NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Sistem / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Fantasi / Harem
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.

Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.

Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.

Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat darurat dan Penyatuan Yin–Yang

Langit sore di atas Kota Wu Agung masih menyisakan jejak-jejak tekanan faksi besar wilayah dalam. Meskipun kapal perang raksasa milik Kekaisaran Fajar Suci telah bergeser jauh ke arah pegunungan perbatasan selatan, teror psikologis yang ditinggalkannya masih menggantung pekat di udara. Bagi jutaan rakyat dan prajurit di kota itu, melihat sebuah armada terapung yang memancarkan aura ratusan kultivator Ranah Kuno adalah pengalaman yang nyaris mencabut jiwa mereka. Di mata fana mereka, itu bukanlah kapal, melainkan kereta jagal yang baru saja mampir.

Wu Xuan mendarat dengan keanggunan absolut di alun-alun utama Istana Wu Agung. Zirah emasnya memudar menjadi partikel cahaya, kembali menampakkan jubah sutra hitamnya yang elegan.

Begitu ujung sepatu botnya menyentuh lantai giok, sekelompok tokoh paling penting di Wilayah Selatan segera menghambur menyambutnya. Di barisan terdepan, Tetua Agung Bagian Sumber Daya dan Logistik, Qin Han—ayah mertuanya—berdiri dengan wajah tegang namun penuh hormat. Di sampingnya, Nyonya Utama Qin Wuyan menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca penuh kelegaan, sementara sedikit di belakang mereka, Yan Melin menundukkan kepala, meremas ujung gaunnya dengan jari-jari yang masih bergetar.

"Menyambut kepulangan Yang Mulia Archduke!" seru Qin Han dan puluhan tetua lainnya, serentak menundukkan punggung mereka.

Wu Xuan tidak membalas sapaan itu dengan senyuman hangat. Wajahnya keras, memancarkan wibawa seorang tiran yang sedang memegang kendali atas situasi krisis.

Di dalam kepalanya, jiwa pemuda Bumi itu justru terkekeh geli. 'Lihatlah wajah-wajah pucat ini. Mereka terlihat seperti sekumpulan karyawan magang yang baru saja melihat auditor pajak negara masuk ke kantor mereka. Paranoia memang senjata massal yang paling murah.'

"Simpan napas kalian untuk nanti," titah Wu Xuan dingin, memotong semua basa-basi. Suaranya bergema menembus alun-alun, memastikan setiap telinga mendengarnya. "Perintahkan seluruh Dewan Tetua, Tetua Agung, Dewan Penegak Hukum, Jenderal Agung Militer, dan seluruh perwakilan bangsawan yang ada di ibukota wilayah ini. Kumpulkan mereka di Aula Singgasana sekarang juga. Rapat Darurat."

Tanpa menunggu jawaban, Wu Xuan menyapu jubahnya dan melangkah maju membelah kerumunan. Auranya yang luar biasa menekan membuat lautan manusia itu secara otomatis terbelah memberi jalan.

Hanya butuh waktu kurang dari seperempat jam bagi mesin birokrasi Keluarga Wu untuk bergerak.

Aula Singgasana yang megah, tempat di mana puluhan kepala pengkhianat menggelinding beberapa hari yang lalu, kini dipenuhi kembali oleh ratusan orang berpengaruh Wilayah Selatan. Namun kali ini, tidak ada bau darah segar, melainkan bau keringat dingin dari ketakutan yang tak terlihat. Kehadiran faksi asing yang begitu mengerikan telah memicu paranoia kolektif.

Wu Xuan duduk di atas singgasananya, bersandar dengan satu tangan menopang dagu. Matanya yang berwarna emas kristal menyapu seluruh ruangan yang sunyi senyap. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras. Qin Wuyan duduk di kursi Permaisurinya dengan anggun, sementara Yan Melin duduk di kursi Selir dengan postur anggun.

"Aku tidak akan membuang waktuku untuk menceramahi kalian," Wu Xuan memecah keheningan dengan nada datar. "Kalian semua memiliki mata. Kalian melihat kapal raksasa itu menutupi matahari kita. Sekarang, aku memberikan kalian izin. Bertanyalah, sebelum ketakutan kalian sendiri yang membunuh kewarasan kalian."

Jenderal Agung Wu Zuan, komandan militer bermata satu yang paling loyal, melangkah maju dan berlutut dengan satu kaki. Zirahnya berdentang pelan. Dia langsung kembali dari perbatasan setelah mendengar laporan dari para tetua agung tentang kapal kekaisaran Fajar Suci.

"Yang Mulia Archduke," ucap Wu Zuan dengan suara berat. "Pasukan patroli kita di perbatasan melaporkan bahwa Kekaisaran Fajar Suci telah mendirikan perkemahan di pegunungan perbatasan kita. Energi yang mereka pancarkan... sangat tidak masuk akal. Apakah... apakah Wilayah Selatan akan segera menghadapi perang pemusnahan?"

Pertanyaan Wu Zuan menyuarakan teror di benak semua orang. Ratusan pasang mata menatap Wu Xuan dengan penuh harap, menanti titah dewa mereka.

Wu Xuan tersenyum. Bukan senyum tiran yang mematikan, melainkan sebuah lengkungan bibir yang sangat pragmatis, senyum seorang negosiator ulung yang baru saja menjual rumah tetangganya dengan harga tinggi.

"Tenangkan pedang kalian, Jenderal Zuan. Kita tidak sedang berperang," jawab Wu Xuan, suaranya tenang, perlahan mengurai ketegangan di ruangan itu. "Mereka adalah armada dari Kekaisaran Fajar Suci, sebuah faksi ortodoks dari lapisan dalam benua. Dan saat ini, kita berada dalam hubungan diplomasi yang sangat... menguntungkan."

Terdengar helaan napas lega yang panjang dari ratusan orang di aula tersebut.

Namun, sebelum mereka bisa bersantai, Wu Xuan menegakkan punggungnya. Mata emasnya menyipit tajam, memancarkan peringatan mematikan.

"Tetapi dengarkan aku baik-baik," gema suara Wu Xuan kembali memberat, menekan jiwa setiap orang di sana. "Meskipun kita berdiplomasi, kekuatan Keluarga Wu saat ini, kekuatan Wilayah Selatan ini, belum cukup untuk bisa menyinggung faksi selevel mereka. Di atas kapal itu, terdapat seratus prajurit yang kultivasinya setara dengan seorang Duke kekaisaran. Dan pemimpin mereka adalah eksistensi yang bisa menghancurkan kota ini hanya dengan satu kedipan mata."

Wu Xuan menunjuk ke arah barisan bangsawan dan tetua. "Mulai detik ini, aku menetapkan pantangan mutlak. Tidak ada satu pun prajurit, bangsawan, atau rakyat sipil dari wilayah kita yang boleh memprovokasi, mengganggu, atau bahkan mendekati area perkemahan mereka di pegunungan selatan. Jika ada anak muda arogan dari klan kalian yang berani menyinggung ksatria Fajar Suci karena gengsi bodoh..."

Wu Xuan memberikan jeda dramatis, membiarkan aura Primordial Suci tahap menengahnya memenuhi ruangan.

"...maka aku sendiri yang akan mencabut jantung anak itu, lalu memenggal sembilan generasi keluarganya sebelum Fajar Suci sempat menuntut ganti rugi. Karena aku dan tetua agung mereka sudah melakukan kontrak dao, yang mustahil aku langgar sebelum batas yang ditentukan, Apakah aku cukup jelas?!."

"KAMI MENGERTI, YANG MULIA!" teriak ratusan orang di aula itu serempak, menjatuhkan diri berlutut dengan dahi menempel ke lantai.

Batin pemuda Bumi di dalam tubuh Wu Xuan mengangguk puas. 'Gengsi fana tidak akan menghidupkan mayat. Melawan faksi raksasa saat fondasimu masih keropos adalah tindakan protagonis bodoh yang selalu mengandalkan keberuntungan. Aku adalah seorang penguasa; aku memikirkan kelangsungan hidup rakyat dan asetku, bukan harga diri kosong.'

Wu Xuan kemudian mengalihkan pandangannya pada Qin Han. "Tetua Agung Qin Han. Mereka membayar biaya sewa lahan sepuluh ribu batu spiritual kelas atas setiap harinya. Kirimkan bendahara untuk memungutnya dengan sopan setiap fajar. Gunakan dana itu untuk mempercepat pembangunan fasilitas kota kita."

Mata Qin Han membelalak tak percaya. Sepuluh ribu batu spiritual kelas atas per hari?! Archduke tidak hanya menghindari perang, ia bahkan menyewakan lahan kepada monster-monster itu?!

"L-Luar biasa... Sesuai perintah Anda, Archduke! Hamba akan memastikannya mengalir ke kas wilayah tanpa hambatan!" jawab Qin Han dengan nada suara yang bergetar karena kegirangan seorang menteri keuangan.

"Bagus," puji Wu Xuan dengan nada datar. "Tapi tahan dulu kegembiraanmu, Tetua Qin. Karena aku belum selesai memberikanmu pekerjaan."

Wu Xuan menyandarkan punggungnya kembali, menatap para elit di bawahnya dengan pandangan seorang penakluk yang baru saja pulang membawa kepala raja musuh.

"Masalah di Wilayah Utara telah sepenuhnya kuselesaikan," deklarasi Wu Xuan dengan tenang, membuang bom kedua di tengah rapat tersebut. "Jalur perdagangan dari Utara ke Selatan kini terbuka lebar untuk kita tanpa ada pajak perbatasan atau gangguan militer dari faksi Duke Bei Han."

Keheningan yang luar biasa kembali melanda aula. Wilayah Utara? Wilayah paling agresif yang dipimpin oleh Duke Bei Han yang buas itu? Bagaimana bisa Archduke menyelesaikannya hanya dalam beberapa hari perjalanan?!

"Dan yang lebih penting..." senyum Wu Xuan melebar, memancarkan arogansi absolut. "Aku telah menaklukkan Tambang Kristal Merah di perbatasan empat wilayah. Tambang itu kini berada di bawah kendali mutlak Keluarga Wu."

Mendengar nama 'Tambang Kristal Merah', Qin Han dan beberapa tetua sepuh nyaris tersedak ludah mereka sendiri. Beberapa jenderal veteran bahkan membelalakkan mata hingga bola mata mereka nyaris melompat keluar.

"T-Tambang Kristal Merah?!" seru Qin Han tak percaya, benar-benar kehilangan ketenangannya. "Tetapi Yang Mulia... tempat itu adalah zona mati! Menurut mata mata kekaisaran terdahulu, tambang itu dijaga oleh monster tahap primordial suci!"

"Monster-monster purba itu sudah kuajari sopan santun," jawab Wu Xuan ringan, mengingat dua naga darah yang kini dengan patuh tertidur di dalam Inner World perutnya. "Mereka tidak akan mengganggu lagi."

Wu Xuan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Qin Han dengan tajam. "Dengarkan perintahku, Tetua Qin. Siapkan sepuluh ribu penambang dari keluarga bawahan kita. Kirim mereka ke Tambang Kristal Merah besok pagi. Ekstraksi seluruh kristal kelas menengah dan atas secepat mungkin."

"Selain itu," lanjut Wu Xuan, jari telunjuknya mengetuk sandaran singgasana, "kirimkan juga beberapa pengawas tingkat tinggi dari dewan tetua, minimal mereka yang berada di Ranah Roh. Dua monster utama di inti tambang sudah kuurus, tapi aku ingin para pengawas itu memimpin ekspedisi untuk menjelajahi sub-gua yang lebih kecil di sekitar dasar tambang. Tempat itu belum pernah disentuh manusia selama ribuan tahun. Kemungkinan besar masih ada harta karun purba, peninggalan formasi, atau akar kristal murni yang bersembunyi di dalam celah-celahnya. Dan yang lebih utama adalah utamakan nyawa kalian saat melakukan ekspedisi."

Mendengar perintah itu, seluruh tubuh Qin Han gemetar karena euforia.

"Tambang Kristal Merah darah... itu adalah tambang esensi Yang paling murni di seluruh kekaisaran! Kekayaan dan sumber daya kita akan meledak puluhan kali lipat!" seru Qin Han sambil bersujud dalam-dalam. "Hamba akan segera membentuk tim ekspedisi elit dan memobilisasi para penambang! Sesuai perintah, Yang Mulia Archduke!"

Di atas singgasana, batin Wu Xuan tertawa puas. 'Menguasai tambang absolut, membuka rute dagang, dan memeras biaya sewa harian dari faksi raksasa... ah, jiwa kapitalisku benar-benar menangis bahagia. Jika ini di Bumi, aku pasti sudah masuk sampul majalah Forbes sebagai CEO of the Year. Penaklukan bukan hanya tentang membunuh, tapi tentang memastikan kau menjadi pihak yang paling kaya sebelum darah keluar.'

"Rapat selesai. Bubar, dan kembalilah bekerja," titah Wu Xuan sambil mengibaskan tangannya, mengakhiri pertemuan darurat yang luar biasa efisien tersebut.

Ratusan elit itu mundur dengan tertib, membawa serta rasa aman yang baru, kepatuhan yang semakin absolut, dan semangat membara untuk mengeksploitasi kekayaan baru Wilayah Selatan.

Kini, aula itu perlahan kosong. Wu Xuan berdiri dari takhtanya. Ia menoleh ke arah Qin Wuyan, yang menatapnya dengan pandangan memuja yang luar biasa manis.

Wu Xuan mengulurkan tangannya. "Ikut aku, Istriku. Ada yang harus kita lakukan."

Wajah Qin Wuyan merona merah sempurna. Ia meletakkan tangan kecilnya yang lembut ke atas telapak tangan suaminya. Wu Xuan menggenggamnya erat, lalu menuntun Nyonya Utamanya itu meninggalkan Aula Singgasana, berjalan menyusuri koridor-koridor marmer menuju paviliun kultivasi rahasia milik mereka.

Saat sepasang suami istri itu menghilang dari pandangan, Yan Melin yang masih duduk di kursi Selirnya hanya bisa menatap punggung mereka dengan gigi terkatup rapat. Rasa iri dan kesepian meremas jantungnya, tetapi ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk memberontak. Ia hanyalah burung dalam sangkar emas, menunggu kapan suaminya akan kembali memperhatikannya.

Di dalam kamar kultivasi utama yang terletak di pusat energi Istana Wu Agung.

Ruangan itu sangat luas, diterangi oleh pendaran lembut dari mutiara-mutiara malam yang tertanam di langit-langit, menyerupai taburan bintang. Asap dupa spiritual beraroma cendana mengalir tipis, menenangkan jiwa dan memperlancar aliran meridian. Di tengah ruangan, sebuah ranjang awan lembut yang dilapisi sutra merah terbaik telah disiapkan.

Begitu pintu giok tertutup rapat dan formasi penyegel suara aktif, Wu Xuan menarik pinggang Qin Wuyan, merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.

"Ah...Suamiku..." cicit Qin Wuyan, menyembunyikan wajahnya yang merona merah di dada bidang Wu Xuan. Tangannya dengan canggung meremas ujung jubah hitam pria itu. "Kau baru saja kembali dari wilayah Utara, dan langsung membawaku kemari... apa kau tidak lelah?"

Wu Xuan terkekeh pelan. Ia mengangkat dagu Qin Wuyan dengan telunjuknya, menatap lurus ke dalam mata bening gadis yang sejatinya ditakdirkan menjadi Villainess jalur iblis dalam novel aslinya.

Di dalam plot asli, Qin Wuyan yang polos ini menjadi gila, beralih ke jalur iblis, dan membantai setengah kota, karena keluarganya di eksekusi oleh kelompok faksi pangeran mahkota dan keluarga wu. Namun kini, di bawah perlindungan dari Wu Xuan yang baru, gadis ini tidak pernah merasakan dinginnya pembantaian. Ia disirami oleh kehangatan dan kekuasaan, mengubah takdir iblisnya menjadi seekor teratai putih yang luar biasa penyayang dan lembut.

Tindakan dari sang tiran telah merusak plot aslinya dengan cara yang paling manis.

"Melihat wajahmu yang merindukanku sudah cukup untuk memulihkan seratus tahun tenagaku, Wuyan," bisik Wu Xuan, sebuah rayuan klise namun diucapkan dengan resonansi karisma yang membuat kaki Qin Wuyan melemas.

Wu Xuan tidak hanya bermain kata. Ia membalikkan telapak tangannya yang bebas. Sebuah kristal seukuran kepalan tangan, memancarkan cahaya merah pekat dan energi purba yang meledak-ledak, bermanifestasi di tangannya.

Itu adalah salah satu dari Core Darah monster Ranah Kuno tahap akhir yang ia ambil dari Tambang Kristal Merah.

Merasakan energi brutal dari Core itu, Qin Wuyan terkesiap dan mundur selangkah. "Suamiku, energi di dalam batu itu sangat liar... rasanya seperti ingin merobek jiwaku hanya dengan melihatnya."

"Tentu saja," Wu Xuan tersenyum. "Ini adalah inti dari monster purba. Jika kau menyerapnya secara langsung dengan batas kultivasimu saat ini, kau akan meledak menjadi kabut darah. Itulah sebabnya..."

Wu Xuan melangkah maju, melepaskan ikatan jubah hitamnya sendiri yang jatuh ke lantai, memperlihatkan tubuh atletisnya yang dipahat sempurna oleh energi kosmik. Ia kemudian meraih pita gaun Qin Wuyan, menariknya dengan lembut namun penuh dominasi.

"...itulah sebabnya, malam ini kita akan menggunakan metode penyatuan Yin dan Yang. Aku akan menjadi penyaring (filter) untuk energi brutal ini, dan kau hanya perlu menerima esensi murninya dari dalam diriku," bisik Wu Xuan, mengecup leher jenjang istrinya.

Pemahaman Wu Xuan tentang teknik kultivasi ganda sangatlah dalam, didukung oleh Akar Spiritual Samudra Terdalam miliknya yang mampu menyelaraskan ritme cairan tubuh dengan sempurna.

Malam itu, kamar kultivasi tersebut menjadi saksi perpaduan antara gairah yang membara dan kultivasi tingkat tinggi. Di atas ranjang awan, Core Darah Kuno itu melayang di udara, memancarkan benang-benang energi merah yang ditarik secara perlahan ke dalam tubuh Wu Xuan.

Setiap kali Wu Xuan dan Qin Wuyan menyatu, energi purba yang mematikan itu disaring oleh tata surya mikro di dalam dantian Wu Xuan. Ia membuang ampas racunnya, lalu mengalirkan esensi Yang (panas) yang paling murni dan lembut langsung ke dalam meridian Yin milik Qin Wuyan melalui penyatuan fisik mereka.

Erangan nikmat dan desahan peluh berpadu dengan dengungan energi spiritual. Sesi kultivasi ganda ini bukan sekadar pemenuhan nafsu, melainkan sebuah ritual transfer energi yang dirancang secara matematis oleh otak cerdas sang Tiran.

'Ini adalah win-win solution yang sempurna,' monolog Wu Xuan di tengah gairah yang menguasai pikirannya. 'Jika aku menyerap Core ini sendirian, sebagian besar energinya akan terbuang karena tubuhku sudah terlalu dekat dengan batas kemacetan (bottleneck). Tapi dengan menggunakan Wuyan sebagai bejana Yin, aku bisa memaksakan sirkulasi energi berputar ribuan kali tanpa terlalu banyak membuang energi. Ditambah lagi... jujur saja, ini adalah metode naik level paling menyenangkan yang pernah diciptakan di alam semesta manapun.'

Jam demi jam berlalu. Puncak demi puncak kenikmatan dilewati bersamaan dengan hancurnya batas-batas kultivasi.

Ketika cahaya pagi mulai mengintip dari celah ventilasi atap kamar, Core Darah di udara akhirnya hancur menjadi debu putih, energinya telah habis terserap tanpa sisa.

Di atas ranjang yang berantakan, Qin Wuyan berbaring di pelukan suaminya. Tubuh telanjangnya yang seputih pualam kini memancarkan cahaya spiritual yang sangat terang. Ia bernapas dengan pelan dan teratur.

Keajaiban telah terjadi.

Tanpa perlu menghadapi awan kesengsaraan (Tribulation Clouds) atau risiko penyimpangan Qi yang mematikan, kultivasi Qin Wuyan secara mulus menerobos batas jiwa. Ia tidak lagi berada di alam dasar; ia telah menginjakkan kaki di Ranah Roh tahap awal! Sebuah pencapaian jenius yang dipaksakan oleh metode kultivasi ganda paling elit yang hanya bisa diberikan oleh seorang Primordial Suci.

Namun, kelelahan fisik dari proses ganda yang intens dan asimilasi energi membuat Qin Wuyan benar-benar kehabisan tenaga. Ia tertidur lelap dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan, senyum tipis menghiasi bibirnya yang sedikit membengkak.

Wu Xuan memandangi istrinya yang tertidur lelap. Ia membelai rambut hitam gadis itu dengan lembut, menarik selimut sutra merah untuk menutupi tubuh polosnya.

Sang Archduke kemudian bangkit. Ia tidak merasa lelah sedikit pun. Sebaliknya, sirkulasi energi dari Core Darah semalam telah mendorong kultivasinya sendiri melesat maju. Dari pertengahan tahap menengah Primordial Suci, ia kini telah mencapai titik akhir tahap menengah, satu langkah kecil lagi menuju ranah primordial suci tahap puncak.

Di dalam dantiannya, tata surya mikro itu kini memiliki beberapa planet baru yang bercahaya kebiruan, tanda peningkatan kapasitas Inner World-nya.

Namun, urusan politik dan penaklukan sang tiran tidak berhenti saat fajar menyingsing. Ingatannya tentang reinkarnasi Chu Zhang, sang Kaisar Gunung Suci yang memiliki memori jutaan tahun, membuat Wu Xuan enggan untuk sekadar bermalas-malasan.

Wu Xuan melangkah ke ruang ganti. Ia tidak mengenakan zirah emas atau jubah kebesarannya. Ia memilih sehelai jubah tidur malam (night robe) berbahan sutra naga hitam yang sangat ringan dan sedikit longgar. Potongan jubah itu dibiarkan terbuka di bagian dada, dengan sengaja memperlihatkan otot-otot perut dan dadanya yang dipahat sempurna oleh elemen air, memancarkan pesona maskulinitas yang liar, berbahaya, dan tidak tertandingi.

Ia berjalan keluar dari kamar kultivasi utamanya, membiarkan udara pagi yang sejuk menerpa kulitnya.

Di luar koridor, dua orang pelayan wanita tingkat elit yang sedang berjaga malam terkejut melihat Archduke keluar dengan penampilan sesantai—dan semenggoda—itu. Wajah mereka seketika merona merah padam, nyaris meneteskan darah dari hidung mereka, namun mereka buru-buru menundukkan pandangan.

"Salam Yang Mulia..." cicit salah satu pelayan.

"Kalian," panggil Wu Xuan dengan suara bariton yang santai namun memerintah.

Ia memandang ke arah sayap istana yang lain. Di sanalah Paviliun Timur berada, tempat yang kini ditinggali oleh mantan Nyonya Utama yang telah ia turunkan statusnya, wanita ambisius yang beberapa malam terakhir dibiarkan sendirian dalam kecemburuan yang menyiksa.

'Wuyan sudah kelelahan, aku tidak mungkin memaksanya lebih jau,' batin Wu Xuan menyeringai dingin. 'Aku membutuhkan Yan Melin, untuk membantuku menyerap kristal darah.'

"Pergilah ke Paviliun Timur," perintah Wu Xuan pada kedua pelayan yang masih gemetar tersebut. "Temui Nyonya Yan Melin. Perintahkan padanya untuk mandi, bersiap, dan kenakan pakaian yang paling indah untuku."

Pelayan itu menelan ludah. "B-Baik, Yang Mulia. Apakah hamba harus menyuruh Nyonya Melin untuk menunggu di kamarnya?"

Wu Xuan tersenyum mematikan, matanya berkilat di bawah cahaya fajar.

"Tidak," jawab Wu Xuan, melangkah santai menuju arah Paviliun Timur. "Katakan padanya untuk segera datang dan menungguku di dalam ruang tidurku di Paviliun Timur. Aku ingin melihat apakah dia masih ingat bagaimana cara melayani suaminya."

Bersambung...

1
Fajar Fathur rizky
bikin wuxuan menunjukkan kekuatan alkemisnya thor bikin kedua leluhur itu ketakutan bikin kedua leluhur itu menjadi boneka perang wuxuan
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor bab 50
Fajar Fathur rizky
cepat bikin bab 48 bikin wuxuan dapat hadiah besar thor protagonis itu gagal
Fajar Fathur rizky
thor gambar yan meli mana thor
EGGY ARIYA WINANDA: Nanti kalau wu xuan udah pulang ke selatan dinasti.
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 46
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 45 thor
Fajar Fathur rizky
thor bikin wuxuan licik orang yang mau meracuni klanya bikin bantai bikin orang yang mau meruntuhkan tambang spritual juga di bantal semua sampai tak tersisa bikin faksi ibu kota ketakutan bikin wuxuan meracuni semua anggota Kekaisaran great yan termasuk kedua leluhur itu bikin ranah kultivasi mereka turun sampai ranah primordial suci tahap awal bikin mereka menua
Fajar Fathur rizky
thor bikin wuxuan bikin pil racun yang menurunkan ranah kultivasi kedua leluhur itu sampai ranah primordial suci tahap awal thor bikin wuxuan licik
Fajar Fathur rizky
bikin semua orang yang di suruh itu mati oleh wuxuan
Fajar Fathur rizky
yan maier yang ada elu yg bakal di taklukkan oleh wuxuan
Fajar Fathur rizky
bikin Kekaisaran great yan bangkrut thor
Fajar Fathur rizky
bikin nanti bantai leluhur itu dan kaisar Kekaisaran great yan dengan cara paling kejam thor
Fajar Fathur rizky
cepat bikin wuxuan bantai para pembunuh itu dengan cara paling kejam thor bikin tubuh mereka jadi makanan hewan kontraknya
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor bab 44 thor
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 43 thor
Fajar Fathur rizky
cepat naikin ranah kultivasi wuxuan sampai ranah tinggi thor pengen liat dia bantai kaisar Kekaisaran great yan termasuk dua leluhur itu dan taklukin ibu suri itu thor
Fajar Fathur rizky
cepat bikin ranah kultivasi yan dobu dan yan chaoran turun sampai ranah primordial suci tahap awal
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 43 thor
Fajar Fathur rizky
nanti jika wuxuan jika sudah berada di ranah tribulasi dunia tahap puncak bantai kedua leluhur Kekaisaran great yan itu dengan cara paling kejam Dan keji thor
Fajar Fathur rizky
chapter 42 bikin wuxuan kejam kepada musuhnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!