Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alena Versi Cowok
Meeting Room, Kantor Redaksi Hotnews.com
"Kerja bagus, Alena. Kerja bagus," puji Pak Indra.
"Tapi lain kali, harus ada yang jaga di mobil," kata Pak Indra mengingatkan.
"Siap, Pak!" jawab Alena, bangga.
"Berdasarkan foto yang kamu dapat, sepertinya, pihak minyak goreng Kita Sehat tidak terlibat secara langsung," kata Pak Indra sambil melihat foto-foto dokumen yang Alena dapat dari sebuah ruang yang di duga tempat pengoplosan minyak goreng.
"Kita perlu memberikan pertanyaan resmi pada pihak minyak Kita Sehat terkait kasus ini, Pak," kata Andrean. Pak Indra mengangguk setuju.
"Benar,"
"Dilihat dari kontrak kerja itu, sepertinya ada pihak kedua yang menjadi perantara kalau seandainya minyak Kita Sehat benar-benar terlibat," kata Alena. Pak Indra dan Andrean membaca kembali dokumen kontrak kerja yang dibubuhi tandatangan di atas materai.
"Ini nama perorangan," kata Andrean. Alena mengangguk mantap.
"Kita perlu sampel minyak langsung dari pabrik minyak Kita Sehat," kata Alena.
"Tapi berdasarkan izin usaha, pabriknya terletak di dekat ibu kota," kata Andrean.
"Kita nggak bisa minta mengirim sampel. Bisa jadi sampel yang dikirim minyak goreng yang tanpa bahan campuran," lanjut Andrean. Alena manggut-manggut.
"Kita coba beri mereka pertanyaan terkait kasus ini dulu. Kita lihat bagaimana respon mereka. Baru setelah itu kita ambil tindakan," kata Pak Indra memberi perintah.
"Baik, Pak," kata Alena dan Andrean bersamaan.
"Kalian boleh istirahat dulu," kata Pak Indra pada Andrean dan Alena, lalu meninggalkan ruang rapat. Alena berdiri hendak mengikuti Pak Indra keluar ruangan.
"Lo mau kemana?" tanya Andrean pada Alena. Alena menoleh.
"Pulang bentar. Mandi. Badan gue bau minyak tengik," kata Alena.
"Gue anter," kata Andrean lalu berdiri dan keluar ruang rapat mendahului Alena. Alena mengerutkan alisnya, heran campur bingung dengan sikap Andrean. Tapi, kemudian berjalan keluar ruang rapat.
"Gue bisa pulang sendiri. Lo nggak perlu repot-repot. Lo istirahat aja. Atau mau pulang juga, nggak apa-apa," kata Alena sambil berjalan di samping Andrean, merasa aneh dengan sikap Andrean yang mendadak menjadi baik. Andrean menghentikan langkahnya.
"Kemarin lo berangkat bareng gue. Jadi, pulangnya juga harus sama gue. Gue nggak mau ortu lo mikir yang nggak bener," kata Andrean.
Mata Alena membulat, kemudian melirik kiri dan kanan. Semua orang di ruangan seketika melihat ke arah mereka. Waktu bagaikan membeku. Semua orang memiliki ekspresi yang sama.
'Sejak kapan mereka pacaran?'
***
"Ini semua gara-gara lo," protes Andrean saat Andrean dan Alena sudah berada di dalam mobil.
"Lhah? Kok gue? Lo sendiri yang bikin orang-orang di kantor jadi mikir yang nggak-nggak," jawab Alena sambil memasangkan sabuk pengaman.
"Tapi, gue yakin, penjelasan robotik lo soal kita, lebih meyakinkan daripada apa yang mereka pikirkan soal kita," lanjut Alena. Andrean menyalakan mobil mesin.
"Ternyata jadi robot jurnalistik berguna juga," kata Alena. Andrean dengan cepat menoleh ke arah Alena yang senyam-senyum sendiri.
Dalam perjalanan menuju rumah Alena, baik Andrean maupun Alena memutuskan untuk tak banyak bicara. Mereka hanya mendiskusikan jam berapa mereka akan mulai memproses data investigasi yang mereka peroleh. Sepertinya keduanya sudah kehabisan tenaga.
"Thanks," kata Alena sambil melepaskan sabuk pengamannya. Andrean melakukan hal yang sama. Alena turun dari mobil diikuti Andrean.
"Lo mau ngapain?" tanya Alena bingung saat Andrean mengikutinya berjalan menuju gerbang.
"Mau ngejelasin ke ortu lo kalo lo semalem ker..."
"Kerja? Ngintai penjahat? Terjebak berdua sama lo?" sahut Alena cepat.
"They don't care, An. Bahkan mau gue nggak pernah pulang pun mereka nggak akan peduli," lanjut Alena. Andrean mengerutkan alisnya.
"Udah. Lo pulang aja. Makasih udah nganterin gue. Ketemu di kantor abis makan siang," kata Alena lalu membuka pintu gerbang dan berjalan masuk menuju rumah tanpa menoleh ke arah Andrean yang membatu di depan gerbang.
Andrean masih berdiri di depan gerbang rumah Alena saat Alena sudah tenggelam ditelan pintu depan. Sebuah tepukan di bahu mengagetkan Andrean.
"Temennya Lena?" tanya seorang pria berusia sekitar pertengahan tiga puluh tahunan. Andrean mengangguk kaku.
"Eee~ tumben ngajakin pulang pagi temen cowok. Cowoknya?" tanya pria itu lagi. Andrean dengan cepat menggelengkan kepalanya. Pria itu tertawa.
"Gue abangnya Lena, Aldi," kata pria itu sambil mengulirkan tangannya.
"Andrean," kata Andrean sambil menjabat tangan Aldi.
Andrean menatap Aldi. Dia adalah bentuk visual Alena versi cowok. Terlihat bebas dan keras. Rambut separo gondrong dengan pakaian casual dan tas kamera yang bertengger di pundak, cukup membuat Andrean tahu kalau Aldi adalah seorang fotografer.
"Masuk dulu," ajak Aldi.
"Nggak usah, Bang. Udah diusir barusan," jawab Andrean.
"Ahahahaha... Pantesan nggak pernah punya cowok. Cowok secakep ini diusir. Lena, Lena," komentar Aldi. Andrean tersenyum kikuk.
"Mari, Bang," pamit Andrean.
"Eeee... Masuk dulu," ajak Aldi sambil menarik lengan Andrean.
"Tapi..."
"Jadi tamu gue. Udah. Aman," kata Aldi lalu berjalan sambil menarik paksa Andrean. Dengan enggan, Andrean mengikuti Aldi masuk ke rumah.
Rumah Alena —seperti kebanyakan rumah orang kaya— memiliki halaman depan yang luas. Di sisi kanan kiri gerbang terdapat taman bunga yang terawat dengan baik. Rumah Alena bergaya modern klasik dengan dua pilar besar menghiasi teras rumah —tipe-tipe rumah orang kaya yang sering dipakai shooting sinetron. Di lantai dua terdapat beranda terbuka yang cukup luas di sisi kanan rumah.
Andrean menatap takjub rumah Alena. Dia semakin tak habis pikir mengapa Alena mau bekerja menjadi jurnalis kanal berita online kelas tiga.
"Lo udah lama jadi jurnalis?" tanya Aldi pada Andrean saat mereka memasuki rumah.
"Eh? Oh, lima tahun, Bang," jawab Andrean.
"Wuuuiiih... Senior dong," puji Aldi. Andrean tersenyum kikuk.
Keduanya kini naik menuju lantai dua. Rumah Alena terlihat sepi. Bahkan tanda-tanda Alena yang baru beberapa menit yang lalu masuk pun tak terlihat.
"Itu kamar Lena," kata Aldi sambil menunjuk satu kamar di dekat beranda luas yang tadi terlihat dari halaman. Andrean menatap kamar yang pintunya sedikit terbuka itu.
"Kalian abis liputan?" tanya Aldi pada Andrean saat membuka pintu kamarnya.
"Iya, Bang," jawab Andrean lalu masuk ke kamar Aldi. Aldi membiarkan pintu kamarnya terbuka.
"Semaleman?" tanya Aldi sambil menaruh tasnya di atas meja yang sepertinya meja kerjanya. Andrean mengangguk.
"Gimana Lena?" tanya Aldi tiba-tiba membuat Andrean tak tahu harus mengatakan apa.
"Eh? I-itu..."
Aldi terkekeh.
"Agak susah ya ngomongin dia sama abangnya?" tanya Aldi, masih terkekeh.
"Keras kepala?" tanya Aldi.
"Sedikit,"
Lagi-lagi Aldi terkekeh.
"Dulu dia nggak gitu. Tapi, sejak keluar dari PDX dia jadi agak sedikit keras, bebas, dan... berani," kata Aldi sambil menatap sebuah bingkai foto di meja kerjanya.
Andrean menatap Aldi yang seperti tenggelam dalam pikirannya. Andrean sedikit bisa menebak, bahwa keputusan Alena keluar dari PDX sedikit banyak mengubah dirinya sendiri.
'Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?'
***
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤