Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terobosan
Malam di pinggiran Kota Bintang Jatuh terasa semakin membekukan. Angin berhembus kencang membawa serpihan salju pertama yang jatuh perlahan dari langit kelabu, menyelimuti atap-atap bangunan usang dengan warna putih pucat.
Di sebuah lereng bukit terjal yang berjarak tiga puluh li dari gerbang kota, terdapat sebuah gua alami yang tersembunyi di balik rimbunnya semak belukar berduri. Gua itu cukup dalam dan sempit, hanya memancarkan kegelapan mutlak.
Wussshhh!
Sesosok bayangan hitam melesat masuk ke dalam gua tersebut, tanpa meninggalkan jejak kaki di atas lapisan salju tipis. Bayangan itu adalah Shen Yuan. Setelah menggunakan Langkah Bayangan Hantu tanpa henti selama satu batang dupa penuh, ia akhirnya menemukan tempat yang cukup terpencil untuk mengasingkan diri.
Shen Yuan menjatuhkan dirinya di lantai gua yang keras. Napasnya terengah-engah, dan keringat dingin bercucuran dari dahinya. Pelarian dengan kecepatan penuh telah menguras sebagian besar hawa murni yang baru saja ia hisap dari mayat pengawal Keluarga Lin. Yang lebih buruk, Kutukan Tulang Layu di punggungnya mulai bergejolak menanggapi cuaca dingin di luar, berdenyut menyakitkan seolah mencoba merobek Segel Bintang yang mengurungnya.
"Bocah, jangan buang waktu lagi!" desak Leluhur Darah, suaranya menggema di lautan kesadaran Shen Yuan. "Lentera jiwa Tuan Muda bodoh itu pasti sudah pecah di kediaman utama Keluarga Lin. Saat ini, para ahli Lautan Qi mereka pasti sedang membalikkan seluruh sudut kota untuk mencari auramu. Jika kau tidak segera menembus ranah, kau tidak akan selamat saat mereka menemukanmu!"
"Aku tahu," desis Shen Yuan seraya duduk bersila.
Ia merogoh Kantong Qiankun miliknya dan mengeluarkan kotak giok merah yang ia menangkan di pelelangan. Begitu tutup kotak itu dibuka, hawa panas mutlak langsung meledak ke udara, mengusir udara dingin di dalam gua dalam sekejap. Serpihan salju yang menempel di jubah Shen Yuan langsung menguap menjadi uap air.
Di dalam kotak tersebut, Akar Darah Naga Matahari berumur lima ratus tahun memancarkan cahaya merah keemasan, getahnya yang menyerupai darah cair mendidih pelan.
Tidak ada waktu untuk meramunya menjadi pil pelunak. Shen Yuan meraih akar panas itu dengan tangan kanannya. Meski Tubuh Emas Gelap-nya kebal terhadap api biasa, ia bisa merasakan kulit telapak tangannya melepuh saat bersentuhan dengan energi Yang Mutlak tersebut.
Dengan tekad yang membaja, Shen Yuan melemparkan akar tersebut ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat!
Bummmmm!
Seketika itu juga, Shen Yuan merasa seolah-olah ia baru saja menelan sebongkah lahar dari inti bumi. Hawa panas yang sangat brutal meledak di tenggorokannya, meluncur turun ke dalam Dantian, dan langsung membakar jalur nadinya.
"Aaarrrghhh!"
Shen Yuan memekik tertahan. Otot-ototnya menegang hingga urat-urat nadi di sekujur tubuhnya menonjol berwarna merah menyala. Asap tipis mulai mengepul dari pori-pori kulitnya.
"Giring energi itu ke punggungmu! Arahkan Api Naga itu untuk membakar Kutukan Tulang Layu!" perintah Leluhur Darah.
Menggertakkan giginya hingga nyaris retak, Shen Yuan memutar Sutra Penelan Surga. Nadi Iblis Penelan Surga, yang biasanya menyerap energi dengan rakus, kini bertindak sebagai cambuk untuk mengarahkan gelombang panas mutlak tersebut langsung menuju rajah bintang bersudut enam di punggungnya.
Saat Api Naga Matahari bertabrakan dengan Aura Kematian Tulang Layu yang bersifat Yin Mutlak, pertempuran mematikan kembali terjadi di atas daging Shen Yuan.
Cshhh!
Suara desisan keras bergema di dalam gua. Rajah kutukan di punggung Shen Yuan berkedut liar. Hawa abu-abu kematian mencoba melawan balik hawa panas tersebut, namun akar berumur lima ratus tahun itu terlalu kuat. Perlahan tapi pasti, pinggiran rajah kutukan itu mulai memudar, ditekan mundur hingga menyusut menjadi sebuah titik kecil di tengah punggungnya. Segel dari Jimat Bintang yang sebelumnya meredup kini kembali memancarkan cahaya perak, mengunci titik sisa kutukan itu dengan sempurna.
"Berhasil! Segel itu telah diperkuat oleh unsur Yang Mutlak! Kutukan itu tidak akan mengancam nyawamu selama setidaknya tiga tahun ke depan!" sorak Leluhur Darah.
Namun penderitaan Shen Yuan belum berakhir. Kutukan itu memang tertekan, tetapi sisa energi dari Akar Darah Naga Matahari masih terlalu melimpah. Energi panas itu berbalik arah, menerjang bagai tsunami menuju lautan hawa murni di dalam Dantian-nya.
"Jika aku tidak bisa mengendalikannya... dagingku akan terpanggang dari dalam," batin Shen Yuan.
Matanya yang terpejam menyala kemerahan dari balik kelopak. Ia memaksa Sutra Penelan Surga untuk melakukan Putaran Ganda. Satu pusaran mencoba menjinakkan amukan api, sementara pusaran lain menyedot kekuatan untuk mendobrak dinding Ranah Penempaan Raga Lapisan Ketujuh.
Proses ini memakan waktu sepanjang sisa malam. Di luar gua, badai salju semakin mengganas, namun di dalam gua, bebatuan di sekitar Shen Yuan mulai retak dan meleleh akibat suhu tubuhnya yang tak masuk akal.
Hingga menjelang fajar, saat hawa panas terakhir akhirnya melebur ke dalam darahnya...
Krak!
Sebuah suara retakan bergema dari dalam tubuh Shen Yuan, seperti rantai besi yang akhirnya putus.
Hawa murni yang luar biasa kental meledak keluar dari tubuhnya, menyapu debu dan bebatuan di dalam gua. Pusaran hawa murni di Dantian-nya meluas tiga kali lipat. Tulang-tulangnya yang sebelumnya memancarkan kilau emas gelap kini sepenuhnya terlapisi oleh warna emas yang pekat dan tak tertembus.
Ranah Penempaan Raga Lapisan Kedelapan!
Shen Yuan membuka matanya. Sepasang bola matanya memancarkan kilatan cahaya merah dan emas yang menakutkan, sebelum akhirnya perlahan kembali menjadi hitam pekat. Ia menghembuskan napas panjang, dan udara di depannya seketika mendidih.
"Kekuatan di Lapisan Kedelapan... jika dipadukan dengan Tubuh Emas Gelap ini, bahkan ahli di awal Ranah Pengumpulan Lautan Qi tidak akan bisa membunuhku dengan mudah," Shen Yuan mengepalkan tangannya, merasakan aliran tenaga yang tak terbatas.
Rasa sakit dari kutukan di punggungnya telah lenyap sepenuhnya. Beban berat yang menekan pundaknya selama berhari-hari akhirnya terangkat, memberinya batas waktu tiga tahun untuk mencari kebenaran dan menghapus sisa kutukan itu seutuhnya.
Ia berdiri, meregangkan tubuhnya hingga tulang-tulangnya berbunyi gemeretak nyaring.
Setelah memastikan kondisinya telah berada di puncaknya, Shen Yuan teringat pada barang rampasan terbesarnya semalam. Ia melepaskan Kantong Qiankun milik Lin Chen yang ia ikat di pinggangnya.
"Mari kita lihat seberapa kaya keluarga penguasa Kota Bintang Jatuh ini."
Shen Yuan mengalirkan kesadaran spiritualnya ke dalam Kantong Qiankun tersebut. Ruang di dalam kantong milik Tuan Muda Lin ini jauh lebih luas daripada kantong tingkat rendah miliknya, mencapai lima tombak persegi.
Di salah satu sudut ruang hampa itu, bertumpuk rapi kotak-kotak kayu berisi Batu Roh Tingkat Rendah. Shen Yuan menghitungnya secara kasar; jumlahnya memang mencapai tiga ribu butir! Ini adalah anugerah langit yang luar biasa. Jika ia menyerap semuanya, mencapai Ranah Pembukaan Nadi bukanlah lagi sekadar mimpi.
Namun, bukan tumpukan Batu Roh itu yang menarik perhatian utama Shen Yuan.
Di sudut lain kantong tersebut, tergeletak sebuah kotak perunggu yang dihiasi oleh susunan aksara penyegel. Shen Yuan menarik kotak itu keluar dari kantong. Kotak itu terasa berat, memancarkan aura kuno yang mirip dengan aura Balai Lelang semalam.
Tanpa banyak membuang waktu, Shen Yuan meremas gembok segel itu dengan kekuatan Lapisan Kedelapannya. Traanggg! Gembok itu hancur.
Saat kotak perunggu itu dibuka, Shen Yuan menahan napasnya.
Di dalam kotak tersebut, beralaskan kain sutra merah, terletak selembar perkamen kulit domba yang lapuk dan sobek di bagian ujungnya.
"Ini..." Shen Yuan tertegun. Ia meraih perkamen itu. Aura kebencian dan keakraban darah seketika mengalir ke telapak tangannya.
"Hah! Sungguh lelucon takdir!" Leluhur Darah tertawa terbahak-bahak di dalam pikirannya. "Itu adalah Peta Makam Tuan Tanah Hantu! Bukankah benda ini dibeli oleh Tuan Muda Sekte Pedang Langit seharga sepuluh ribu Batu Roh semalam?"
Pikiran Shen Yuan berputar cepat. "Lin Chen jelas tidak memenangkannya. Jika peta ini ada di tangannya... itu berarti Keluarga Lin telah melakukan penyergapan terhadap rombongan Sekte Pedang Langit setelah pelelangan usai!"
Kubu tiran lokal berani menyergap pewaris sekte raksasa dari alam menengah? Ini adalah tindakan gila yang bisa memusnahkan seluruh kota!
Namun, bagi Shen Yuan, ini adalah anugerah. Keluarga Lin, karena keserakahan mereka, telah mencuri barang yang paling ia inginkan, dan kemudian membawanya sendiri ke hadapannya.
"Peta ini, yang ternoda oleh darah ayahku... akhirnya kembali kepadaku," Shen Yuan membelai permukaan peta itu dengan lembut, niat membunuhnya kembali mendidih.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara desingan aneh dari luar gua.
Wiiiing! Wiiiing!
Sebuah titik cahaya merah pekat melayang di luar gua, melintasi badai salju. Itu bukan bintang, melainkan sebuah Susunan Aksara Pelacak Darah yang dibentuk dari hawa murni!
Cahaya pelacak itu berputar-putar di depan mulut gua, sebelum akhirnya meledak menjadi serbuk merah yang jatuh tepat di pintu masuk persembunyian Shen Yuan.
"Gawat! Itu adalah Ilmu Pelacak Jiwa!" seru Leluhur Darah. "Bangka tua di Keluarga Lin pasti menggunakan darah atau rambut dari mayat anak manja itu untuk melacak jejak pembunuhnya! Keberadaanmu telah diketahui!"
"Biar saja mereka datang," Shen Yuan dengan tenang menyimpan peta kuno itu ke dalam Kantong Qiankun miliknya. Ia menarik tudung jubahnya, menutupi wajahnya, dan berjalan menuju mulut gua.
Di kejauhan, menembus tirai badai salju, ia bisa melihat puluhan siluet melesat ke arah bukit persembunyiannya. Di depan barisan itu, seorang pria paruh baya mengenakan jubah keemasan memancarkan hawa murni dari Ranah Pengumpulan Lautan Qi yang mengamuk bagaikan lautan badai.
"Kepala Keluarga Lin," gumam Shen Yuan, senyum maut terukir di bibirnya. "Karena kau sudah mengantarkan peta ayahku... mari kita lihat apakah lehermu cukup keras untuk menahan Pukulan Lapisan Kedelapanku."
Pagi ini, salju di pinggiran Kota Bintang Jatuh akan diwarnai merah.