Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Momen di restoran itu terasa seperti mimpi yang indah bagi Kim Ae Ra.
Genggaman tangan Jae Hyuk yang hangat, tatapan mata yang penuh ketulusan, dan pengakuan yang begitu emosional—semuanya terasa begitu nyata, begitu menghangatkan hati yang selama ini terasa dingin dan rapuh.
Selama beberapa menit, mereka hanya saling menatap, tenggelam dalam kebahagiaan dan pemahaman yang baru saja terjalin di antara mereka.
Tidak perlu kata-kata lagi untuk menjelaskan apa yang mereka rasakan; tatapan itu sudah cukup untuk mengatakan segalanya.
Perlahan, Ae Ra menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu tersenyum pada Jae Hyuk—senyum yang tulus, senyum yang penuh dengan rasa syukur dan cinta yang baru ditemukan.
"Terima kasih, Tuan…" bisiknya pelan.
"Terima kasih sudah menyelamatkan saya saat itu. Terima kasih sudah ada di sini sampai sekarang. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup saya jika Tuan tidak lewat di jembatan itu saat itu."
Jae Hyuk tersenyum lembut, jempolnya mengusap punggung tangan Ae Ra pelan dengan penuh kasih sayang.
"Jangan berterima kasih padaku, Ae Ra. Aku yang harus berterima kasih pada takdir yang mempertemukan kita. Karena jika tidak, aku tidak akan pernah mengenalmu seperti sekarang, aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan yang luar biasa ini hanya dengan berada di dekatmu. Kau adalah anugerah terindah dalam hidupku, Ae Ra. Selalu ingat itu."
Kata-kata itu membuat hati Ae Ra melonjak bahagia. Ia merasa seolah-olah sedang melayang di awan.
Rasa sakit, kecewa, dan keraguan yang ia rasakan beberapa hari terakhir akibat pengungkapan identitas Seo Jun seakan terhapus sementara oleh kehangatan cinta yang ia rasakan sekarang.
Namun, ia juga sadar bahwa realita masih menunggu mereka di luar sana. Masih ada urusan bisnis dengan Haesung Group, masih ada rahasia lain yang mungkin belum terungkap, dan masih ada Seo Jun yang harus ia hadapi suatu saat nanti.
Tapi untuk saat ini, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kebahagiaan ini.
Mereka menghabiskan sisa waktu makan siang itu dengan percakapan yang lebih ringan namun tetap penuh dengan makna. Mereka berbicara tentang betapa anehnya takdir, tentang bagaimana mereka berdua tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dalam situasi seperti ini, dan tentang bagaimana perasaan mereka tumbuh perlahan tanpa mereka sadari.
Jae Hyuk bahkan bercerita bahwa ia sudah mulai merasa familiar dan tertarik pada Ae Ra sejak hari pertama Ae Ra bekerja di Aegis Corp, namun ia menahan diri karena profesionalisme dan karena ia belum yakin apakah gadis itu mengingatnya atau tidak.
"Waktu itu aku melihatmu masuk ke ruangan ini dengan wajah polos tapi penuh semangat, dan ada sesuatu yang langsung menyentak hatiku," kenang Jae Hyuk sambil tersenyum kecil.
"Aku merasa seolah-olah aku sudah pernah melihatmu di suatu tempat, tapi ingatanku masih samar. Tapi setiap hari melihatmu bekerja, melihat senyummu, melihat ketulusanmu… perasaan itu semakin kuat. Dan saat aku akhirnya yakin bahwa kau adalah gadis di jembatan itu, aku merasa begitu lega dan bahagia."
Ae Ra mendengarkan dengan hati yang hangat, merasa tersanjung dan dicintai.
"Saya juga merasakan hal yang sama, Tuan. Setiap kali Tuan berada di dekat saya, saya selalu merasa aman dan nyaman, meskipun saya tidak tahu alasannya. Payung Tuan, cara Tuan bicara… semuanya terasa begitu familiar. Saya kira itu hanya perasaanku saja, tapi ternyata itu semua karena Tuan adalah orang yang sama dari masa laluku."
Jam makan siang pun akhirnya usai, dan mereka harus kembali ke realita pekerjaan. Namun, saat mereka berjalan keluar dari restoran dan menuju mobil untuk kembali ke Aegis Corp, suasana di antara mereka sudah berubah total.
Ada ikatan yang jauh lebih kuat, ada pemahaman yang jauh lebih dalam, dan ada cinta yang kini terungkap secara terang benderang di antara mereka.
Meskipun mereka masih menjaga sikap profesional saat berada di lingkungan kerja, tatapan-tatapan kecil yang saling bertukar, senyum-senyum kecil yang terselip, dan perhatian-perhatian kecil yang mereka berikan sudah cukup untuk mengatakan segalanya.
Sesampainya di kantor, Ae Ra duduk di mejanya dengan perasaan yang begitu bahagia dan bersemangat.
Pekerjaan yang biasanya terasa berat dan membosankan kini terasa jauh lebih ringan. Setiap kali ia melihat pintu ruangan CEO, atau setiap kali Jae Hyuk keluar dan menyapanya dengan senyum hangat, hatinya berdebar kencang dengan perasaan cinta yang baru.
Namun, kebahagiaannya itu sedikit terganggu saat ia melihat sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya saat ia sedang sibuk bekerja sore itu.
Pesan itu dari nomor yang tidak tersimpan, tapi isi pesan itu membuatnya langsung tahu siapa pengirimnya.
*Ae Ra, aku tahu mungkin kau masih marah atau kecewa padaku. Aku tidak memaksamu untuk membalas pesan ini atau bertemu denganku. Aku hanya ingin memberitahumu satu hal penting. Soal klausul-klausul dalam dokumen yang kita bawa ke pertemuan lalu… aku tidak tahu menahu soal itu sampai setelah pertemuan itu selesai. Aku baru mengetahuinya beberapa hari lalu saat aku memeriksa ulang berkasnya dengan timku. Aku sangat kaget dan marah, dan aku sudah berdebat hebat dengan ayahku soal itu. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu atau merugikan Aegis. Tolong percaya padaku sekali ini saja. - Seo Jun*
Ae Ra membaca pesan itu berulang-ulang, hatinya terasa campur aduk.
Rasa lega sedikit muncul karena mengetahui bahwa Seo Jun mungkin tidak terlibat dalam rencana jahat itu, tapi rasa bingung dan ragu juga masih tetap ada.
Apakah ini benar? Apakah Seo Jun benar-benar tidak tahu apa-apa? Atau ini hanya cara dia untuk memuluskan keadaan dan mendapatkan kepercayaannya kembali?
"Ae Ra," suara Jae Hyuk memecah lamunannya saat ia keluar dari ruangannya hendak pulang sore itu.
Melihat ekspresi Ae Ra yang mendadak berubah menjadi serius dan bingung sambil menatap ponselnya, Jae Hyuk bertanya dengan cemas,
"Ada apa? Kau terlihat kaget. Apakah ada sesuatu yang salah?"
Ae Ra menoleh ke arah Jae Hyuk, lalu menatap ponselnya lagi.
Ia tahu, ia harus memberitahu Jae Hyuk tentang pesan ini. Lagi pula, ini menyangkut urusan perusahaan juga.
"Tuan…" kata Ae Ra pelan, mengangkat wajahnya menatap Jae Hyuk.
"Saya baru saja menerima pesan. Dari Tuan Lee. Dia… dia mengirim pesan untuk menjelaskan soal klausul-klausul dalam dokumen itu. Dia bilang dia tidak tahu menahu soal itu sampai setelah pertemuan, dan dia sudah berdebat dengan ayahnya soal itu."
Jae Hyuk terdiam sejenak, mendengarkan dengan saksama. Wajahnya tampak serius memproses informasi itu.
"Begitu ya…" gumamnya pelan.
Ia kemudian mendekat ke meja Ae Ra, lalu berkata dengan nada yang lembut namun tegas,
"Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak, Ae Ra. Tapi satu hal yang pasti, kita tetap harus waspada. Mungkin dia memang tidak tahu, mungkin dia juga korban kebijakan ayahnya. Tapi bagaimanapun juga, kita harus memastikan semuanya jelas di pertemuan nanti. Jangan biarkan pesan ini mengganggu fokusmu atau membuatmu mengambil keputusan terburu-buru, ya. Kita hadapi semuanya dengan kepala dingin."
Ae Ra mengangguk pelan, mengerti.
"Iya, Tuan. Saya mengerti. Saya hanya terkejut saja, itu saja."
Jae Hyuk tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Ae Ra pelan.
"Iya, aku tahu. Pulanglah istirahat sekarang. Hari ini sudah cukup melelahkan secara emosional bagimu. Jangan pikirkan soal pekerjaan atau pesan itu dulu malam ini. Istirahat yang cukup, ya. Sampai jumpa besok."
"Sampai jumpa besok, Tuan. Hati-hati di jalan."
Ae Ra menyimpan ponselnya dan membereskan barang-barangnya dengan perasaan yang rumit.
Di satu sisi, ia bahagia karena akhirnya mengetahui kebenaran tentang Jae Hyuk dan ikatan mereka yang begitu kuat.
Tapi di sisi lain, pesan dari Seo Jun itu membuka kembali pintu pertanyaan yang belum terjawab.
Siapa yang sebenarnya benar di sini? Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Haesung Group? Dan bagaimana nasib kerja sama ini ke depannya?
Saat ia melangkah keluar dari gedung Aegis Corp dan menuju halte bus, Ae Ra menarik napas panjang, membiarkan angin sore menerpa wajahnya.
Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang. Masih banyak rahasia yang harus diungkap, masih banyak konflik yang harus dihadapi. Tapi ia tidak takut lagi.
Karena ia tahu, ia tidak sendirian.
Ia memiliki Jae Hyuk di sisinya, orang yang pernah menyelamatkan nyawanya dan kini siap melindunginya apa pun yang terjadi.
Dan dengan kekuatan cinta itu, ia yakin ia bisa menghadapi apa pun yang ada di hadapannya.