NovelToon NovelToon
Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.

"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"

"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.

Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"

"Kyaraaa!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Doni keluar tergesa dari dalam kamar mandi. Kakinya sampai nyaris saling bertabrakan, saking ia sudah tidak kuat ingin mencoba masuk melalui bagian belakang istrinya.

Namun ketika pintu kamar mandi ia buka lebar, sang istri ternyata tak ada di kamar. "Loh, si Kya ke mana?" gumamnya dengan mata membola. "Kyaaa!" teriaknya kemudian. "Kamu di mana, Sayang?" Tak ada sahutan.

Doni membuka pintu balkon, Kyara pun tak ada di sana. "Ih, si Kya pergi ke mana sih?" Ia menggerutu, dengan kasar membuka pintu kamar. Berjalan menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Lalu berlari ke dapur, namun istrinya tak ada di sana. Ke tempat mencuci, hasilnya sama.

Doni kembali melangkah ke ruang keluarga, ruang tengah. Namun ketika ia akan melangkah menuju ruang tamu, langkahnya terhenti seketika. Istrinya ada di sana, sedang mengobrol dengan Erna. "Akh, sial!" Ia meninju dinding tempatnya mengintip seraya memegangi simpul handuk yang ada di pusarnya. "Ngapain sih, si Erna ke sini?" gerutunya jengkel. "Mudah-mudahan tuh wanita sangar segera pergi dari rumahku. Biar aku bisa memasuki goa terlarang Kyara," batinnya penuh harap.

Namun setelah ditunggu sampai sepuluh menit, Erna tak kunjung pergi, malah Kyara terdengar berucap lantang. "Tunggu sebentar ya, Er. Aku mau ganti baju dulu, sama minta izin dulu ke suamiku. Kamu jangan ninggalin aku."

Erna menjawab. "Siap, Kya."

Tanpa berpikir panjang, Doni langsung berlari tunggang langgang kembali ke kamarnya. Ia sampai ngos-ngosan menaiki tangga. "Setan! Capek banget," umpatnya setelah berhasil sampai di kamar. Tubuhnya langsung merebah di kasur, tak peduli rambutnya yang basah kena bantal.

Tak lama, Kyara muncul. "Mas, aku mau melayat ke rumahnya Ceu Tati. Mertuanya baru saja meninggal. Kamu mau ikut, tidak?"

Doni bangkit seketika dari rebahannya. "Innalillahi. Kapan diumuminnya kok aku nggak denger?"

Kyara membuka lemari, dan mengambil gamis hitam serta kerudung instan sewarna. "Tadi, pas kamu lagi di kamar mandi. Kamu mau ikut, nggak?" Kyara mengulang pertanyaannya.

Doni tak langsung menjawab. Hatinya masih dongkol karena gagal menjajal lubang belakang sang istri. "Mm ... kamu duluan saja. Nanti aku nyusul sama Mama." Akhirnya ia menjawab. "Kamu mau pergi sama siapa?" tanyanya pura-pura tidak tahu.

"Sama Erna. Dia udah nunggu di bawah," ucap Kyara sambil membuka dasternya dan kini, tubuhnya hanya dibalut celana pendek sepaha dan bra saja.

Doni meneguk saliva, hasratnya yang tadi sempat menghilang, kini hadir lagi. Jika Kyara tidak akan pergi melayat, ia pasti sudah menerkam tubuh istrinya itu. "Sialan! Kenapa sih mertuanya Ceu Tati harus mati sekarang? Jadi gagal kan niatku untuk menggauli Kyara lagi." Dalam hatinya, ia misuh-misuh penuh amarah.

"Mas, aku berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum!" seru Kyara membuyarkan kecamuk batin Doni.

"Wa'alaikumsalam," ketusnya seraya memandangi tubuh Kyara yang perlahan menghilang.

Kyara menuruni tangga dengan langkah cepat. Saat sudah sampai di ruang tamu, ia langsung mengajak Erna keluar dari rumah mertuanya itu.

"Si Doni kenapa nggak ikut melayat, Kya?" tanya Erna setelah mereka menjauh beberapa langkah dari rumah Hesti.

"Katanya dia mau nyusul nanti sama Mama," jawab Kyara apa adanya.

Erna membulatkan bibir. "Eh Kya, kamu masih suka nulis cerpen, nggak?" Tiba-tiba Erna bertanya demikian, membuat Kyara menoleh seketika.

"Mm ... jarang, Er. Kan kamu tahu sendiri kalau akhir-akhir ini, aku nggak punya waktu istirahat yang banyak. Boro-boro buat nulis ... buat tidur aja waktunya seuprit." Kyara menyatukan telunjuk dan jempolnya seperti orang yang akan mencubit.

"Iya juga, sih." Angguk-angguk kepala Erna. "Tapi sekarang kamu kan lagi banyak waktu luang nih, gimana kalau kamu coba nulis lagi. Tapi di platform online, Kya. Selain menyalurkan bakat ... tulisan kita bisa menghasilkan uang, alias dibayar," jelas Erna berapi-api.

Kyara tertegun, otaknya berputar memikirkan apa yang baru saja dijelaskan Erna. "Tapi aku takut tulisanku nggak ada yang baca, Er. Aku kan cuma tamatan SMA. Kosa kata yang kutahu masih itu-itu aja."

"Aduh, Kya." Erna menepuk bahu Kyara. "Kamu mah belum apa-apa udah nyerah aja. Dicoba dulu atuh kawan. Aku yakin, tulisanmu insya Allah banyak yang baca. Buktinya aku nggak bisa move on sama cerpen buatanmu yang dua tahun lalu kamu kirimkan ke aku. Yang judulnya: Setitik Rindu Untuk Ibu. Menyentuh hati banget, Kya. Setiap aku baca ... air mataku selalu bercucuran." Erna begitu penuh antusias mengemukakan saran dan pendapatnya.

Kyara tertegun lagi, sebelum akhirnya ia menanggapi saran dari Erna. "Oke, Er. Aku mau coba. Nama platform-nya apa?" Seulas senyum mewarnai bibirnya yang tipis.

Erna menjentikan jarinya. "Sip. Nah, gitu dong. Dicoba dulu. Mau banyak yang baca atau pun tidak ... itu mah urusan nanti." Wajah Erna berseri-seri. Bibirnya terbuka lagi. "Nama platform-nya ... My Story. Cari aja di playstore."

"Iya, Er. Siap. Makasih ya, atas informasinya."

"Oke."

Tak terasa, mereka berdua sudah tiba di rumah duka. Di kediaman Ceu Tati. Penjahit yang paling laris di kompleks perumahan itu.

Erna dan Kyara pun masuk ke dalam rumah Ceu Tati. Mengucapkan belasungkawa dan ikut mendoakan almarhumah.

Kyara sampai menitikan air mata. Bukan karena kenal dekat dengan mertua Ceu Tati, tapi karena suasana duka seperti ini selalu mengingatkan dia pada peristiwa kematian ibunya. Tepat saat Kyara lulus SMA. "Bu, Kya rindu. Sudah lama sekali Kya tidak mengunjungi makam ibu?" lirihnya membatin.

______

"Ma ... Mama kapan pulang? Udah tahu belum kalau mertuanya Ceu Tati tukang jahit meninggal dunia?" ucap Doni pada ibunya di seberang sana.

"Bentar lagi, Don. Tahu. Bu Ningsih barusan ngirim pesan ke Mama. Kamu nggak pergi melayat?" Hesti balik bertanya setelah menjawab dua pertanyaan dari anak sulungnya.

"Aku nungguin Mama. Tadi Kya udah ngajak aku sih, tapi males ah pergi sama dia."

"Oh, jadi si Kya udah pulang jalan-jalannya?" Suara Hesti langsung berubah ketus.

"Udah, Ma. Tadi jam setengah satuan."

"Dia habis dari mana aja? Pastinya uang yang kamu kasih dihabisin tuh sama dia buat belanja ini dan itu." Nada tak suka terdengar kentara di kalimat yang baru dilontarkan Hesti.

Doni berdehem pelan. "Iya, dia emang habis belanja. Terus habis dari salon, katanya."

"Tuh kan!" Hesti menjerit, sampai membuat Doni menjauhkan ponselnya dari telinga. "Don, pokoknya Mama nggak mau tahu, kamu harus ambil lagi kartu debit kamu. Mama nggak ridha kalau uang gaji kamu dipakai foya-foya sama si Kyara. Udah bagus kamu nggak ngasih dia nafkah lagi, eh ... ini malah dikasih kartu debit." Bukan tidak tahu alasannya, tapi Hesti sungguh tidak rela jika uang anaknya dibelanjakan oleh sang menantu.

Doni berdecak. "Ma, aku kan udah bilang ... kalau aku juga terpaksa ngasih nafkah lagi ke si Kya. Supaya dia nggak ker-"

"Iya, Mama tahu!" potong Hesti dengan cepat. Lalu ia sedikit berbisik. "Don, menurut Mama ... mending kamu ceraikan saja si Kya secepatnya. Buat apa juga kamu mempertahankan istri kayak dia. Cantik ... enggak. Berpendidikan juga enggak. Nyusahin ... iya. Dia tuh cuma jadi beban buat kita!" ungkapnya memprovokasi.

Doni tertegun, rahangnya mengeras memikirkan saran dari ibunya. Perkataan itu berputar-putar di kepalanya. Bercampur dengan keadaan rumah tangganya selama ini bersama Kyara.

1
falea sezi
bkin cerai lah lama amat g sat set kya menye menye agak. oon
falea sezi
harusnya semua isi ATM di kuras
falea sezi
muter. doank. sih. Thor hadehh. g sat sett. kelamaan. drama. doank
falea sezi
menye menye oon
stela aza
menjijikan
stela aza
males bgt kebanyakan drama
stela aza
Nora bgt biyunge Doni Karo Doni ,, melayat kaya mau kondangan
Ama Apr: haha orkay sombong adigung kk
total 1 replies
stela aza
Thor emang si Kya g punya kelebihan selain beres2 rumah ,,, kasian amat mau minggat dari rumah itu nunggu ngumpulin duit di kasi Doni 🤦
stela aza: kalau bisa karakter cewenya jgn cuma cantik doank Thor harus punya kelebihan yg bisa di banggakan 🤭
total 2 replies
I Love you,
🤣🤣🤣🤣🤣 kaget ya...🙏🙏
Ama Apr: hehe iya
total 1 replies
I Love you,
nnk karma tunai bayar nya g nyicil loh🤣🤣
Ama Apr: hehehe
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤😤selingkuh dia😡😡
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
falea sezi
bertele tele tolol males
Ama Apr: skip aja kk
total 1 replies
falea sezi
ngadu ngadu percuma ambil tindakan. lah. goblok. je males. like. lahh g jelas
falea sezi
oon menye menye
Amy
jgn mau kyaa
Ama Apr: semoga kya nggak luluh
total 1 replies
CB-1
lanjut kaak💪
Ama Apr: siap kk, makasih🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!