Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 18
Zenna berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang terasa asing—namun entah mengapa, begitu menenangkan.
Ia mengenakan gaun panjang berwarna gading keemasan. Kain sutra lebar itu jatuh dengan lembut, berhias bordir halus di ujungnya, memantulkan cahaya seperti serpihan doa yang belum selesai dipanjatkan.
Sepintas gaun itu tampak sederhana, namun tetap indah dan selaras dengan kecantikan paras alami yang mengenakannya.
"Mashaa Allah... cantik sekali anak Umi yang satu ini! Seperti bidadari yang baru turun dari langit!"
Umi Sarah muncul dengan senyum merekah. Ia sendiri tampil cantik dan anggun dengan abaya dan jilbab pesta berwarna perak yang dihiasi payet-payet kristal.
"Umi berlebihan...," gumam Zenna malu.
"Umi bicara apa adanya, Sayang. Mama dan Papamu pasti juga akan berkata sama... mereka pasti turut menyaksikan hari istimewa ini dengan bahagia dari alam sana," timpal Umi Sarah lembut.
Zenna berusaha keras menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Menurut Umi... suatu hari nanti, Zenna akan bisa bertemu dan berkumpul bersama Mama dan Papa lagi...?" tanya Zenna lirih. Hatinya diliputi rindu, asa, sekaligus pedih.
"Kenapa tidak, Sayang?" Umi Sarah merangkul Zenna dan membelai punggungnya. "Anak yang tulus dan berbakti akan membawakan mahkota untuk kedua orangtuanya di surga. Kamu pasti bisa berkumpul lagi dengan mereka di sana..."
"Tapi Zenna bukan anak seperti itu...," Zenna tak mampu lagi membendung tangis. "Zenna berlumur dosa, Umi... Zenna gagal membanggakan Mama dan Papa selama mereka hidup... Zenna--"
"Ssssshh! Jangan bicara seperti itu, Zenna," tegur Umi Sarah halus. "Allah itu Maha Penyayang lagi Maha Pengampun. Tak ada dosa yang tidak diampuni-Nya jika Dia sudah berkehendak. Ingat kisah wanita penghibur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan? Sehebat itulah ampunan dan kasih sayang Allah! Selama kamu mau bertaubat dan berbuat kebaikan sebelum ajal menjemput... tak ada kata gagal dalam hidupmu. Kamu mengerti?"
Kata-kata Umi Sarah seperti oase sejuk yang meresap dalam batin gersang Zenna. Perlahan raut wajah cantiknya kembali tenang, dan ia pun mengangguk.
"Siap mengenakan ini?"
Umi Sarah kemudian mengambil dan mengulurkan jilbab sutra lebar dengan bahan dan warna senada gaun Zenna.
Zenna kembali mengangguk. Tak ada keraguan di hatinya setitik pun.
"Iya, Umi. Zenna siap menebus segalanya mulai sekarang... Inshaa Allah."
Umi Sarah tersenyum lebar, raut mukanya diliputi bahagia dan haru.
"Alhamdulillah... semoga setiap langkahmu bernilai ibadah setelah ini. Aamiin."
"Aamiin. Terima kasih, Umi."
"Kembali kasih, Zenna Sayang."
Umi Sarah pun membantu Zenna mengenakan jilbab di kepalanya, untuk pertama kali dalam hidupnya.
Kain itu terasa sejuk dan lembut, dan anehnya, terasa seperti sesuatu yang selama ini hilang, namun kali ini kembali untuk memeluknya pulang.
Umi Sarah dengan terampil menata jilbab itu hingga sepenuhnya menutup rambut ikal panjang Zenna yang biasanya terurai indah di punggung dan berkilau tertimpa cahaya. Tetapi jilbab itu sama sekali tak mengurangi kecantikannya. Justru sebaliknya.
Garis wajah, mata, dan hidungnya yang lurus tampak terlihat makin tegas dan bersinar. Pipi dan bibir merah mudanya sangat kontras dengan kain berwarna emas.
"Aduh... kok jadi semakin cantik ini," puji Umi Sarah sambil tertawa. "Jadi minder Umi!"
Zenna pun ikut tertawa. Pipinya kian merah.
"Umi... bisa tolong beri Zenna cadar juga?" pinta Zenna perlahan.
Umi Sarah mengerjap. "Serius kamu mau pakai cadar juga?"
Zenna tersenyum dan mengangguk.
"Setelah ini, Zenna akan menjadi istri Bram," tutur Zenna lembut. "Zenna akan menebus dosa-dosa Zenna dengan menjadi istri yang berbakti bagi Bram. Termasuk, hanya mempersembahkan aurat dan wajah Zenna untuk menyenangkan Bram semata... juga sebagai pengingat bahwa Zenna akan terus bertaubat. Tidak apa-apa, kan, Umi?"
"Tentu saja... kalau memang itu itikad ikhlas dari hatimu, Sayang," angguk Umi Sarah, ekspresinya teduh. "Umi akan ambilkan cadar untukmu. Tunggu sebentar ya."
Umi Sarah mengambil sehelai cadar satin berwarna emas di lemari pakaiannya dan memberikannya pada Zenna.
Usai mengenakan cadar itu, Zenna nyaris tak mengenali dirinya lagi di cermin. Bukan karena ia berubah menjadi orang lain—tetapi karena akhirnya… ia menjadi dirinya yang seharusnya.
Sejatinya wanita.
Ia pun bisa melangkah dengan tegak, tenang dan penuh keyakinan--sesuatu yang sudah lama sekali tidak bisa dilakukannya sejak bertahun-tahun belakangan.
Dadanya terasa sangat ringan.
"Selamat datang di dunia baru, Naa! Upgrade langsung jadi ukhti premium, nih!"
Kalila mengejutkannya dengan gurauan dan tawa riang saat Zenna melangkah keluar dari kamar Umi Sarah di lantai dua kediaman keluarga Mardani. Sahabatnya itu juga tampil cantik dengan gamis dan jilbab pesta berwarna merah muda.
Zenna tertawa. Ia menatap Kalila dengan perasaan menyesal sekaligus haru.
"Trims, Kal... maaf ya kalau aku--"
"Dimaafkan, Zenna. Semuanya dimaafkan," kata Kalila, air mukanya yang cerah kini melembut. "Jangan lagi ada kesedihan dan penyesalan setelah ini--terutama hari ini. Ini adalah hari bahagiamu, ingat? Calon imammu sudah bersiap di ruang keluarga. Apa kamu juga sudah siap?"
Wajah Zenna semakin merah di balik cadarnya. Ia mengangguk pelan.
Didampingi Umi Sarah dan Kalila, Zenna melangkah dan memasuki bilik khusus yang disiapkan di sudut ruang keluarga kediaman Mardani.
Sejumlah orang sudah berkumpul dan duduk dengan khidmat di ruangan luas berdekor serba putih dan emas itu. Keluarga besar Mardani--Abah Handoyo, Ridwan dan istrinya, Suri yang tengah menggendong si kecil Isa, sudah duduk melingkar bersama beberapa orang bermarga Atmaja, siap menjadi saksi ikatan suci yang akan ditautkan Bram di hadapan penghulu dan wali sah, yaitu salah satu paman Zenna dari pihak ayahnya, tak lama lagi.
Ya, hari itu, Bram Atmaja dan Zenna akan melangsungkan prosesi akad nikah, sesuai wasiat Zahir Atmaja dan Amalia Hartati selaku orangtua kandung Zenna, juga sebagai jawaban dari hati Zenna setelah Bram mengajukan lamaran resmi beberapa pekan lalu.
Akad nikah itu sengaja digelar di rumah Umi Sarah dan Abah Handoyo. Itu adalah permintaan Zenna yang dikabulkan semua pihak terkait, sebelum ia menginjakkan kaki di rumah warisannya, yaitu kediaman keluarga Atmaja yang selama ini juga menjadi rumah Bram, sebagai istri sah Bram.
Hidup Zenna sungguh rumit dan tak mudah sejak awal. Tetapi seiring waktu berputar, gelap pun mulai pudar disingsing fajar.
Dan hari ini, janji suci Bram terlantun sehangat matahari yang terbit di pagi pertama musim semi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zenna Amalia binti Zahir Atmaja dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seribu gram, dibayar tunai."
"Bagaimana? Sah, saudara-saudara saksi sekalian?"
"Sah!"
Doa dan ayat suci terlantun, diaminkan manusia dan malaikat-malaikat yang menyaksikan di balik tabir cahaya.
Untuk pertama kalinya, bahagia terbit menggusur segenap lara yang bersembunyi dalam kalbu Zenna. Air matanya kembali tumpah seiring lembar barunya terbuka, diawali janji dan doa yang akan mengiringi langkahnya menebus segala dosa.
Seisi ruangan hening ketika Zenna melangkah keluar bilik. Ia dengan anggun menghampiri Bram, yang terlihat sangat tampan dalam setelan jas sehitam langit malam. Namun tanpa bisa dicegah, jemarinya gemetar ketika meraih tangan Bram dan menciumnya.
Sentuhan pertama sebagai suami istri itu terasa begitu menggetarkan kalbu.
Air mata Zenna kembali luruh. Yang kali ini tak terasa pahit, melainkan hangat.
Bram terdiam, lantas perlahan mengangkat jemari untuk menghapus linang bening itu dengan sangat lembut.
Zenna mendongak. Tatapan keduanya bertemu. Begitu jernih dan saling mengukir janji, yang tanpa suara, sampai dengan alami di kedalaman hati masing-masing.
Aku berjanji akan melindungi dan membahagiakanmu sampai akhir, batin Bram.
Aku berjanji akan mendampingi dan menjaga hatimu sampai akhir, batin Zenna.
Keduanya bertukar cincin dan tersenyum, kemudian bergandengan tangan dan melangkah bersama di bawah sentuhan cahaya semesta, menuju pesta perayaan selanjutnya.
***