Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.
Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Menahan Saya Lagi
Eisérre berdiri tegak, namun tangannya yang tersembunyi di balik punggung mengepal hingga buku jarinya memutih. Matanya menatap Geneviève dengan sorot yang penuh luka, namun lidahnya seolah lumpuh. Ia ingin meneriakkan bahwa ia melakukan semua ini karena ia mencintainya, karena ia takut kehilangan nyawanya di tangan para pengkhianat, tapi harga diri dan rasa bersalah menahan kata-kata itu di tenggorokannya.
"Saya tidak mengizinkan Anda pergi, Putri," suara Eisérre berat dan kaku, mencoba menggunakan otoritas militernya sebagai tameng terakhir.
Geneviève berdiri dari ranjang, meskipun tubuhnya masih sedikit lemah, ia berdiri dengan dagu tegak. Keanggunannya kembali seratus persen.
"Apa alasan Anda menahan saya, Tuan Jenderal?" tanya Geneviève dingin. "Sebagai apa Anda menahan saya di sini? Sebagai tahanan perang? Atau sebagai koleksi pribadi Anda?"
Eisérre hanya diam. Matanya yang biru bergetar, menatap Geneviève seolah-olah ia sedang menatap dunianya yang perlahan hancur.
"Tolong, jangan menahan saya lagi," nada suara Geneviève melembut, namun tetap tegas. "Saya punya keluarga yang mungkin tengah sedih karena mencari dan mengkhawatirkan saya. Ibu saya, ayah saya dan mungkin juga kakak saya... mereka lebih membutuhkan saya daripada Paviliun sepi ini membutuhkan hiasan."
Mendengar kata "keluarga", pertahanan Eisérre runtuh. Ia sadar ia tidak punya hak untuk mencuri Geneviève lebih lama lagi. Dengan berat hati, ia memundurkan langkahnya, memberi jalan menuju pintu. Eisérre kalah—bukan oleh senjata, tapi oleh realita.
Namun, saat Geneviève melangkah keluar menuju aula utama untuk meninggalkan kediaman Valois, Madame Hestia sudah berdiri di sana bersama beberapa pelayan, berusaha menghalangi jalan.
"Kau mau ke mana, gadis tidak tahu diri?" Madame Hestia mendesis, menatap Geneviève dengan tatapan menghina yang sama seperti semalam. "Eisérre mungkin lemah padamu, tapi aku tidak. Kau tidak akan keluar dari pintu ini sebelum aku mengizinkannya!"
Geneviève berhenti tepat di depan wanita tua itu. Tidak ada lagi raut ketakutan atau pingsan. Geneviève tersenyum—senyum yang sangat tajam, senyum seorang penguasa yang sedang menghadapi rakyatnya yang membangkang.
"Madame Hestia," suara Geneviève terdengar tenang namun bergema di aula. "Saya sarankan Anda menarik kembali kata-kata kotor Anda sebelum saya memutuskan untuk menuntut keluarga Valois atas penghinaan terhadap anggota keluarga kerajaan."
Madame Hestia tertawa sinis. "Kau? Anggota kerajaan? Kau hanya sampah yang dipungut cucuku dari tumpukan mayat!"
"Sampah?" Geneviève maju satu langkah, membuat Madame Hestia tanpa sadar mundur. "Jika saya adalah sampah, maka rumah ini adalah tempat penimbunannya. Anda hidup dalam delusi keagungan keluarga Valois, padahal cucu Anda adalah satu-satunya alasan kenapa nama keluarga ini masih dihormati di d'Orléans."
Geneviève menatap tajam mata wanita tua itu. "Saya adalah Geneviève d’Orléans, Putri Mahkota Anda. Dan jika saya mendengar satu kata lagi keluar dari mulut beracun Anda yang tidak sopan, saya pastikan masa tua Anda akan dihabiskan di pengasingan yang paling sunyi, jauh dari kemewahan yang selama ini Anda banggakan."
Aula itu mendadak sunyi senyap. Para pelayan menunduk ketakutan. Madame Hestia mematung, wajahnya pucat pasi menyadari bahwa otoritas gadis ini jauh melampaui siapapun di ruangan itu.
Geneviève kemudian menoleh ke arah Eisérre yang berdiri di kejauhan, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tanpa sepatah kata lagi, Geneviève melangkah keluar, menembus pintu besar kediaman Valois.
Eisérre hanya bisa berdiri membeku. Ia ingin mengejar, ingin memeluknya, ingin mengatakan "Aku mencintaimu, Ève," tapi ia hanya bisa melihat punggung wanita itu menjauh. Ia tahu, mulai detik ini, hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi.