NovelToon NovelToon
Sistem Kepelatihan Xiao Han

Sistem Kepelatihan Xiao Han

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.

Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)

Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Babak kedua dimulai dengan sesuatu yang tidak pernah Xiao Han duga.

Zhejiang keluar dari lorong pemain, dan ia langsung membelalak. Bukan formasi 4-4-2 yang mereka mainkan di babak pertama. Bukan juga 3-5-2 yang ia sarankan dalam hati.

Mereka memakai 5-3-2.

Tiga bek tengah. Dua bek sayap yang mundur. Hanya dua striker di depan. Formasi yang aman. Yang bertahan.

Ini tidak masuk akal, pikir Xiao Han. Mereka tertinggal 0-1, tapi menambah bek?

Ia membuka buku catatannya, menulis cepat.

Babak kedua. Zhejiang 5-3-2. Keputusan defensif padahal tertinggal. Mungkin pelatih takut kebobolan lagi. Tapi dengan formasi ini, lini tengah hanya tiga orang, kalah jumlah dengan tiga gelandang Guangzhou plus Lu Gacheng yang suka turun ke belakang. Ini akan jadi masalah.

Ia menatap lapangan dengan perasaan ganjil. Sesuatu yang tidak ia mengerti. Sesuatu yang tidak sesuai dengan logika taktik yang ia pelajari dari buku.

Guangzhou memulai babak kedua dengan sabar. Operan pendek, lambat, seperti tim yang tidak terburu-buru. Mereka tidak perlu menyerang. Mereka sudah unggul. Mereka hanya perlu menjaga bola, menjaga ritme, menjaga kendali.

Dan Zhejiang membiarkan mereka melakukannya.

Dengan lima bek di kotak penalti, Zhejiang kehilangan kemampuan untuk menekan. Gelandang mereka hanya tiga orang, nomor 8, 10, dan satu gelandang baru yang masuk di babak kedua, tapi mereka terjebak di tengah, tidak bisa maju karena harus menutup ruang, tidak bisa mundur karena tiga bek di belakang sudah mengisi area.

“Lihat,” kata Xiao Han pada Ye Chen, tangannya menunjuk ke lapangan. “Lini tengah Zhejiang kosong. Nomor 8 dan 10 cuma berdua di awal, sekarang tiga, tapi tetap kewalahan. Lihat bagaimana Guangzhou dengan mudah mengirim bola ke Lu Gacheng.”

Ye Chen mengerutkan kening. “Tapi dengan lima bek, seharusnya lebih sulit—”

“Lebih sulit kalau bek bisa membaca umpan. Tapi lihat posisi bek Zhejiang. Mereka terlalu dalam. Terlalu dekat dengan kiper. Ada jarak 15 meter antara lini tengah dan pertahanan. Itu ruang mati yang bisa dimanfaatkan Guangzhou.”

Xiao Han menulis cepat.

Jarak antara lini tengah dan pertahanan terlalu lebar. Guangzhou akan memanfaatkan ruang itu.

Belum selesai ia menulis, bola sudah bergerak.

Menit ke lima puluh dua.

Gelandang Guangzhou nomor 8 menerima bola di tengah lapangan. Tidak ada pemain Zhejiang yang menekan, mereka semua sudah mundur ke area sendiri, memberi ruang. Nomor 8 mengangkat kepala, melihat ke depan, dan melihat celah itu. Jarak 15 meter antara gelandang dan bek Zhejiang. Cukup untuk umpan terobosan.

Ia mengirim bola melengkung, melewati kepala gelandang Zhejiang yang terlalu lambat, jatuh tepat di belakang mereka.

Lu Gacheng sudah berlari dari posisi striker, masuk ke ruang kosong itu. Bek tengah Zhejiang, nomor 4 dan 5, terlambat membaca. Mereka mengira Lu Gacheng akan menunggu bola di depan kotak penalti. Tapi ia tidak menunggu. Ia berlari ke ruang di antara mereka, menyambut bola sebelum bek sempat bereaksi.

Bola jatuh di kakinya. Satu sentuhan untuk mengontrol. Bek nomor 4 baru sadar, berusaha mengejar. Tapi Lu Gacheng sudah satu langkah lebih cepat.

Ia masuk ke kotak penalti. Kiper keluar dari garis gawang, berusaha mempersempit sudut tembakan. Lu Gacheng melihat kiper, melihat tiang jauh yang kosong, dan dengan kaki kanannya.

BAM.

Ia menyontek bola melengkung ke pojok kiri gawang.

Kiper sudah terlanjur jatuh ke kanan. Bola masuk.

0-2.

Stadion membeku. Sorak Guangzhou pecah, tapi terdengar sumbang di tengah keheningan puluhan ribu penonton.

Xiao Han tidak bergerak. Tangannya gemetar di atas buku catatan. Ia menulis, cepat, hampir tidak sadar.

Gol kedua. Lu Gacheng. Pola yang sama dengan gol pertama: eksploitasi ruang antara lini tengah dan pertahanan. Formasi 5-3-2 seharusnya menutup ruang itu, tapi dengan gelandang yang kalah jumlah dan bek yang terlalu dalam, justru menciptakan koridor kosong. Ini kesalahan fatal dalam penempatan garis.

Ia berhenti menulis. Menatap lapangan. Lu Gacheng berlari ke sudut lapangan, melompat, tinju ke udara.

Dia sudah dua gol, pikir Xiao Han. Dan aku sudah melihat pola ini sejak babak pertama. Tapi pelatih Zhejiang tidak. Atau mungkin aku yang salah? Mungkin ada alasan di balik keputusan ini yang tidak aku pahami.

Ye Chen menoleh. “Han, kau—”

“Aku tidak tahu,” potong Xiao Han. Suaranya hambar. “Aku pikir 5-3-2 akan memperkuat pertahanan. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Mereka memberi ruang di area paling berbahaya.”

Menit ke lima puluh delapan.

Zhejiang mencoba keluar dari tekanan. Umpan panjang ke dua striker, berharap bisa menahan bola dan membangun serangan. Tapi Guangzhou sudah membaca itu.

Bek tengah Guangzhou nomor 4, seorang pemain asing dengan postur tinggi dan gerakan tenang, menang setiap duel udara. Setiap kali bola panjang dilambungkan, ia sudah ada di posisi yang tepat, menyundul bola kembali ke lini tengah, mengembalikan tekanan ke pertahanan Zhejiang.

“Mereka tidak bisa keluar,” kata Ye Chen, gelisah. “Setiap umpan panjang langsung dimenangkan nomor 4 Guangzhou.”

Xiao Han mengamati. Ia melihat bagaimana nomor 4 Guangzhou membaca arah umpan Zhejiang sebelum bola ditendang. Ia melihat bagaimana striker Zhejiang berusaha merebut posisi, tapi selalu kalah karena bek itu sudah bergerak lebih dulu.

“Lihat,” kata Xiao Han, menunjuk. “Nomor 4 Guangzhou membaca postur striker Zhejiang. Setiap kali striker membuka badan ke kanan, bola akan datang ke kanan. Setiap kali striker condong ke kiri, umpan akan ke kiri. Bek itu sudah membaca semuanya sejak awal.”

Ia menulis.

Bek nomor 4 Guangzhou: membaca bahasa tubuh striker. Striker Zhejiang terlalu mudah ditebak. Mereka butuh variasi gerakan tanpa bola.

Tapi yang ia pikirkan bukan hanya itu.

Mengapa pelatih Zhejiang tidak mengubah pendekatan? Mengapa tetap mengandalkan umpan panjang padahal sudah jelas tidak efektif?

Ia tidak punya jawaban.

Di lapangan, Guangzhou merebut bola lagi. Lu Gacheng turun ke lini tengah, menarik bek Zhejiang keluar dari posisi. Bek tengah nomor 4 mengikuti, meninggalkan ruang di belakang.

Lu Gacheng menerima bola, membalikkan badan, dan melepaskan umpan terobosan ke ruang yang ia ciptakan sendiri.

Gelandang sayap Guangzhou berlari bebas, menerima bola, lalu kembali diberikan Lu Gacheng yang masuk di area kotak penalti.

BAM.

Tembakan, satu sentuhan, tap-in dari passing satu dua sebagai pemantul.

Gol ketiga tercipta.

0-3.

Lu Gacheng tidak merayakan. Ia hanya berdiri di tengah lapangan, menatap papan skor. Hattrick. Dalam satu babak.

Xiao Han mematung, prediksi babak kedua salah kaprah.

1
Hong Biyeon Adolebit
keren bgt kak, Xiao Han😍
heroestupai: berakkkkkk
total 1 replies
Apakah transgender disunat?
sudah 39 chapter dan tidak ada insect😡
heroestupai: /Smug//Smug//Smug/
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
Pak Chen Hao kerjanya ngapain? Eh iya motivasinya kan kecil 🗿
Limian Avina
Iyap, aku pun malas baca itu, jadi diskip/Proud/
Limian Avina: /Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Ini kayaknya enggak terlalu diperlukan deh/Sweat/
heroestupai: skill issue aja kak, maklumin, cmn ngindarin yg repetitif aja
total 3 replies
Limian Avina
Kebelet ganti PoV😂
Limian Avina
Kenapa jadi PoV satu/Sweat/
heroestupai: ahh iya, bocor POV, nanti saya revisi kak
total 3 replies
Limian Avina
Iya, mengerikan seperti ...
Limian Avina: Enggak jadi/Blackmoon/
total 2 replies
Limian Avina
Beliau terlalu percaya diri :v
Limian Avina: 🗿🗿🗿🗿🗿
total 2 replies
Limian Avina
Gambarnya kayak kamar pribadi🗿
Manusia Biasa: wkwkw tapi masih bagus kok kak, dari ai sih😂🙏
total 1 replies
Limian Avina
Ada gacha-nya/Scare/
heroestupai: masih jauh sih di gacha sistem itu /Facepalm/
total 1 replies
Limian Avina
/Curse//Curse/ Namanya kenapa harus Gacheng?!
heroestupai: Kepikiran itu aja 🗿
total 1 replies
Limian Avina
Nulisnya "Goal" deh seharusnya/Sweat/
Limian Avina: /Scare//Scare/ Secara arti goal = tujuan/sasaran/Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Woah~! Riset sejarah .../Blush//Blush/
heroestupai: huum 🗿🗿
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
cukup menghibur
heroestupai: makasih kak
total 1 replies
Penjaga Gerbang
keren
Ren si Pegawai Kantoran
ditunggu Thor updatenya
Ren si Pegawai Kantoran
developmentnya sedikit terasa di sini, sistem gak semata-mata Deus ex machina, ada konsekuensi juga dari analisa MC, dan emang jadi pelatih itu harus mikirin pemain, bukan semata2 sistem novel lain yg bikin pemain jadi OP kah? 🤔
Ren si Pegawai Kantoran
Thor, jangan lupa huruf miring kalo monolog batin PoV 3 ya 🗿
Ren si Pegawai Kantoran
kambek 4-3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!