NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Malam yang Berbeda

Angin malam berembus lembut, memainkan ujung rambut wolf cut Colette yang kini tak lagi menghalangi pandangannya. Di bawah pendar lampu jalanan yang kekuningan, Colette melangkah dengan ritme yang santai, sebuah kemewahan yang selama bertahun-tahun tak pernah ia izinkan untuk dirinya sendiri.

Di tangannya, ia menjinjing kantong belanjaan berisi stok keperluan dapur—garam, minyak, dan beberapa bahan pangan lainnya yang mulai menipis. Sinta berkali-kali mencegahnya tadi, khawatir jika Colette akan merasa tidak nyaman atau bertemu orang jahat di kegelapan malam. Namun, Colette bersikeras.

Ia ingin menikmati perubahan ini. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya berjalan tanpa harus menunduk sampai lehernya kaku.

Keajaiban kecil terus terjadi di sepanjang perjalanannya menuju minimarket. Biasanya, jika ia berjalan di malam hari dengan rambut menutupi wajah, orang-orang akan memberikan jarak lebar, seolah-olah ia adalah entitas yang membawa nasib buruk.

Namun malam ini, saat ia berpapasan dengan sekelompok pemuda di depan kedai kopi, tidak ada yang berbisik ketakutan. Sebaliknya, pembicaraan mereka terhenti sejenak saat mata hazel Colette yang indah tertangkap cahaya lampu toko. Ada tatapan kagum yang tulus, bukan tatapan predator yang ia takuti dulu.

Bahkan kasir minimarket yang biasanya hanya memberikan kembalian tanpa menoleh, kini tersenyum ramah dan menyapa, "Terima kasih, silakan datang kembali, Mbak," sembari menatap wajahnya dengan penuh keramahan.

"Ternyata... begini rasanya dianggap ada," gumam Colette pelan pada dirinya sendiri. Semangat di hatinya kian berkobar. Ia merasa lebih hidup daripada sebelumnya.

Malam itu, di bawah lampu jalan yang temaram, Colette hampir tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Namun, ada satu momen yang membuatnya benar-benar mematung karena bingung.

Saat ia sedang memilih sayuran di sebuah minimarket yang cukup ramai, tiga orang gadis muda dengan pakaian modis mendekatinya. Mereka tidak menjaga jarak seperti biasanya; sebaliknya, mereka mendekat dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman.

"Kak, permisi... aduh, maaf ya ganggu," ucap salah satu gadis itu dengan antusias. "Tapi beneran deh, kulit Kakak cantik banget! Glowing parah padahal kayaknya nggak pakai makeup tebel. Boleh di-spill nggak Kak, skincare yang Kakak pakai apa? Routine-nya gimana?"

Colette mengerutkan kening. Ia mengerjap-ngerjapkan mata hazelnya yang indah, menatap ketiga gadis itu bergantian dengan tatapan polos.

"Spill? Skincare?" ulang Colette dengan nada ragu.

Ia benar-benar bingung. Selama bertahun-tahun hidup dalam "cangkang" rambut panjangnya, Colette sama sekali tidak mengikuti perkembangan tren kecantikan. Jangankan melakukan perawatan berlapis-lapis, menyisir rambut saja dulu ia malas. Baginya, satu-satunya hal yang ia oleskan ke wajah hanyalah air wudu atau sabun mandi biasa yang ada di kamar mandi.

"Anu... maksudnya apa ya?" tanya Colette pelan, membuat ketiga gadis itu saling berpandangan tak percaya.

"Itu lho, Kak! Sabun mukanya merk apa? Pakai moisturizer atau serum apa sampai bisa seputih dan sebersih ini? Masa nggak pakai apa-apa?" desak gadis yang lain.

Colette hanya bisa menggeleng pelan sambil merapikan sedikit poni wolf cut-nya yang terkena angin. "Aku... aku tidak memakai apa pun yang kalian sebutkan tadi. Hanya air biasa."

Ketiga gadis itu mendesah iri, mengira Colette hanya sedang merendah atau memiliki genetik yang luar biasa sempurna. Mereka akhirnya pergi setelah berkali-kali memuji kecantikan alaminya, meninggalkan Colette yang masih berdiri mematung di depan rak bumbu dapur.

Skincare... apakah itu semacam ramuan dukun yang lain? batin Colette heran.

Colette yang tengah asyik melamunkan istilah skincare sambil menyunggingkan senyum tipis, tidak menyadari ada sosok tinggi yang berdiri diam di kegelapan bayangan pohon besar di depannya.

Brukk!

Bahu Colette menghantam sesuatu yang keras dan kokoh, seperti menabrak dinding beton yang dilapisi kain mahal. Keseimbangannya goyah, membuat kantong belanjaan di tangannya berderak pelan.

"Aduh..." Colette mengaduh kecil, refleks memegang bahunya yang sedikit nyeri.

Ia hampir saja menundukkan kepala secara otomatis seperti kebiasaan lamanya, namun potongan wolf cut-nya yang ringan membuatnya tetap mendongak. Di bawah pendar lampu jalan yang remang, ia melihat sepasang sepatu kulit hitam yang sangat mengkilap.

Pandangan Colette naik perlahan, melewati celana kain setrikaan tajam, hingga berhenti pada seraut wajah yang sangat ia kenali.

"Jalanan ini cukup lebar untuk kita berdua, Colette. Tapi sepertinya kau terlalu sibuk mengagumi dirimu sendiri sampai lupa melihat ke depan," suara bariton itu terdengar berat, membawa getaran yang membuat bulu kuduk Colette meremang.

Caspian.

Pria itu berdiri di sana dengan kedua tangan masuk ke saku jas hitamnya. Ia sama sekali tidak bergemerincing atau bergerak saat ditabrak, seolah-olah dialah sang penguasa malam itu. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci mata hazel Colette yang kini terekspos sepenuhnya.

Caspian terdiam selama beberapa detik. Ia meneliti setiap inci perubahan pada wajah Colette—mulai dari rambut yang membingkai wajah putihnya, bulu mata lentik itu, hingga bibir merah marun yang tadi sempat mengaduh.

Senyum nakal khas sang "dukun" perlahan muncul di sudut bibirnya. "Perubahan yang impresif. Ternyata kau memang lebih cantik saat tidak bersembunyi di balik semak belukar rambutmu itu."

Colette tersipu, rona merah menjalar di pipinya yang putih. "Tuan Caspian... kenapa Anda ada di sini? Ini sudah sangat malam."

"Hanya sedang berjalan-jalan."

Caspian tidak memedulikan penolakan Colette. Dengan gerakan yang sangat cepat dan efisien, jemarinya yang panjang menyambar gagang kantong belanjaan dari tangan gadis itu. Colette sempat terperangah, jemari mereka bersentuhan sesaat—sensasi dingin dari kulit Caspian terasa kontras dengan hawa malam yang lembap.

"Tuan Caspian, tidak perlu... saya bisa membawanya sendiri!" protes Colette, suaranya sedikit meninggi karena kaget.

"Seorang pria tidak akan membiarkan wanita membawa beban seberat ini di depannya, Colette. Apalagi 'pasien' spesialnya," balas Caspian dengan nada santai namun penuh otoritas. Ia menenteng kantong berisi minyak goreng dan bumbu dapur itu seolah barang tersebut tidak memiliki bobot sama sekali.

Akhirnya, Colette hanya bisa pasrah. Mereka mulai berjalan beriringan menyusuri trotoar menuju gang rumah Colette.

Suasana mendadak menjadi sangat canggung. Suara ketukan sepatu kulit Caspian yang mahal beradu dengan langkah sepatu kets Colette yang sudah agak usang. Colette terus menunduk, sesekali mencuri pandang ke arah samping. Sangat aneh melihat seorang pria yang tampak seperti bangsawan atau pengusaha kelas atas sedang menenteng plastik belanjaan pasar di lingkungan kumuh seperti ini.

Rambut wolf cut Colette tertiup angin, memperlihatkan telinganya yang memerah karena malu. Ia meremas ujung jaket kebesarannya, tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!