Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan
Setelah satu jam menyusuri deretan gerai mewah yang menguras tenaga, Claire akhirnya memutuskan untuk mengistirahatkan langkah di sebuah restoran elegan yang masih berada di kawasan mal tersebut. Mikael dan Michel, kedua buah hatinya, duduk dengan tenang sembari menanti pesanan untuk mengisi perut mereka yang mulai lapar.
Di sisi kursi Claire, beberapa kantong belanjaan bermerek tampak berjejer, sementara sisanya—barang-barang yang terlalu besar untuk dibawa—sudah dijadwalkan untuk dikirim langsung ke kediaman mereka.
Semua kemewahan itu dibayar Claire menggunakan pundi-pundi rupiah yang ia hasilkan sendiri--- sebuah keuntungan dari kemampuan istimewanya yang membuat uang mengalir semudah membalikkan telapak tangan. Baginya, menghamburkan harta suami di saat pria itu tengah terhimpit badai masalah bukanlah pilihan yang bijak, bukan?
Namun, ketenangan momen makan siang itu seketika pecah saat tiga wanita berpakaian modis yang tampak asing tiba-tiba menghampiri meja mereka. Tanpa peringatan maupun basa-basi, salah satu dari mereka menggebrak permukaan meja dengan keras, menciptakan dentum yang membuat Mikael dan Michel tersentak kaget di tengah suapan mereka.
" CETAN KOLONG AEL.. EKHEE.. TELKEJUT NA MICEL INI! KAN! KAN MAKANAN NA JATOH!"
Claire, yang baru saja hendak menikmati hidangannya, perlahan mendongak. Tidak ada guratan ketakutan atau kepanikan di wajahnya--- ia hanya melemparkan tatapan datar yang dingin dan menusuk, mengunci pergerakan ketiga wanita itu dengan aura keberanian yang tak tergoyahkan.
" Wah, wah," Mika memulai dengan nada melengking yang menarik perhatian pengunjung lain. "Lihat siapa yang sedang menikmati hasil jarahannya. Bukankah ini wanita yang merebut tunangan orang dengan cara paling menjijikkan? Mengangkang di hadapan pria yang sudah jelas bukan miliknya?"
Grace mendengus sinis, melipat tangan di dada. "Setelah menghancurkan hidup orang, bisa-bisanya dia duduk manis di sini seolah tidak terjadi apa-apa. Liora, lihatlah! Dia bahkan tidak merasa bersalah!"
Liora menghela napas panjang, suaranya pelan dan bergetar—akting yang sempurna bagi sang Protagonis. "Sudahlah, Grace, Mika... jangan membuat keributan di tempat umum. Aku sudah mengikhlaskannya."
"Kau terlalu baik, Liora!" potong Mika cepat. "Jika bukan karena wanita murahan ini, kau dan Julian pasti sudah menikah sekarang. Entah bagaimana caranya sampai Julian bisa terjebak di ranjang bersamanya."
Claire tidak langsung menjawab. Ia justru meraih sedotan, mengaduk pelan minuman dinginnya hingga bunyi es batu beradu terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam.
"Sudah marahnya?" tanya Claire tenang, suaranya rendah namun tegas. "Jika sudah, bisakah kalian pergi? Aku sedang makan bersama anak-anakku. Jangan mengajarkan etika sampah di depan mereka."
"Kau—! Wanita tidak tahu malu!" bentak Grace, tangannya sudah terangkat hendak menunjuk wajah Claire.
Namun, sebelum jari itu sampai, Michel yang sejak tadi menunduk tiba-tiba berdiri di atas kursinya. Wajahnya yang bulat kini memerah padam, matanya berkaca-kaca menatap makanannya yang tumpah ke lantai akibat gebrakan meja tadi.
"HEH MUKA KULANG BAHAN!" teriak Michel dengan suara cemprengnya yang khas anak kecil namun penuh penekanan. "CEJAK TADI MICEL DIAM BUKAN BELALTI DILI INI NDAK BICA BICALA! MICEL CEDANG MELATAPI MAKANAN YANG JATOH KE BAWAH! HEH! TANTE PELAKOL!"
Mika ternganga, "Apa kau bilang?! Bocah kecil, siapa yang kau panggil pelakor?"
"TEMAN NA? CULUH PELGI! EMOCI CEKALI MICEL INI!" lanjut Michel tak peduli.
Grace membentak balik, "Siapa yang kau sebut pelakor, hah? Yang pelakor itu Mama mu! Dia yang mengambil posisi Liora!"
Michel berkacak pinggang, matanya menatap tajam ke arah Liora dan kawan-kawannya. "Cekalang Micel tanya di cini! Tante pelakol punya ctatuc ndak cama Daddy? Di buku nikah, nama Tante pelakol ada ndak yang telcatat? JIKA TIDAK, ITU BELALTI NAMA NA PELAKOL! CEKALANG YANG JADI ICTLI NA DADDY ITU MOMMY. KALO KATA OLANG, JANUL KUNING YANG CUDAH MELENGKUNG NDAK BICA DI TIKUNG!"
Mikael, yang sejak tadi diam mengawasi, kini ikut bersuara sambil mengusap punggung adiknya agar lebih tenang. Ia menatap ketiga wanita itu dengan tatapan dewasa yang tidak seharusnya dimiliki anak seumurannya.
"Tante," kata Mikael tenang namun menusuk. "Logika adikku benar. Di negara ini, status istri sah ditentukan oleh hukum dan dokumen resmi. Jika nama Mommy yang ada di sana, maka siapapun yang mencoba mengganggu posisi itu termasuk kalian yang berteriak di sini adalah pengganggu yang tidak punya harga diri. Jadi, tolong pergi dari sini, aku tidak ingin ada keributan."
Claire tersenyum tipis, seolah bangga dengan cara anak-anaknya membela diri. Ia kembali menyesap minumannya, menunggu reaksi selanjutnya dari ketiga wanita yang kini terpaku menahan malu.
" Sudah cukup! Kalian berdua jangan membuat keributan di sini," tegur Liora, sang protagonis, meski suaranya terdengar lemah seolah hanya formalitas.
Grace mendengus kasar, matanya menyalang menatap Claire. "Tapi Liora, wanita licik seperti dia memang harus diberi pelajaran! Lihat wajah tidak berdosanya itu!"
Claire meletakkan garpunya perlahan, menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain. "Jadi, apa rencana kalian selanjutnya? Memukul wajahku? Menjambak rambutku?"
Ia menyandarkan tubuh, menatap mereka bertiga dengan tatapan meremehkan. "Kalian benar, apa yang aku lakukan dulu adalah kesalahan besar. Karena itu, jika kau, Liora. Memang sangat menginginkan Julian kembali, silakan. Aku akan menyingkir dengan senang hati. Mungkin di luar sana aku bisa mencari duda yang jauh lebih kaya dan lebih berkuasa."
Michel, yang mulutnya penuh dengan makanan menyahut tanpa beban, "Atau cugal daddy juga ndak macalah, yang penting dompetnya tebel,"
Mikael hanya bisa memijat pelipisnya sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya dan ketenangan ibunya.
"Oho, lihat perhitungannya!" Grace tertawa sinis. "Kenapa? Apa karena sekarang perusahaan Julian sedang tertimpa masalah? Ayahku adalah salah satu investor di sana, dan aku tahu persis perusahaan Lergan sedang menuju kehancuran."
Mika, wanita di sebelah Grace, ikut menimpali dengan nada jijik, "Wanita tidak tahu malu. Bisa-bisanya setelah kau mendapatkan berlian, saat berlian itu mulai redup dan tidak berkilau, kau langsung membuangnya begitu saja?"
Claire tertawa kecil, suara tawa yang terdengar dingin dan tajam.
"Aku punya wajah cantik dan kemampuan yang lebih dari cukup. Tidak mungkin aku menghabiskan sisa hidupku dengan pria yang tidak berguna seperti Julian hanya demi sebuah loyalitas konyol," Claire berdiri, merapikan pakaiannya yang tak sedikit pun kusut.
Ia menatap Liora tepat di mata. "Liora, ambil saja dia. Bukankah kau masih mencintainya." Liora mengepalkan tangan nya, entah kenapa dia menjadi sangat marah.
Di tengah sengitnya adu argumen yang kian memanas, ketika kata-kata tajam baru saja hendak terlontar kembali dari bibir Claire, sebuah dentum tumpul yang mendadak memotong atmosfer tegang di meja mereka terdengar.
Di sudut ruangan, seorang pria yang semula tampak tenang mendadak tersentak dari kursinya, tubuhnya mengejang hebat sebelum akhirnya jatuh terjerembap ke lantai yang dingin dengan suara yang memilukan.
Tangannya mencengkeram erat tenggorokannya sendiri seolah sedang berusaha merobek sesuatu yang kasat mata, sementara wajahnya memerah padam dalam keputusasaan mencari oksigen yang seakan lenyap dari sekitarnya.
Seketika itu juga, perdebatan Claire terhenti begitu saja-- keheningan mencekam menyergap restoran sebelum akhirnya berubah menjadi hiruk-pikuk kepanikan saat semua pasang mata, termasuk Claire yang masih mematung, beralih pada sosok yang kini berjuang di ambang maut tersebut.
"SAYANG! TOLONG, PANGGILKAN AMBULANS!" jerit kekasih dari pria itu menyayat keheningan yang mencekam, sementara Mika dengan sigap mendorong Liora untuk segera bertindak, mengingatkan statusnya sebagai seorang tenaga medis.
Meski langkahnya terseret kepanikan yang sulit disembunyikan, Liora mendekat dan mencoba mengambil alih situasi dengan suara bergetar, "Permisi, aku seorang dokter, biar aku periksa," kata Liora seraya menatap wajah pria itu yang kini memerah padam akibat kekurangan oksigen.
Namun, di tengah sorot mata penuh harap dari kerumunan, Liora justru membeku dalam keraguan--- statusnya yang baru sebatas asisten dokter membuatnya merasa lumpuh tanpa peralatan medis di tangannya, sementara di sudut lain, Claire berdiri mematung dengan ketenangan yang ganjil, matanya yang tajam mengamati setiap gerak-gerik Liora seolah sedang menonton sebuah pertunjukan yang hasilnya sudah ia prediksi.
•
•
•
BERSAMBUNG