NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 11 — Ingatan yang Terkubur

Malam turun perlahan di rumah tua itu, membawa serta udara lembap yang membuat dinding-dinding terasa semakin sempit. Dimas baru saja kembali dari panti asuhan Kasih Ibu. Pikirannya penuh, kepalanya berdenyut, dan setiap langkahnya di lantai kayu terasa lebih berat dari biasanya.

Di ruang tengah, Aluna duduk bersila di lantai. Rambutnya dibiarkan terurai, bros perak berbentuk kupu-kupu masih ia genggam erat di tangan kiri. Matanya kosong menatap titik tak terlihat di dinding.

Digo berada tak jauh darinya, mengawasi dengan wajah tegang. Sejak sore, Aluna lebih diam dari biasanya.

“Alun,” Digo memanggil pelan. “Mas Dimas sudah pulang.”

Aluna tidak menoleh.

Dimas mendekat perlahan. “Aluna?” suaranya lembut, seperti berbicara pada anak kecil. “Mas di sini.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang aneh. Lalu—tiba-tiba—Aluna mengangkat tangannya dan mengetukkan jari telunjuknya ke lantai kayu.

Tok.

Dimas berhenti melangkah.

Aluna mengetuk lagi. Kali ini dua kali berturut-turut.

Tok… tok.

Bunyi itu kecil, nyaris tak berarti. Tapi dada Dimas langsung menegang. Ada sesuatu yang salah. Bukan bunyinya—melainkan ritmenya.

Aluna mengulanginya lagi. Kali ini lebih cepat.

Tok. Tok. Tok.

Jantung Dimas berdegup keras. Tangannya mengepal tanpa sadar. Di kepalanya, sebuah pintu tua berderit terbuka—membiarkan ingatan yang lama terkubur muncul ke permukaan.

Bukan jeritan.

Bukan suara pecahan kaca.

Tapi bunyi ini.

Tok… tok…

“Aluna,” Dimas berkata, suaranya sedikit bergetar. “Itu bunyi apa?”

Aluna tersenyum kecil. Senyum kosong yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia lalu mengetuk lantai lagi, lebih keras.

Tok!

Dimas tersentak.

Dalam sekejap, ruang tengah itu lenyap. Ia kembali berdiri di lorong rumah dua puluh lima tahun lalu. Dalam ingatan samar yang kini mulai membentuk dirinya sendiri, bunyi itu kembali terdengar—lebih berat, lebih nyaring.

Bukan tok kayu.

Tapi tok logam.

Bunyi yang tercatat jelas dalam laporan polisi yang pernah ia baca bertahun-tahun lalu.

“Ditemukan bekas peluru di dinding ruang tamu. Diperkirakan senjata api laras pendek. Saksi tidak ditemukan.”

Dimas menelan ludah. “Go…” bisiknya tanpa mengalihkan pandangan dari Aluna. “Kamu dengar itu?”

Digo mengangguk pelan. Wajahnya pucat. “Iya. Sejak siang dia begitu. Berkali-kali.”

Aluna kini mengetuk dengan dua jari. Ritmenya tidak lagi acak.

Tok… tok… jeda… tok.

Persis seperti… tembakan berjarak.

Dimas berlutut di depan adiknya. Perlahan, sangat hati-hati, ia meraih tangan Aluna. Tangan itu dingin, tapi tidak menolak sentuhannya.

“Alun,” katanya lembut namun tegas. “Mas mau dengar. Kamu boleh cerita.”

Aluna menatapnya. Untuk sesaat—hanya sesaat—mata itu tampak fokus. Lalu bibirnya bergerak, nyaris tanpa suara.

“Bunyi jatuh…”

“Apa yang jatuh?” Dimas membujuk.

“Ayah,” jawab Aluna lirih.

Tubuh Dimas menegang. Napasnya tertahan.

Aluna menunduk, lalu kembali mengetuk lantai. Kali ini lebih pelan, seperti meniru sesuatu dari kejauhan.

Tok… tok…

“Gelap,” lanjutnya. “Kupu-kupu jatuh. Sayapnya patah.”

Dimas memejamkan mata. Gambar kupu-kupu dengan sayap hitam terpotong dari panti asuhan kembali terlintas jelas di kepalanya.

“Itu bukan permainan,” Digo berkata pelan dari belakang. Suaranya serak. “Itu ingatan.”

Aluna tiba-tiba berhenti mengetuk. Ia meremas bros kupu-kupunya erat-erat sampai buku jarinya memutih.

“Lemari,” katanya tiba-tiba. “Aku di lemari.”

Dimas membuka mata lebar-lebar. “Kamu di lemari?”

Aluna mengangguk kecil. “Mas… lari. Kakak jatuh. Banyak merah.”

Kata-kata itu sederhana. Terputus-putus. Tapi setiap katanya seperti pisau yang mengoyak dada Dimas.

Ia ingat kini.

Ia ingat suara itu—tok… tok…—bukan hanya sekali. Bukan hanya dua kali. Tapi berkali-kali. Dan setiap bunyi itu diikuti tubuh yang jatuh. Jeritan yang terputus. Lalu hening.

Aluna bukan sekadar trauma.

Ia menyimpan rekaman malam itu di dalam tubuhnya.

Dimas meraih bahu adiknya, menahan dorongan untuk memeluk terlalu keras. “Aluna,” katanya dengan suara nyaris pecah. “Siapa yang membuat bunyi itu?”

Aluna terdiam lama. Matanya bergerak ke kiri dan kanan, seperti anak kecil yang takut dimarahi.

Kemudian ia berbisik, sangat pelan:

“Sayap hitam.”

Dimas menoleh ke Digo. Wajah kakaknya menegang. Mata mereka bertemu—dan untuk pertama kalinya, mereka memahami hal yang sama tanpa perlu kata.

Marco.

Aluna mendadak menutup telinganya sendiri. Napasnya memburu. Tubuhnya mulai bergetar.

“Tok… tok… jangan…” gumamnya. “Jangan lihat… nanti dibuang…”

Dimas langsung memeluknya, menenangkan dengan suara rendah dan berulang. “Tidak apa-apa. Sudah aman. Mas di sini.”

Beberapa menit berlalu sebelum Aluna benar-benar tenang. Ketukan itu berhenti. Hanya napas tersengal yang tersisa.

Ketika akhirnya Aluna tertidur di sofa, Dimas dan Digo duduk berdampingan dalam diam yang berat.

“Itu suara senapan,” ujar Dimas pelan. “Dan dia ingat.”

Digo mengangguk. “Dan berarti… dia memang saksi.”

Dimas menatap ke arah Aluna yang tertidur, bros kupu-kupu masih tergenggam di dadanya.

Ingatan yang terkubur itu kini mulai bangkit.

Dan bersama ingatan itu, bahaya juga ikut terbangun.

Jika Marco tahu Aluna mulai mengingat…

Maka waktu mereka tidak banyak lagi.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!