NovelToon NovelToon
Kaisar Abadi Penentang Surga

Kaisar Abadi Penentang Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.

Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harta Rampasan

Angin malam yang dingin menyapu wajah Jian Chen saat ia melangkah keluar dari balik air terjun kering di pinggiran barat Ibu Kota. Bau anyir darah dan arak murah dari Kota Dosa perlahan memudar, digantikan oleh aroma segar embun pegunungan.

Ia menggunakan Langkah Hantu Kekosongan, tubuhnya berkedip melintasi pepohonan lebat layaknya gumpalan asap yang tak bisa diikat angin. Dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, ia telah mendaki kembali ke wilayah terlarang Puncak Awan Awan dan mendarat di depan gubuk bambunya tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun.

Jian Chen melepaskan topeng hantunya, membiarkan wajahnya yang dingin diterpa cahaya bulan purnama. Ia duduk bersila di atas ranjang bambunya dan melepas sepuluh Kantong Penyimpanan berlumuran darah dari sabuknya.

"Waktunya menuai hasil," gumamnya pelan.

Dengan Indra Spiritual-nya yang tajam, ia menghancurkan jejak kesadaran fana dari para pemilik sebelumnya dengan sangat mudah. Kantong-kantong itu terbuka satu per satu, memuntahkan isinya ke atas lantai gubuk.

Tumpukan koin emas, botol-botol giok berisi pil, senjata baja, dan batu-batu spiritual berserakan.

Jian Chen memilahnya dengan cepat, mengabaikan sebagian besar barang yang tak berguna. Senjata baja spiritual tingkat rendah dan pil penyembuh fana buatan tabib jalanan hanya membuang ruang di Cincin Penyimpanan-nya; benda-benda itu akan ia lebur menjadi abu nanti.

Namun, kekayaan dari sepuluh petarung tingkat atas Gelanggang Asura tidak bisa diremehkan. Setelah digabungkan, ia mendapatkan lebih dari lima ribu Batu Spiritual Tingkat Rendah dan tiga puluh Batu Spiritual Tingkat Menengah!

Bagi seorang kultivator tanpa sekte, ini adalah harta warisan yang bisa menghidupi tujuh generasi.

"Tidak buruk untuk satu malam perburuan. Ditambah dengan sisa pemberian Guru, aku memiliki cukup pasokan untuk menerobos ke Tingkat Tujuh Puncak dalam beberapa hari ke depan," batin Jian Chen, menyapu semua batu spiritual itu ke dalam cincinnya.

Saat ia memeriksa kantong penyimpanan terakhir—milik Xie San, sang algojo Tingkat Delapan Puncak—perhatiannya tertuju pada sebuah benda yang terselip di antara tumpukan kain.

Itu bukanlah batu spiritual atau teknik rahasia, melainkan sebuah lempengan logam seukuran telapak tangan. Logam itu berwarna merah darah pekat, terasa sangat berat di genggaman, dan memiliki ukiran sekuntum teratai yang sedang mekar di tengahnya. Di balik lempengan itu, terukir dua kata kuno: Pasar Gelap.

Weng!

Tiba-tiba, telinga Jian Chen menangkap suara kepakan jubah dari luar gubuknya. Bau arak yang sangat khas menyusul sesaat kemudian.

"Membantai sepuluh ahli Tingkat Delapan dengan tangan kosong dalam satu tarikan napas per orang... dan kau kembali ke gunungku bahkan sebelum botol arak keduaku habis."

Pintu bambu gubuk didorong terbuka. Feng Wuya berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen sambil memegang labu kuningnya. Mata tua itu menyipit, menatap muridnya dengan tatapan tajam yang seolah ingin membelah jiwanya.

"Guru Feng," Jian Chen mengangguk pelan, sama sekali tidak terkejut dengan kedatangannya.

"Bocah monster," Feng Wuya melangkah masuk, menggelengkan kepalanya. "Baru saja aku mendapat pesan dari pelataran luar bahwa ada pendatang baru bertopeng hantu yang menghancurkan arena besi Kota Dosa. Awalnya aku mengira kau hanya akan menang tiga atau empat kali lalu pulang dengan luka memar. Tapi auramu... Tingkat Tujuh Menengah?! Kau merangkak naik ke tahap menengah hanya dalam satu malam?!"

Bahkan bagi seorang ahli Alam Inti Emas seperti Feng Wuya, kecepatan kultivasi Jian Chen melanggar semua pemahaman tentang batasan langit dan bumi. Menembus rintangan kultivasi biasanya membutuhkan meditasi mendalam dan pemahaman Dao, bukan sekadar berkelahi di gelanggang lumpur!

"Gelanggang kematian sangat bermanfaat untuk melancarkan peredaran Qi-ku," balas Jian Chen santai, memberikan alasan yang terdengar masuk akal bagi kultivator gila pertarungan. Ia tidak berniat mengungkapkan keberadaan Seni Melahap Surga Primordial.

Jian Chen kemudian melemparkan lempengan logam merah darah itu ke arah gurunya. "Guru, apa kau mengenali benda ini? Aku menemukannya pada mayat pembunuh bayaran tercepat di arena itu."

Feng Wuya menangkap lempengan itu. Begitu matanya mengenali ukiran teratai darah, raut wajahnya yang biasanya dipenuhi tawa mabuk mendadak menjadi sangat serius.

"Undangan Teratai Darah," gumam Feng Wuya, nada suaranya menjadi berat. Ia menatap Jian Chen. "Bocah, kau sangat beruntung... atau mungkin sangat sial. Ini adalah tanda masuk ke Pelelangan Teratai Darah."

"Pelelangan fana?" Jian Chen mengangkat sebelah alisnya. "Aku sudah memiliki akses ke Paviliun Bintang Emas di ibu kota. Mengapa harus peduli dengan pelelangan rahasia?"

Feng Wuya mendengus pelan, melempar kembali lempengan itu kepada Jian Chen.

"Paviliun Bintang Emas memang rumah lelang terbesar, tapi mereka terikat oleh aturan Kerajaan Angin Langit dan aliansi sekte. Mereka tidak berani menjual barang rampasan, teknik terlarang, atau pusaka dari makam kuno yang masih diperdebatkan kepemilikannya. Pelelangan Teratai Darah... itu berbeda."

Feng Wuya menyesap araknya sebelum melanjutkan, "Itu adalah perhelatan pasar gelap yang hanya diadakan tiga tahun sekali. Tempat itu mempertemukan buronan kelas atas, monster tua yang bersembunyi dari sekte, dan pangeran kerajaan yang datang menyamar. Di sana, Batu Spiritual hanyalah debu. Orang menukar nyawa, rahasia kuno, budak tingkat tinggi, dan relik yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat."

Mata Jian Chen seketika berbinar. Jika paviliun fana hanya menjual barang-barang resmi, maka barang-barang pusaka langka yang tidak diketahui asal-usulnya pasti akan berakhir di pasar gelap ini. Sebagai mantan Kaisar Abadi, wawasannya tentang harta karun tak berbatas. Sesuatu yang dianggap 'batu rongsokan tak berguna' oleh orang fana mungkin adalah pusaka keilahian di matanya!

"Kapan perhelatan itu diadakan?" tanya Jian Chen, tidak lagi menyembunyikan ketertarikannya.

"Tiga hari lagi. Tempatnya selalu berpindah, tetapi lempengan itu akan memancarkan pendaran cahaya yang menunjuk ke lokasi persisnya saat malam pelelangan tiba," Feng Wuya menghela napas. "Jika kau ingin pergi ke sana, sebaiknya gunakan topeng hantumu. Meskipun kau muridku, jika kau memenangkan sesuatu yang diincar oleh monster tua di sana, mereka tidak akan ragu memenggal kepalamu di jalan pulang."

"Jika mereka menginginkan hartaku, mereka harus punya leher yang lebih keras dari pedangku," jawab Jian Chen dingin.

"Sombong," Feng Wuya tersenyum kecut, meski ia sangat menyukai aura dominan muridnya itu. "Pergilah jika kau mau. Jangan sungkan menggunakan batu spiritual yang kuberi. Tapi ingat janji kita: Enam bulan... tidak, tinggal lima bulan lagi menuju Pertarungan Enam Sekte. Aku ingin kau memastikan bahwa sekte-sekte bajingan itu tidak berani mengangkat kepala mereka di depanku!"

"Aku tidak pernah mengingkari janjiku," ucap Jian Chen.

Setelah Feng Wuya pergi meninggalkan gubuknya, Jian Chen memutar Lempengan Teratai Darah di tangannya. Senyum buas perlahan terukir di wajahnya.

"Tiga hari... Aku punya waktu tiga hari untuk menelan sisa batu spiritual ini dan memadatkan kekuatanku hingga ke batas Tingkat Tujuh Puncak," Jian Chen mengepalkan tinjunya.

Dalam pelelangan hitam yang dipenuhi oleh serigala dan harimau kelaparan, kekuatan mutlak adalah satu-satunya pelindung. Siapa pun yang berani mengincar harta miliknya nanti, akan merasakan pedihnya dihakimi oleh sang Penguasa Kekosongan.

1
selenophile
lagi
Nanik S
Aturan baru sang Monster👍👍👍
Nanik S
Paman dan keponakan yang rakus
Nanik S
Maaantaaap dapat harta karun
Nanik S
Dapat cincin Gratis
Nanik S
Mantap Pooool 👍👍👍
Bambang Widono
👍👍👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Optimus prime
cerita nya bagus...TPI lebih bagus ga ush pake bahasa inggris thor...👍👍
Nanik S
Pulang menghadapi Anjing dan pieraanya
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir dan cukup menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!