NovelToon NovelToon
Tabir Terakhir

Tabir Terakhir

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegelapan

Dunia di atas permukaan Borobudur tampak seperti lukisan yang baru saja dicuci oleh hujan badai. Langit kini memiliki rona warna perak yang tenang, sebuah tanda bahwa Perisai Frekuensi yang diaktifkan Adam bekerja dengan sempurna. Namun, di dalam ruang bawah tanah yang sunyi, waktu seolah membeku. Liora masih duduk di pinggir kolam kristal, menatap tubuh Adam yang diam mematung. Napas Adam halus, hampir tidak terasa, dan kulitnya memancarkan pendaran cahaya keemasan yang sangat tipis, seolah ia adalah sebuah artefak yang baru saja diisi ulang energinya.

"Kau masih di sana, bukan?" bisik Liora, suaranya parau.

Tiba-tiba, permukaan air di kolam itu bergetar. Bukan karena sentuhan fisik, melainkan karena resonansi. Liora merasakan tekanan halus di belakang kepalanya, sebuah sensasi yang ia kenal saat Adam terhubung dengan server di Himalaya. Namun, kali ini terasa lebih hangat, lebih manusiawi.

"Liora... jangan melihat ke belakang. Lihatlah ke depan."

Suara itu bergema langsung di dalam pikiran Liora. Itu adalah suara Adam, namun terdengar lebih jernih, seolah-olah seluruh keraguan dan beban dunia telah terangkat darinya.

"Adam? Kau bisa mendengarku?" Liora berdiri, matanya mencari-cari sosok Adam di udara.

"Aku adalah bagian dari udara yang kau hirup sekarang, Liora. Aku melihat segalanya melalui getaran bumi. Dan apa yang kulihat... sangat mengkhawatirkan. Perisai ini telah mengusir Bahtera elit ke luar angkasa, tapi mereka meninggalkan 'racun' di dalam daging kita."

Adam menunjukkan sebuah visi ke dalam pikiran Liora. Sebuah peta digital Nusantara muncul di depan mata Liora. Di sana, terdapat titik-titik merah yang berkedip di beberapa kota besar: Jakarta, Surabaya, Medan, hingga pelosok Papua.

"Sel Tidur Hage emon," suara Adam memberat. "Mereka adalah agen-agen yang telah disuntik dengan serum hasil penyempurnaan dari Unit 731. Mereka tidak butuh sinyal satelit untuk bergerak. Mereka dipicu oleh kegelapan. Saat dunia kehilangan listrik dan keteraturan, mereka akan bangun sebagai pemangsa untuk memastikan kekacauan tetap berlanjut, sehingga manusia akan memohon agar elit kembali membawa 'ketertiban'."

Liora mengepalkan tangannya. "Berapa banyak dari mereka?"

"Ribuan. Dan salah satu yang terkuat berada dekat dengan kita. Di sebuah fasilitas rahasia yang tersembunyi di balik alibi pangkalan riset kelautan di Pantai Selatan Jawa. Mereka menyebutnya 'Project Nyi Roro' sebuah penghinaan terhadap legenda lokal untuk menutupi eksperimen hibrida manusia mesin yang bisa bergerak di bawah tekanan air ekstrem."

Mpu Barada, yang sejak tadi terdiam di pojok ruangan, melangkah maju. "Arsitek benar, Cah Ayu. Elit-elit itu tidak pernah benar-benar pergi. Mereka menanam benih busuk di tanah ini sejak lama. Sekarang, dengan Adam sebagai matamu di langit dan bumi, kau adalah pedang yang harus mencabut benih itu."

Adam memberikan instruksi terperinci melalui transmisi batin. Ia memberikan kode-kode over ride yang masih tersimpan di dalam kesadaran digitalnya untuk melumpuhkan sistem keamanan sel tidur tersebut.

Perjalanan Liora dimulai kembali. Dengan bantuan para Penjaga yang tersisa di Borobudur, ia dibekali dengan kendaraan taktis yang telah dimodifikasi agar tidak memancarkan frekuensi yang bisa dideteksi oleh sensor sisa elit.

Saat Liora tiba di pesisir Pantai Selatan, ia menemukan sebuah bangunan mercusuar tua yang nampak terbengkalai. Namun, melalui "mata" Adam, Liora bisa melihat bahwa di bawah mercusuar itu terdapat lift pneumatik yang menuju ke kedalaman 200 meter di bawah dasar laut.

"Masuklah melalui pipa pembuangan udara di sisi barat," suara Adam membimbing di kepalanya. "Aku akan mematikan sensor panas mereka selama sepuluh detik. Kau harus bergerak dalam ritme jantungku."

Liora menyusup dengan lincah. Di dalam fasilitas itu, pemandangannya jauh lebih mengerikan daripada di Himalaya. Jika di Himalaya Nephilim terlihat seperti malaikat porselen yang hampa, di sini mereka adalah monster yang brutal. Tubuh mereka dipenuhi dengan implan logam yang kasar, mirip dengan foto-foto eksperimen Unit 731 yang pernah ia lihat di dokumen rahasia kakeknya—kaki yang diganti dengan bilah turbin, dan paru-paru yang diganti dengan tangki oksigen cair.

"Mereka adalah pasukan pembersih pantai," Adam menjelaskan. "Tugas mereka adalah menghancurkan setiap pelabuhan yang mencoba membangun kembali perdagangan mandiri tanpa kendali Hage emon."

Liora sampai di pusat kendali sel tidur tersebut. Di sana, ia melihat seorang komandan elit sedang bersiap memberikan perintah aktivasi massal melalui kabel serat optik bawah laut yang masih berfungsi.

"Hentikan dia, Liora! Jika perintah itu terkirim, seluruh sel tidur di Indonesia akan bangun serentak!"

Liora melompat dari langit-langit, menjatuhkan dua penjaga dengan gerakan cepat. Namun, komandan itu bukan manusia biasa. Ia adalah Cyborg tipe berat yang seluruh kerangka tubuhnya terbuat dari titanium murni.

"Pemberontak kecil," komandan itu tertawa, suaranya seperti logam yang bergesekan. "Kau pikir dengan mematikan langit, kau bisa menghentikan kami? Kami adalah pemilik bumi ini, jauh sebelum Arsitek pengkhianat itu lahir!"

Pertarungan terjadi dengan sengit. Liora terdesak oleh kekuatan fisik komandan yang luar biasa. Saat komandan itu hendak menghantamkan tinjunya ke kepala Liora, tiba-tiba seluruh lampu di ruangan itu berkedip dengan pola tertentu.

"Sekarang, Liora! Gunakan frekuensi nol!"

Adam, dari bawah Borobudur, memusatkan seluruh energi perisai bumi ke titik koordinat Liora. Sebuah gelombang kejut statis meledak dari lantai, bukan untuk menghancurkan, tapi untuk "mengunci" semua bagian mekanis di tubuh komandan tersebut.

Komandan itu membeku di tempat, motor penggeraknya mengeluarkan asap putih. Liora segera mengambil kesempatan itu untuk menusukkan perangkat MP-nya langsung ke pusat saraf di belakang leher sang komandan.

"Selesai," bisik Liora sambil terengah-engah.

Ia segera mengakses konsol kendali dan memasukkan perintah penghancuran data sel tidur yang diberikan oleh Adam. Di layar monitor, ia melihat ribuan status agen elit berubah dari Active menjadi Terminted.

Namun, kemenangan itu terasa dingin. Melalui koneksi batinnya dengan Adam, Liora merasakan kepedihan yang luar biasa.

"Adam? Apa yang terjadi?"

"Mereka... mereka di Bulan... mereka tidak tinggal diam, Liora. Mereka telah mengaktifkan 'Protokol Icarus'. Mereka tahu perisai bumi tidak bisa ditembus dari luar, jadi mereka menjatuhkan 'jangkar' fisik dari orbit. Sebuah asteroid kecil yang telah dimodifikasi dengan mesin pendorong. Mereka ingin menciptakan 'reset' total melalui bencana alam jika mereka tidak bisa memiliki manusia sebagai budak."

Liora menatap langit melalui jendela kaca tebal di bawah laut. Di kejauhan, ia melihat sebuah titik cahaya merah yang sangat terang sedang turun menuju bumi dengan kecepatan luar biasa.

"Kita belum selesai, bukan?" tanya Liora dengan air mata yang mulai mengalir.

"Belum, Liora. Kita baru saja memulai perang yang sesungguhnya. Aku butuh kau untuk pergi ke lokasi ketiga. Sebuah tempat yang tertulis di dalam teks kuno sebagai 'Gunung Padang'. Di sana terdapat senjata yang tidak dibuat oleh manusia, tapi oleh mereka yang menciptakan Bumi ini. Kita harus menembak jatuh asteroid itu sebelum ia menyentuh atmosfer."

Adam Satria, sang roh bumi, dan Liora, sang pejuang raga, kini harus berlari melawan waktu. Sel-sel tidur elit mungkin sudah lumpuh, tapi ancaman dari luar angkasa sisa-sisa keserakahan elit yang tidak mau kalah kini datang dalam bentuk kehancuran fisik yang masif.

Perjalanan berlanjut. Dari pesisir selatan, mereka kini menuju ke situs megalitikum tertua di dunia. Di sana, rahasia Unit 731 dan teknologi elit akan bertemu dengan kekuatan purba yang selama ini terkubur di bawah tanah Jawa Barat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!