"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Bima dan Rina
...GAMON...
...Bab 12: Bima dan Rina...
...POV Bima...
---
Dua Bulan Sejak Pertemuan di Mal
Tiga Bulan Bima dan Rina Makin Dekat
Hubungan Bima dan Rina berjalan seperti sungai di musim kemarau—tenang, tapi nggak pernah kering. Nggak ada dramatisir, nggak ada kejar-kejaran. Semua mengalir alami, kayak memang sudah seharusnya begitu.
Rina nggak pernah nanya tentang masa lalu. Nggak pernah nyebut nama Keana. Nggak pernah cemburu atau curiga. Dia cuma... ada. Hadir. Dengan segala kesederhanaan yang justru bikin Bima merasa pulang.
Tapi malam ini, sesuatu berubah.
---
Sabtu Malam – Apartemen Rina
Mereka habis makan malam. Rina masak—lagi. Bima udah hafal, kalau Sabtu malam, Rina selalu masak. Katanya, "Minggu harus istirahat, jadi Sabtu malam harus kenyang."
Sederhana. Tapi hangat.
Selesai makan, mereka pindah ke sofa. Nonton film. Atau setidaknya, TV nyala. Tapi mata Bima nggak bener-bener lihat layar. Pikirannya ke mana-mana.
Rina nyender di pundaknya. Wangi sampo rambutnya samar-samar tercium. Bima hirup pelan. Wangi yang bikin dia tenang.
"Bim."
"Hmm?"
"Lo lagi mikirin apa?"
Bima kaget. "Nggak. Biasa aja."
Rina angkat kepala. Tatap dia. Matanya tajam, tapi lembut.
"Lo tahu, gue bisa baca lo." Dia senyum tipis. "Dari cara lo diem, dari napas lo. Ada yang lo pendam."
Bima diem. Beberapa detik. Lalu dia ngomong.
"Gue... gue nggak tahu harus ngomong apa, Rin."
"Lo nggak usah mikir. Cuma ngomong aja. Gue dengerin."
Bima tarik napas. Dalam.
"Kadang... gue masih inget."
Rina diem. Nggak potong.
"Bukan inget dengan cara pengen balik. Tapi inget sebagai... luka. Yang kadang muncul tanpa diundang."
"Seperti?"
Bima tatap lampu langit-langit.
"Kayak mimpi buruk. Kayak tiba-tiba denger suara dia. Kayak bau sop iga yang tiba-tiba keingat. Hal-hal kecil yang... yang muncul pas gue nggak siap."
Rina meraih tangannya. Genggam erat.
"Itu wajar, Bim."
"Aku tahu. Tapi aku nggak mau lo ngerasa... gue masih di sana."
Rina geleng pelan.
"Gue nggak pernah ngerasa lo masih di sana. Karena lo di sini. Sama gue. Setiap hari." Dia tatap Bima. "Yang gue lihat, lo usaha. Lo berubah. Lo maju. Luka itu cuma bekas. Dan bekas nggak akan pernah hilang. Tapi dia nggak akan nyeret lo balik, selama lo nggak mau."
Bima diem. Matanya mulai basah. Tapi bukan sedih. Haru.
"Lo nggak capek ngehadepin gue yang kayak gini?"
Rina tersenyum. Manis.
"Lo pikir gue sempurna? Lo pikir gue nggak punya luka? Lo pikir gue nggak pernah takut lo balikan sama dia?"
Bima kaget. "Lo takut?"
"Iya." Rina jujur. "Gue takut. Tapi gue lebih takut kalau gue diemin ketakutan itu, lo malah ngerasa sendiri. Jadi gue pilih... nemenin. Biar lo tahu, apa pun yang terjadi, gue di sini."
Bima nggak bisa nahan lagi. Air matanya jatuh.
Rina hapus air mata itu. Lalu peluk dia.
Di pelukan itu, buat pertama kalinya, Bima ngerasa sembuh. Bukan dari luka. Tapi dari rasa sendirian.
---
Minggu Pagi – Apartemen Rina
Bima bangun di sofa. Badan pegel. Selimut jatuh ke lantai.
Dari dapur, suara Rina sibuk. Wangi telur dadar dan nasi goreng.
Bima duduk. Ngusap mata.
Rina keluar dari dapur, bawa dua piring. Senyum.
"Udah bangun? Tidur nyenyak?"
Bima ingat semalem. Mimpi buruk? Nggak ada. Dia tidur kayak bayi.
"Iya. Nyenyak."
"Ini sarapan." Rina taruh piring di meja. "Terakhir kali lo bilang suka nasi goreng gue. Jadi gue bikin lagi."
Bima lihat nasi goreng itu. Sederhana. Telur ceplok mata sapi. Wortel potong kecil-kecil—nggak dibentuk hati. Tapi hangat.
Dia makan. Sendok demi sendok.
Dan di tengah makan itu, dia sadar: Rina nggak pernah berusaha jadi Keana. Dia cuma jadi dirinya sendiri. Dan itu cukup.
---
Siang – Jalan-Jalan
Rina ajak Bima ke taman kota. Bukan tempat romantis. Cuma taman biasa. Banyak anak kecil main, orang jualan balon, pasangan muda duduk di bangku.
Mereka duduk di bangku taman. Es krim di tangan. Rina pilih rasa coklat, Bima pilih vanilla.
"Ini enak banget," kata Rina sambil jilat es krimnya. "Lo cobain deh."
Dia sodorkan es krimnya ke Bima. Bima makan dikit.
"Enak."
"Kan." Rina senyum. "Gue suka es krim. Dari kecil. Kata ibu, kalau gue nangis, dikasih es krim, langsung diem."
Bima ketawa. "Masih?"
"Masih. Cobain deh, nanti kalau lo nangis, gue beliin es krim."
Bima geleng-geleng. Tapi senyumnya nggak ilang.
Di bangku taman itu, di tengah suara anak kecil dan aroma jagung bakar, Bima ngerasa... biasa. Nggak ada tekanan. Nggak ada drama. Hanya dua manusia yang saling menemani.
Dan dia sadar: inilah yang selama ini dia cari. Bukan kemewahan. Bukan "yang lebih". Tapi kesederhanaan yang bikin hati hangat.
---
Sore – Perjalanan Pulang
Mereka naik motor. Rina di belakang, kali ini pegang pinggang Bima. Pelan. Nggak erat. Tapi cukup.
Di lampu merah, Bima berhenti. Di sampingnya, mobil hitam berhenti. Jendela terbuka. Dari dalam, terdengar musik.
Rina tiba-tiba ngomong.
"Bim."
"Hmm?"
"Gue sayang lo."
Bima kaget. Bukan karena kata-katanya. Tapi karena waktunya. Di lampu merah. Di tengah macet. Di samping mobil yang musiknya keras.
Dia nengok ke belakang. Rina tersenyum. Sederhana. Tulus.
"Gue cuma mau lo tahu. Nggak perlu dibales sekarang. Nggak perlu dipikirin. Tapi gue sayang lo."
Lampu hijau. Motor jalan.
Bima diem. Tapi di dalam dadanya, ada yang melompat. Bukan jatuh cinta—itu udah. Tapi mantap. Kayak dia baru yakin: inilah orangnya.
---
Malam – Kost Bima
Bima duduk di meja belajar. Buku catatan lama terbuka. Dia baca ulang halaman-halaman yang dulu dia tulis—saat masih penuh dendam, saat masih pengen buktiin sesuatu ke Keana.
Sekarang, dia buka halaman baru. Nulis:
---
Hari ini Rina bilang "sayang" ke gue.
Di lampu merah. Di tengah macet. Dengan cara yang nggak pernah gue duga.
Gue nggak bales. Tapi di dalam hati, gue teriak: "Gue juga sayang lo."
Mungkin besok gue bilang. Atau lusa. Atau kapan pun waktu yang tepat.
Tapi yang pasti: gue udah nggak takut lagi.
Karena sama Rina, gue belajar satu hal:
Cinta nggak harus kejar-kejaran. Cinta nggak harus bikin deg-degan. Cinta yang paling kuat justru yang bikin kita tenang.
Makasih, Rin. Udah milih gue—di saat gue bahkan nggak yakin sama diri sendiri.
---
Dia tutup buku. Matikan lampu.
Di luar, langit cerah. Bintang keliatan.
Dia tersenyum. Lalu tidur. Nyenyak. Tanpa mimpi buruk.
---
Bersambung ke Bab 13: Keana Nulis Surat
---
...📝 Preview Bab 13:...
Di kost lamanya, Keana duduk sendirian. Ponsel di tangan. Hati perang.
Dia tahu harus move on. Dia tahu harus lepas. Tapi ada satu hal yang belum dia lakuin: mengucapkan semuanya dengan jujur.
Dia ambil kertas. Pena. Dan mulai nulis.
Surat yang mungkin nggak akan pernah dikirim.
Bab 13: Keana Nulis Surat—segera!!!
---