"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Hukuman dari Kakek Evander
Velin terbangun dengan sinar matahari yang menembus gorden sutra kamar mereka. Ia menoleh ke samping dan mendapati Kieran masih tertidur lelap—sesuatu yang langka. Wajah suaminya saat tidur terlihat begitu tenang, jauh dari kesan Mafia kejam yang semalam hampir meledakkan kepala orang.
"Ganteng banget sih kalau lagi merem begini," gumam Velin sambil iseng menyentuh bulu mata Kieran.
"Jangan menyentuh aset seratus miliarmu saat dia sedang tidur, Nyonya," suara berat Kieran terdengar serak, matanya terbuka sedikit, menatap Velin dengan kilat nakal.
Velin merona. "Eh, sudah bangun? Aku cuma... memastikan kamu masih bernapas."
Tiba-tiba, pintu kamar mereka digedor dengan sangat tidak sopan.
DUM! DUM! DUM!
"KIERAN! AVELINE! KELUAR SEKARANG!" suara menggelegar Evander terdengar dari balik pintu. "Kakek beri waktu tiga menit atau Kakek suruh Jaxon mendobrak pintu ini dengan bazoka!"
Velin loncat dari tempat tidur. "Waduh! Kakek marah besar ya soal kejadian semalam?"
Kieran menghela napas panjang, memijat pelipisnya. "Kakek itu tidak pernah marah dengan cara biasa. Ini pasti lebih buruk."
Di ruang makan utama, Evander duduk di kepala meja dengan wajah yang sengaja dibuat sangat seram. Di sampingnya, Bibi Amora sedang sibuk mengoles selai pada roti, namun matanya melirik jenaka ke arah Velin dan Kieran yang masuk dengan kepala tertunduk.
"Duduk!" perintah Evander.
Kieran dan Velin duduk bersisian. Suasana hening sejenak sampai Evander menggebrak meja dengan tongkat naga peraknya.
"Kalian berdua!" tunjuk Evander. "Gara-gara drama 'lari-lari di dermaga' semalam, kalian merusak jadwal bulan madu yang sudah Kakek susun! Kalian tahu berapa kerugian Kakek karena harus membatalkan jet pribadi ke Maladewa pagi ini?"
Velin mencicit. "Maaf, Kek... semalam itu beneran darurat..."
"Diam!" potong Evander. "Sebagai hukuman karena sudah membuat Kakek cemas dan merusak naskah pernikahan indah ini, Kakek sudah menyiapkan hukuman khusus."
Kieran menaikkan sebelah alisnya. "Hukuman apa? Penjara bawah tanah? Atau latihan menembak sepuluh jam?"
"Bukan!" Evander menyeringai licik. "Hukuman kalian adalah... Hidup Mandiri Tanpa Pelayan Selama Tiga Hari di Pondok Kebun!"
Velin dan Kieran melongo serentak. "Hah?!"
"Iya!" seru Evander riang. "Semua fasilitas kartu kredit dibekukan, ponsel disita—kecuali untuk keadaan darurat, dan kalian harus memasak, mencuci, serta membersihkan pondok itu berdua. Jaxon sudah memindahkan kalian ke sana sepuluh menit lagi!"
Bibi Amora tertawa terbahak-bahak. "Wah, ini genre drama favoritku! 'Mafia Kejam dan Istrinya Hidup Melarat'. Aku akan menonton dari CCTV!"
Kieran memijat keningnya. "Kakek, ini konyol. Aku punya bisnis yang harus dijalankan."
"Bisnis bisa diurus Jaxon! Fokusmu sekarang adalah belajar menjadi suami yang benar tanpa bantuan pelayan!" tegas Evander. "Dan Velin, Kakek ingin lihat apa kau masih bisa 'manja' kalau harus menyapu lantai sendiri."
...****************...
Di Pondok Kebun (Satu jam kemudian)...
Velin menatap sebuah pondok kayu kecil yang sebenarnya cukup estetik, tapi sangat jauh dari kemewahan istana. Di dalamnya hanya ada satu tempat tidur, satu kompor gas kecil, dan tumpukan baju kotor yang sengaja disiapkan Evander sebagai "properti" hukuman.
Kieran berdiri di tengah ruangan dengan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung. Ia menatap sapu di pojok ruangan seolah-olah itu adalah senjata rahasia yang tidak tahu cara pakainya.
"Tuan Kieran..." panggil Velin pelan. "Kamu tahu cara menyapu?"
Kieran menatap sapu itu dengan dingin. "Aku tahu cara membersihkan tempat kejadian perkara dari jejak kaki, tapi menyapu debu... itu konsep yang baru."
Velin tertawa kencang. Ia mengambil sapu itu dan memberikannya pada Kieran. "Nah, Tuan Mafia. Selamat datang di dunia nyata. Kamu sapu bagian dalam, aku yang cuci piring. Ingat, kalau nggak bersih, Kakek nggak bakal kasih kita makan malam!"
Kieran mendengus, namun ia mulai menggerakkan sapu itu dengan gerakan kaku yang sangat lucu. Siapa sangka, pemimpin Mafia paling ditakuti se-Asia kini sedang berperang melawan debu di bawah kolong meja.
"Aveline," panggil Kieran saat Velin sedang sibuk di wastafel.
"Ya?"
"Ternyata hidup 'miskin' begini tidak terlalu buruk, asal kau yang jadi mandornya," ujar Kieran sambil tersenyum tipis.
Velin menoleh, melihat Kieran yang berkeringat namun tampak sangat "manusiawi". Ia berjalan mendekat dan mengusap keringat di dahi Kieran. "Tuan, kamu tahu nggak? Di duniaku dulu, momen seperti ini yang paling mahal. Bukan emasnya, tapi kebersamaannya."
Kieran menarik pinggang Velin, mengabaikan sapu yang jatuh ke lantai. "Kalau begitu, mari kita nikmati hukuman ini. Tapi ingat, kalau aku lapar, aku tidak hanya akan memakan masakanmu."
Velin merona hebat. "Dasar Mafia mesum! Sapu dulu yang bersih!"
...****************...
Di istana, Evander dan Bibi Amora sedang asyik menonton monitor CCTV sambil makan popcorn. "Lihat itu, Evander! Mereka malah pelukan! Hukumanmu gagal total!" seru Amora girang.
"Gagal apanya? Itu namanya taktik!" sahut Evander puas.
terimakasih 🙏🙏🙏