NovelToon NovelToon
Hush, My Love

Hush, My Love

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Percintaan Konglomerat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Lantai marmer Grand Central Terminal yang megah seolah menelan suara langkah kaki ribuan manusia yang bergegas mengejar kereta terakhir. Di bawah jam emas yang ikonik, New York terasa seperti mesin raksasa yang tidak pernah berhenti berputar.

Namun, bagi Paris Desmon, dunia mendadak melambat hingga ke titik nadi ketika jemari panjang Luciano Russo menyusup di antara celah jemarinya.

Ini adalah minggu pertama mereka. Tujuh hari sejak pernyataan mengejutkan di perpustakaan itu. Dan sejauh ini, hubungan mereka hanyalah rangkaian bisikan di telepon dan pertemuan singkat di sudut-sudut kota yang terlupakan.

Genggaman tangan Luciano terasa; telapak tangannya hangat, namun cara ia memegang tangan Paris terasa sangat teknis, seolah ia sedang mempelajari tekstur kulit seseorang untuk pertama kalinya. Bagi Luciano, ini adalah wilayah baru. Bagi Paris, ini adalah segalanya.

"Kau dingin," ucap Luciano datar. Ia tidak menoleh ke arah Paris, matanya tetap menatap jadwal keberangkatan kereta yang berkedip di layar besar.

"Hanya angin di luar tadi," jawab Paris pelan, suaranya hampir hilang ditelan pengumuman keberangkatan kereta.

Mereka mulai berjalan menyusuri koridor stasiun yang luas. Tidak ada pelukan, tidak ada lengan yang merangkul bahu. Hanya dua remaja yang bertaut jemari, tampak seperti dua orang asing yang kebetulan searah.

Paris menyesuaikan langkah kakinya dengan langkah lebar Luciano. Di sekolah, laki-laki ini adalah penguasa barisan depan yang tak tersentuh. Di sini, di bawah remang lampu stasiun, dia hanyalah seorang pemuda dengan beban dunia di bahunya.

"Paris," suara Luciano memecah keheningan di antara mereka. Ia berhenti di dekat pilar batu yang besar, menjauhkan mereka dari arus pejalan kaki.

Paris mendongak. Di bawah penerangan lampu yang kekuningan, wajah Luciano tampak lebih tajam. Tulang pipinya yang tinggi dan garis rahang yang tegas memberikan kesan dewasa yang melampaui usianya yang baru tujuh belas tahun.

"Ada apa, Lucian?" Paris memanggilnya dengan nama kecil yang hanya boleh diucapkan dalam kerahasiaan mereka.

Luciano melepaskan genggaman tangannya, sebuah kehilangan mendadak yang membuat telapak tangan Paris terasa hampa. Laki-laki itu merogoh saku mantelnya, wajahnya kembali ke ekspresi "pangeran es" yang biasa ia tunjukkan di St. Jude’s Academy.

"Minggu depan, persiapan Olimpiade Matematika tingkat nasional dimulai. Intensitasnya akan meningkat. Aku akan menghabiskan seluruh waktuku di lab atau bersama tutor privat dari Columbia University," kata Luciano. Kalimatnya tertata rapi, dingin, dan efisien.

Paris terdiam, menunggu kelanjutan kalimat itu.

"Artinya, kita tidak bisa bertemu seperti ini untuk sementara waktu," lanjut Luciano. Ia menatap Paris, mencari reaksi—mungkin ledakan kemarahan, rengekan, atau tuntutan penjelasan. "Aku harus fokus. Jangan merindukan aku, Paris. Aku tidak punya ruang untuk gangguan emosional saat ini."

Kata-kata itu tajam, seperti belati kecil yang menusuk harga diri. Jangan merindukan aku. Seolah-olah rindu adalah sebuah kesalahan teknis yang harus dihapus dari sistem.

Jika itu gadis lain—mungkin Delaney atau gadis-gadis populer di sekolah mereka akan protes. Mereka akan bertanya mengapa hubungan ini harus dikorbankan demi sebuah kompetisi, atau mengapa mereka tidak bisa belajar bersama. Namun, Paris bukan mereka. Paris adalah keheningan yang dipahami Luciano.

Paris menarik napas panjang, membiarkan udara dingin New York menenangkan dadanya. Ia memberikan senyum kecil, jenis senyum yang tulus meski terselip sedikit kesedihan.

"Aku mengerti, Lucian," ucap Paris lembut. "Matematika adalah duniamu. Kamu sudah bekerja keras untuk olimpiade ini sejak semester lalu. Kamu tidak perlu khawatir tentang aku."

Luciano tertegun sejenak. Ia sudah terbiasa dengan orang-orang yang menuntut waktunya, menuntut perhatiannya, atau menuntut kehebatannya. Ayahnya menuntut nilai sempurna, gurunya menuntut prestasi, dan teman-temannya menuntut status. Tapi gadis di depannya ini... dia tidak menuntut apa-apa.

"Kau tidak marah?" tanya Luciano, nada suaranya sedikit melunak, meski masih ada keraguan di sana.

"Kenapa aku harus marah?" Paris melangkah satu tindak lebih dekat, namun tetap menjaga jarak sopan. "Aku justru ingin kamu menang. Aku akan menjadi orang pertama yang merayakan kemenanganmu, meskipun dari jauh. Fokuslah pada angka-angkamu, Lucian. Aku akan ada di sini saat kamu selesai."

Untuk pertama kalinya dalam seminggu ini, ketegangan di bahu Luciano tampak luruh. Ia merasa nyaman. Kenyamanan yang aneh dan asing. Paris Desmon adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu menjadi "Luciano Russo yang Sempurna".

Di depan Paris, ia tidak perlu menjelaskan mengapa ia ambisius atau mengapa ia begitu dingin. Paris hanya menerima.

"Kita hanya akan berkirim pesan," tambah Luciano, seolah ingin menegaskan batas. "Hanya saat aku punya waktu luang."

"Ya, aku mengerti," ulang Paris tanpa ragu. "Pesan singkat sudah cukup bagiku."

Luciano menatap gadis itu lekat-lekat. Ia sedang mencari jati diri dalam perjalanan masa remajanya, mencoba memahami apa itu "keterikatan". Ia menggunakan Paris sebagai eksperimen untuk melihat apakah dia bisa memiliki seseorang tanpa kehilangan kendali atas hidupnya. Dan sejauh ini, eksperimen itu berjalan terlalu lancar. Paris begitu mudah, begitu penurut.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, tapi kali ini tidak terasa kaku. Luciano merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya—sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan rumus kalkulus atau teori probabilitas. Ia merasa ingin memberikan sesuatu sebagai imbalan atas pengertian Paris yang luar biasa.

Tanpa peringatan, Luciano mengulurkan tangannya. Ia tidak menggenggam tangan Paris kali ini. Alih-alih, ia menarik bahu kecil gadis itu mendekat. Paris terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan.

Luciano merunduk sedikit, dan untuk pertama kalinya dalam hubungan backstreet mereka, ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di pucuk kepala Paris.

Bibirnya menyentuh helaian rambut cokelat Paris yang wangi vanila. Itu adalah sentuhan yang singkat, sangat sopan, namun bagi Paris, itu terasa seperti ledakan kembang api di malam tahun baru di Times Square. Itu adalah keintiman fisik pertama mereka yang melampaui sekadar pegangan tangan.

"Terima kasih, Paris," bisik Luciano tepat di dekat telinganya. Suaranya rendah dan bergetar, memberikan sensasi dingin sekaligus hangat yang menjalar ke seluruh tubuh Paris.

Setelah itu, Luciano melepaskannya. Ia kembali berdiri tegak, seolah-olah momen manis itu tidak pernah terjadi.

"Pulanglah. Keretamu akan tiba lima menit lagi," ucap Luciano, kembali ke mode instruksinya.

Paris mengangguk dengan wajah yang merona merah, meski ia berusaha menyembunyikannya di balik kerah sweternya. "Semangat untuk olimpiadenya, Lucian. Kamu pasti bisa."

Luciano hanya memberikan anggukan singkat sebelum berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tegas, menghilang di balik kerumunan Grand Central. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tidak perlu. Ia tahu Paris akan tetap di sana, menunggunya dalam diam.

Paris berdiri mematung selama beberapa saat, menyentuh pucuk kepalanya yang tadi dicium Luciano. Ia tahu, di sekolah besok, Luciano akan kembali duduk di bangku depan dan mengabaikannya seolah ia tidak ada. Ia tahu bahwa cintanya mungkin sedang dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan jiwa sang pangeran es.

Namun, saat ia berjalan menuju peron keretanya, Paris tersenyum. Bagi seorang gadis yang terbiasa tidak terlihat, kecupan di pucuk kepala itu adalah bukti bahwa bagi Luciano Russo, ia setidaknya... ada.

Malam itu, di dalam kereta bawah tanah yang berguncang menuju Queens, Paris membuka ponselnya. Tidak ada pesan baru. Tapi ia tahu, di suatu tempat di apartemen mewahnya di Upper East Side, Luciano mungkin sedang menatap buku matematikanya, dan mungkin hanya mungkin—sedikit teringat pada gadis pendiam dari baris tengah.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Pria Sejati hrs sperti ini, cukup 1, Selamanya 👍👍👍
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade ❤️🤗😘
total 2 replies
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Yeee, Akhirx, Resmi Smua, Bareng 🥳🥳🥳
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Ikut happy utk 2 pasangan ini ❤️🤗😘
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Skrng, Mreka berdua, manis mlulu, auto diabetes ini 🤭🤭🤭
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Kini saatnya Arthur yg berjuang utk Cinta ny 🙈🙈🙈
ros 🍂: Nah benar Kak 🤭😍
total 1 replies
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Kn adem klo liat gini ❤️🤗😘 ... Apa otw dresmikn aja y, biar gk kburu 🙈🙈🙈
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mommy Paris, itu Putra mu udh 'nakal' 🙈🙈🙈
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade ❤️🤗😘 ... Lnjt Arthur 🤭👍🥳
total 6 replies
Sany Indah
berharap Paris sama Kay meski bermulut pedas tp cintanya ke Paris tulus
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
hi hi licik demi honey, gk pa² deh 🤭🤭🤭
ros 🍂: Hahaha🤣🥰
total 3 replies
winpar
sdih bgt kisah mereka😥
winpar
Thor ceritanya bikin mewekkkk😥😥
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍
ros 🍂: Ashiaapp 🤭🥰
total 1 replies
Sany Indah
ceritanya menarik
ros 🍂: ma'aciww 🥰
total 1 replies
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Klo Jodoh, pasti ada jalan ny 😔😔😔
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Iya, Ade ❤️🤗😘
total 2 replies
winpar
akhirnya nana bertemu jg 🥰😍
winpar
thot knp hri ini upnya dikit bgt. pdhl ceritanya seru bgt?
ros 🍂: Maaf ya kak, Sedang kurang sehat, hehehe🙏
total 1 replies
winpar
smngt thorrrr💪💪💪💪 ceritamu selalu bgus
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
winpar
waw bgmnakh klnjutanya????
winpar
selalu happy akhir ceritanya 😍🥰
ros 🍂: iya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
winpar
ceritanya bgus bangettt😍🥰
ros 🍂: ma'aciww kak 🥰
total 1 replies
winpar
mkin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!