NovelToon NovelToon
Mafia Kejam Jatuh Cinta

Mafia Kejam Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.

Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman

Marvel menatap sepatu bayi mungil yang berlumuran darah itu dengan napas yang tertahan. Baginya, ini bukan sekadar ancaman; ini adalah deklarasi perang terhadap darah dagingnya.

"Marvel, apa itu?" tanya elara yang baru saja masuk ke ruangan, suaranya bergetar melihat ekspresi suaminya yang kembali berubah menjadi "The Glacier".

Marvel segera menyembunyikan kotak itu di balik punggungnya, memaksakan sebuah senyum tipis yang tidak sampai ke matanya. "Hanya urusan bisnis yang belum selesai, Sayang. Kembali ke kamar, ya? Aku akan segera menyusul."

Begitu Elara pergi, wajah marvel berubah menjadi topeng kematian. Ia menghancurkan kotak itu dalam satu remasan tangan. Ancaman ini datang dari Klan Mikhailov, sindikat Rusia yang selama ini bergerak di bawah bayang-bayang setelah kekalahan Valerius.

Lockdown Total: marvel tidak lagi mempercayai sistem keamanan standar. Ia mengaktifkan unit "Spectre"—pasukan bayangan yang hanya muncul dalam situasi kiamat organisasi.

Kediaman mereka kini menjadi benteng yang bahkan tidak bisa ditembus oleh udara tanpa izinnya.

Pesan Balasan: marvel tidak mengirim surat. Ia mengirimkan sepuluh kepala informan Mikhailov yang tertangkap dalam satu malam, masing-masing dengan mawar hitam di mulutnya—simbol bahwa ia tahu siapa mereka dan di mana mereka bersembunyi.

Insting Seorang Ayah: Di tengah kemarahannya, marvel mulai merasa paranoid. Ia tidak lagi tidur di tempat tidur. Ia duduk di kursi di depan pintu kamar Elara, pistol kustomnya terisi penuh, matanya terus menyisir kegelapan hingga fajar menyingsing.

"Mereka ingin menjemput pewarisku?" desis marvel pada udara kosong yang dingin. "Mari kita lihat apakah mereka bisa melewati neraka yang akan kubangun di depan pintu rumahku."

Marvel menyadari bahwa menjadi bos mafia yang ditakuti adalah satu hal, namun menjadi ayah yang melindungi anaknya dari monster-monster sepertinya adalah pertempuran tersulit yang pernah ia hadapi.

Marvel menatap layar monitor di ruang kendali bawah tanahnya. Ancaman terbaru ini bukan lagi sekadar sepatu berdarah, melainkan serangan psikologis yang jauh lebih terencana.

Tiba-tiba, semua saluran komunikasi di kediamannya diretas. Layar televisi di ruang tengah, tablet milik elara, hingga ponsel para pengawal hanya menampilkan satu gambar: Denah rumah sakit tempat Elara dijadwalkan melakukan pemeriksaan rutin minggu depan, dengan tanda silang merah tepat di ruang USG.

Penyusupan Bayangan: Sensor gerak di hutan sekitar vila mendeteksi pergerakan, namun saat tim pengawal memeriksa, mereka hanya menemukan boneka bayi yang digantung di pohon dengan kamera tersembunyi di matanya. Musuh ingin marvel tahu bahwa mereka bisa melihat setiap gerak-gerik Elara.

Pengkhianatan Internal: marvel menemukan bahwa salah satu koki barunya adalah informan Mikhailov. Alih-alih membunuhnya segera, marvel memaksa koki itu memberikan informasi palsu kepada musuh, memancing mereka ke sebuah lokasi jebakan yang telah dipasangi peledak cair.

Insting Liar: Ketakutan mulai merambat di hati Elara. Ia tidak lagi melihat marvel sebagai pelindung, melainkan sebagai magnet bahaya. "Marvel, sampai kapan kita akan hidup seperti ini?" tanyanya dengan mata sembab.

Keputusan Drastis: marvel menyadari bahwa bertahan pasif hanya akan membuat mereka terpojok. Ia memutuskan untuk melakukan "The Great Purge". Ia akan meninggalkan Elara di bunker paling rahasia yang bahkan anak buahnya tidak tahu lokasinya, sementara ia sendiri pergi ke sarang Mikhailov untuk melakukan pembantaian sendirian.

"Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil napas kedua setelah mereka berani mengincar anakku," desis marvel sambil mengokang senapan serbu berlapis karbon hitamnya.

Marvel kini bukan lagi seorang mafia yang menjaga wilayah, ia adalah ayah yang sedang mengamuk.

Marvel tidak lagi menggunakan setelan jas custom-made yang rapi. Malam itu, ia mengenakan rompi taktis hitam berat, wajahnya dicoret garis hitam menyamar, dan matanya memancarkan aura kematian yang lebih pekat dari biasanya. Ia berdiri di depan gerbang Mansion Mikhailov, sebuah benteng tua di pinggiran kota yang dijaga oleh tentara bayaran Rusia.

"Hancurkan gerbangnya," perintah marvel dingin.

Ledakan Pembuka: Sebuah SUV lapis baja yang dikendalikan jarak jauh menabrak gerbang utama dan meledak, menghancurkan pos penjaga dalam sekejap. Di tengah kobaran api, marvel merangsek masuk dengan senapan serbu AR-15, menembak dengan presisi mekanis. Setiap peluru yang keluar adalah balasan untuk ketakutan yang mereka berikan pada Elara.

Hujan Granat Asap: marvel melemparkan granat termobarik ke lobi utama. Saat asap putih tebal menyelimuti ruangan, ia bergerak seperti hantu menggunakan kacamata thermal. Ia tidak butuh cahaya untuk membunuh; ia hanya butuh detak jantung musuh sebagai pemandu. Satu per satu anggota klan Mikhailov tumbang sebelum mereka sempat melihat siapa yang menyerang.

Baku Tembak di Tangga Agung: Di lantai dua, marvel terjepit oleh tembakan senapan mesin berat. Tanpa ragu, ia melompat ke balik pilar marmer, mencabut dua granat tangan, dan melemparkannya ke arah sarang senapan mesin tersebut. DUAR! Langit-langit runtuh, dan marvel terus maju, mengabaikan serpihan kayu yang menggores pipinya.

Konfrontasi dengan Alexei Mikhailov: marvel mendobrak pintu ruang kerja Alexei. Pria tua itu gemetar, mencoba meraih pistol di laci mejanya. Marvel menembak tangan Alexei sebelum jemarinya menyentuh senjata itu. Ia kemudian menyeret Alexei ke balkon, menekan wajah pria itu ke pagar besi yang dingin.

"Kau mengirim sepatu berdarah untuk anakku?" suara marvel sangat rendah, nyaris seperti geraman binatang buas. "Sekarang, aku akan mengirim seluruh klanmu ke liang lahat."

Marvel tidak membunuh Alexei dengan cepat. Ia ingin pria itu melihat markasnya terbakar habis terlebih dahulu. Setelah memastikan pesan darinya tersampaikan ke seluruh dunia bawah tanah, marvel mengakhiri segalanya dengan satu tembakan di tengah dahi.

Marvel keluar dari mansion yang kini menjadi lautan api. Ia melepas rompi taktisnya yang bersimbah darah, mengambil ponselnya, dan menelepon rumah.

"elara, ini aku. Bahayanya sudah lewat. Aku pulang."

Elara melangkah keluar dari kabut asap markas Mikhailov yang masih membara. Tubuhnya penuh dengan noda mesiu dan darah musuh, namun langkah kakinya tidak lagi berat. Beban yang menghimpit jantungnya selama berhari-hari kini menguap bersama nyawa musuh-musuhnya.

Elara tiba di kediamannya saat fajar mulai menyingsing, mewarnai langit dengan semburat ungu dan emas. Ia tidak langsung masuk. Di depan pintu, ia melepas rompi taktisnya yang hancur dan membersihkan tangannya dengan sangat teliti menggunakan cairan antiseptik—ia tidak ingin aroma kematian ikut masuk ke ruang suci tempat istri dan calon anaknya berada.

Kepulangannya menjadi momen yang sangat emosional:

Pelukan yang Gemeter: Saat pintu bunker terbuka, Elara berlari dan menghambur ke pelukannya. Marvel mendekapnya erat, membenamkan wajahnya di leher Elara, menghirup aroma vanila yang seketika meruntuhkan seluruh sisa-sisa "The Glacier" dalam dirinya.

Sentuhan Kehidupan: Marvel perlahan berlutut, meletakkan telapak tangannya yang masih hangat di perut Elara. "Aku sudah menyingkirkan mereka, Kecil," bisiknya pelan, seolah berbicara pada janin di dalamnya. "Duniaku mungkin kotor, tapi duniamu akan menjadi tempat paling aman yang pernah ada."

Janji Baru: Elara menyeka darah di pelipis marvel dengan jemarinya yang lembut. "Kau pulang, marvel. Itu yang terpenting." Marvel menatap mata elara, menyadari bahwa kemenangan sejati bukanlah saat ia membantai klan Mikhailov, melainkan saat ia bisa kembali dan melihat binar kehidupan di mata istrinya.

Masa Tenang: marvel membimbing Elara kembali ke tempat tidur. Ia tidak tidur; ia hanya berbaring di sampingnya, menjaga Elara yang akhirnya bisa terlelap tanpa rasa takut. Tangannya tidak lagi memegang senjata, melainkan menggenggam erat tangan Elara seolah takkan pernah melepaskannya lagi.

Marvel tahu, di luar sana mungkin akan selalu ada musuh baru. Namun hari ini, sang predator telah membuktikan bahwa tidak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ayah yang melindungi keluarganya.

1
Dysha♡💕
bagus
Dysha♡💕
ceritanya bagus,tapi terlalu singkat dan cepat,,jadi kurang menghayati gitu,,,
erin
jangan bosan untuk membaca
erin
jangan lupa mampir🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!