bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga sahabat
Pagi itu suasana kantor kembali seperti biasanya.
Gedung tinggi milik keluarga Dinata terlihat sibuk, para karyawan berlalu-lalang membawa berkas, suara ketikan keyboard terdengar bersahutan, dan ruang meeting kembali dipenuhi diskusi serius.
Namun ada satu hal yang berbeda hari ini.
Yoga kembali.
Setelah beberapa hari “menghilang” dari rutinitasnya.
Dan tentu saja—
itu menjadi bahan utama bagi dua orang yang sudah menunggunya sejak pagi.
Rafi dan Andre.
—
Di dalam ruang kerja Yoga—
pintu terbuka pelan.
Yoga masuk dengan langkah tenang, wajahnya kembali seperti biasa—dingin, fokus, dan profesional.
Ia langsung duduk di kursinya, membuka laptop, dan mulai membaca beberapa laporan yang sudah menumpuk.
Belum sempat lima menit—
tok tok tok
Tanpa menunggu jawaban—
pintu terbuka lebar.
Rafi dan Andre masuk bersamaan.
Dengan wajah… yang terlalu mencurigakan.
Yoga bahkan belum menoleh.
“Ada apa?”
Nada suaranya datar.
Rafi menyilangkan tangan.
Andre bersandar santai di meja.
Keduanya saling lirik.
Lalu—
senyum mereka muncul bersamaan.
“Wah…”
Rafi membuka suara pelan.
“Bos besar kita akhirnya balik juga.”
Andre langsung menimpali,
“Kita kira resign demi cinta.”
Yoga berhenti mengetik.
Tangannya diam di atas keyboard.
Namun ia belum menoleh.
“Ada kerjaan?”
Nada suaranya masih dingin.
Namun—
Rafi dan Andre tahu.
Itu tanda awal.
Mereka justru makin semangat.
Andre mendekat sedikit.
“Kerjaan sih ada…”
“Tapi yang lebih menarik—”
Ia menatap Yoga penuh arti.
“—cerita cinta lo.”
Yoga akhirnya menoleh.
Tatapannya tajam.
“Keluar.”
Satu kata.
Tegas.
Namun—
tidak mempan.
Rafi malah tertawa kecil.
“Eh santai dong…”
“Kita ini sahabat lo, bukan karyawan doang.”
Yoga menghela napas.
“Gue lagi kerja.”
Andre langsung mengangkat alis.
“Wih… kerja katanya.”
Rafi menepuk bahu Andre pelan.
“Lo denger nggak?”
Andre pura-pura mikir.
“Hmm… ini orang yang sama yang dulu bilang—”
Lalu mereka berdua kompak menatap Yoga.
“Kerja lebih penting dari apapun.”
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Yoga menatap mereka tanpa ekspresi.
Namun rahangnya sedikit mengeras.
Andre langsung menahan tawa.
“Terus sekarang…”
Rafi melanjutkan,
“—ninggalin meeting penting, kabur ke rumah sakit, jaga cewek, bahkan—”
Ia mendekat.
“—nginep.”
Yoga langsung berdiri.
Kursinya terdorong sedikit ke belakang.
“Udah selesai?”
Nada suaranya mulai berubah.
Andre langsung angkat tangan.
“Belum, masih banyak.”
Rafi tertawa.
“Ini baru pembukaan.”
Yoga memijat pelipisnya.
“Gue lagi nggak mood.”
Andre menyeringai.
“Justru itu yang kita tunggu.”
—
Rafi berjalan pelan mengelilingi meja.
“Jadi…”
Ia berhenti di depan Yoga.
“Sejak kapan sih lo berubah jadi bucin?”
Yoga menatapnya tajam.
“Gue nggak bucin.”
Andre langsung nyengir lebar.
“Penolakan tahap pertama.”
Rafi mengangguk serius.
“Denial.”
Yoga menghela napas kasar.
“Gue cuma bantu dia.”
Andre langsung mendekat.
“Bantu?”
Ia menahan tawa.
“Bantu sampai ninggalin kerjaan?”
Rafi menambahkan,
“Bantu sampai nginep di rumah sakit?”
Andre lagi,
“Bantu sampai nyuapin, dipijat, dipeluk—”
“CUKUP.”
Suara Yoga meninggi.
Untuk pertama kalinya.
Ruangan langsung hening.
Namun—
hanya sebentar.
Rafi dan Andre saling pandang.
Lalu—
tertawa.
“Kena.”
Andre menunjuk Yoga.
“Reaksi lo udah beda.”
Yoga menatap mereka kesal.
“Lo berdua nggak ada kerjaan?”
Rafi santai.
“Ada.”
“Cuma lebih seru ganggu lo.”
—
Yoga berjalan menjauh, mencoba kembali ke kursinya.
Namun Andre tidak berhenti.
“Serius, Yo…”
Nada suaranya sedikit lebih dalam.
“Lo suka sama dia, kan?”
Yoga diam.
Tidak langsung jawab.
Rafi memperhatikan ekspresinya.
Lalu pelan berkata,
“Bukan suka lagi ya kayaknya.”
Hening.
Beberapa detik.
Yoga akhirnya duduk.
Menatap meja.
Lalu—
tanpa melihat mereka—
“Iya.”
Jawaban itu keluar.
Pelan.
Namun jelas.
Rafi dan Andre langsung membeku.
“Anjir…”
Andre refleks.
Rafi sampai menganga.
“Serius lo?!”
Yoga mengangkat wajah.
Tatapannya tajam.
“Kenapa?”
Andre langsung mengangkat tangan.
“Bukan… cuma…”
Ia tertawa tidak percaya.
“Ini Yoga, bro.”
Rafi mengangguk cepat.
“Yang anti hubungan.”
“Yang bilang cinta itu ganggu fokus.”
“Yang nolak semua cewek—”
Andre menyela,
“—dan sekarang jatuh cinta?”
Yoga menyandarkan tubuhnya.
Sedikit lelah.
“Iya.”
Satu kata.
Namun berbeda dari sebelumnya.
Lebih… jujur.
—
Hening.
Untuk pertama kalinya—
Rafi dan Andre tidak langsung menggoda.
Mereka saling pandang.
Lalu—
Rafi duduk di kursi depan meja.
“Serius nanya.”
Nada suaranya berubah.
“Lo yakin?”
Yoga menatapnya.
“Iya.”
Andre ikut duduk di samping.
“Dia beda?”
Yoga terdiam sebentar.
Lalu—
“Iya.”
Jawaban itu lebih dalam.
Lebih berarti.
—
Rafi menghela napas.
“Gila sih…”
Andre tersenyum kecil.
“Tapi… akhirnya.”
Yoga mengerutkan dahi.
“Akhirnya?”
Andre mengangguk.
“Lo jadi manusia normal.”
Yoga langsung melotot.
Rafi tertawa keras.
“Setuju.”
—
Namun kemudian—
Rafi kembali serius.
“Cuma satu yang gue khawatirin.”
Yoga menatapnya.
“Apa?”
Rafi menyandarkan tubuhnya.
“Perbedaan dunia kalian.”
Hening.
Andre tidak bercanda kali ini.
“Lo tau sendiri keluarga lo kayak gimana.”
Yoga diam.
Rafi melanjutkan,
“Dan dia…”
“…bukan dari dunia itu.”
Kalimat itu menggantung.
Berat.
—
Yoga menunduk.
Untuk pertama kalinya—
ia tidak langsung menjawab.
Karena—
ia tahu.
Itu benar.
—
Andre menatapnya pelan.
“Lo siap?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun dalam.
Yoga menarik napas panjang.
Lalu—
mengangkat wajahnya.
Tatapannya tegas.
“Gue nggak peduli.”
Rafi mengangkat alis.
“Serius?”
Yoga mengangguk.
“Untuk pertama kalinya…”
Ia berhenti sebentar.
“…gue nggak mau mikirin semua itu.”
Andre tersenyum kecil.
“Gila.”
Rafi menggeleng.
“Bucin parah.”
Yoga langsung melempar pulpen ke arah mereka.
“Keluar!”
—
Namun kali ini—
mereka berdua hanya tertawa.
Bukan mengejek.
Tapi—
mengerti.
Bahwa sahabat mereka—
benar-benar jatuh.
Dan kali ini—
bukan setengah-setengah.
—
Sebelum keluar—
Andre menoleh.
“Yo.”
Yoga mendongak.
“Jangan nyerah ya.”
Rafi menambahkan,
“Kalau lo serius… perjuangin.”
Yoga tidak menjawab.
Namun tatapannya berubah.
Lebih dalam.
Lebih yakin.
—
Pintu tertutup.
Ruangan kembali sepi.
Yoga duduk sendiri.
Menatap kosong ke depan.
Lalu pelan berbisik—
“Gue nggak akan nyerah…”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang itu matahari bersinar lembut menembus jendela besar gedung Dinata. Udara hangat berpadu dengan hembusan AC yang stabil, membuat suasana kantor tidak terlalu panas, namun terasa nyaman. Di gerbang utama kantor, Rafi berdiri menunggu. Tangannya memegang tas besar berisi pesanan makan siang, sementara matanya terus menatap ke arah jalan masuk, waspada jika ada kendaraan yang mendekat.
“Eh, siapa itu?” Rafi melihat dari kejauhan sosok Arabella berjalan cepat dengan langkah ringan. Rambut hitam panjangnya tertiup angin sepoi, dan wajahnya tampak cerah meski ada sedikit kekhawatiran di matanya.
Rafi tersenyum tipis, lalu melangkah cepat menyongsong Bella di gerbang.
“Bella? Apa kabar? Lagi ke sini sendirian?” tanya Rafi sambil menepuk bahu Bella dengan santai.
Bella tersenyum malu, menundukkan kepalanya sebentar. “Aku… aku cuma mau antar makan siang Yoga. Aku pikir… ah, nggak ada salahnya kan?” jawab Bella dengan nada pelan, namun nada itu terdengar hangat.
Rafi mengangguk sambil menyunggingkan senyum jahilnya. “Oh, jadi ini misi cinta, ya? Antar makan siang langsung ke bos yang paling galak di sini?”
Bella tersenyum canggung, sedikit menahan tawa. “Hentikan, Rafi… jangan bikin aku tambah gugup.”
Rafi tertawa ringan, lalu menunjuk ke arah gedung. “Yuk, aku antar sampai ruangan. Jangan sampai jalan sendirian, ntar ketemu macet atau malah nyasar.”
Bella mengangguk, langkahnya dipercepat sedikit. Mereka berjalan beriringan memasuki gedung. Rafi sesekali melempar komentar ringan tentang “romantisme makan siang” dan Bella menanggapinya dengan senyum tipis.
Begitu mereka sampai di depan pintu ruang Yoga, Bella berhenti sejenak. Tangannya terangkat, siap mengetuk pintu, namun Rafi menahan tangannya. “Eh… jangan ketuk dulu. Nggak perlu… masuk aja pelan-pelan, mungkin dia lagi sibuk.”
Bella menelan ludah, dan tanpa mengetuk atau memberi isyarat, ia membuka pintu perlahan. Ruangan itu sunyi kecuali suara ketikan laptop yang monoton.
Yoga—tanpa menyadari kehadiran Bella—terfokus pada layar laptopnya. Kacamata tebalnya menempel di hidung, wajah serius, alisnya sedikit berkerut karena konsentrasi. Setiap jari tangannya menari di atas keyboard dengan presisi.
Hingga—tanpa diduga—suara pintu yang terbuka perlahan itu terdengar.
Yoga langsung menoleh, matanya membulat. “Siapa masuk tanpa izin?” suaranya tegas namun sedikit terkejut.
Bella tersenyum pelan, mencoba menenangkan diri. “Aku… aku Bella. Aku cuma… antar makan siang.”
Wajah Yoga berubah seketika. Tatapan tajamnya melembut. Tubuhnya sedikit tegak, kaget namun senang. “Bella…?” gumamnya, hampir tak terdengar.
Bella tersenyum malu. “Iya… aku nggak ingin ganggu kerjaanmu, jadi aku diam-diam masuk.”
Yoga menatap Bella beberapa detik, seolah menahan rasa senang dan lega bercampur. Ia menghela napas panjang. “Heh… masuk sembarangan begini… jangan ulangi lagi, ya.”
Bella tertawa kecil, sedikit gugup. “Baik, tapi aku janji cuma untuk makan siangmu.”
Yoga menutup laptopnya perlahan, meninggalkan segala pekerjaan sejenak, dan berdiri. “Baiklah… kalau begitu, duduklah di sini.” Ia menunjuk kursi di seberang mejanya.
Bella mendekat dengan langkah ringan, duduk sambil membuka tas bawaannya. Di dalamnya, ada kotak makanan yang sudah disiapkan dengan rapi. Aroma makanan hangat itu langsung mengisi ruangan, membuat suasana menjadi lebih santai.
“Hmm… kamu benar-benar repot-repot membawa semua ini?” Yoga berkata sambil tersenyum tipis.
Bella mengangguk. “Aku cuma ingin memastikan kamu makan siangmu cukup… dan sehat.”
Rafi, yang sejak tadi berdiri di luar, memandang dengan bangga. Ia tahu Bella benar-benar peduli pada Yoga. Sementara di dalam, Yoga memandangi Bella dengan tatapan yang sulit diungkapkan. Ada rasa hangat, lega, dan senang bercampur.
Mereka mulai makan dengan pelan, saling memberi perhatian. Yoga mengambil sepotong makanan dan mencoba menyuapkan Bella, tapi Bella menolak. “Ah, nggak usah lebay.”
Yoga mengangkat alisnya, sedikit cemberut. “Aku cuma ingin pastikan kamu makan juga.”
Bella tersenyum tipis, lalu menatapnya. “Kalau begitu… gantian aku yang menyuapmu.”
Yoga terkejut. Bella mengambil sepotong makanan dengan sendok, lalu memberikannya perlahan.
Momen itu seakan berhenti sejenak. Mata mereka bertemu, tatapan penuh rasa nyaman dan kehangatan. Tanpa disadari, tangan mereka kadang bersentuhan saat mengambil makanan. Aroma makan siang, suara alat makan, dan cahaya matahari yang menembus jendela membuat suasana semakin intim.
Percakapan mereka pun mengalir dengan ringan. Bella bercerita tentang kedua adiknya, tentang bagaimana mereka menunggu kabar dari ibu, dan tentang hal-hal kecil yang terjadi di kos. Yoga mendengarkan dengan saksama, sesekali tersenyum, sesekali mengangguk. Ia menanggapi dengan suara lembut dan perhatian, membuat Bella merasa nyaman.
“Kalau aku bisa bantu lebih banyak, bilang saja,” kata Yoga sambil menatap Bella.
Bella tersenyum malu. “Aku… aku cukup senang kamu makan siangmu sekarang. Itu sudah cukup.”
Mereka berdua saling tersenyum, lalu kembali makan dengan pelan. Tak terasa beberapa menit berlalu.
Lalu Yoga tiba-tiba mengambil napas panjang. “Aku ingin tanya… tentang kemarin… kamu… bahagia?”
Bella menatapnya. “Aku? Ya… sedikit. Tapi… aku tetap khawatir tentang ibu. Aku nggak mau terlalu membebanimu.”
Yoga menggenggam tangan Bella sebentar di atas meja. Sentuhannya lembut tapi penuh arti. “Aku nggak keberatan. Aku… ingin menjaga kamu juga.”
Bella menundukkan kepala, jantungnya berdegup kencang. Ia tersadar bahwa perasaan mereka mulai semakin jelas. Bukan sekadar perjanjian, bukan sekadar rasa tanggung jawab, tapi rasa yang lebih dalam.
Percakapan berlanjut, semakin personal. Yoga bercerita tentang pekerjaannya, tentang tekanan keluarga, dan tentang betapa beratnya menjadi pewaris Dinata Group. Bella mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menanyakan hal-hal kecil untuk membuatnya lebih nyaman.
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Makanan siang hampir habis, dan mereka masih duduk di sana, saling menatap dan tersenyum. Kadang mereka saling memberi sepotong makanan, kadang tertawa kecil karena komentar yang lucu atau canggung.
Di luar ruangan, Rafi masih menunggu, sesekali mengintip melalui kaca. Ia tersenyum sendiri, melihat sahabatnya dan Bella begitu harmonis, begitu hangat. Ia mengerti, ini bukan sekadar perjanjian lagi. Ini sudah menjadi sesuatu yang nyata.
Ketika makan siang selesai, Bella membereskan kotak makanannya, dan Yoga menaruh tangan di kursi sebelah Bella, memberikan sedikit ruang agar ia nyaman. Bella menatapnya sebentar, lalu tersenyum. “Terima kasih… sudah makan siangku bersamaku.”
Yoga tersenyum tipis, menundukkan kepala. “Terima kasih juga… karena sudah datang.”
Mereka berdua terdiam sejenak. Ada ketenangan, ada kehangatan yang sulit dijelaskan.
Bella akhirnya berdiri, mengambil tasnya. “Aku harus kembali… adikku menunggu. Tapi aku senang bisa makan siang bersamamu.”
Yoga menatapnya, sedikit ragu. “Kamu… nanti kalau bisa, jangan terlalu sering mengabaikan dirimu sendiri demi aku.”
Bella tersenyum. “Aku tahu… dan aku akan berusaha. Tapi aku senang bisa di sini bersamamu.”
Yoga mengangguk, menahan senyumnya. “Aku juga senang.”
Bella meninggalkan ruangan perlahan. Ketika pintu tertutup, Yoga duduk kembali, menatap layar laptopnya namun pikirannya melayang pada Bella. Senyum tipis terus tersungging di wajahnya.
Di luar, Rafi menepuk pundak Bella. “Gimana? Romantis kan?”
Bella tersenyum malu. “Iya… tapi kita harus tetap rahasiakan ini.”
Rafi mengangguk, menahan tawa. “Tenang… gue ngerti. Tapi sungguh, Yoga nggak pernah kayak gini sebelumnya.”
Bella hanya tersenyum lagi, menatap kantor yang kini terasa lebih hangat. Di hatinya, ada perasaan baru—perasaan yang tumbuh pelan tapi pasti.
Sementara itu, Yoga kembali menatap layar laptopnya. Tapi kali ini, hatinya jauh lebih ringan. Setidaknya, ada satu hal yang pasti… ia ingin selalu menjaga Bella.
Dan makan siang sederhana itu—yang penuh tawa, perhatian, dan momen-momen canggung tapi hangat—menjadi awal bab baru dalam hubungan mereka yang rumit namun indah.