Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Naya melangkah masuk ke kamar itu. Ruangan yang didominasi warna gelap dan minim perabotan itu terasa dingin dan sunyi, sangat cocok dengan kepribadian Lucio yang tertutup dan misterius.
Ia menyusuri kamar itu perlahan, matanya menelusuri setiap sudut, hingga langkahnya terhenti di sebuah pintu yang hampir tersembunyi di sudut ruangan, dekat pintu menuju ruang ganti.
“Aku harus masuk ke pintu ini,” gumam Naya, menarik gagang pintu perlahan. Ternyata, pintu itu sama sekali tidak terkunci.
Begitu dibuka, Naya menemukan ruangan rahasia. Ruangan itu dipenuhi lemari arsip, dokumen berserakan, dan kertas-kertas yang tertempel di sepanjang dinding, seakan berisi seluruh catatan penyelidikan Lucio.
Naya melangkah masuk melewati ambang pintu, matanya terpaku pada dinding yang memuat berbagai informasi.
Namun langkahnya segera terhenti begitu matanya menangkap sesuatu di atas meja. Sebuah foto tergeletak begitu saja.
“Mama?” gumamnya dengan suara tercekat.
Tangan Naya gemetar saat ia mengambil foto itu. Benar. Itu foto ibunya, sama seperti yang pernah ia lihat di ruang ayahnya. Foto terakhir ibunya sebelum meninggal dunia.
Dalam foto itu, ibunya mengenakan gaun berwarna peach yang lembut, rambutnya tergerai indah, senyum menawan menghiasi wajahnya. Ia terlihat anggun dan mempesona, seperti saat hidupnya penuh cahaya.
Naya mengepalkan satu tangannya, darahnya mendidih. “Dia benar-benar membunuh ibuku,” bisiknya pelan, bayangan amarah dan dendam muncul di matanya. Ia membayangkan meremukkan Lucio sampai hancur.
Rasa bingung dan takut menyelimuti hatinya. Ia terduduk di lantai, menatap foto itu dengan rasa sakit dan kemarahan.
“Kenapa dia menikahiku? Apa dia juga berniat membunuhku? Apa yang sebenarnya dia inginkan?” pikirnya.
Tidak ada penjelasan logis mengapa foto itu bisa ada di sini, kecuali satu kemungkinan: Lucio memang terlibat. Pria itu mungkin benar-benar orang yang selama ini dicari oleh ayahnya, dalang di balik kematian misterius ibunya.
Naya menarik napas dalam-dalam, memaksa diri tetap tenang. “Aku harus pergi sebelum dia juga membunuhku,” gumamnya.
Ia berdiri perlahan, meletakkan kembali foto itu di atas meja, lalu menutup pintu ruangan rahasia itu dengan hati-hati.
Saat kembali ke kamarnya, Lucio masih tertidur, nafasnya stabil dan damai. Naya mengambil hoodie hitam dari lemari, memakainya, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil.
Ia sudah memutuskan. Malam ini ia akan pergi. Hanya membawa ponsel, tanpa pakaian tambahan. Ia takut jika Lucio bangun dan memergokinya, semuanya bisa berakhir bencana.
Naya menatap Lucio sebentar dari pintu kamar, menarik nafas, lalu perlahan-lahan melangkah meninggalkan kamar pengantin mereka.
Tapi bagaimana kalau Lucio membunuh ayahnya jika dia tahu Naya kabur?
Beberapa kali Naya hampir menghentikan langkahnya, ingin kembali ke kamar dan berpura-pura tidak tahu apa-apa, tapi rasa takut lebih mendominasi membuatnya ingin segera pergi dan mengadukan semuanya pada ayahnya.
...\=\=\=...
Sudah lewat tengah malam ketika Naya tiba di rumah ayahnya. Udara malam yang dingin membuat langkahnya terdengar jelas saat ia berjalan menuju pintu gerbang.
“Non Naya, ngapain kesini tengah malam?” tanya satpam rumahnya, suaranya terdengar kaget.
“Mau ketemu Papa, Om. Papa masih bangun, kan?” jawab Naya cepat. Om Bagas, satpam yang sudah bekerja di rumah ini selama lebih dari dua puluh tahun, tersenyum tipis. Ia sudah sangat akrab dengan Naya.
“Waduh, Non… kalau jam segini biasanya Bapak sudah tidur.” Om Bagas membukakan pintu utama. Naya berjalan masuk lebih dulu, sandal rumahan yang lupa ia ganti menimbulkan bunyi keras saat menginjak lantai dingin malam.
Om Bagas mengikuti di belakangnya. Naya melirik sekilas ke arah pria itu dan melihat wajah Om Bagas tampak agak cemas.
“Kenapa, Om?” tanya Naya, ragu.
“Apa, Non?” balas Om Bagas, mencoba terdengar biasa.
“Om kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa, Non,” katanya akhirnya, memaksakan senyum yang tampak kaku. “Biar Om panggil Bapak dulu, non tunggu aja di kamar.”
Naya hanya mengangguk. Ia menatap sejenak punggung Om Bagas yang bergegas naik ke lantai dua.
Tidak ingin terlalu memikirkannya, Naya pun ikut naik ke lantai dua. Hatinya campur aduk, penuh kecemasan dan rasa takut.
Begitu masuk ke kamarnya, langkahnya terhenti. Tuan Tuqman sudah berdiri di depan pintu dengan wajah lega.
“Naya,” panggil ayahnya sambil melangkah cepat dan mengguncang bahu Naya. “Apa yang terjadi?”
“Ayah benar… Lucio orangnya,” Naya menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis agar tidak pecah. “A-aku…”
Suara Naya tersendat. Tangisnya akhirnya pecah, menetes di pipi.
Tuan Tuqman segera menarik Naya ke dalam pelukannya, memeluk erat sambil mengusap lembut punggung anaknya.
“Jangan takut, Nak,” kata Tuan Tuqman dengan suara lembut. “Papa akan melakukan segala cara untuk melindungimu. Tidak ada yang akan menyakitimu selama Papa ada di sini.”
Naya menunduk di bahu ayahnya, rasanya lega sekaligus takut. Ia merasa beban di dadanya sedikit terangkat, tapi kekhawatiran tentang Lucio tetap membayang.
“Papa, apa kita bisa menghentikannya?” bisik Naya, suaranya nyaris tersedak.
“Tenang, Nak, kita akan cari jalan. Papa tidak akan membiarkan orang seperti dia menyakitimu,” jawab Tuan Tuqman sambil menatap mata Naya penuh meyakinkan.
Semoga memang begitu.
“Sekarang kamu tidur,” lanjut Tuan Tuqman.
Naya mengangguk, berbaring di ranjang dan ayahnya menyelimutinya. Setelah memberi satu ciuman singkat di kening Naya, Tuan Tuqman mematikan lampu kamar kemudian segera keluar.
...***...