Di Benua Mendalam, seni bela diri telah mencapai puncak kejayaannya. Xiao Xuan, leluhur tua Keluarga Xiao, memiliki sebuah cheat yang mampu mereplikasi segala sesuatu tanpa batas. Dengan kekuatan ini, dia memimpin keluarganya mendominasi seluruh langit berbintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wusan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
klan xiao terkenal
Langit Wilayah Dong Hai perlahan kembali cerah setelah telapak tangan mengerikan itu menghilang. Namun guncangan yang ditinggalkannya tak kunjung reda. Sejauh mata memandang, para kultivator dari berbagai tingkatan masih terdiam, tubuh mereka gemetar menyaksikan bekas kehancuran yang terpampang nyata. Tanah terbelah membentuk jurang raksasa sepanjang miliaran mil, awan-awan yang tadinya menggumpal gelap kini tercerai-berai seolah takut untuk mendekat. Dan di tengah semua itu, sepuluh Kaisar yang beberapa saat lalu masih berdiri gagah dengan aura menguasai langit, kini tergeletak berlumuran darah, nafas mereka tersengal-sengal bagai ikan kehabisan air.
Seorang kultivator tua dari sekte kecil di pinggiran Wilayah Dong Hai menarik napas panjang, tangannya yang memegang tongkat bambu bergetar hebat. Sepanjang hidupnya—lebih dari tiga ribu tahun ia mengembara di Benua Timur—baru kali ini ia menyaksikan kekuatan yang begitu mengerikan. "Satu serangan," gumamnya lirih, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Satu serangan menghancurkan sepuluh Kaisar sekaligus. Padahal aku sudah melihat banyak pertempuran Kaisar, sudah melihat gunung diratakan dan lautan menguap... tapi ini... ini seperti dewa yang menampar semut."
Di sampingnya, seorang saudagar kultivator muda yang sedang mengatur rombongan dagangnya hanya bisa mengangguk kaku. Wajahnya masih pucat pasi, keringat dingin membasahi jubahnya meski suhu di sekitarnya normal. "Klan apa itu, Guru? Klan Xiao? Aku belum pernah mendengar nama itu seumur hidupku. Di antara sekian banyak kekuatan kelas satu yang aku tahu—Istana Naga Azure, Sekte Pedang Surgawi, Paviliun Tianji—tak pernah ada nama Klan Xiao. Dari mana mereka tiba-tiba muncul?"
Guru tua itu menggeleng pelan, matanya menyipit ke arah langit timur di mana sosok hitam abu-abu itu menghilang. "Aku juga tidak tahu, Nak. Tapi satu hal yang pasti... mereka bukan klan biasa. Bukan juga kekuatan kelas satu biasa. Kau lihat sendiri, sepuluh Kaisar dari berbagai kekuatan—mereka bukan kultivator jalanan, mereka adalah pilar dari kekuatan kelas satu yang namanya sudah dikenal di seluruh benua. Dan mereka semua kalah dalam satu serangan. Satu! Bahkan Permaisuri Yun Ling dari Aula Yuan Hua, Kaisar Kesengsaraan ke-7 yang namanya sudah mengguncang benua selama jutaan tahun, dibuat berlutut tanpa bisa melawan."
Seorang wanita paruh baya yang berdiri tak jauh dari mereka ikut menyela, suaranya masih terdengar bergetar meski berusaha tenang. "Aku mendengar dari tetua sekteku bahwa Kaisar yang muncul tadi mengaku dari Klan Xiao. Dan dia bilang... dia bilang perjanjian tiga tahun yang dihancurkan Permaisuri Yun Ling adalah perjanjian Putra Mandat Surgawi mereka. Putra Mandat Surgawi! Istilah itu hanya digunakan oleh kekuatan yang memiliki sistem keberuntungan klan. Kalian tahu apa artinya itu? Hanya kekuatan kelas satu papan atas yang bisa memiliki sistem seperti itu! Di seluruh Benua , mungkin hanya tiga atau 10 kekuatan yang mampu melakukannya. Dan Aula Yuan Hua adalah salah satunya."
"Berarti Klan Xiao ini setara dengan Aula Yuan Hua?" saudagar muda itu bertanya dengan nada tak percaya.
Wanita itu menghela napas. "Bukan hanya setara. Lihat saja tadi. Permaisuri Yun Ling—utusan resmi Aula Yuan Hua—dibuat berlutut di hadapan publik. Dan Aula Yuan Hua tidak langsung mengirim bala bantuan. Mereka diam. Itu berarti mereka sendiri tidak yakin bisa menang melawan klan ini."
——
Berita tentang pertempuran di Wilayah Dong Hai menyebar dengan kecepatan yang bahkan melampaui teknik teleportasi tercepat. Dalam hitungan jam, setiap kota, setiap sekte, setiap persimpangan jalan di Benua Timur dipenuhi dengan perbincangan tentang Klan Xiao. Di kedai-kedai kultivator, para pedagang berita menjual informasi dengan harga berlipat. Di menara-menara informasi kekuatan besar, para tetua mengerahkan seluruh jaringan mereka untuk mencari jejak klan misterius itu.
Di sebuah kota perdagangan besar di Wilayah Liang, seorang pemilik kedai bernama Lao Chen sedang melayani pelanggannya yang membludak. Biasanya di jam segini kedainya hanya diisi beberapa kultivator kelas menengah yang senggang. Kini, kursi-kursi penuh sesak, bahkan ada yang berdiri di dekat pintu sambil memegang gelas anggur dingin.
"Klan Xiao? Aku dengar mereka berasal dari Prefektur Li. Tapi ketika aku kirim orang ke sana, katanya Klan Xiao sudah pindah sejak setahun lalu. Tak ada yang tahu ke mana," ujar seorang kultivator berjubah biru, suaranya sedikit serak karena terlalu banyak bicara.
"Prefektur Li? Wilayah terpencil itu?" seorang lainnya menyela, matanya membelalak. "Klan macam apa yang tinggal di wilayah terpencil tapi punya Kaisar sekuat itu? Apa mereka sengaja bersembunyi?"
"Atau mungkin mereka memang klan kuno yang memilih mengasingkan diri," kata seorang tua berjubah abu-abu yang duduk di pojok. Selama ini ia hanya diam mendengarkan, tapi kini matanya berkilat penuh arti. "Kalian tahu, ada banyak legenda tentang klan-klan dari era kuno yang menghilang ke dalam dimensi tersembunyi. Mereka memilih menjauh dari hiruk-pikuk benua untuk berkultivasi dalam damai. Tapi ketika keturunan mereka terhina, mereka akan muncul. Dan kemunculan mereka selalu... mengguncang langit dan bumi."
"Jadi kau bilang Klan Xiao ini klan kuno yang bersembunyi?"
"Aku tidak bilang pasti. Tapi kau lihat sendiri tadi. Telapak tangan itu tidak mengandung dao sama sekali. Kekuatan yang tidak terikat oleh hukum alam semesta. Apakah kalian tahu apa artinya itu? Itu berarti kekuatan mereka berasal dari sumber yang lebih tua dari dao surgawi yang kita kenal. Dan hanya entitas dari era yang sangat jauh memiliki kekuatan seperti itu."
Kedai itu mendadak hening. Bahkan suara gelas yang digerakkan pun terasa terlalu keras.
——
Sementara itu, di markas besar Paviliun Tianji, kekacauan yang terjadi tak kalah dahsyat. Formasi informasi terbesar yang mereka miliki berputar tanpa henti, mencoba menarik setiap jejak yang tersisa dari pertempuran di Dong Hai. Tetua Agung Paviliun, seorang pria yang telah menjabat selama delapan puluh ribu tahun, duduk di tengah ruangan dengan mata tertutup rapat. Di sekelilingnya, puluhan tetua junior mengolah data yang masuk.
"Tidak ada," lapor seorang tetua, suaranya terdengar frustasi. "Tidak ada catatan tentang Klan Xiao dalam database kita. Mereka seperti muncul begitu saja. Jejak paling awal adalah catatan tentang sebuah klan kecil di Kota Cangnan dengan nama yang sama. Tapi setahun lalu, mereka menghilang. Dan setelah itu... tidak ada lagi informasi. Tidak ada transaksi sumber daya, tidak ada pergerakan pasukan, tidak ada interaksi dengan kekuatan lain. Mereka benar-benar lenyap dari peta."
Tetua Agung membuka matanya perlahan. "Klan yang bisa menyembunyikan jejak dari Paviliun Tianji selama setahun penuh... itu bukan hal yang bisa dilakukan oleh kekuatan biasa. Siapapun mereka, sistem informasi mereka jelas lebih unggul dari kita."
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Tetua Agung?"
Tetua Agung itu tersenyum tipis, tapi matanya tetap tajam. "Kita tidak bisa menemukan mereka. Maka kita buat mereka menemukan kita. Sebarkan informasi bahwa Paviliun Tianji ingin menjalin hubungan baik dengan Klan Xiao. Tawarkan akses ke database kita. Tidak ada klan yang akan menolak informasi. Mereka akan menghubungi kita. Cepat atau lambat."