Sebuah rumah kontrakan tua di pinggiran kota terlihat seperti rumah biasa.
Catnya kusam, halamannya sepi, dan harganya sangat murah. Terlalu murah untuk ukuran rumah sebesar itu.
Karena kebutuhan dan kondisi keuangan, tiga sahabat Raka, Bima, dan Siska memutuskan untuk menempatinya tanpa banyak bertanya.
Namun sejak malam pertama, mereka mulai menyadari bahwa rumah itu menyimpan sesuatu yang tidak biasa.
Pintu sering terbuka sendiri.
Kursi goyang bergerak tanpa ada yang menyentuh. Terdengar suara langkah dari loteng setiap tengah malam.
Dan yang paling mengejutkan… rumah itu ternyata sudah lama dihuni oleh makhluk tak kasat mata.
Pocong yang suka memasak mie di dapur. Kuntilanak yang gemar menonton sinetron.
Hingga sosok misterius dari kamar belakang yang jarang muncul, namun selalu membuat bulu kuduk berdiri.
Di rumah itu, manusia dan hantu hidup berdampingan… meski tidak selalu damai.
Karena satu per satu rahasia rumah tersebut mulai terungkap.
ini bukan rumah biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan Sang Pewaris
Latihan Sang Pewaris
Pagi akhirnya datang di rumah tua itu.
Sinar matahari masuk melalui jendela ruang tamu yang retaknya masih terlihat jelas setelah pertempuran semalam.
Halaman rumah pun belum sepenuhnya bersih. Tanah yang retak dan pagar yang rusak masih menjadi saksi bahwa sesuatu yang tidak biasa telah terjadi di tempat itu.
Namun suasana pagi tetap terasa… anehnya damai.
Di dapur, Bima sedang menggoreng telur sambil menguap.
“Gue masih nggak percaya semalam kita lawan iblis,” katanya sambil membalik telur di wajan.
Siska duduk di kursi dapur dengan tangan bersedekap.
“Kamu malah masih sempat masak?”
Bima mengangkat bahu.
“Perut tetap butuh sarapan walaupun dunia mau kiamat.”
Di meja makan, Ucup sedang minum kopi dengan santai.
“Prioritas hidup Bima memang jelas.”
Namun pagi itu ada tamu baru di rumah.
Ratu Kumbang berdiri di halaman sambil mengamati lingkungan rumah dengan tatapan tajam seperti pemangsa yang sedang memetakan wilayahnya.
Bondan berdiri tidak jauh darinya, memperhatikan halaman yang rusak.
“Pertempuran semalam cukup hebat,” katanya.
Ratu Kumbang mengangguk pelan.
“Namun itu baru awal.”
Di sisi lain halaman…
Raka berdiri memegang tongkat penjaga.
Di depannya berdiri Neli.
Angin pagi meniup rambut panjangnya yang berkilau lembut di bawah sinar matahari.
Ia menatap Raka dengan ekspresi serius.
“Kau harus belajar mengendalikan kekuatanmu.”
Raka menggaruk kepalanya.
“Masalahnya… gue bahkan nggak tahu cara memakainya.”
Neli tersenyum kecil.
“Itu sebabnya kami di sini.”
Ia melangkah mundur beberapa langkah.
“Coba fokus pada cincin itu.”
Raka menatap cincin di jarinya.
Cincin hitam dengan batu merah itu masih terasa hangat.
“Bayangkan kekuatan itu sebagai bagian dari dirimu,” kata Neli.
“Bukan sesuatu yang asing.”
Raka menarik napas dalam-dalam.
Ia mencoba memusatkan pikirannya.
Namun beberapa detik kemudian—
Tidak terjadi apa-apa.
Bima yang melihat dari jendela langsung berkomentar.
“…kayak lagi isi chakra.”
Siska memutar mata.
“Bima…”
Di halaman…
Raka membuka matanya lagi.
“Kayaknya gue nggak bakat.”
Neli tertawa kecil.
“Terlalu cepat menyerah.”
Ia mendekat lalu mengangkat tangan Raka.
“Coba lagi.”
Saat tangan mereka bersentuhan…
cincin di jari Raka tiba-tiba menyala merah samar.
Neli sedikit terkejut.
“Kau merasakannya?”
Raka mengangguk pelan.
“Seperti… ada sesuatu di dalam tubuh gue yang bergerak.”
Neli tersenyum.
“Bagus.”
Namun tiba-tiba
BOOOM!
Aura gelap kecil meledak dari tubuh Raka.
Angin berputar di halaman.
Daun-daun beterbangan.
Bima yang melihat dari jendela langsung berteriak,
“RAK UPGRADE!”
Siska langsung menutup wajahnya.
“Ini bukan game!”
Bondan menyeringai melihat itu.
“Kekuatannya mulai muncul.”
Ratu Kumbang tetap tenang.
Namun matanya terlihat puas.
“Darah raja itu memang tidak pernah lemah.”
Di tengah halaman…
Raka menatap tangannya dengan kaget.
“Gue… yang bikin itu?”
Neli mengangguk.
“Dan itu baru sebagian kecil dari kekuatanmu.”
Namun jauh dari tempat itu…
ribuan kilometer dari Indonesia…
di dalam kastil gelap milik Dracula…
suasana jauh lebih menyeramkan.
Aula besar kastil itu dipenuhi bayangan makhluk malam.
Puluhan vampir berdiri berjajar seperti pasukan.
Di ujung aula, Raja Dracula berdiri dengan jubah hitam panjangnya.
Matanya merah menyala.
Di sampingnya berdiri pemimpin iblis pemberontak.
Dracula memandang peta dunia besar yang terbentang di atas meja batu.
Tangannya menunjuk satu titik.
Indonesia.
“Terlalu lama dunia manusia tidak mengetahui keberadaan kami,” katanya pelan.
Pemimpin iblis menyeringai.
“Dan sekarang pewaris raja kegelapan bersembunyi di sana.”
Dracula tersenyum tipis.
Ia menoleh kepada para vampir.
“Sudah waktunya perburuan dimulai.”
Ia mengangkat tangannya.
Kabut merah muncul di ruangan itu.
“Pergilah.”
“Temukan pewaris raja kegelapan itu.”
Puluhan vampir langsung berubah menjadi kabut hitam dan terbang keluar dari kastil.
Pemimpin iblis tertawa pelan.
“Perang akhirnya dimulai.”
Dracula menatap langit malam dengan mata penuh dendam.
“Raja kegelapan… kali ini aku akan menghapus seluruh garis darahmu.”
Sementara itu…
di rumah tua yang tampak biasa itu…
Raka masih berlatih mengendalikan kekuatannya.
Tanpa ia sadari…
pasukan vampir dari Eropa sudah mulai bergerak menuju Indonesia.
Dan ancaman yang datang…
jauh lebih berbahaya dari yang pernah mereka hadapi sebelumnya.
Jika rasa penasaran kalian sudah tak tertahan, pastikan kalian terus mengikuti perjalanan ini… dan jangan lupa mampir untuk membaca, karena setiap halaman menyimpan rahasia yang tak akan kalian lihat sebelumnya. 🙏
Tulis di komentar ya 👇 Jangan lupa like dan vote supaya cerita ini terus lanjut ke session 2 ya...👍