Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Pria Asing
Ketiga motor itu akhirnya berhenti di sebuah warung kopi pinggir jalan yang sudah cukup terkenal di kalangan anak sekolah sekitar. Tempatnya sederhana, hanya beratap seng dengan beberapa bangku kayu panjang dan meja plastik yang warnanya sudah pudar dimakan matahari. Namun bagi Ge, Bimo, dan Taufik, tempat seperti itu justru terasa paling nyaman.
Ge mematikan motornya dengan suara ceklek, lalu melepas helm dan menaruhnya di meja.
“Ahh… bebas juga akhirnya,” katanya sambil meregangkan leher.
Bimo langsung duduk sambil mengibaskan tangannya ke arah ibu warung. “Bu! Tiga kopi sachet sama gorengan!”
Ibu warung yang sudah hafal wajah mereka hanya menggeleng kecil. “Kalian bolos lagi ya?”
Taufik tertawa cengengesan. “Ibu terlalu pintar.”
Ge ikut duduk sambil menyandarkan punggung ke bangku kayu. Dia menatap jalanan yang ramai dengan kendaraan lewat. Angin siang yang panas tetap terasa lebih enak dibanding duduk di kelas mendengarkan guru ceramah panjang.
Tak lama kemudian, dua anak dari sekolah lain datang menghampiri. Salah satunya bertubuh tinggi dengan rambut cepak, sementara yang satu lagi memakai jaket hitam dan membawa helm di tangan.
“Woy!” sapa anak yang tinggi.
Ge mengangkat dagu. “Lama banget lu, Jar.”
Anak itu tertawa sambil duduk. “Macet, goblok.”
Temannya ikut duduk di sebelah Taufik.
“Pak Rudi ngejar lu lagi?” tanya dia.
Bimo langsung tertawa keras. “Anjir! Tadi hampir ketangkep!”
Taufik menirukan gaya Pak Rudi berlari dengan muka galak. “BERHENTI KALIAN!”
Semua langsung tertawa.
Ge mengambil satu gorengan yang baru datang lalu menggigitnya santai. “Guru juga butuh olahraga,” katanya.
Bimo menunjuk Ge sambil masih tertawa. “Ini yang nyuruh lari!”
“Ya masa kita diskusi dulu sama Pak Rudi?” jawab Ge.
Anak dari sekolah lain yang bernama Ajar menggeleng sambil tertawa. “Lu bertiga emang kacau.”
"Lah, kayak lu nggak kacau aja, Bro!" balas Ge.
Obrolan mereka kemudian berubah jadi cerita macam-macam. Mulai dari balapan motor minggu lalu, anak sekolah yang hampir berantem di lapangan futsal, sampai gosip murid baru di sekolah masing-masing.
Bimo tiba-tiba menepuk meja.
“Eh! Di sekolah kita ada murid baru!”
Taufik langsung menyeringai. “Cantik.”
Ajar mengangkat alis. “Seberapa cantik?”
Ge mengangkat bahu santai. “Lumayan.”
Bimo langsung protes. “LUMAYAN KATANYA!”
Semua tertawa lagi.
“Namanya Naya,” lanjut Taufik. “Baru masuk kemarin.”
Ajar menyandarkan badan ke kursi. “Udah ada yang deketin?”
Bimo menunjuk Ge dengan jempol. “Ini orang pertama yang ngegombal.”
Ge hanya minum kopinya dengan santai.
“Profesional,” katanya singkat.
Teman mereka yang memakai jaket hitam tertawa kecil. “Lu kalau kejar cewek emang nggak ada rem ya.”
Ge menaruh gelas kopinya. “Rem itu buat motor.”
Obrolan mereka terus berjalan santai. Suasana warung kopi itu dipenuhi suara tawa mereka yang keras. Beberapa orang dewasa yang duduk di meja lain bahkan sempat menoleh karena mendengar suara mereka.
Sementara itu, di sisi lain jalan yang tidak terlalu jauh dari warung tersebut, pria kurus berkemeja abu-abu tadi masih berdiri. Kali ini dia duduk di atas motor tua sambil memperhatikan ke arah warung.
Matanya tertuju pada Ge yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Pria itu mengamati setiap gerakan anak itu dengan tenang. Cara Ge duduk, cara dia bicara, bahkan cara dia tertawa.
Beberapa detik kemudian pria itu mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia membuka sebuah foto lama yang terlihat sudah agak pudar.
Foto itu menunjukkan seorang pria muda dengan wajah tegas. Pria kurus itu lalu mengangkat pandangannya kembali ke arah Ge. Dia membandingkan wajah di foto dengan wajah Ge yang sedang tertawa di warung. Sudut bibirnya perlahan terangkat.
“Tidak salah lagi…” gumamnya pelan. Dia memasukkan kembali ponselnya ke saku. Matanya masih terpaku pada Ge. Seolah-olah kehadiran anak badung itu bukan sekadar kebetulan. Melainkan jawaban dari sesuatu yang selama ini dia cari.
Setelah berpikir lama, Arif pun memutuskan mendekati Ge.
...***...
Di tengah tawa dan obrolan yang makin ramai, Ge sedang menggigit gorengan terakhir ketika tiba-tiba ada bayangan berhenti di depan meja mereka. Seorang pria kurus dengan kemeja abu-abu berdiri di sana. Wajahnya tenang, tapi matanya menatap langsung ke arah Ge.
Ge mengangkat alis.
“Kenapa, Om?” tanyanya santai.
Bimo dan Taufik ikut menoleh. Mereka mengira pria itu mungkin pelanggan lain yang salah meja.
Namun pria itu tidak menjawab pertanyaan Ge. Dia justru berkata pelan, “Kamu Sage Iskandar?”
Ge mengernyit sedikit.
“Kenapa?”
Pria itu menarik kursi kosong di dekat mereka lalu duduk tanpa meminta izin.
Bimo langsung berbisik ke Taufik, “Ini siapa?”
Taufik mengangkat bahu.
Pria itu akhirnya memperkenalkan diri. “Nama saya Arif.”
Ge menatapnya dari atas sampai bawah.
“Terus?”
Arif menghela napas kecil. “Saya ingin bicara denganmu sebentar. Berdua saja.”
Meja itu langsung hening.
Bimo menunjuk dirinya sendiri. “Kami harus pergi gitu?”
Arif hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap Ge.
Ge sebenarnya bingung. Namun rasa penasaran membuatnya berdiri. “Yaudah,” katanya santai. “Bentar.”
Dia berjalan sedikit menjauh dari meja, ke sisi warung yang agak sepi. Arif mengikutinya. Beberapa meter dari teman-temannya, Ge melipat tangan.
“Nah, sekarang ngomong. Ada apa?”
Arif menatap wajah Ge cukup lama. Seolah memastikan sesuatu.
Ge mulai tidak sabar. “Om kalau mau jual asuransi mending langsung aja ya.”
Arif akhirnya bicara. “Kamu bukan anak Tarno dan Marni.”
Kalimat itu membuat Ge mengernyit. “Apaan?”
Arif melanjutkan dengan suara tenang. “Mereka memang yang membesarkanmu. Tapi mereka bukan orang tuamu yang sebenarnya.”
Ge menatapnya beberapa detik.
Lalu tiba-tiba… dia tertawa.
“HAHAHAHA!” Tawanya cukup keras sampai Bimo menoleh dari kejauhan.
Ge menepuk bahu Arif.
“Om… serius?”
Arif tetap tenang. “Saya tidak bercanda.”
Ge masih tertawa. “Om ini habis nonton drama ya?”
Arif mengerutkan kening.
Ge mengangkat tangan sambil menahan tawa. “Yang lagi viral itu loh… drama China.” Dia membuat nada dramatis. “Tiba-tiba ada orang datang terus bilang ‘sebenarnya kamu anak orang kaya!’”
Ge menunjuk dirinya sendiri. “Terus nanti Om bilang bokap aku CEO perusahaan gede, kan?”
Arif diam.
Ge malah makin tertawa. “HAHAHA! Anjir! Plotnya sama persis!”
Arif berkata pelan, “Nama keluarga itu Armansyah.”
Tawa Ge perlahan berhenti. Namun hanya sebentar. Dia kembali tertawa kecil.
“Om… serius deh. Kalau mau nipu orang jangan aku. Aku memang anak SMA, tapi aku nggak bodoh.”
Arif mengeluarkan ponselnya. “Ini bukan penipuan.”
Ge melambaikan tangan malas. “Om, aku ini anak rentenir. Bokapku tiap hari nagih utang orang. Mak aku kalau marah pakai sandal.”
Dia menunjuk dirinya sendiri lagi. “Liat mukaku. Muka orang kaya?”
Arif menatapnya tajam. “Kamu anak tunggal keluarga Armansyah.”
Ge langsung menepuk dahinya. “Waduh… makin jauh ceritanya.”
Dia berjalan sedikit memutar sambil tertawa. “Om tau nggak? Di internet lagi rame meme ‘Ayahku adalah CEO’.”
Ge menirukan gaya drama. “‘Nak… sebenarnya kamu pewaris perusahaan triliunan!’”
Dia kembali menatap Arif. “Terus aku jawab… ‘Oh tidak! Kenapa aku hidup miskin selama ini?’”
Ge pura-pura menyeka air mata. “Om serius deh… aktingnya bagus.”
Arif tetap tidak tersenyum. Justru tatapannya makin serius. "Kalau kamu nggak percaya, saya bisa buktikan," ucapnya.
Ge sontak terkesiap.