NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak yang Tak Beraturan

​Lorong di belakang panggung Bangsal Kepatihan terasa jauh lebih sempit dibandingkan luasnya aula utama tadi. Suasana di sini sangat kontras; hiruk-pikuk kru yang mengangkat properti, bau bedak tabur yang menyengat, serta aroma keringat dan parfum bunga bercampur menjadi satu.

​Arya melangkah dengan derap sepatu yang mantap, meski di dalam dadanya, ada sebuah perang batin yang jauh lebih riuh daripada suasana di sekitarnya. Seragam PDU-nya yang rapi membuat beberapa kru menepi dan memberikan hormat kecil, mengira ada pejabat yang ingin memberikan apresiasi resmi. Namun, Arya tidak sedang dalam mode tugas. Ia adalah seorang pria yang sedang mencari kepingan masa lalunya.

​Di depan sebuah ruangan besar berlabel "Ruang Rias Utama", suara tawa dan pekikan riang terdengar riuh.

​"Nina, gila! Kamu tadi keren banget! Pas bagian 'Hujan' itu, aku beneran merinding," suara seorang gadis terdengar dari dalam.

​"Iya, Nin! Tadi aku lihat Bapak Gubernur sampai berdiri pas kamu selesai. Kamu beneran jadi primadona malam ini!" sahut suara lainnya.

​Arya berhenti tepat di depan pintu yang terbuka separuh. Ia menarik napas panjang, membenarkan posisi baret hijaunya, dan merasakan telapak tangannya sedikit lembap. Lucu sekali, pikirnya. Ia pernah memimpin pasukan masuk ke wilayah rawan tanpa rasa takut, tapi kini, mengetuk pintu ruang rias penari membuatnya merasa seperti prajurit baru yang sedang menghadapi ujian mental.

​Tok, tok, tok.

​Arya mengetuk pintu kayu itu perlahan namun tegas.

​Seketika, keriuhan di dalam ruangan itu meredup. Belasan gadis yang masih mengenakan kostum tari dengan wajah yang penuh riasan menoleh serempak ke arah pintu. Kehadiran seorang perwira muda dengan seragam lengkap dan pangkat Kapten di pundaknya tentu saja menjadi pemandangan yang tak terduga.

​"Mencari siapa, Pak?" tanya salah satu penari yang paling dekat dengan pintu, wajahnya tampak sedikit kagum melihat sosok gagah di depannya.

​Arya berdehem, mencoba mengembalikan wibawanya yang hampir rontok. "Saya... saya mencari Nina. Aura Shenina."

​Belum sempat penari itu menjawab, atau bahkan sebelum Arya menyelesaikan kalimatnya secara lengkap, seorang gadis yang sedang duduk di depan cermin besar—sedang meraba-raba telinganya untuk melepas giwang emas yang besar—tiba-tiba mematung.

​Nina melihat bayangan Arya melalui pantulan cermin. Untuk sesaat, ia mengira itu hanya halusinasinya yang dipicu oleh tarian "Hujan di Asrama" yang baru saja ia bawakan. Namun, saat ia berbalik dan melihat sosok nyata yang berdiri di ambang pintu, matanya yang sudah lebar karena riasan eyeliner semakin membelalak.

​"Kak Arya?"

​Suaranya lirih, hampir seperti bisikan. Namun sedetik kemudian, kesadaran menghantamnya dengan keras.

​"Ini beneran Kak Arya?!" pekik Nina. Suaranya melengking tinggi, penuh dengan kegembiraan yang tidak bisa dibendung.

​Nina bangkit dari kursinya tanpa memedulikan giwangnya yang baru terlepas sebelah. Ia berlari kecil, menerjang jarak di antara mereka dengan langkah-langkah yang masih anggun khas seorang penari. Sebelum Arya sempat menyiapkan mentalnya, Nina sudah menghambur ke pelukannya.

​Bruk!

​Tubuh ramping Nina menabrak dada bidang Arya yang keras karena balutan seragam dan otot hasil latihan militer bertahun-tahun. Nina memeluk leher Arya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu, mengabaikan fakta bahwa sisa bedak panggungnya mungkin akan mengotori kerah seragam PDU sang Kapten.

​"Kakak jahat! Ke mana saja? Kenapa baru muncul sekarang?" isak Nina kecil di balik pelukannya.

​Arya terpaku. Tangannya menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia perlahan melingkarkan lengannya di pinggang Nina. Sentuhan itu terasa sangat asing namun sangat familiar di saat yang bersamaan. Jantungnya? Jangan ditanya. Rasanya seperti ada rentetan tembakan senapan otomatis di dalam dadanya—cepat, keras, dan tidak beraturan.

​"Cieeeee!"

"Waduh, siapa ini? Kakak atau 'Kakak' nih?"

"Pantesan tadi narinya pakai hati banget, ternyata penonton spesialnya datang!"

​Sorakan dan godaan dari teman-teman penari Nina pecah, memenuhi ruangan rias. Wajah Arya yang biasanya datar dan kaku kini perlahan memerah. Ia tersenyum malu, sebuah ekspresi yang sangat jarang terlihat di wajah seorang Kapten Infanteri.

​*

​Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya bagi Arya, ia menyadari bahwa posisi mereka terlalu intim untuk ditonton belasan pasang mata yang usil. Apalagi, aroma tubuh Nina—perpaduan antara melati, keringat, dan aroma murni yang selalu ia ingat—mulai membuat konsentrasinya buyar.

​Arya memegang bahu Nina dan perlahan melepas pelukan itu. Ia menciptakan jarak sekitar satu lengan di antara mereka.

​"Nina... sebentar. Malu dilihat teman-temanmu," bisik Arya pelan.

​Nina mendongak, matanya berkaca-kaca, namun ia segera menyadari bahwa dirinya baru saja melakukan hal yang sangat impulsif. Ia melihat wajah Arya dari dekat—garis-garis kedewasaan itu, bekas luka kecil di dekat alisnya, dan tatapan matanya yang kini terasa lebih dalam.

​Seketika, Nina merasa salah tingkah. Ia menarik tangannya dari leher Arya, merapikan selendangnya yang miring, dan menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang mendadak terasa panas.

​"Maaf... Nina cuma kaget," gumamnya sambil memainkan ujung selendang.

​Arya tersenyum tipis, mencoba mengatur napasnya yang menderu. Ia menatap Nina dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kamu luar biasa di panggung tadi, Nin. Kakak hampir tidak mengenalimu. Kamu sudah... tumbuh jadi penari yang hebat."

​Dan sangat cantik, tambah Arya dalam hati, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

​"Kak Arya nonton?" tanya Nina dengan binar harapan.

​"Dari awal sampai akhir. Kakak tidak akan melewatkan janji kelingking kita, kan?" sahut Arya.

​*

​Suasana di ruang rias masih penuh dengan bisik-bisik usil. Arya tahu, jika ia berlama-lama di sini, ia akan menjadi objek penelitian mahasiswi-mahasiswi seni ini sepanjang malam. Lagipula, ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, banyak cerita yang ingin ia dengar tanpa gangguan suara tawa penari lain.

​"Nina, kamu masih ada acara setelah ini?" tanya Arya.

​Nina menggeleng cepat. "Tinggal ganti baju dan pamit ke dosen pembimbing."

​"Kalau begitu, cepat ganti baju. Hapus riasanmu secukupnya saja. Kakak tunggu di parkiran samping. Kita... kita jalan-jalan sebentar? Cari makan atau sekadar melihat Malioboro malam ini. Kakak baru dua hari di Jogja, butuh pemandu," ucap Arya dengan nada yang diusahakan se-kasual mungkin, padahal tangannya masih sedikit bergetar di dalam saku celananya.

​Mata Nina berbinar. "Kakak tunggu ya! Jangan pergi! Janji?"

​"Janji. Tidak akan tertabrak sepeda lagi, kok," canda Arya, merujuk pada pertemuan pertama mereka yang tragis.

​Nina tertawa renyah, tawa yang membuat beban tugas di pundak Arya selama bertahun-tahun seolah menguap begitu saja. Gadis itu segera berbalik dan berlari menuju mejanya, mulai dengan terburu-buru membersihkan riasan matanya.

​Arya mengangguk pada teman-teman Nina yang masih menatapnya penuh rasa ingin tahu, lalu ia berbalik dan melangkah keluar.

​*

​Sambil berjalan menuju parkiran, Arya berpapasan dengan Kapten Yudha yang masih berdiri di lorong dengan wajah bingung.

​"Eh, Arya! Kamu dari mana? Ketemu penarinya? Aku baru mau masuk tadi tapi dilarang sama penjaga," keluh Yudha.

​Arya berhenti sejenak, menatap Yudha dengan senyum penuh kemenangan yang tipis. "Sudah ketemu. Dan Yudha, lupakan soal niatmu berkenalan."

​"Kenapa? Dia sudah punya pacar?"

​Arya menepuk bahu Yudha dengan keras. "Dia adik asramaku. Dan dia sudah punya janji denganku malam ini. Cari target lain saja, Kawan."

​Arya meninggalkan Yudha yang melongo dan terus melangkah menuju mobil dinasnya yang terparkir di bawah pohon asam. Ia bersandar di pintu mobil, menatap bangunan Bangsal Kepatihan yang megah.

​Malam ini, Jogja tidak terasa dingin baginya. Udara terasa hangat, sehangat pelukan Nina tadi. Namun, ada satu hal yang mengusik pikiran Arya. Pelukan Nina tadi terasa sangat tulus sebagai seorang adik, namun debaran jantungnya sendiri... debaran itu sama sekali tidak terasa seperti debaran seorang kakak.

​Arya menarik napas panjang, menatap baret hijaunya. Ia tahu, setelah malam ini, hubungan "kakak-adik" yang mereka bangun selama belasan tahun akan menghadapi ujian baru yang jauh lebih rumit daripada sekadar jarak Jakarta-Papua.

​Lima belas menit kemudian, seorang gadis keluar dari pintu samping. Ia sudah melepas kostum megahnya, berganti dengan celana jeans dan blus batik simpel. Rambutnya terurai bebas, masih ada sisa-sisa binar di matanya. Nina berjalan setengah berlari menuju arahnya.

​"Kak Arya!"

​Arya menegakkan tubuhnya, membukakan pintu mobil untuk Nina dengan gerakan yang sangat ksatria. "Siap berangkat, Tuan Putri Penari?"

​Nina tertawa, menyelinap masuk ke dalam mobil. Malam itu, di bawah pendar lampu kota Jogja, sebuah babak baru dalam hidup mereka dimulai. Bukan lagi sebagai anak kecil dan remaja di asrama, melainkan sebagai dua orang dewasa yang kembali dipertemukan oleh benang takdir yang dulu sempat kusut dan putus di tengah jalan.

1
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!