NovelToon NovelToon
Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Ia lalu menjelaskan bahwa hari ini Tn. Bania sedang pergi ke kota lain untuk urusan bisnis, sehingga ia yang akan mendampingi Kai melihat properti.

“Saya akan memberikan informasi lengkap mengenai properti hari ini. Silakan bertanya jika ada yang kurang jelas.”

Thomas membuka pintu kereta kuda dengan sopan.

“Kalau begitu, mari kita berangkat.”

Tak lama kemudian, kereta berhenti di depan sebuah rumah besar.

Wajah Kai langsung berubah lesu.

“Anu… Thomas-san… bukankah ini rumah mewah?”

“Benar. Dulunya ini milik seorang pedagang besar.”

Mereka masuk ke dalam.

Interiornya luas dan terang. Dua lantai. Lima kamar tidur. Lima kamar mandi. Ruang tamu besar dengan langit-langit tinggi.

Dan

Satu pemandian air panas pribadi.

Kai berdiri terpaku saat melihatnya.

“Waaah… ini pemandian?” ucapnya takjub.

Thomas mengangguk.

“Rumah dengan pemandian air panas pribadi tidak banyak di kota ini. Biasanya hanya dimiliki bangsawan.”

Kai berjongkok, menyentuh permukaan keramiknya. Ia memeriksa retakan, struktur dinding, bahkan langit-langit dan loteng.

Thomas memperhatikannya dengan heran.

“Anda sangat teliti, Tn. Kai. Apa Anda bisa melihat dengan jelas meski mata anda tertutup?”

“Tentu saja. Sama sekali tidak mengganggu.”

Jawab kai santai.

Ia kembali mengamati pemandian itu.

“Rumah ini terlalu besar untukku…” gumamnya.

“Tapi… pemandiannya menarik.”

Ia berdiri dan menoleh pada Thomas.

“Itu… Thomas-san. Bukankah rumah sebesar ini seharusnya mahal? Lokasinya juga bagus.”

Thomas membuka buku catatannya.

“Untuk properti ini, harga jualnya adalah…”

“25 koin emas.”

Rumah dua lantai. Lima kamar. Lima toilet . Halaman begitu luas . Pemandian air panas pribadi.

Ia menghitung cepat dalam pikirannya.

Sekitar 250 juta rupiah.

Thomas berdiri di tengah ruang tamu yang luas itu, membuka kembali buku catatannya.

“Namun ada satu hal yang perlu Anda ketahui, Tn. Kai.”

Kai menoleh.

“Seluruh alat sihir yang terpasang di tiap ruangan—termasuk lampu sihir—sudah tidak bisa digunakan.”

Ia melanjutkan dengan nada profesional.

“Anda perlu membeli banyak batu sihir untuk mengaktifkan kembali sistemnya”

Kai mengangkat wajahnya sedikit, menatap langit-langit tempat lampu kristal tergantung diam tanpa cahaya.

“Begitu ya…”

Thomas lalu menambahkan,

“Saya juga memiliki beberapa properti lain yang lebih besar, dengan fasilitas lengkap dan alat sihir yang masih aktif. Jika Anda berkenan melihatnya—”

Kai menggeleng pelan.

“Tidak perlu.”

Thomas tampak sedikit ragu.

“Apakah Anda yakin, Tn. Kai? Anda bahkan belum melihat pilihan lainnya.”

“Iya,” jawab Kai tenang.

“Yang ini sudah lebih dari cukup untukku.”

Mereka berjalan kembali ke ruang tamu utama.

“Ini yang bisa ku beli untuk sekarang,” gumamnya.

“Dan juga… tidak terlalu sulit untuk diperbaiki.”

Thomas memperhatikan kai dengan saksama.

“Baiklah. Lalu kapan Anda ingin pindah, Tn. Kai?”

Kai berpikir sejenak.

“Hm… aku butuh waktu untuk perbaikan dan persiapan.”

“Kira-kira… dalam tujuh hari.”

Thomas mengangguk.

“Itu memungkinkan. Kita bisa segera memproses pembayarannya hari ini.”

“Kalau begitu, mari kembali ke perusahaan.”

Kai tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, mereka kembali ke kereta kuda. Roda kayu berderit pelan saat meninggalkan kawasan perumahan.

Suasana di Serikat Petualang Kota Embrace jauh lebih ramai dari biasanya.

Meja-meja kayu dipenuhi petualang.

Di depan meja resepsionis—

Amane berdiri dengan ekspresi serius.

“Biar kutanya sekali lagi,” ucapnya tegas.

“Apa benar-benar tidak ada penyihir seperti itu?”

“Pria berjubah hitam. Membawa dua pedang di pinggangnya.”

Petugas guild tersenyum kecut.

“Yah… bagaimana ya menjelaskannya…”

“Sebenarnya tidak ada penyihir seperti itu yang terdaftar di guild kami.”

Resepsionis itu menelan ludah.

“Mungkin… Anda salah lihat?”

Amane langsung mendekatkan wajahnya ke meja.

“Hah… apa maksudmu aku orang aneh?”

“Hiik—! M-maafkan saya!” petugas itu langsung menunduk ketakutan.

Tak jauh dari sana, beberapa petualang mulai berbisik.

“Oi oi oi… ribut apa itu?”

" Katanya muncul monster yang bahkan bikin White Snow kewalahan "

White Snow dikenal sebagai kelompok petualang terkuat di negara ini.

Salah satu petualang yang mendengar laporan dari luar kota ikut nimbrung.

“Aku dengar ada naga tingkat negara yang muncul di hutan.”

“Dan katanya… ada penyihir misterius yang muncul dan langsung menghabisinya.”

“Hah? Siapa orangnya?”

“Katanya dia pergi begitu saja. Bahkan tidak menyebut namanya.”

“Apa-apaan itu…”

“Kayak cerita dongeng.”

“Iya kan , tetapi kalau itu benar… berarti dia penyelamat nyawa White Snow.”

Di kesempatan lain, Kai berjalan menuju Guild Petualang Kota Embrace. Tujuannya untuk mendaftar.

Begitu ia membuka pintu dan melangkah masuk, suara di dalam ruangan perlahan mereda. Beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya.

“Siapa orang itu…?”

“Apa-apaan penutup mata itu…”

Kai kini sudah memindahkan posisi dua katananya ke belakang punggungnya.

Pandangan matanya menyapu ruangan.

Di bagian tangan leher serta bawah mata petualang itu terdapat level yang berbeda-beda.

Level 12. Level 18. Level 27. Yang paling tinggi di ruangan itu—Level 35.

Di dekat papan misi, beberapa petualang sedang berbicara cukup keras.

“Woi, sudah dengar soal penyihir misterius itu?”

“Yang katanya sendirian menaklukkan naga?”

“Iya, monster yang bahkan White Snow nggak bisa kalahkan.”

“Ah, mana mungkin ada orang kayak gitu. Kalau benar, berarti dia adalah seorang pahlawan.”

“Siapa sebenarnya dia…”

Kai menahan ekspresinya tetap datar dan berjalan menuju meja pendaftaran.

Petugas guild tersenyum profesional.

“Selamat datang di Guild Petualang. Ada yang bisa saya bantu?”

“Aku ingin mendaftar sebagai petualang,” jawab Kai.

“Baik. Petualang baru, ya? Silakan isi formulir ini.”

Petugas itu mengeluarkan lembaran dari laci dan menyerahkannya. Sambil Kai menulis, petugas tersebut menjelaskan sistem peringkat.

“Rank E untuk level 10 sampai 20. Rank D untuk level 21 sampai 40. Rank C untuk level 41 sampai 60. Rank B untuk level 61 sampai 80. Rank A untuk level 81 sampai 100. Dan Rank S untuk level 101 sampai 125.”

Ia melanjutkan dengan nada informatif, “Setiap kenaikan rank memiliki syarat berbeda. Rank E harus menyelesaikan 10 misi. Rank D, menyelesaikan 15 misi. Rank C, menyelesaikan 25 misi, Rank B, menyelesaikan 40 misi.

Beberapa petualang yang mendengar ikut mengangguk.

“Untuk Rank A, harus menyelesaikan 65 misi Rank S, menyelesaikan 90 misi. Kebanyakan dari mereka akan menyelesaikan misi di dalam dungeon karena keuntungan yang didapatkan lebih banyak , tetapi tidak sedikit juga yang tidak masuk dungeon karena terlalu beresiko.”

Kai menyimak tanpa banyak komentar.

Setelah selesai mengisi formulir, petugas itu memeriksanya dan berhenti di satu bagian.

“Bagian level Anda kosong.”

Kai mengangkat wajahnya sedikit. “Aku tidak tahu di mana melihat levelku.”

Petugas itu terlihat heran, tetapi tidak terlalu mempermasalahkannya. “Baiklah. Kalau begitu Anda akan memulai dari Rank E. Level awal akan dicatat sebagai Level 5 "

1
Khai
hai semua,
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!