Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: REINKARNASI IBLIS
Murim, dunia persilatan yang tak pernah tidur. Di mana pedang berbicara lebih keras daripada kata-kata, dan darah adalah tinta yang menulis sejarah.
Langit malam di atas Gunung Taebaek gelap gulita. Bintang-bintang bersembunyi di balik selimut awan hitam, seolah enggan menyaksikan peristiwa yang terjadi di bawah sana. Angin bertiup dingin, membawa aroma anyir darah yang bercampur dengan dupa dari altar kecil Klan Namgung.
Di dalam ruangan sempit itu, sesosok pemuda terbaring kaku di atas batu persembahan. Usianya baru enam belas tahun—masa di mana pemuda lain belajar pedang atau bermimpi menjadi pendekar terkenal. Tapi tubuhnya kini penuh luka sayatan dan tusukan, pakaiannya yang compang-camping basah oleh darah yang sudah mulai mengering.
Napasnya hampir tak terdeteksi.
Namgung Jin—nama itu terukir di lempengan kayu kecil di samping tubuhnya, persembahan terakhir dari seorang ibu yang putus asa.
Dia telah berjuang melawan maut selama tiga hari. Para tabib klan sudah menyerah. Luka-lukanya terlalu parah, pembuluh darah utama putus, dan energi dalamnya—meskipun hanya sedikit yang berhasil ia kumpulkan selama bertahun-tahun belajar diam-diam—telah habis total.
Tapi tiba-tiba...
Matanya terbuka.
Bukan terbuka biasa. Kelopak matanya terangkat dengan perlahan, penuh kesadaran, seperti seseorang yang baru bangun dari tidur panjang. Tapi warna mata itu... bukan lagi cokelat gelap milik Namgung Jin.
Mata itu hitam pekat.
Hitam seperti jurang tak berdasar. Hitam seperti lubang yang menelan segalanya, termasuk cahaya.
"Di mana... di mana ini?"
Suara itu bergema di dalam kepala. Bukan suara anak enam belas tahun yang ketakutan. Tapi suara seorang pria yang telah hidup ribuan tahun—dingin, angkuh, penuh perhitungan, dan terbiasa memberi perintah tanpa perlu berteriak.
Cheon Ma-ryong—Iblis Murim—membuka matanya.
Tiga ribu tahun yang lalu...
Di puncak tertinggi Gunung Kunlun, delapan master terkuat Murim berkumpul. Mereka adalah Delapan Kaisar Murim, penguasa tertinggi yang menyeimbangkan kekuatan antara Jeongpa (fraksi kebenaran) dan Sapa (fraksi iblis). Masing-masing menguasai sekte atau klan terbesar di dunia persilatan.
Namun satu nama berada di atas mereka semua.
Cheon Ma-ryong.
Dia bukan sekadar manusia biasa. Dia adalah Iblis Murim—gelar yang diberikan karena kekuatannya yang melampaui batas. Bukan hanya menguasai ilmu pedang terhebat, tapi juga memiliki Gucheon Mabeop (Kitab Sembilan Jurang), kitab terlarang yang konon ditulis oleh setan dari sembilan lapisan neraka.
Dengan kitab itu, ia bisa membaca gerakan lawan sebelum lawan itu sendiri menyadari apa yang akan ia lakukan. Ia bisa memanipulasi mageukgi (energi hitam) menjadi senjata paling mematikan. Dan yang paling ditakuti—Hwasin, teknik pemisahan jiwa dari raga, yang membuatnya mustahil dibunuh.
Selama seribu tahun, ia memerintah Murim dengan tangan besi. Bukan dengan kekejaman tanpa sebab, tapi dengan perhitungan dingin yang membuat siapa pun berpikir seribu kali sebelum berani melawannya.
Tapi kekuasaan melahirkan pengkhianatan.
Dan pengkhianat itu adalah murid kesayangannya sendiri.
Cheon Mu-gi—pemuda yatim piatu yang ia angkat dari jalanan, ia didik, ia beri segalanya. Cheon Ma-ryong tidak pernah punya anak, dan ia menganggap Mu-gi seperti putranya sendiri.
Di puncak Gunung Kunlun itu, di bawah saksi delapan Kaisar, Cheon Mu-gi menusukkan pedang ke punggung gurunya.
"Guruku..." Cheon Mu-gi menatapnya dengan mata yang dingin—mata yang sama dinginnya dengan mata Cheon Ma-ryong sendiri. Pedang di tangannya masih meneteskan darah—darah sang guru. "Maafkan aku."
Cheon Ma-ryong menatap luka di dadanya, lalu menatap muridnya. Anehnya, ia tidak terkejut. Tidak marah. Matanya hanya... mengamati.
"Kau pikir kau bisa membunuhku, bocah?"
Cheon Mu-gi tersenyum—senyum yang ia pelajari dari gurunya. "Aku tahu kau memiliki Hwasin. Tapi tahukah kau, Guru? Hwasin hanya bisa aktif jika jiwa masih utuh. Dan saat ini... jiwa-mu sudah tercabik-cabik oleh racun yang kutanam dalam makananku selama sepuluh tahun terakhir."
Untuk pertama kalinya, kilatan terkejut muncul di mata Cheon Ma-ryong.
"Racun? Sepuluh tahun?"
"Aku belajar dari yang terbaik." Cheon Mu-gi melangkah mundur, bergabung dengan delapan Kaisar. "Kau sendiri yang mengajariku untuk tidak pernah meremehkan lawan, sekecil apa pun mereka."
Cheon Ma-ryong tertawa.
Bukan tawa getir atau tawa putus asa. Tapi tawa yang membuat delapan Kaisar itu bergidik—tawa seorang pria yang tahu bahwa dirinya telah kalah, tapi masih memiliki satu kartu truf terakhir.
"Kau benar, Mu-gi-ah. Aku memang meremehkanmu. Tapi ada satu hal yang tidak kau ketahui."
Tubuhnya mulai bersinar—cahaya hitam pekat yang menyilaukan.
"Hwasin bukan satu-satunya jurus pamungkas Kitab Sembilan Jurang."
Cheon Mu-gi memucat. "Hentikan dia!"
Tapi sudah terlambat.
Tubuh Cheon Ma-ryong meledak—bukan ledakan biasa, tapi ledakan energi yang menghancurkan setengah puncak Gunung Kunlun. Delapan Kaisar terpental, beberapa terluka parah. Cheon Mu-gi sendiri nyaris terlempar ke jurang.
Namun di balik kehancuran itu, percikan kecil kesadaran melesat. Percikan itu terlalu kecil untuk dilihat mata biasa, terlalu cepat untuk dikejar. Ia melesat meninggalkan alam fana, memasuki lorong waktu, terbawa arus reinkarnasi selama ribuan tahun.
"Aku akan kembali..." bisiknya sebelum kesadarannya benar-benar lenyap. "Dan kalian akan menuai apa yang kalian tanam."
Sekarang...
Cheon Ma-ryong merasakan tubuh barunya.
Lemah.
Ringkih.
Penuh luka.
Dia mencoba menggerakkan jari—jari itu bergerak, tapi lambat dan kaku. Dia mencoba merasakan dantian-nya—kosong, seperti sumur kering. Meridiannya tersumbat di puluhan titik. Otot-ototnya lembek, tidak terlatih.
"Tubuh bocah..." gumamnya dalam hati. "Bahkan pelayan terkecil di istanaku dulu lebih kuat dari ini."
Lalu, seperti banjir bandang, ingatan menyerbu pikirannya.
Bukan ingatannya—tapi ingatan pemilik tubuh ini.
Namgung Jin.
Putra seorang selir rendahan di Klan Namgung, salah satu dari Empat Klan Besar (Sedaega) di Murim. Ibunya, Nyonya Yoon, dulunya adalah dayang istri utama yang "dihadiahkan" kepada kepala klan saat mabuk. Setelah itu, ia dilupakan, hidup di paviliun reot di sudut belakang kompleks klan, bersama putra yang tidak diinginkan siapa pun.
Namgung Jin tumbuh tanpa kasih sayang ayah, tanpa pengakuan saudara-saudaranya. Tapi ia punya satu hal—bakat.
Diam-diam, ia belajar pedang. Mengamati latihan para pengawal dari balik semak. Meniru gerakan kakak-kakak tirinya saat mereka berlatih di malam hari. Dalam enam belas tahun, tanpa bimbingan siapa pun, ia berhasil mencapai tahap yang biasanya membutuhkan waktu dua puluh tahun dengan guru terbaik.
Dan itulah yang membuatnya menjadi target.
Semalam, para pembunuh datang. Bukan pembunuh biasa. Mereka adalah algojo dari Yuhyanggok—sekitaran terkutuk di Pegunungan Lembah yang menjadi tempat pembuangan para kultivator sesat. Mereka tidak punya nama, tidak punya identitas, hanya angka. Dan angka yang datang untuk Namgung Jin adalah Tiga Belas dan Dua Puluh Empat.
Namgung Jin bertahan selama sepuluh menit—sepuluh menit yang luar biasa untuk bocah tanpa pelatihan formal. Tapi akhirnya ia kalah. Tubuhnya dihujani puluhan tusukan, dan ia dilempar ke altar leluhur sebagai pesan: "Klan Namgung lemah. Kami bisa menyentuh apa pun yang kami mau."
Cheon Ma-ryong merasakan amarah asing bercampur dengan amarahnya sendiri.
Ini bukan amarahnya.
Ini adalah Simma (Iblis Hati).
Dalam Kitab Sembilan Jurang, Simma adalah sisa-sisa keinginan terkuat seseorang yang terpatri dalam jiwa setelah kematian. Saat Cheon Ma-ryong mengambil alih tubuh ini, Simma Namgung Jin ikut menyatu dengannya.
Dan Simma itu berkata:
"Lindungi... ibuku..."
"Lindungi... Klan Namgung..."
"Mereka satu-satunya... yang memberiku tempat... meskipun hanya sudut belakang..."
Cheon Ma-ryong mencoba menolak. Dia Iblis Murim! Dia tidak punya urusan dengan klan rendahan atau wanita tak berguna! Tapi Simma itu mencengkeram kuat, mengikat kesadarannya pada sumpah mati bocah malang ini.
"Sialan!"
Pintu altar terbuka.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah sembab dan pakaian kusut berlari masuk. Rambutnya acak-acakan, matanya bengkak karena menangis, dan di tangannya ia membawa semangkuk kecil air dan kain lap.
Nyonya Yoon—ibu Namgung Jin.
"Jin-ah! Jin-ah! Putra ibuuuu!"
Ia menjatuhkan diri di samping Cheon Ma-ryong, hampir menumpahkan air di mangkuk. Tubuhnya yang kecil dan ringkih itu segera memeluk putranya dengan erat, tidak peduli bahwa pakaiannya ikut basah oleh darah.
Tangisnya memilukan.
Bukan tangis dramatis seperti yang sering Cheon Ma-ryong lihat dari para selir di istananya dulu—tangis palsu yang bertujuan menarik perhatian. Ini tangis seorang ibu yang benar-benar kehilangan separuh jiwanya.
"Maafkan ibu... maafkan ibu... Ibu terlalu lemah untuk melindungimu... Ibu... ibu seharusnya tidak pernah membiarkanmu keluar malam-malam... Ibu seharusnya... seharusnya..."
Cheon Ma-ryong membeku.
Ribuan tahun hidup sebagai Iblis Murim, dia tak pernah merasakan pelukan seperti ini. Ibunya sendiri meninggal saat melahirkannya. Para wanita datang padanya karena takut atau karena ingin memanfaatkan kekuasaannya. Tidak pernah—tidak sekali pun—ada yang memeluknya seperti ini.
Seolah dia adalah segalanya.
Seolah tanpanya, hidup tak berarti.
Simma di dadanya berdenyut hebat. Rasa sakit yang bukan miliknya, rindu yang bukan miliknya, tapi terasa begitu nyata. Cheon Ma-ryong merasakan dadanya sesak—sensasi asing yang tidak pernah ia alami selama ribuan tahun.
Dengan susah payah, ia mengangkat tangan.
Tangan itu kecil, ringkih, penuh luka—tangan milik Namgung Jin. Tapi ia gerakkan juga, menyentuh pipi wanita itu yang basah oleh air mata.
"Ibu..."
Suaranya keluar parau, hampir tak terdengar. Tapi Nyonya Yoon terkesiap. Ia menatap putranya dengan mata berkaca-kaca, tidak percaya.
"J-Jin-ah? Kau... kau sadar?"
Cheon Ma-ryong menatap wanita itu.
Di matanya, ia melihat ketulusan yang tak pernah ia temukan selama ribuan tahun. Bukan ketakutan, bukan penghormatan palsu, bukan keinginan tersembunyi. Hanya... cinta. Cinta yang sederhana, tulus, dan tanpa syarat.
Dan untuk pertama kalinya dalam eksistensinya yang panjang, Iblis Murim merasa... ragu.
"Aku... baik-baik saja, Ibu."
Bohong. Dia tidak baik-baik saja. Dia baru saja bangkit dari kematian, terperangkap dalam tubuh bocah enam belas tahun yang lemah, dan terikat oleh sumpah mati yang memaksanya peduli pada orang-orang rendahan ini.
Tapi saat melihat senyum lega di wajah Nyonya Yoon—senyum yang membuat kerutan di wajahnya tampak seperti garis-garis kebahagiaan—Cheon Ma-ryong merasakan sesuatu.
Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Mungkin ini yang disebut manusia sebagai... kehangatan.
Tiga hari kemudian, Namgung Jin duduk sendirian di kamar reotnya.
Kamar ini hanya berukuran tiga langkah kali tiga langkah. Satu tikar usang di lantai, satu meja kecil dengan satu kaki patah yang disangga batu, satu jendela kayu yang tidak bisa ditutup rapat. Di sudut, ada lemari kecil berisi dua atau tiga potong pakaian tambalan.
Ibunya tidur di dapur—jika bisa disebut dapur—ruangan sempit dengan tungku tanah liat yang setiap hari ia gunakan untuk memasak bubur.
Cheon Ma-ryong—tidak, sekarang ia harus terbiasa dipanggil Namgung Jin—merenungi nasib.
"Jadi begini rasanya jadi manusia rendahan."
Dia telah memeriksa tubuh ini dengan teliti. Dantian-nya nyaris kosong, hanya menyisakan sedikit energi sisa yang hampir tidak cukup untuk satu jurus dasar. Meridiannya tersumbat—bukan karena cedera, tapi karena tidak pernah dilatih dengan benar. Otot-ototnya lembek, tidak terbiasa dengan gerakan cepat atau tahan lama.
"Menyedihkan."
Tapi...
Dia tersenyum tipis.
Di balik kelemahan ini, ada keuntungan besar. Tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang tahu bahwa Iblis Murim telah kembali. Delapan Kaisar yang mengkhianatinya mungkin sudah mati ribuan tahun lalu, tapi keturunan mereka masih ada. Cheon Mu-gi—pengkhianat itu—pasti juga sudah bereinkarnasi berkali-kali.
Mereka semua mengira Cheon Ma-ryong telah musnah.
Mereka salah.
Dia bisa bergerak dalam bayang-bayang. Membangun kekuatan dari nol. Mempelajari musuh-musuhnya tanpa mereka sadari. Dan suatu hari, ketika waktunya tiba...
"Tunggu."
Dia mengerutkan dahi.
Simma itu berdenyut lagi—denyutan pelan tapi terus-menerus, seperti detak jantung kedua. Ia mengingatkan pada sumpahnya: lindungi Klan Namgung.
Bukan hancurkan musuh-musuhnya.
Bukan balas dendam pada pengkhianat.
Tapi lindungi klan rendahan ini.
"Bocah sialan... kau mempersulit hidupku bahkan setelah mati."
Tapi Cheon Ma-ryong—Iblis Murim—bukanlah makhluk yang mudah menyerah pada keadaan. Jika dia harus melindungi Klan Namgung untuk menenangkan Simma ini, maka dia akan melakukannya. Dan jika dia harus melakukannya, dia akan melakukannya dengan caranya sendiri.
Cara Iblis.
Yakni, jadikan klan ini begitu kuat sehingga tidak ada yang berani menyentuhnya. Dan dalam prosesnya, bangun fondasi kekuasaan yang akan membawanya kembali ke puncak Murim.
Dua tujuan dengan satu langkah.
Efisien.
Pintu kamar tiba-tiba didobrak paksa.
Bukan dibuka, tapi didobrak. Engselnya berderit protes, kayunya hampir lepas.
Tiga pria berjubah hitam masuk, langkah mereka berat dan penuh arogansi. Di belakang mereka, seorang pemuda tampan dengan jubah sutra biru melangkah masuk, senyum angkuh menghiasi wajahnya yang rupawan.
Namgung So-ho.
Putra istri utama. Kakak tiri Namgung Jin. Pewaris sah Klan Namgung yang diakui semua orang.
"Hei, bocah haram. Kudengar kau masih hidup?"
Namgung Jin menatap mereka dengan mata setengah tertutup. Ingatan Namgung Jin asli memberitahunya siapa orang ini—sosok yang selama enam belas tahun selalu merendahkan, memukuli, dan menghinanya. Setiap kali bertemu, pasti ada kata-kata kasar atau tendangan atau tamparan.
Tapi sekarang...
"Aku sedang tidak ingin diganggu."
Suaranya datar. Sangat datar. Tidak ada ketakutan, tidak ada kemarahan, tidak ada getaran sedikit pun.
Namgung So-ho terkejut. Alisnya terangkat. "Hah? Apa kataku barusan?"
Ia menoleh ke para pengawalnya. "Kau dengar itu, kalian? Bocah haram ini sudah berani bicara!"
Para pengawal tertawa mengikuti—tawa palsu yang dipaksakan.
"Dengar, bocah." Namgung So-ho melangkah maju, berdiri tepat di depan Namgung Jin yang masih duduk bersila. "Ayahku—maaf, ayah kita—sedang sibuk dengan urusan penting. Tapi dia ingin tahu siapa yang mencoba membunuhmu. Jadi ceritakan semuanya. Siapa dalangnya? Sekte mana yang mengirim mereka? Dan mungkin—MUNGKIN—aku akan melaporkannya dengan benar."
Namgung Jin menatapnya.
Lama.
Terlalu lama.
Dan kemudian, perlahan, sudut bibirnya naik.
Bukan senyum. Ini lebih seperti... seringai. Seringai tipis yang tidak pernah dimiliki Namgung Jin sebelumnya. Seringai yang membuat bulu kuduk Namgung So-ho merinding tanpa tahu sebabnya.
"Kau ingin tahu siapa yang mengirim pembunuh itu?"
"C-Cepat bicara!"
"Baiklah."
Namgung Jin berdiri. Gerakannya lambat, tampak lemah, tapi anehnya anggun. Tidak seperti bocah yang baru bangun dari koma tiga hari, tapi seperti... seperti...
Seperti ular yang baru bangun dari tidur musim dingin.
"Pembunuh itu dikirim oleh seseorang." Ia melangkah maju, satu langkah kecil. "Seseorang yang takut aku akan melampauinya. Seseorang yang tahu bahwa meskipun aku anak haram, bakat pedangku lebih besar darinya. Seseorang yang ada di ruangan ini sekarang."
Keheningan menyergap ruangan.
Wajah Namgung So-ho berubah—dari merah arogan menjadi pucat pasi dalam hitungan detik. "B-Berani-beraninya kau menuduhku?!"
"Aku tidak menuduh." Namgung Jin melangkah lagi, kini hanya berjarak satu depa dari kakak tirinya. "Aku hanya menyatakan fakta. Tapi kau tahu, So-ho-ya... ada satu hal yang tidak kau perhitungkan."
"A-Apa?"
"Kau mengirim pembunuh bayaran dari Yuhyanggok. Kau pikir mereka akan berhasil, dan tidak ada yang bisa melacaknya ke dirimu. Tapi..." Senyum itu melebar. "Tahukah kau bagaimana cara membunuh pembunuh bayaran?"
Sebelum Namgung So-ho bisa bereaksi, tangan Namgung Jin bergerak.
Gerakannya cepat—terlalu cepat untuk tubuh yang seharusnya lemah. Jari-jarinya menyentuh pergelangan tangan kanan Namgung So-ho, tepat di tiga titik berbeda, dalam urutan yang presisi.
"A! Aaaagh!"
Namgung So-ho menjerit. Tubuhnya limbung, wajahnya memucat, keringat dingin mengucur deras. Ia memegangi pergelangan tangannya, matanya membelalak ngeri.
"K-Kau... apa yang kau lakukan?! A-Aku tidak bisa merasakan lenganku!"
"Titik mati." Namgung Jin kembali ke tempat duduknya, duduk bersila dengan tenang. Ekspresinya datar, seolah baru saja menukar resep masakan, bukan melumpuhkan seseorang. "Ada tiga titik mati di pergelangan tangan kanan. Namanya Samgyeolhyeol. Jika ditekan dengan urutan yang benar, energi dalam tubuh akan kacau selama tiga hari. Tidak fatal, tapi cukup menyakitkan."
Ia menatap para pengawal yang terpaku di tempat. "Bawa dia keluar. Dan sampaikan pada ayah—maaf, ayah kita—bahwa aku ingin bicara. Besok malam. Di altar leluhur."
Para pengawal itu saling pandang. Mereka adalah kultivator berpengalaman, masing-masing setidaknya memiliki 20 tahun naegong. Tapi entah kenapa, tatapan bocah di depan mereka ini membuat mereka merasa seperti tikus yang diawasi ular kobra.
Tanpa berkata apa-apa, mereka mengangkat Namgung So-ho yang masih merintih kesakitan, lalu berlari keluar.
Pintu yang sudah rusak itu dibiarkan terbuka.
Namgung Jin duduk sendirian, menatap tangannya sendiri.
"Bahkan dengan tubuh ringkih ini, pengetahuan ribuan tahun tetap berguna."
Samgyeolhyeol adalah teknik dasar dalam Kitab Sembilan Jurang—sangat dasar sehingga bahkan murid tingkat terendah pun bisa melakukannya. Tapi untuk dunia Murim saat ini, teknik itu mungkin sudah hilang atau dianggap rahasia tingkat tinggi.
Dia melirik ke luar jendela, ke arah istana utama Klan Namgung yang megah di kejauhan. Bangunan beratap hijau dengan pilar-pilar merah menjulang, halaman luas dengan latihan pedang, puluhan pengawal berjaga di setiap sudut.
Dulu, saat masih menjadi Iblis Murim, klan sebesar ini hanya layak menjadi pengikut rendahan. Tapi sekarang...
Simma di dadanya berdenyut pelan.
"Lindungi... Klan Namgung..."
Namgung Jin menghela napas—helaan napas pertama yang benar-benar manusiawi sejak ia bangun.
"Baiklah, bocah Namgung Jin. Aku akan melindungi klanmu."
Ia mengepalkan tangannya. Energi kecil—sangat kecil—mulai mengalir di meridiannya yang tersumbat. Butuh waktu, tapi ia bisa membersihkannya. Butuh latihan, tapi ia bisa memulihkan tubuh ini.
"Tapi dengan caraku sendiri."
Senyum Iblis kembali menghiasi wajah mudanya.
"Pertama, kendalikan klan dari dalam. Kedua, bersihkan semua musuh. Ketiga..."
Ia menatap langit malam.
"Cari tahu di mana kau sekarang, Mu-gi-ah. Dan persiapkan diri untuk pertemuan kita."
Di luar, angin malam bertiup lebih kencang. Awan hitam perlahan menyingkap, memperlihatkan rembulan yang bersinar pucat. Di paviliun reot di sudut belakang Klan Namgung, seorang ibu berdoa di depan altar kecil, bersyukur putranya masih hidup.
Ia tidak tahu bahwa putranya telah mati.
Dan yang hidup sekarang adalah sesuatu yang jauh lebih gelap.
Jauh lebih berbahaya.
Tapi juga—mungkin—jauh lebih mampu melindunginya.