NovelToon NovelToon
Cinta Ribuan Duri

Cinta Ribuan Duri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / CEO
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”

Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.

— Cinta Ribuan Duri —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Sakit

" Darimana aja?, ngga ingat sudah punya suami?, atau mau sekalian pergi jauh? "

Suara Rafa yang mengisi keheningan di kamar tersebut, terdengar kala pintu kamar terbuka Ardila menghela napas dalam.

" Maaf mas, aku terlambat pulang! " Kata Dila dengan suara bergetar, ia berusaha meraih tangan sang suami lalu mencium punggung tangannya. " Anak yang kamu temui, udah ketemu orangtuanya? " Tanya Rafa dengan mata menelisik menguliti setiap inci wajah Sang istri. " Udah mas! "

Rafa, hanya mengangguk wajahnya tanpa emosi ia berbaring di ranjangnya membuat hati — Ardila berdenyut sakit seperti di robek-robek. Ardila masuk ke dalam kamar mandi

Buliran bening, berjatuhan Ia menatap kaca melihat pantulan dirinya yang begitu — Hancur mata bengkak hidung merah. Tenggorokan nya sakit — harus menelan semua kata-kata dan tangisannya, " Sesakit, inikah pernikahan tanpa cinta? " Gumamnya ia tangannya menyalakan keran wastafel,

" Ma.. Pa, sakitt! " Ia memegang dadanya meremas pusat rasa sakit tersebut,

" Dila ngga kuat!, capek! " Ia mengigit bibir dalamnya, Air wastafel mengucur menenggelamkan tangisan Ardila di kamar mandi tersebut.

Krekk!

Pintu kamar mandi terbuka, Ardila menyipitkan mata kala melihat Rafa yang sedang mengeluarkan jaket bahannya. Dari lemari " Mau kemana mas? " Tanya Ardila membuat Rafa menoleh,

" Mau ke rumah teman mas, Katanya dia baru kecelakaan dek!.. Makanya mas mau jenguk dia kasihan! " Kata Rafa sembari memakai Jaketnya " Astaghfirullah, yaAllah kasihan sekali. " Ardila spontan menutup mulutnya dengan tangan nya yang masih basah karena habis mandi.

" Kamu, ngga apa-apa kan mas tinggal? "

" Ya, titip salam untuk teman mas semoga lekas membaik! " Kata Ardila tulus ia menyalami tangan sang suami,

" Ya, mas berangkat kamu kalau mau tidur aja duluan!. Karena ngga tentu mas pulang atau ngga! "

" Ya mas! "

Ardila, menatap punggung sang suami hingga hilang dimakan pintu hanya ada kesunyian di ruangan tersebut. Entah mengapa tetiba hatinya terasa sepi,

Tring!

Ardila, memanjangkan lengannya mengambil ponselnya yang terletak di Meja — kecil di sisi Ranjangnya. Ia mengigit bibir nya kala melihat Isi pesan tersebut, " Entahlah mas, apa pernikahan yang kita.. Jalani saat ini! " Katanya sembari menjatuhkan tubuhnya perlahan ke ranjang.

Ia menatap, Langit-langit kamarnya mencari sebuah kehangatan " Ma... Ardila rindu! " Ia memeluk tubuhnya sendiri, hanya sunyi menemaninya hari ini. " Saakitt! " Ia mengigit bibir dalamnya hingga berdarah namun rasa sakit fisik, tidak seberapa dengan hatinya saat ini

Matanya perlahan tertutup, ia bergumam kecil sangat lirih sekali " Ma.. Dila lelah! "

****

Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden yang terbuka sedikit, membentuk garis-garis tipis yang memanjang di dinding kamar. Sinarnya yang lembut dan hangat menerangi debu-debu yang beterbangan di udara, menciptakan efek yang magis dan menenangkan.

Cahaya matahari yang masuk sedikit demi sedikit semakin melebar, menyinari wajah dan tubuh gadis itu dengan kelembutan yang menenangkan. Bayang-bayang di kamar perlahan-lahan menghilang, digantikan oleh kehangatan dan kecerahan pagi yang menyegarkan. Suasana kamar yang tadinya gelap dan sunyi, kini terasa lebih cerah dan hidup.

Ardila berusaha bangun dari tempat tidurnya, namun badannya seolah berat untuk bangun ia merasa aneh dengan tubuhnya. Tetiba mengigil sekali Ia meraba Dahinya, yang terasa panas sekali.

Tangannya memanjang, membuka Laci lemari yang ada di dekat ranjang lalu mengeluarkan sebuah alat ia memasukan alat tersebut ke mulutnya. Yang terasa panas " 39, aku demam"

Ia menaruh termometer tersebut, di nakas lalu memandang langit-langit kamarnya.

𝗗𝗿𝗿𝘁𝘁!

Tatapan Ardila, jatuh ke ponselnya yang berada di sisinya dengan gerakan yang lambat ia mengambil nya. " 𝗔𝘀𝗮𝗹𝗮𝗺𝘂𝗮𝗹𝗮𝗶𝗸𝘂𝗺 𝗺𝗮𝘀! "

" 𝗔𝗿𝗱𝗶𝗹𝗮, 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗯𝗮𝗻𝘁𝘂 𝗺𝗮𝘀? " Tanya Rafa tanpa menjawab Salam darinya, membuat Ardila menghela napas panjang "𝗯𝗮𝗻𝘁𝘂 𝗮𝗽𝗮? "

" 𝗧𝗼𝗹𝗼𝗻𝗴 𝗷𝗲𝗺𝗽𝘂𝘁 𝗼𝗺𝗮𝗵 𝗺𝗮𝘀, 𝗱𝗶 𝗯𝗮𝗻𝗱𝗮𝗿𝗮! "

" 𝗠𝗮-

" 𝗠𝗮𝘀 𝘀𝗶𝗯𝘂𝗸!, 𝗻𝗮𝗻𝘁𝗶 𝗺𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗳𝗼𝘁𝗼 𝗼𝗺𝗮𝗵! 𝗠𝗮𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵! "

" 𝗬𝗮 𝗺𝗮𝘀! " Ardila menatap termometer tersebut, ia berusaha menarik punggung nya dari ranjang rasa pening menyerbu kepalanya " Aku, ngga mungkin bisa nyetir sendiri! " Gumamnya sembari berusaha bangkit dari tidur nya. "Pesen taksi aja! " Gumamnya sembari menyalakan ponselnya dan memesan taksi online.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!