update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahasiswa Populer
Setelah makan siang di kantin, Lin Yinjia dan Xu Yara kembali ke gedung fakultas ekonomi.
Koridor sudah mulai ramai lagi karena kelas siang akan segera dimulai. Beberapa mahasiswa berjalan cepat sambil membawa buku, sementara yang lain berdiri berkelompok di dekat jendela sambil bercakap-cakap.
Yinjia berjalan di samping Yara dengan langkah santai, tapi pikirannya masih belum sepenuhnya tenang. Kotak camilan di tasnya masih terasa seperti sesuatu yang aneh. Bukan karena makanannya. Tapi karena orang yang memberinya.
“Masih mikirin roti itu?” tanya Yara tiba-tiba. Yinjia menoleh. “Kelihatan?”
“Lumayan.”
Yinjia tertawa kecil, lalu menghela napas. “Aku cuma penasaran saja.”
“Kenapa harus penasaran?”
“Karena aneh.”
Yara menatapnya sebentar sebelum berkata dengan nada ringan, “Kalau ternyata orang itu suka kamu, kamu akan bagaimana?”
Yinjia tidak langsung menjawab. Mereka berhenti di depan ruang kelas. Beberapa mahasiswa sudah duduk di dalam. Yinjia akhirnya berkata pelan, “Aku tidak akan melakukan apa-apa.”
“Kenapa?”
“Kamu tahu kan aku sudah dijodohkan.” Kalimat itu keluar dengan nada yang lebih datar dari biasanya. Yara tidak langsung menjawab. Dia hanya mengangguk kecil.
Mereka masuk ke kelas. Yinjia kembali ke tempat duduknya di barisan tengah. Dia meletakkan tas di lantai, membuka laptop, lalu mengeluarkan buku catatan. Namun beberapa detik kemudian, seseorang berdiri di samping mejanya. “Boleh duduk di sini?” Suara laki-laki. Yinjia mendongak.
Chen Luo.
Beberapa mahasiswa di sekitar mereka langsung melirik sekilas. Tidak banyak orang yang berani duduk dekat Chen Luo karena biasanya dia duduk di barisan depan bersama mahasiswa-mahasiswa yang sangat serius belajar.
Yinjia sedikit terkejut, tapi tetap mengangguk. “Oh… silakan.” Chen Luo menarik kursi di sebelahnya dan duduk dengan tenang.
Dia membuka laptopnya tanpa terlihat canggung. Yinjia menatapnya sebentar sebelum kembali melihat layar laptopnya sendiri.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Dosen belum datang. Mahasiswa di kelas mulai mengobrol. Akhirnya Chen Luo berbicara. “Kamu selalu datang lebih awal?”
Yinjia menoleh. “Tidak selalu.”
“Tapi sering.”
Yinjia tersenyum kecil. “Aku tidak suka terburu-buru.”
Chen Luo mengangguk pelan. Beberapa detik kemudian dia berkata lagi, “Roti tadi pagi… enak?”
Yinjia langsung membeku. Dia menatap Chen Luo dengan ekspresi bingung. “Roti?”
Chen Luo terlihat tenang. “Iya. Milk bread.”
Yinjia menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menyadari sesuatu. Matanya sedikit membesar. “Kamu yang taruh?”
Chen Luo tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum tipis. “Aku lewat kelasmu pagi tadi.” Itu bukan jawaban langsung. Tapi cukup jelas. Yinjia menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. “Kenapa?” Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Chen Luo menutup laptopnya sebentar dan menatap Yinjia dengan ekspresi yang tetap santai. “Tidak boleh?”
Yinjia langsung menggeleng cepat. “Bukan begitu maksudku.” Dia terlihat sedikit gugup. “Cuma… aku tidak menyangka.”
Chen Luo bersandar sedikit di kursinya. “Kamu sering tidak sarapan.”
Yinjia berkedip beberapa kali. “Kamu tahu?”
“Kamu pernah bilang ke Yara di kantin semester lalu.” Yinjia benar-benar tidak ingat pernah mengatakan itu. Dia mencoba mengingat. Mungkin memang pernah.
Dia memang sering berbicara tanpa sadar kalau sedang gugup atau santai. Melihat ekspresinya, Chen Luo tertawa kecil. “Kamu tidak ingat ya?”
Yinjia menggeleng. “Tidak.”
Chen Luo menatapnya beberapa detik sebelum berkata dengan nada ringan, “Tidak apa-apa. Aku ingat saja.” Yinjia tiba-tiba merasa sedikit tidak tahu harus berkata apa.
Situasi ini terasa aneh. Bukan aneh yang buruk. Tapi tetap membuatnya tidak nyaman. “Terima kasih untuk rotinya,” katanya akhirnya. Chen Luo mengangguk. “Sama-sama.”
Namun beberapa kursi di belakang mereka, Xu Yara memperhatikan percakapan itu dengan ekspresi yang perlahan berubah. Awalnya hanya penasaran. Lalu sedikit tegang. Dia tidak mengatakan apa pun. Tapi matanya beberapa kali berpindah dari Chen Luo ke Yinjia.
Kelas akhirnya dimulai ketika dosen masuk. Percakapan mereka berhenti. Chen Luo kembali membuka laptopnya. Yinjia mencoba fokus pada materi kuliah. Namun entah kenapa, kehadiran seseorang di kursi sebelahnya membuat suasana terasa berbeda.
Setelah kelas selesai, sebagian mahasiswa langsung bergegas keluar ruangan. Beberapa masih duduk sambil berdiskusi tentang tugas yang baru saja diberikan.Yinjia sedang memasukkan buku catatannya ke dalam tas ketika Chen Luo berbicara lagi. “Kamu ada kelas lagi?”
“Tidak. Hari ini cuma dua.”
Chen Luo mengangguk. “Aku juga selesai.”
Yinjia menutup tasnya. “Terima kasih lagi untuk rotinya.”
Chen Luo menatapnya sebentar sebelum berkata dengan nada santai, “Kalau kamu tidak keberatan, aku bisa membawakan sarapan lagi lain kali.”
Yinjia langsung menggeleng cepat. “Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Aku tidak enak.”
Chen Luo terlihat tidak tersinggung. “Anggap saja teman.”
Yinjia tidak langsung menjawab. Kata teman terdengar sederhana. Tapi dia tahu hubungan antara mahasiswa di kampus tidak selalu sesederhana itu. Apalagi dengan seseorang seperti Chen Luo. Seorang mahasiswa yang hampir semua orang kenal.
Beberapa mahasiswa perempuan bahkan sering mencoba mendekatinya. Namun sebelum Yinjia sempat mengatakan apa pun, Xu Yara tiba-tiba datang mendekat. “Kalian belum pulang?”
Nada suaranya terdengar biasa. Tapi ada sesuatu yang sedikit tegang di dalamnya. Chen Luo berdiri sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas. “Aku mau ke perpustakaan.”
Dia menatap Yinjia sebentar. “Sampai jumpa.”
Lalu dia berjalan keluar kelas. Beberapa detik setelah dia pergi, Yara langsung duduk di kursi yang tadi ditempati Chen Luo. “Kamu dekat dengan dia?”
Pertanyaan itu keluar cukup cepat. Yinjia terlihat sedikit bingung. “Tidak juga.”
“Dia jarang bicara dengan orang.”
“Tadi cuma ngobrol sedikit.”
Yara menatap pintu kelas tempat Chen Luo keluar beberapa detik. Ekspresinya sulit dibaca. Kemudian dia berkata pelan, “Kamu harus hati-hati.”
“Hati-hati apa?”
“Dengan orang seperti dia.”
Yinjia mengerutkan kening. “Maksudmu?”
“Dia terlalu populer. Biasanya orang seperti itu tidak benar-benar serius.”
Yinjia tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Dia hanya berkata pelan, “Kami cuma bicara.”
Yara tersenyum kecil. “Terserah kamu.”
Namun setelah mereka keluar dari kelas dan berjalan menuju gerbang kampus, pikiran Yinjia kembali dipenuhi berbagai hal.
Chen Luo.
Kotak roti. Tatapan Yara yang berubah. Dan kehidupan kampus yang terasa semakin rumit.
Sementara itu, beberapa ratus meter dari kampus, sebuah mobil hitam berhenti di depan lampu merah. Di dalam mobil itu, seorang pria duduk di kursi belakang sambil melihat layar tablet.
Guo Linghe.
Presiden direktur perusahaan ekspor impor terbesar di kota itu. Tatapannya tenang dan dingin. Sekretarisnya, He Suyin, duduk di kursi depan sambil membaca jadwal rapat. “Direktur Gu, sore ini ada pertemuan dengan universitas mengenai program magang.”
Linghe tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian dia berkata pendek. “Universitas mana?”
“Universitas tempat program magang baru.”
Linghe menutup tabletnya. Tatapannya mengarah keluar jendela mobil. Lampu merah masih menyala. Mahasiswa dari berbagai fakultas berjalan keluar gerbang kampus dengan langkah santai.
Tanpa dia sadari, salah satu dari mereka adalah seorang gadis yang kehidupannya akan perlahan berubah setelah memasuki perusahaannya.
Lampu berubah hijau. Mobil kembali bergerak. Dan takdir yang belum saling mengenal itu mulai mendekat sedikit demi sedikit.