Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Malam di New York selalu terasa terlalu bising bagi seseorang yang jiwanya telah mati empat tahun lalu. Archello Dominic duduk di kursi kebesarannya, namun matanya tidak tertuju pada laporan saham atau grafik pertumbuhan Dominic Group.
Di tangannya, sebuah ponsel lama yang layarnya sudah sedikit retak menyala redup, menampilkan sebuah profil media sosial yang tidak pernah diperbarui sejak kejadian itu.
Nama profil itu sederhana: Lyodra.Taylor
Jari Archello yang gemetar mulai mengusap layar. Di sana, waktu seolah berhenti. Foto pertama yang ia lihat adalah foto mereka saat masih mengenakan seragam SMA.
Lyodra tampak tertawa lebar dengan rambut yang berantakan karena angin, sementara Archello—yang saat itu masih menjadi remaja pemberontak merangkul bahunya dengan ekspresi sok keren di atas motor besar hitamnya.
Ada banyak foto mereka disana.
Dulu, Archello adalah duri dalam daging bagi keluarganya. Sebagai pewaris tunggal, ia diharapkan mengambil jurusan Bisnis atau Hukum.
Namun, karena cintanya pada mesin dan kebebasan, ia memberontak dan memilih Teknik Mesin. Dan Lyodra? Gadis itu adalah penyeimbangnya. Lyodra yang lembut, yang mengambil Fakultas Sastra karena kecintaannya pada puisi dan narasi, selalu menjadi alasan Archello untuk pulang setelah balapan liar atau perselisihan dengan ayahnya.
"Lihat ini, Ello," suara Lyodra seolah terngiang di telinganya saat ia melihat foto mereka di kantin universitas.
"Teknik dan Sastra itu seperti oli dan tinta. Satunya menggerakkan, satunya memberi makna."
Archello memejamkan mata rapat-rapat. Rasa sakit itu datang lagi, lebih tajam dari biasanya. Mereka melewati tahun-tahun universitas bersama.
Semua orang tahu bahwa Archello Dominic hanya tunduk pada satu orang: Lyodra Taylor. Pria dingin yang sekarang dikenal dunia bisnis dulunya adalah pemuda yang rela menunggu berjam-jam di depan gedung Fakultas Sastra hanya untuk membawakan tas Lyodra atau mengajaknya berkeliling kota dengan motornya.
Archello menggeser layar lagi. Tanggal terakhir unggahan itu adalah hari yang sama dengan kecelakaan maut tersebut. Ia tidak pernah tahu bahwa pada hari itu, Lyodra sedang membawa sebuah rahasia besar yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
Empat tahun lalu, di sore yang mendung, Lyodra keluar dari klinik dengan tangan gemetar memegang sebuah amplop. Di dalamnya terdapat hasil tes laboratorium yang menyatakan ia positif hamil delapan minggu. Ada rasa takut, namun kebahagiaan jauh lebih mendominasi. Ia ingin memberikan kejutan itu di apartemen Archello. Ia ingin memberi tahu Archello bahwa pemberontakan mereka akan membuahkan sebuah kehidupan baru—seorang anggota keluarga kecil yang akan mereka bangun sendiri, jauh dari tekanan keluarga Dominic yang kolot.
Namun, ia tidak pernah sampai ke apartemen itu.
Saat Lyodra mengemudi dengan hati yang berbunga-bunga, truk yang telah disabotase oleh orang suruhan kakek Oliver menghantam sisi pengemudi dengan kekuatan penuh. Mobil Lyodra terguling berkali-kali sebelum akhirnya terbakar.
Saat keluarga Taylor tiba di rumah sakit—setelah diberitahu oleh pihak medis, dokter memberikan kabar yang menghancurkan jiwa mereka. "Terjadi pendarahan hebat di area perut. Kami mohon maaf... janinnya tidak bisa diselamatkan."
Kematian calon cucu mereka, ditambah dengan kondisi Lyodra yang kritis, membuat kemarahan Ayah Lyodra memuncak. Mereka menganggap keluarga Dominic adalah iblis yang ingin melenyapkan Lyodra beserta keturunannya agar Archello bisa dinikahkan dengan orang lain.
Itulah alasan mengapa keluarga Taylor memalsukan kematian Lyodra. Mereka tidak ingin keluarga Dominic menyentuh Lyodra lagi, bahkan seujung kuku pun. Mereka membiarkan Archello percaya bahwa wanita yang paling dicintainya telah tewas bersama bayi yang bahkan tidak pernah ia ketahui keberadaannya.
.
.
"Kau seharusnya ada di sini, Ly," bisik Archello pada layar ponselnya yang dingin.
Setiap kali ia melihat foto-foto di universitas—saat mereka belajar bersama di perpustakaan atau saat ia memperbaiki motor sementara Lyodra membacakan novel untuknya—Archello merasa jiwanya ditarik paksa ke masa lalu. Kepergian Lyodra membuatnya benar-benar down.
Selama setahun penuh setelah kejadian itu, Archello tidak menyentuh bisnis. Ia menjadi bayang-bayang dari dirinya sendiri, mengurung diri di apartemen yang masih menyisakan aroma parfum Lyodra.
Ibunya, Beatrice, melihat putranya perlahan-lahan menghancurkan diri sendiri. Itulah sebabnya Beatrice menggunakan air mata dan permohonan agar Archello kembali bangkit, meski itu artinya harus memaksa Archello masuk ke dalam lingkaran perjodohan.
Archello akhirnya setuju, bukan karena ia mencintai Oliver Bernardo, tapi karena ia merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi. Ia membiarkan dirinya menjadi robot bisnis, menjalankan perintah ibunya hanya agar Beatrice berhenti menangis.
Ia tidak tahu bahwa Oliver, gadis yang kini menjadi tunangannya, adalah cucu dari pria yang menyebabkan Lyodra kehilangan bayinya dan hampir kehilangan nyawanya. Archello hidup dalam ironi yang paling kejam: ia bersiap menikahi keturunan dari pembunuh impiannya.
****
Di tempat tidur rumah sakitnya di Chicago, Lyodra terbangun dengan keringat dingin. Ia baru saja bermimpi tentang deru mesin motor yang sangat keras dan tawa seorang pria yang wajahnya tertutup kabut.
"Ello..."
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Lyodra terdiam, menyentuh bibirnya sendiri. Siapa itu Ello? Kenapa nama itu terasa begitu akrab namun menyakitkan? Ia merasakan perutnya mendadak perih, sebuah sensasi kehilangan yang mendalam yang tidak bisa ia jelaskan.
"Ada apa, Lyodra?" Evangeline masuk dengan wajah cemas, membawa nampan berisi makanan.
"Kak... siapa Ello?" tanya Lyodra dengan mata berkaca-kaca.
Evangeline mematung di ambang pintu. Nampan di tangannya sedikit bergetar. Ia segera memasang wajah tenang, meski jantungnya berdegup kencang. "Mungkin itu hanya potongan dari buku yang kau baca dulu, sayang. Kau kan kuliah di Sastra, banyak nama karakter yang kau sukai."
Lyodra menunduk, tidak percaya begitu saja. Ia merasa nama itu bukan dari buku. Nama itu berasal dari hatinya yang kini terasa bolong. Di luar jendela, salju Chicago mulai turun, menutupi jejak-jejak masa lalu yang berusaha disembunyikan oleh semua orang.
Kemalangan Lyodra bukan hanya amnesianya, tapi rasa duka yang tertinggal di tubuhnya tanpa ia tahu apa yang sedang ia tangisi.
Dan di New York, Archello menutup ponsel lamanya, bersiap untuk makan malam formal bersama keluarga Bernardo, tidak menyadari bahwa wanita yang ia tangisi setiap malam baru saja menyebut namanya di kota yang jauh.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰