NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ches$¥

melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dendam sang adik

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Wulan.

Setelah telepon dari Hendra terputus, kamar kecilnya kembali sunyi. Hanya suara hujan yang jatuh di luar jendela yang menemani.

Namun ketenangan itu tidak menenangkan.

Justru sebaliknya.

Setiap detik terasa seperti tekanan yang semakin berat di dadanya.

Kata-kata Hendra terus berputar di kepalanya.

Pergi dari kota ini… sebelum semuanya menjadi jauh lebih buruk untukmu.

Wulan duduk di lantai kamar dengan punggung bersandar ke ranjang. Tangannya memeluk lututnya, sementara pikirannya dipenuhi bayangan yang semakin gelap.

Ia membayangkan kedainya tutup karena tekanan.

Ia membayangkan orang-orang mulai tahu tentang kehamilannya.

Ia membayangkan keluarga Kusuma benar-benar menghancurkan hidupnya seperti ancaman yang pernah diucapkan Hendra dulu.

Perlahan, napasnya mulai tidak stabil.

Ia sudah berusaha kuat.

Selama berminggu-minggu.

Namun malam ini, semua ketakutan yang ia tahan seperti runtuh sekaligus.

Air mata mulai jatuh.

“Aku lelah…” bisiknya lirih.

Tangannya kembali menyentuh perutnya.

Ada kehidupan kecil di sana.

Namun justru itu yang membuatnya semakin takut.

“Aku tidak tahu bagaimana melindungimu dari mereka…”

Kata-kata itu keluar dengan suara pecah.

Jam di dinding terus berjalan.

Hujan semakin deras.

Dan di dalam kamar kecil itu, kesunyian terasa semakin menekan.

Akhirnya Wulan berdiri perlahan.

Ia berjalan ke meja kecil di sudut kamar.

Di sana ada buku catatan lama dan sebuah pulpen.

Tangannya gemetar saat membukanya.

Untuk beberapa detik ia hanya menatap halaman kosong.

Lalu ia mulai menulis.

Tulisan tangannya tidak rapi karena air mata yang terus jatuh.

Pesan itu ditujukan kepada satu orang.

Melda.

Melda…

Maafkan kakak.

Ketika kamu membaca ini, mungkin kakak sudah tidak ada.

Bukan karena kakak tidak mencintaimu. Justru karena kakak terlalu takut dunia ini akan menghancurkan kita semua.

Tadi malam ayah Agung menghubungi kakak. Dia mengancam kakak seperti dulu. Kakak tahu keluarga mereka mampu melakukan apa saja.

Kakak mencoba kuat. Kakak benar-benar mencoba.

Untuk kamu. Untuk anak ini.

Namun kakak tidak cukup kuat menghadapi semuanya sendirian.

Jika suatu hari kamu bertanya siapa yang membuat kakak seperti ini… ingatlah nama keluarga itu.

Keluarga Kusuma.

Jangan membenci dirimu sendiri karena tidak bisa menolong kakak.

Kamu adalah satu-satunya hal baik yang pernah kakak miliki.

Hiduplah dengan baik.

Kakak sayang kamu.

Tulisan itu berhenti di sana.

Wulan menutup buku itu perlahan.

Air matanya tidak berhenti.

Ia memandang kamar kecil itu untuk terakhir kalinya.

Tempat yang selama ini menjadi rumahnya.

Kemudian ia mengambil napas panjang.

Dan membuat keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.

Keesokan paginya.

Ponsel Melda berdering berkali-kali.

Namun tidak ada jawaban dari Wulan.

Perasaan aneh mulai muncul.

Akhirnya Melda memutuskan pergi ke rumah untuk menemui kakak nya.

Ia membuka pintu kamar kecil itu dengan kunci cadangan.

“Ka?”

Tidak ada jawaban.

Langkahnya masuk perlahan.

Dan dunia Melda berhenti pada detik berikutnya.

Jeritannya memecah kesunyian rumah itu.

Di meja kecil, buku catatan terbuka.

Surat untuknya.

Tangannya gemetar saat membacanya.

Semakin jauh ia membaca, semakin kabur penglihatannya karena air mata.

“Keluarga Kusuma…”

Nama itu terasa seperti api di dadanya.

Melda jatuh berlutut di lantai.

Tangannya mengepal kuat.

Air mata bercampur dengan kemarahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Kak… aku janji…”

Suaranya gemetar.

Namun penuh kebencian.

“Aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang setelah ini.”

Matanya yang merah menatap kosong ke depan.

Di dalam hatinya, sesuatu yang gelap mulai tumbuh.

Dendam.

Terhadap satu nama.

Terhadap satu keluarga.

Keluarga Kusuma.

Dan sejak hari itu, Melda bersumpah dalam diam.

Suatu hari nanti…

Ia akan membuat keluarga itu merasakan kehancuran yang sama seperti yang dialami kakaknya.

Hujan belum berhenti ketika rumah kecil itu dipenuhi suara orang-orang yang datang dan pergi.

Namun bagi Melda, semua suara itu terdengar jauh.

Seolah dunia berada di balik dinding tebal yang tidak bisa ia tembus.

Ia duduk di sudut ruang tamu dengan mata kosong. Di tangannya masih ada buku catatan milik Wulan. Halaman yang berisi surat terakhir itu sudah basah oleh air matanya.

Beberapa tetangga berbisik pelan.

“Kasihan sekali…”

“Dia hamil, katanya…”

“Siapa yang bertanggung jawab?”

Setiap kalimat itu seperti pisau yang menggores hati Melda.

Ia menggenggam buku itu lebih erat.

Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Mereka tidak tahu siapa yang mendorong kakaknya sampai ke titik itu.

Namun Melda tahu.

Nama itu tertulis jelas di surat.

Keluarga Kusuma.

Malamnya, setelah semua orang pulang dan rumah kembali sepi, Melda duduk sendirian di kamar Wulan.

Kamar itu masih sama seperti sebelumnya.

Cermin kecil di meja rias.

Selimut tipis di ranjang.

Dan aroma samar sabun yang biasa dipakai kakaknya.

Melda berjalan perlahan ke meja kecil tempat Wulan menulis surat itu.

Tangannya menyentuh permukaan kayu yang dingin.

“Kak…” bisiknya.

Air matanya jatuh lagi.

Sejak kecil, Wulan selalu menjadi orang yang melindunginya.

Ketika mereka kehilangan orang tua, Wulan yang bekerja keras membuka kedai kecil agar mereka bisa hidup.

Wulan yang selalu memastikan Melda bisa sekolah.

Dan sekarang…

Orang yang selama ini paling kuat dalam hidupnya justru pergi dengan cara paling menyakitkan.

Melda jatuh terduduk di lantai.

Tangannya mengepal kuat.

“Kenapa mereka harus melakukan ini…”

Dadanya terasa panas oleh kemarahan yang semakin besar.

Ia membuka kembali halaman surat itu.

Kalimat terakhir Wulan seperti terus memanggilnya.

Jika suatu hari kamu bertanya siapa yang membuat kakak seperti ini… ingatlah nama keluarga itu.

Melda menutup matanya.

Dan untuk pertama kalinya, rasa sedih itu berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Dendam.

Beberapa hari kemudian, suasana berkabung masih terasa di rumah kecil itu.

Namun di tempat lain di kota yang sama, kehidupan berjalan seperti biasa.

Di gedung perusahaan Kusuma, rapat bisnis tetap berlangsung.

Para direktur membicarakan investasi baru.

Di ujung meja, Agung duduk dengan ekspresi tenang seperti biasa.

Tidak ada yang tahu bahwa beberapa malam sebelumnya seorang perempuan telah mengakhiri hidupnya karena tekanan yang datang dari keluarganya.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka.

Seorang sekretaris masuk dengan wajah tegang.

“Pak Agung… ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda.”

Agung mengangkat alis sedikit.

“Siapa?”

Sekretaris itu ragu sebelum menjawab.

“Dia bilang namanya Melda.”

Nama itu membuat sesuatu bergerak di dalam dada Agung.

Ruang rapat mendadak terasa lebih sunyi.

Agung berdiri perlahan.

“Batalkan rapat ini.”

Para direktur saling pandang, bingung.

Namun Agung sudah berjalan keluar.

Di lobby gedung, seorang perempuan berdiri sendirian.

Melda.

Matanya merah, tetapi tidak ada air mata lagi di sana.

Hanya kemarahan yang dingin.

Ketika Agung mendekat, ia langsung melempar sebuah amplop ke dadanya.

Agung menangkapnya refleks.

“Apa ini?” tanyanya.

Melda menatapnya tajam.

“Itu surat terakhir kakakku.”

Jantung Agung langsung berdetak lebih cepat.

Ia membuka amplop itu.

Tangannya berhenti ketika membaca nama di dalam surat.

Wulan.

Suasana lobby terasa membeku.

Ketika ia selesai membaca, wajahnya berubah pucat.

“Apa yang terjadi?” tanyanya pelan.

Melda tertawa kecil.

Tawa yang pahit.

“Kamu benar-benar tidak tahu?”

Agung menatapnya dengan tegang.

Melda melangkah lebih dekat.

“Dia mati, Agung.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Dunia Agung terasa berhenti sejenak.

“Dia mati bersama anakmu.”

Beberapa orang di lobby mulai memperhatikan mereka.

Namun Melda tidak peduli.

Air matanya akhirnya jatuh lagi, tetapi suaranya tetap tajam.

“Dan kamu tahu siapa yang membuatnya sampai seperti itu?”

Agung tidak bisa menjawab.

Melda menatapnya dengan kebencian yang dalam.

“Keluarga Kusuma.”

Ia menunjuk dada Agung.

“Kalian semua.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Melda berkata pelan, namun penuh janji yang mengerikan.

“Kamu mungkin bisa menyembunyikan semuanya dari dunia.”

Ia mundur selangkah.

“Tapi aku tidak akan membiarkannya begitu saja.”

Agung hanya bisa berdiri diam.

Sementara Melda berbalik dan berjalan keluar dari gedung itu tanpa menoleh lagi.

Namun sebelum pintu kaca tertutup, ia berkata satu kalimat terakhir.

“Mulai sekarang…”

Ia menatap gedung tinggi itu dengan mata penuh api.

“Hidupmu tidak akan pernah tenang lagi.”

Dan di dalam hatinya, sumpah itu telah terucap.

Melda akan menghancurkan keluarga Kusuma.

Satu per satu.

1
Hunk
Permintaannya sederhana. Namun tak mudah.
Paavey 2001: terkadang yg sederhana itu disepelekan/Frown/
total 1 replies
Hunk
Muda banget 24 tahun, udah di kasih beban hidup/Cry/
Paavey 2001: iya kak kasian yaa/Frown//Frown/
total 1 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
soalnya yg satu penub ambisi yg satunya cuma lembut dan menawan juga jadi admin di perusahaan kecil.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡: selau ditunggu
total 2 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Melda sama Wulan ini nanti kira kira kayaknya sifatnya berlaeanan dehh.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
bisa dijadiin puisi tentang senjaa ini.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.
Paavey 2001: hehe mencoba jadi puitis aja sih kak
total 1 replies
Paavey 2001
bukan lagi kakak udh ngalahin percintaan jendral tianfeng😁😁
Paavey 2001
tapi gk gt kak, baca seksama agar tidak galfok🤭
MARDONI
Aku suka banget hubungan kakak adik antara Wulan dan Melda di sini, hangat tapi juga bikin haru 😭 Wulan yang terus berusaha percaya sama Agung sementara Melda diam-diam khawatir itu kerasa banget emosinya. Apalagi di akhir pas Wulan bilang berharap cintanya cukup kuat… aduh rasanya hati ikut takut juga.
Paavey 2001: siapin tissue nya kak agar tidak terlihat orang lain😁
total 1 replies
izmie kim
tanggung jawab yang harus di ambil alih karena keadaan itu terkadang sebuah pengorbanan yang gak mudah banyak yang harus kita korbankan
Paavey 2001: betul banget kakak
total 1 replies
cimownim
semoga terwujud ya Wulan🤗
Paavey 2001: amiin kakak
total 1 replies
SarSari_
semua perempuan kayaknya harapannya gini deh ya🫣
Paavey 2001: semoga harapan kakak disegerakan ya
total 1 replies
putrijawa
cinta mereka cukup berat cobaannya
Indira Mr
Ujian Wulan dan Agung dengan status yg berbeda..semoga mereka kuat 💙💙💙
Indira Mr
Wulan mulia kakak yg bertanggung jawab 😂😂😂💙
Paavey 2001: heheh iya kak, sama seperti kakak juga ya🤭
total 1 replies
Paavey 2001
hehe gk bisa kak udah alur cerita nya begitu 😁 melda juga bagus kok kak gk kalah jauh dengan wulan nantikan aja bab selanjutnya dijamin lebih bagus
Emi Sudiarni
seru bngat. jgn di matikan wula👍n nya ya thor
Paavey 2001
Terima kasih kakak cantik
chiechie kim
aku suka cerita nya
Emi Sudiarni
bgus bngat meng hari biru.. tpi sayang bngat si wulan hrus di matikan, pd hal sdah terbiasa dgn sosok wulan, klw di gantikan melda sy kira udah kurang menarik lgi utk di baca
Paavey 2001: tunggu kelanjutan nya aja ya kak dijamin bagus
total 1 replies
Paavey 2001
jelek ya kak cerita nya/Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!