "Aku melihatmu bertarung. Aku melihatmu melacak orang itu di warnet. Kau melakukannya dengan... kemarahan yang ditekan. Kau bukan sekadar menjalankan tugas."

Tangan Kenzi berhenti sejenak saat ia hendak merapikan selimut Alana. Monolog internalnya berputar cepat. Subjek mulai melakukan observasi di luar parameter penyamaran. Risiko: Terbongkarnya motif pribadi.

"Istirahatlah," perintah Kenzi pendek.

Malam semakin larut. Kenzi tetap berada di kursi di sudut kamar, matanya bergantian menatap layar tablet keamanannya dan sosok Alana yang masih gelisah dalam tidurnya. Jam menunjukkan pukul 03:00 pagi—waktu di mana Kenzi biasanya keluar untuk memberikan laporan kepada organisasinya. Namun malam ini, ia tetap di sana.

"Jangan tinggalkan aku..." igauan Alana memecah kesunyian.

Kenzi bangkit dan mendekat. Alana sedang mengigau, tangannya bergerak liar seolah mencari pegangan. Kenzi ragu sejenak—kontak fisik di luar keadaan darurat adalah pelanggaran efisiensi. Namun, ia melihat detak jantung Alana di monitor medis portabel melonjak drastis.

Ia mengulurkan tangan dan membiarkan Alana mencengkeram lengan bajunya. Cengkeraman itu sangat kuat, seolah-olah Kenzi adalah satu-satunya jangkar di tengah badai.

"Ayah... Ibu..." air mata mengalir dari sudut mata Alana yang tertutup. "Kenapa semuanya hanya tentang uang? Kenapa aku selalu sendirian di rumah besar ini?"

Kenzi menatap gadis itu. Untuk sesaat, dinding logika esnya retak tipis. Ia teringat masa kecilnya sendiri—saat ia menunggu ayahnya pulang, hanya untuk menerima kabar bahwa sang ayah telah "dieliminasi". Kesepian Alana adalah jenis yang berbeda, namun frekuensinya terasa familier.

"Anda tidak sendirian," bisik Kenzi. Suaranya turun satu oktav, kehilangan nada mekanisnya untuk sesaat. "Setidaknya, selama saya masih dibayar untuk berdiri di sini."

Menjelang subuh, demam Alana mulai turun. Ia terbangun dan menemukan Kenzi masih duduk di samping tempat tidurnya, sedang memeriksa botol obat dengan teliti.

"Kau masih di sini?" tanya Alana. Suaranya masih lemah, tapi kesadarannya sudah kembali sepenuhnya.

"Tugas saya belum selesai sampai suhu tubuh Anda kembali ke 36,5°C," jawab Kenzi, kembali ke mode formalnya.

Alana menatap lengannya sendiri, lalu menatap Kenzi. Ia ingat cengkeramannya tadi malam. "Terima kasih, Kenzi. Dan... maaf soal yang kukatakan tadi malam. Tentang kau yang tidak punya hati."

Kenzi terdiam, lalu berdiri untuk mengambilkan air minum. "Skeptisisme Anda adalah hal yang sehat, Nona. Di dunia Ayah Anda, tidak ada yang benar-benar memiliki 'hati' jika itu menyangkut keuntungan."

"Termasuk kau?" tantang Alana.

Kenzi memberikan gelas air itu. Matanya menatap tajam ke dalam mata Alana. "Saya lebih berbahaya dari mereka semua. Karena saya tahu persis kapan harus menggunakan 'hati' sebagai senjata untuk menghancurkan lawan."

Alana tertegun. Jawaban itu jujur namun mengerikan. Namun, di balik kekejaman kata-kata itu, Alana merasa bahwa Kenzi baru saja memberikan satu kepingan kebenaran tentang dirinya—sesuatu yang tidak ia berikan pada orang lain.

"Kau tahu, Kenzi," Alana meminum airnya pelan. "Ini pertama kalinya ada orang yang merawatku tanpa meminta imbalan atau laporan kemajuan pada Ayah. Bahkan jika kau hanya melakukannya karena kontrak, itu tetap terasa... nyata."

Kenzi membuang muka, menatap ke arah jendela yang mulai memperlihatkan cahaya fajar. Dialog personal ini mulai mengikis dinding pertahanannya sendiri. Perasaan yang mulai tumbuh ini adalah anomali. Dan dalam protokol organisasinya, anomali harus dihapus.

Peringatan Internal: Keterlibatan emosional terdeteksi pada level 15%. Segera lakukan recalibration fokus pada misi dendam.

"Besok Anda harus kembali ke kampus," ujar Kenzi dingin, memutus suasana hangat yang sempat tercipta. "Ancaman di apartemen sedang dipetakan. Musuh-musuh Wijaya tidak akan menunggu Anda sembuh sepenuhnya."

Alana tersenyum kecut, namun kali ini senyumnya tidak penuh kebencian. "Tentu saja. Kembali ke realitas, kan?"

Kenzi keluar dari kamar saat pelayan datang membawa sarapan. Ia berjalan menuju ruang pusat kendali, namun langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Ia baru saja menyadari bahwa melindungi Alana bukan lagi sekadar cara untuk menghancurkan Wijaya.

Gadis itu telah menjadi variabel yang tidak bisa ia masukkan ke dalam rumus Excel manapun. Dan itu adalah hal paling berbahaya yang bisa terjadi pada seorang pembunuh bayaran dalam penyamaran.

1
Cut Founna
terimakasih😍
Dewa Naga 🐲🐉
awal yg menarik.....👍
Dewa Naga 🐲🐉
cerita yg menarik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!