Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Mamut itu menderu, suaranya menggetarkan udara di padang rumput. Tanpa ampun, raksasa berbulu itu memacu kakinya, menyeruduk lurus ke arah Leon seperti truk tangki yang kehilangan rem.
Bruk!
Leon bereaksi cepat. Ia menjatuhkan tubuhnya dan berguling ke samping tepat saat gading raksasa itu menyambar tempatnya berdiri tadi. Tanah mencuat terbang terkena serudukan mamut tersebut.
Mamut itu mengerem paksa langkahnya beberapa meter di belakang Leon. Hewan purba itu berputar arah, mengangkat kedua kaki depannya, lalu mengayunkan belalainya yang tebal seperti batang pohon ke arah Leon.
Karena jarak yang terlalu dekat, Leon tidak sempat menghindar. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan wajah sebagai pelindung darurat.
DUAK!
"Ugh!"
Tubuh Leon terhempas ke samping, terseret beberapa meter di atas rumput. Rasa panas langsung menjalar di kedua lengannya.
"Apa-apaan ini... tulangku rasanya mau retak," gerutunya sambil meringis kesakitan.
Belum sempat Leon memulihkan napas, bayangan besar menutupi tubuhnya. Mamut itu sudah berada di depannya, mengangkat kaki besar yang siap menginjak Leon hingga gepeng.
Sret!
Leon kembali berguling menghindar. BUM! Tanah berlubang akibat injakan mamut itu.
Melihat ada celah, Leon segera bangkit. Ia memusatkan seluruh kekuatan Brawler-nya ke kepalan tangan kanan. Sambil menerjang maju, ia menghantamkan tinjunya ke perut samping mamut itu sekuat tenaga.
DUAGH!
Tubuh mamut yang berat itu sedikit terdorong ke samping. Namun, Leon justru membelalakkan mata karena tangannya terasa seperti menghantam tembok baja.
"Ke-keras sekali!" kaget Leon.
Mamut itu merasa terancam. Amarahnya memuncak. Dengan gerakan cepat, ia memutar tubuh dan menyeruduk Leon kembali, membuat pemuda itu terlempar ke belakang hingga menghantam gundukan tanah.
"Ugh!"
Leon memegangi dadanya. Rasa sakit yang tajam menghantam jantungnya. Napasnya menjadi pendek dan sesak. Kondisi gagal jantung kronisnya mulai bereaksi karena dipaksa bekerja terlalu keras.
Sial... mengalahkannya dengan tangan kosong sepertinya benar-benar mustahil, batin Leon sambil terengah-engah. Matanya menatap tajam ke arah monster raksasa yang kini mulai bersiap untuk serangan mematikan berikutnya.
Leon memeras otaknya. Melawan monster Level D dengan tangan kosong dan status Rank F adalah misi bunuh diri. Ia harus mencari cara lain.
Layar hologram segera dipanggil. Matanya bergerak cepat menelusuri menu Store. Di sana, sebuah pedang besi sederhana terpampang dengan harga 25 poin. Leon melirik sisa poinnya yang berjumlah 30.
"Beli!" desisnya.
...[Berhasil! Barang masuk ke dalam Inventory]...
Tanpa membuang waktu, Leon membuka Inventory dan memilih opsi Equip. Sring! Sebuah pedang besi panjang muncul seketika di genggamannya.
Genggaman Leon mengerat, merasakan berat senjata yang akan menjadi penyambung nyawanya.
Mamut itu kembali menerjang, debu beterbangan di bawah kakinya.
Leon bangkit dengan cepat. Ia bergeser ke samping dengan lincah, lalu mengayunkan pedangnya, menggores kulit samping mamut tersebut. Srat! Namun, luka itu hanya goresan tipis.
Level Swordsman yang masih rendah membuatnya belum bisa melakukan serangan fatal yang dalam.
Hal itu justru membuat sang mamut semakin murka. Monster itu mengayunkan gadingnya secara horizontal. Leon tak punya pilihan selain menggunakan bilah pedangnya sebagai perisai.
TENG!
"Ugh!" Leon terdorong mundur beberapa meter. Getaran di pedangnya membuat tangannya mati rasa.
"Aktifkan Appraisal Eye!"
Pandangan Leon menajam. Cahaya biru memindai seluruh tubuh mamut yang besar itu, hingga akhirnya sistem mengunci sebuah titik merah yang berkedip di bagian mata mamut. Titik paling lemah.
Leon mulai bergerak. Dengan poin Agility yang sudah ditingkatkan, pergerakannya kini jauh lebih gesit. Ia berlari memutar, mengecoh sang mamut yang mulai kebingungan mengikuti bayangannya.
Saat mamut itu kehilangan momentum, Leon menemukan celah. Ia memacu langkah, melompat tinggi ke udara, dan mengarahkan ujung pedangnya tepat ke mata monster itu.
JLEB!
"ROAAARRR!"
Mamut itu menjerit memekakkan telinga. Leon yang masih berada di udara terpaksa berpegangan kuat pada gagang pedang yang tertancap dalam. Tubuh mamut itu mengamuk liar, mengguncang Leon hingga akhirnya ia terhempas keras ke tanah.
Bruk!
Mamut itu terus mengamuk kesakitan selama beberapa detik sebelum akhirnya kaki raksasanya melemas. Tubuh besarnya ambruk, menciptakan dentuman keras yang menggetarkan bumi.
Leon bangkit dengan susah payah, berjalan waspada ke arah monster yang sudah tak berdaya itu. Ia mencabut pedangnya dari mata sang mamut, lalu menusukkannya sekali lagi ke titik vital hingga monster itu benar-benar mati.
...[Misi Selesai! Reward diberikan]...
Leon menghela napas lega, menjatuhkan dirinya ke rumput dengan dada yang naik turun tak beraturan. Matanya melirik ke arah notifikasi yang baru saja muncul.
...[Rank Up: F > D]...
"D?!" Leon melongo menatap layar. "Gila... apa ini nyata? Apa karena aku mengalahkan monster Level D, Rank-ku langsung melompat?"
Wajah Leon yang semula kotor penuh debu kini dihiasi seringai lebar. Ia merasa sangat puas. Kesulitan yang nyaris merenggut nyawanya barusan membuahkan hasil yang sepadan.
"Kalau melawan monster yang lebih tinggi, apa Rank-ku bakal naik secepat ini juga?" gumamnya mulai terpikir hal-hal gila.
Kesulitan yang hampir merenggut nyawanya barusan benar-benar membuahkan hasil manis. Ia segera membuka kotak hadiah yang muncul.
...[Selamat! Anda mendapatkan Skill Aktif: Shield Lv.2]...
...>Sebuah skill pelindung yang membutuhkan 25 Mana setiap pemakaian>...
"Shield? Sepertinya ini akan sangat berguna untuk menutupi kelemahan fisikku, meskipun konsumsi Mana-nya lumayan tinggi," gumam Leon.
Ia mengusap dagunya, memperhatikan detail status barunya yang meningkat drastis.
...[ STATUS DIPERBARUI ]...
...Nama : Leon von Anhart | Umur : 19 Tahun...
...Class : Swordsman Lv.2, Brawler Lv.4 | Rank : D...
...HP : 253 / 253 | MP : 100 / 100...
...Stamina : 60 / 60 [+] | Vitalitas : 20 [+]...
...Kekuatan : 24 [+] | Ketahanan : 19 [+]...
...Kelincahan : 19 [+] | Keberuntungan : 4...
...Atribut Khusus : 「Demonic」...
...Skill Aktif : 「Demonic Devour」, Shield Lv.2 | Skill Pasif : Appraisal Eye Lv.1...
...KONDISI KHUSUS : Gagal Jantung Kronis...
...Sisa Umur : 363 Hari...
...Poin : 55...
"Swordsman-ku naik ke level dua," gumamnya sambil menimbang-nimbang pedang besi di tangannya. "Mungkin karena aku berhasil memberikan serangan fatal tadi. Dan statistikku... mereka meningkat otomatis saat Rank-ku naik ke D."
Leon mengepalkan tangan. Ia bisa merasakan aliran energi yang lebih padat di dalam tubuhnya. Jantungnya memang masih terasa berdenyut aneh—pengingat akan penyakit kronisnya—tapi setidaknya sekarang ia tidak akan langsung pingsan hanya karena berlari seratus meter.
"Poin ada 55. Lumayan," pikirnya.
Ia melirik bangkai Mamut raksasa di depannya. Darah segar masih mengalir dari matanya yang hancur. Di dunia ini, kekuatan adalah segalanya, dan sistem ini adalah satu-satunya tiket bagi Leon untuk merobek takdir tragis yang menantinya.
Leon berdiri, menyapu debu di pakaiannya, lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. "Waktunya kembali," gumamnya pelan.