Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Sebulan berlalu lebih cepat dari yang Yusallia sadari.
Hari-harinya kembali dipenuhi rutinitas yang padat. Rumah sakit, laporan pasien, diskusi kasus, membaca jurnal, lalu pulang dengan tubuh lelah dan pikiran yang masih belum sepenuhnya berhenti bekerja. Ritme yang dulu terasa biasa, kini justru menjadi tempatnya bersembunyi.
Kesibukan membuatnya tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal lain.
Termasuk malam itu.
Termasuk Rionegro.
Atau setidaknya, itu yang berusaha ia yakini.
Pagi hari di awal minggu terasa seperti biasanya.
Alarm berbunyi pukul enam.
Yusallia terbangun dengan gerakan lambat, menarik selimut sebentar sebelum akhirnya memaksakan diri duduk di tepi tempat tidur. Cahaya matahari pagi masuk melalui celah tirai, memberikan warna hangat pada lantai kamar yang rapi.
Ia menekan pelipisnya pelan.
Sedikit pusing.
Ia tidak terlalu memikirkannya.
Mungkin hanya kurang tidur.
Beberapa hari terakhir memang cukup melelahkan.
Ia berjalan ke kamar mandi, mencuci wajah dengan air dingin, berharap sensasi segar bisa mengusir rasa berat di kepalanya.
Namun entah kenapa, tubuhnya terasa sedikit berbeda pagi itu.
Bukan sakit.
Bukan juga benar-benar tidak enak badan.
Hanya… berbeda.
Ia berdiri di depan cermin beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Memperhatikan wajahnya sendiri.
Tidak ada yang berubah secara jelas.
Namun ia merasa sedikit lebih lelah.
Sedikit lebih sensitif.
Ia menghela napas kecil sebelum akhirnya melanjutkan rutinitas paginya.
Hari di rumah sakit berjalan cukup padat.
Beberapa pasien datang dengan kondisi yang cukup berat, membutuhkan fokus penuh.
Biasanya Yusallia bisa langsung tenggelam dalam pekerjaannya tanpa terlalu memikirkan kondisi dirinya sendiri.
Namun siang itu, untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit mual saat mencium aroma kopi yang biasa ia minum setiap hari.
Ia berhenti sejenak di pantry rumah sakit.
Cangkir kopi di tangannya belum sempat disentuh.
Aroma yang biasanya menenangkan, kini terasa sedikit terlalu kuat.
Ia menaruh cangkir itu kembali di meja.
“Ga jadi minum, dok?” tanya salah satu rekan kerjanya.
“Kayaknya nanti aja,” jawab Yusallia singkat sambil tersenyum kecil.
Ia tidak ingin terlihat aneh.
Ia kembali ke ruang konsultasi.
Namun rasa tidak nyaman itu masih samar terasa.
Tidak terlalu mengganggu.
Namun cukup untuk membuatnya menyadari bahwa tubuhnya mungkin sedang sedikit kelelahan.
Hari itu ia pulang sedikit lebih cepat.
Di mobil, ia memijat tengkuknya pelan.
“Cuma capek,” gumamnya pelan.
Malamnya, ia tidur lebih cepat dari biasanya.
Namun entah kenapa, tidurnya tidak terlalu nyenyak.
Beberapa hari berikutnya, hal-hal kecil mulai terasa berbeda.
Selera makannya berubah sedikit.
Kadang ia merasa lapar lebih cepat.
Kadang justru tidak terlalu ingin makan.
Aroma parfum yang biasanya ia pakai tiba-tiba terasa terlalu tajam.
Ia mengganti parfum itu dengan yang lebih ringan tanpa banyak berpikir.
Ia menganggap semuanya hanya efek kelelahan.
Beban kerja memang cukup banyak akhir-akhir ini.
Ia tidak menghubungkan apa pun dengan hal lain.
Sampai suatu pagi, saat ia sedang bersiap berangkat kerja, ia berhenti sejenak di depan meja kecil di samping tempat tidurnya.
Kalender kecil yang biasa ia gunakan untuk menandai jadwal dan catatan penting terbuka di halaman bulan berjalan.
Matanya tanpa sengaja tertuju pada satu tanggal.
Lalu tanggal berikutnya.
Lalu tanggal setelahnya.
Keningnya sedikit berkerut.
Ia diam beberapa detik.
Lalu mengambil pulpen dari atas meja.
Menghitung pelan.
Sekali lagi.
Dan sekali lagi.
Dadanya terasa sedikit lebih sesak.
Ia mencoba mengingat dengan lebih jelas.
Terakhir kali…
Ia menelan pelan.
Tangannya berhenti di atas kalender.
Seharusnya…
Sudah lewat beberapa hari.
Ia menatap angka-angka kecil di kalender itu cukup lama.
Mungkin hanya telat.
Ia pernah telat beberapa hari sebelumnya.
Karena stres.
Karena kurang tidur.
Karena terlalu sibuk.
Ia menutup kalender itu perlahan.
Mencoba terlihat tidak terlalu memikirkan.
Namun sepanjang perjalanan menuju rumah sakit hari itu, pikirannya tidak benar-benar tenang.
Setiap kali lampu merah menyala, ia tanpa sadar menghitung tanggal lagi di dalam kepalanya.
Berusaha memastikan bahwa ia tidak salah ingat.
Di ruang kerjanya, ia membuka jadwal di ponselnya.
Menggeser layar perlahan.
Mencari catatan kecil yang biasanya ia buat.
Tidak ada.
Ia tidak menemukan apa pun yang bisa memastikan dugaannya salah.
Ia menyandarkan punggungnya di kursi.
Menatap langit-langit ruangan.
Berusaha tetap berpikir rasional.
Sebagai dokter, ia tahu banyak hal yang bisa menyebabkan siklus terlambat.
Stres.
Perubahan pola tidur.
Kelelahan.
Perubahan berat badan.
Semua itu masuk akal.
Sangat masuk akal.
Namun tetap saja, satu kemungkinan lain muncul tanpa diminta.
Dan kemungkinan itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia menutup matanya sejenak.
Mengingat kembali malam itu.
Detail yang selama ini ia dorong menjauh dari pikirannya.
Ia menarik napas pelan.
Tidak.
Mungkin hanya kebetulan.
Ia mencoba fokus pada pekerjaannya hari itu.
Namun pikirannya beberapa kali teralihkan.
Hal kecil yang biasanya tidak mengganggu, kini terasa sedikit lebih sulit diabaikan.
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Setiap jam terasa berjalan lebih lambat.
Setiap jeda memberi ruang bagi pikirannya untuk kembali ke kemungkinan yang sama.
Saat akhirnya ia sampai di rumah sore itu, langkahnya terasa sedikit lebih pelan.
Ia tidak langsung naik ke kamar seperti biasanya.
Ia duduk sebentar di ruang tengah.
Berusaha menenangkan pikirannya.
Namun justru di keheningan itu, pikirannya semakin jelas.
Ia akhirnya berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Pintu tertutup perlahan di belakangnya.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Tangannya terdiam di atas pangkuannya.
Ia menatap lurus ke depan.
Berusaha berpikir objektif.
Sebagai dokter.
Bukan sebagai seseorang yang sedang panik.
Kemungkinan belum tentu berarti kepastian.
Masih terlalu cepat untuk menyimpulkan apa pun.
Namun satu fakta tidak bisa ia abaikan.
Bulan ini…
Ia belum datang bulan.
Ia menunduk pelan.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Perasaan yang sulit dijelaskan perlahan muncul.
Campuran antara cemas.
Takut.
Tidak percaya.
Dan sesuatu yang belum sempat ia beri nama.
Ia menggenggam ujung seprai pelan.
Berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“Mungkin cuma telat,” bisiknya pelan.
Namun untuk pertama kalinya sejak malam itu, kemungkinan bahwa hidupnya mungkin benar-benar akan berubah… terasa semakin nyata.