Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Rumor dan Rahasia
...****************...
Keesokan paginya, Akademi Duskveil kembali dipenuhi aktivitas para murid. Cahaya matahari pagi menembus kabut tipis yang menggantung di atas lembah, menyinari menara-menara batu akademi yang menjulang tinggi.
Namun bagi Arkan, pagi itu terasa berbeda.
Malam sebelumnya masih terngiang jelas di pikirannya.
Suara misterius di perpustakaan bawah tanah.
Bayangan yang bergerak sendiri.
Dan pesan tentang rahasia keluarga Noctis.
Arkan duduk di tempat tidurnya di kamar asrama, menatap lantai batu sambil mengingat setiap kata yang ia dengar.
Kael masih tertidur di tempat tidur sebelah, mendengkur pelan dengan selimut yang hampir jatuh ke lantai.
Arkan berdiri dan berjalan ke jendela.
Dari sana ia bisa melihat halaman akademi yang mulai ramai oleh murid-murid dari berbagai rumah.
Para murid Natureveil terlihat berjalan menuju taman latihan di bagian selatan. Jubah hijau mereka bergerak lembut tertiup angin pagi.
Di sisi barat, para murid Lightveil berkumpul di halaman terbuka yang terang oleh cahaya matahari. Jubah putih dan emas mereka terlihat kontras dengan bangunan batu akademi.
Sementara itu wilayah Darkveil tetap terlihat lebih sunyi dibandingkan yang lain.
Arkan menghela napas pelan.
"Ritual Persatuan Tiga Veil..."
Kalimat dari buku tua itu terus muncul di pikirannya.
Jika ritual itu benar-benar nyata, maka ia tidak bisa melakukannya sendirian.
Ia membutuhkan sihir alam.
Dan sihir cahaya.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka keras.
Kael keluar dari selimutnya dengan rambut acak-acakan.
"Kita terlambat!" katanya panik.
Arkan menoleh.
"Kelas pertama sebentar lagi dimulai!"
Beberapa detik kemudian mereka berdua sudah berlari keluar dari kamar menuju aula makan.
......................
Aula makan Akademi Duskveil adalah salah satu ruangan terbesar di seluruh kompleks akademi.
Langit-langitnya sangat tinggi dengan jendela kaca besar yang membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan.
Meja-meja panjang memenuhi aula, masing-masing diperuntukkan bagi rumah yang berbeda.
Meja Natureveil dipenuhi murid dengan jubah hijau.
Meja Lightveil tampak terang oleh jubah putih dan emas.
Sedangkan meja Darkveil berada di sisi yang sedikit lebih teduh dari ruangan itu.
Arkan dan Kael duduk di ujung meja Darkveil.
Kael langsung mengambil roti dan memakannya dengan cepat.
"Aku tidak pernah lapar seperti ini sebelumnya," katanya dengan mulut penuh.
Arkan hanya mengambil secangkir teh hangat.
Sementara itu, bisikan-bisikan mulai terdengar di sekitar aula.
Beberapa murid dari rumah lain tampak melirik ke arah meja Darkveil.
Lebih tepatnya…
Ke arah Arkan.
Kael menyadarinya.
Ia menoleh sedikit lalu berbisik,
"Mereka masih membicarakanmu."
Arkan tetap tenang.
Ia sudah terbiasa dengan hal seperti itu.
Dari meja Lightveil, dua murid tampak berbicara sambil sesekali menatapnya.
"Itu dia?" salah satu dari mereka berbisik.
"Iya. Anak dari keluarga Noctis."
"Kudengar mereka pernah memanggil makhluk dari dunia lain."
Murid yang lain menelan ludah.
"Sihir kegelapan memang selalu berbahaya."
Arkan bisa mendengar semuanya.
Namun ia tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Kael menggeleng pelan.
"Orang-orang benar-benar suka membesar-besarkan cerita."
Arkan menatap teh di tangannya.
"Aku tidak peduli dengan cerita mereka."
Ia berhenti sejenak.
"Aku hanya ingin tahu kebenarannya."
Pelajaran hari itu berlangsung di beberapa tempat berbeda di akademi.
Para murid Darkveil belajar tentang pengendalian energi sihir, membaca rune kuno, dan latihan dasar manipulasi bayangan.
Namun pikiran Arkan tidak sepenuhnya berada di kelas.
Ia terus memikirkan ritual yang ia temukan.
Saat pelajaran terakhir selesai, matahari sudah mulai condong ke barat.
Sebagian murid pergi ke taman akademi untuk bersantai.
Sebagian lainnya menuju perpustakaan.
Arkan berjalan sendirian melewati koridor batu yang panjang.
Ia menuju bagian selatan akademi.
Wilayah Natureveil.
Berbeda dengan wilayah Darkveil yang teduh dan sunyi, area Natureveil terasa hidup.
Pepohonan tinggi tumbuh di sekitar bangunan mereka.
Tanaman merambat menghiasi dinding batu.
Suara angin dan dedaunan membuat tempat itu terasa damai.
Beberapa murid sedang berlatih sihir alam di taman.
Tanah bergerak perlahan.
Air melayang di udara.
Bunga-bunga bermekaran secara ajaib di telapak tangan para murid.
Arkan berhenti di dekat sebuah pohon besar.
Ia memperhatikan latihan mereka.
Kemudian seseorang mendekatinya dari belakang.
"Kau tersesat?"
Arkan menoleh.
Seorang gadis berdiri di sana.
Rambutnya cokelat panjang dengan mata hijau terang.
Jubahnya berwarna hijau tua dengan simbol Natureveil di dadanya.
Namanya Leyna.
Arkan mengingat pernah melihatnya saat upacara penerimaan murid.
"Aku tidak tersesat," jawab Arkan tenang.
Leyna menatapnya beberapa detik.
Lalu ia menyadari sesuatu.
"Tunggu..."
Matanya sedikit melebar.
"Kau Arkan Noctis."
Arkan mengangguk.
Leyna tampak berpikir sejenak sebelum tersenyum kecil.
"Jadi rumor itu benar."
Arkan mengangkat alis sedikit.
"Rumor apa?"
Leyna menyilangkan tangannya.
"Bahwa seorang pewaris keluarga Noctis masuk ke akademi tahun ini."
Arkan tidak menjawab.
Leyna menatapnya dengan rasa ingin tahu.
"Apa benar sihir Darkveil bisa mengendalikan bayangan?"
Arkan menatap ke arah taman.
"Semua sihir bisa berbahaya jika digunakan dengan cara yang salah."
Leyna tampak memikirkan jawaban itu.
Kemudian ia tersenyum lagi.
"Kau berbeda dari yang aku bayangkan."
Arkan menoleh.
"Maksudmu?"
Leyna mengangkat bahu.
"Kebanyakan orang mengira penyihir Darkveil itu menyeramkan."
Arkan menatapnya datar.
"Dan aku tidak?"
Leyna tertawa kecil.
"Tidak juga."
Beberapa murid Natureveil lewat di belakang mereka sambil membawa tanaman sihir.
Leyna kembali berbicara.
"Jadi… apa yang membawamu ke wilayah Natureveil?"
Arkan diam beberapa detik.
Ia tidak yakin apakah harus mengatakan yang sebenarnya.
Namun akhirnya ia berkata,
"Aku sedang mencari seseorang yang bisa menggunakan sihir alam dengan baik."
Leyna mengangkat alis.
"Itu deskripsi yang sangat luas."
Arkan menatapnya langsung.
"Lalu bagaimana denganmu?"
Leyna tampak sedikit terkejut.
"Aku?"
Arkan mengangguk.
"Aku melihat latihanmu tadi."
Leyna berpikir sejenak.
"Kenapa?"
Arkan menghela napas pelan.
"Aku membutuhkan bantuanmu."
Leyna terlihat semakin penasaran.
"Bantuan untuk apa?"
Arkan menatap langit yang mulai berubah jingga oleh matahari senja.
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Sesuatu yang berhubungan dengan keluargaku."
Leyna memperhatikannya dengan serius sekarang.
"Keluarga Noctis?"
Arkan mengangguk.
Leyna terdiam.
Angin sore bertiup lembut melalui taman Natureveil.
Beberapa daun jatuh perlahan dari pohon besar di atas mereka.
Akhirnya Leyna bertanya,
"Apa yang sebenarnya kau cari, Arkan?"
Arkan menatap ke arah hutan yang gelap di balik tembok akademi.
Matanya tampak jauh.
"Aku mencari kebenaran."
Ia kemudian menoleh kembali pada Leyna.
"Dan aku pikir sihir alam adalah salah satu kunci untuk menemukannya."
Leyna tidak langsung menjawab.
Namun sesuatu dalam tatapan Arkan membuatnya merasa bahwa permintaan ini bukan hal sepele.
Seolah-olah ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang menunggu di balik semua ini.
Sesuatu yang mungkin bisa mengubah cara dunia memandang sihir.
Dan tanpa mereka sadari…
Pertemuan sederhana di taman Natureveil itu akan menjadi awal dari sebuah perjalanan yang jauh lebih besar.
Perjalanan yang suatu hari nanti akan menyatukan tiga kekuatan yang selama ini dianggap tidak mungkin bersatu.
Alam.
Cahaya.
Dan malam.
...****************...