NovelToon NovelToon
Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Single Mom / Tamat
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Setiap hari sebelum fajar menyingsing, dapur kecil itu sudah mengepulkan asap. Di sana, seorang ibu bergelut dengan tepung, mentega, dan panasnya oven tua untuk menciptakan ribuan keping kue. Bagi orang lain, itu hanyalah camilan manis, namun bagi sang ibu, setiap loyang adalah taruhan untuk masa depan anaknya.

tangan yang melepuh terkena minyak panas, punggung yang semakin membungkuk karena beban keranjang, dan jam tidur yang dikorbankan demi recehan rupiah. Melalui sudut pandang sang anak, kita diajak melihat bagaimana sebuah pengorbanan tanpa pamrih perlahan-lahan merajut mimpi yang mustahil menjadi nyata. Sebuah kisah melankolis tentang cinta yang dipanggang dalam kesabaran dan ketulusan yang tak bertepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

belanja keperluan rumah

Pagi pertama di rumah baru disambut dengan perut yang keroncongan dan dapur yang masih melompong. Satria dan Alana akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan "ekspedisi" pertama mereka sebagai suami istri: belanja keperluan dapur.

Mereka tiba di supermarket besar dengan satu troli kosong yang siap diisi. Alana membawa catatan kecil di ponselnya, sementara Satria tampak sangat bersemangat mendorong troli seolah sedang mengemudikan mobil balap.

"Kita butuh garam, gula, kopi—tentu saja kopi—dan minyak goreng," gumam Alana sambil menelusuri lorong bumbu dapur.

"Dan ini!" Satria memasukkan satu bungkus besar nugget ayam dan sosis ke dalam troli.

Alana menahan tawa. "Sat, kita harus masak makanan sehat, bukan cuma goreng-gorengan instan."

"Ini untuk keadaan darurat, Lan. Kalau nanti pagi-pagi aku gagal menyalakan kompor canggihmu itu," balas Satria membela diri dengan wajah serius yang dibuat-buat.

Kesibukan dimulai saat mereka sampai di lorong alat masak. Alana menginginkan wajan antilengket berwarna aesthetic krem agar cocok dengan interior dapur baru mereka, sementara Satria lebih fokus pada ketebalan besi dan fungsi.

"Yang ini lebih kuat, Lan. Bisa dipakai sampai kita punya cucu," ujar Satria sambil mengetuk-ngetuk sebuah panci berat.

Alana menggeleng pelan. "Tapi yang itu lebih cantik kalau difoto, Sat. Bayangkan aku membuatkanmu telur mata sapi di wajan cantik itu setiap pagi."

Satria langsung menyerah. "Oke, ambil yang cantik. Asal koki-nya senang, rasa masakannya pasti enak."

Satu jam berlalu, dan troli mereka kini penuh sesak. Tidak hanya bahan pokok, tapi juga beberapa tanaman hias kecil untuk di meja makan, satu set serbet kain yang senada, dan tentu saja, kotak susu cair kesukaan Alana.

Saat mengantre di kasir, Satria merangkul bahu Alana. Melihat tumpukan barang belanjaan itu, ada rasa haru yang menyelip. Ini bukan lagi belanja untuk diri sendiri atau untuk rumah orang tua. Ini adalah kepingan-kepingan pertama yang akan menyusun kehidupan mereka.

"Siap memasak makan siang pertama kita?" tanya Satria saat mereka memasukkan kantong-kantong belanja ke bagasi mobil.

Alana mengangguk mantap. "Siap. Tapi kamu yang bagian potong bawang, ya? Aku tidak mau menangis di hari pertama kita di dapur."

Satria tertawa, mengecup kening istrinya singkat sebelum menutup bagasi. Perjalanan pulang terasa lebih cepat, karena ada dapur kosong yang menunggu untuk dihidupkan dengan aroma masakan dan tawa mereka.

*********

Belanja keperluan dapur ternyata menjadi petualangan yang lebih seru dari yang Alana bayangkan. Berdiri di antara lorong supermarket yang menjulang tinggi, mereka berdua tampak seperti anak kecil yang baru pertama kali dilepas di toko mainan.

"Sat, yang ini warnanya bagus, cocok sama keramik dapur kita yang krem," ujar Alana sambil mengangkat sebuah wajan antilengket berwarna pastel.

Satria mendekat, memegang gagang wajan itu dengan serius seolah sedang memeriksa mesin mobil. "Tapi ini bahannya tipis, Lan. Nanti kalau aku bikin steak buat kamu, panasnya tidak rata.

Yang ini saja, lebih berat dan kokoh." Satria menunjukkan wajan besi hitam yang beratnya minta ampun.

Alana tertawa kecil. "Sat, kita mau masak sehari-hari, bukan mau buka restoran steak.

Ambil yang tengah-tengah saja, ya?" Akhirnya, kesepakatan diambil: wajan fungsional namun tetap sedap dipandang.

Troli mereka mulai terisi penuh. Mulai dari beras, minyak goreng, hingga deretan bumbu dapur yang lengkap. Satria tampak sangat teliti memilih kecap manis dan saus sambal, sementara Alana sibuk memilih wadah-wadah bumbu transparan agar dapur mereka terlihat rapi seperti di media sosial.

"Jangan lupa kopi," sela Satria saat mereka melewati lorong minuman. Ia mengambil dua bungkus biji kopi terbaik. "Ini bahan bakar utama untuk kursi pojok kita besok pagi.

Saat semua barang ditumpuk di atas meja kasir, Alana terpaku melihat deretan belanjaan itu. Ada sabun cuci piring, spons, serbet motif kotak-kotak, hingga ulekan batu yang bersikeras dibeli Satria agar "sambalnya terasa asli".

"Banyak sekali ya," bisik Alana.

Satria merangkul bahu Alana, menariknya mendekat. "Ini bukan cuma belanjaan, Lan. Ini kepingan-kepingan yang akan membuat rumah kita terasa hidup. Mulai besok, tidak ada lagi makanan delivery setiap hari. Kita punya dapur sendiri sekarang."

Alana tersenyum, menyandarkan kepalanya di lengan Satria sambil menunggu total belanjaan muncul di layar. Rasa lelah belanja terbayar oleh bayangan aroma masakan yang akan memenuhi rumah baru mereka nanti sore.

Setelah troli penuh sesak, mereka beralih ke area perkakas kecil yang sering terlupakan namun krusial. Di sinilah sisi perfeksionis Satria dan sisi estetis Alana kembali beradu dengan jenaka.

Alana sibuk memilih serbet kain dengan motif kotak-kotak minimalis. "Sat, ini bagus untuk ditaruh di pegangan oven nanti," ujarnya antusias.

Satria, di sisi lain, sedang menimbang-nimbang kekuatan magnet untuk gantungan pisau dapur.

"Lan, kalau yang ini lebih aman. Pisau tidak akan jatuh kalau kita sedang buru-buru potong bawang," timpalnya dengan wajah serius seolah sedang merakit mesin.

Mereka berhenti di depan deretan wadah bumbu transparan. Alana ingin semuanya seragam agar dapur terlihat rapi. Satria, yang biasanya praktis, kali ini mendukung penuh. Ia bahkan membantu Alana mengecek apakah tutup wadahnya kedap udara atau tidak.

"Kita beli dua lusin ya? Supaya semua bumbu dari merica sampai ketumbar punya rumahnya masing-masing," kata Satria sambil memasukkan kotak-kotak itu ke troli.

Saat hampir menuju kasir, Satria tiba-tiba berbelok ke arah deretan tanaman herbal dalam pot. Ia mengambil satu pot kecil rosemary dan satu pot mint.

"Buat apa, Sat?" tanya Alana heran.

"Untuk ditaruh di ambang jendela dapur baru kita. Supaya setiap kali kamu masak, ada aroma segar yang tercium. Lagipula, dapur tanpa tanaman itu rasanya kurang 'hidup', kan?" jawabnya sambil tersenyum tipis.

Proses memasukkan belanjaan ke bagasi mobil pun menjadi momen kebersamaan. Satria mengatur botol-botol berat di bawah, sementara Alana memegang bungkusan telur dan sayuran hijau dengan hati-hati.

"Rasanya seperti baru saja memenangkan kompetisi masak," gumam Alana sambil melihat bagasi yang penuh.

Satria menutup pintu bagasi dengan suara klik yang mantap. Ia merangkul pinggang Alana, menatapnya lekat. "Satu misi selesai. Sekarang, tinggal misi paling berat: memastikan kita tahu cara memakai semua alat ini tanpa membuat alarm asap berbunyi."

Alana tertawa renyah, menyandarkan kepalanya di bahu Satria. Perjalanan pulang menuju rumah baru mereka terasa sangat manis, dipenuhi bayangan tentang aroma tumisan pertama yang akan memenuhi dapur mereka sore nanti.

*******

Setelah bagasi penuh, mereka tidak langsung pulang. Satria menarik tangan Alana menuju area pecah belah, tempat deretan piring dan gelas berjejer rapi.

"Kita butuh gelas yang pas untuk kopi pagi kita, Lan," ujar Satria sambil menunjuk deretan mug keramik.

Alana memilih dua mug berwarna abu-abu semen dan putih tulang yang permukaannya agak kasar—terlihat sangat estetik. "Yang ini saja, Sat. Pegangannya pas di tangan, dan kalau ditaruh di meja kayu pojok rumah kita, pasti cantik."

Satria mencoba menggenggam salah satunya. "Setuju. Gelas ini yang akan jadi saksi semua obrolan kita sebelum aku berangkat kerja nanti."

Di lorong elektronik dapur, Satria tiba-tiba terpaku di depan sebuah timbangan digital dan termometer makanan.

"Untuk apa, Sat? Kita kan mau masak masakan rumah biasa," tanya Alana sambil mengangkat alis.

"Biar presisi, Lan. Aku ingin mencoba membuatkanmu steak atau ayam panggang yang kematangannya sempurna, seperti di restoran.

Anggap saja ini investasi untuk perut kita," jawab Satria dengan nada sangat meyakinkan.

Alana hanya bisa menggeleng sambil tersenyum melihat suaminya yang sangat antusias ingin menjadi "koki dadakan".

Saat semua barang sudah di atas ban berjalan kasir, Alana melihat tumpukan itu: talenan kayu, parutan keju, pembuka kaleng, hingga saringan santan. Semuanya hal-hal kecil yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya saat masih tinggal di rumah orang tua.

"Ternyata membangun dapur itu detail sekali ya," bisik Alana.

Satria mengeluarkan dompetnya, lalu menoleh ke arah Alana. "Tapi ini bagian yang paling menyenangkan, kan? Memilih setiap sendok dan garpu yang akan kita pakai seumur hidup."

Saat mendorong troli ke parkiran, ban trolinya sempat tersangkut kerikil, membuat botol-botol saus di dalamnya berdenting nyaring. Satria dengan sigap menahan troli itu agar tidak terbalik.

"Hampir saja dapur kita 'hancur' sebelum sampai rumah," canda Satria, membuat Alana tertawa renyah.

Mereka pun masuk ke mobil. Alana memeluk kantong berisi telur dengan sangat hati-hati di pangkuannya, sementara Satria menyalakan mesin dengan senyum puas.

"Misi belanja selesai, Nyonya Satria. Siap untuk merapikan semua 'harta karun' ini ke kabinet dapur?"

"tunggu, aku perlu beberapa lagi satria "kata Alan.

Set Sendok "Pasangan"

"Sat, lihat yang ini. Pegangannya kayu, terasa hangat kalau dipegang," ujar Alana sambil mencoba menimbang satu sendok di tangannya.

Satria mengambil pasangannya, lalu berpura-pura sedang menyuap makanan ke mulutnya sendiri.

"Beratnya pas. Tidak terlalu ringan seperti plastik, tapi tidak seberat linggis. Aku setuju, ini yang akan menyuapi nasi goreng buatanku ke mulutmu besok pagi."

Sebelum benar-benar menuju kasir, Alana menarik Satria ke sudut tekstil dapur. Ia mengambil dua buah celemek (apron)—satu berwarna biru navy untuk Satria, dan satu berwarna krem untuk dirinya.

"Kita harus pakai ini kalau sedang 'perang' di dapur, Sat. Biar baju kerjamu nanti tidak kena noda sambal," kata Alana sambil mengalungkan celemek itu ke leher Satria.

Satria hanya pasrah, berdiri tegak seperti manekin sambil tersenyum geli. "Baiklah, koki Satria siap bertugas. Tapi jangan tertawa kalau nanti aku lebih sibuk mencuci celemek daripada memasaknya."

Di dalam troli kini sudah ada parutan keju, pembuka kaleng, saringan teh kecil, hingga talenan kayu yang seratnya sangat cantik. Hal-hal yang dulu terasa remeh saat masih tinggal bersama orang tua, kini terasa sangat berharga karena mereka memilihnya bersama.

Saat semua barang sudah dibayar, Satria dengan sangat teliti menyusun belanjaan di bagasi. Ia menaruh kotak-kotak kaca di tempat yang paling stabil, sementara Alana memegang satu set pisau dapur yang baru saja mereka beli dengan sangat hati-hati di pangkuannya.

"Hati-hati, Lan. Itu tajam, seperti lidah sepupuku kalau sedang menggoda kita di pelaminan kemarin," canda Satria sambil menutup pintu bagasi dengan suara bum yang mantap.

Mobil perlahan meninggalkan parkiran supermarket. Alana menyandarkan kepalanya di bahu Satria, menatap deretan kantong belanjaan di kursi belakang melalui spion tengah.

"Dapur kita tidak akan kosong lagi nanti sore," gumam Alana bahagia.

Satria menggenggam tangan Alana sejenak sebelum kembali memegang kemudi. "Bukan cuma dapur yang penuh, Lan. Hatiku juga sudah penuh sejak kita memutuskan beli wajan pertama kita tadi."

Mereka tertawa bersama, membayangkan keseruan—dan mungkin sedikit kekacauan—yang akan terjadi saat mereka mulai menata semua benda itu di rumah baru mereka.

1
falea sezi
lo uda end kah
falea sezi
ini MC nya cwek apa cowok
erin: izin cewe kak 🙏
total 1 replies
falea sezi
seru moga bagus ampe ending q ksih hadiah biar g kosong
erin: semoga menikmati yah kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!