Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Naga Langit Tingkat Pertama
Halaman Perguruan Sungai Ular mendadak sunyi senyap, seolah-olah waktu berhenti berputar. Angin yang semula berdesir riuh kini mendadak berat, tertekan oleh benturan dua hawa murni yang memiliki sifat bertolak belakang.
Wang Long melangkah pelan ke tengah pelataran batu pualam yang dingin. Dengan gerakan yang tenang, hampir menyerupai sebuah ritual sakral, ia mengangkat kotak hitam panjang itu. Tanpa tergesa, ia mengikatnya kembali ke balik punggung menggunakan kain tebal yang melintang di bahu perkasanya.
Gerakannya sangat sederhana, namun setiap mata murid Sungai Ular yang menonton seolah terhipnotis. Ada kewibawaan yang terpancar dari setiap inci gerak-gerik pemuda itu.
Sin Yin, sang Bidadari Maut, perlahan bangkit berdiri. Meskipun dadanya masih terasa seperti dihimpit batu karang akibat tekanan tenaga dalam Tetua He sebelumnya, ia memaksakan diri untuk tegak. Matanya yang indah tidak lepas dari punggung Wang Long yang tampak seperti menara baja.
“Aura orang tua itu seberat samudera,” bisiknya lirih dalam hati. “Namun wajah pemuda ini… mengapa ia tetap setenang telaga yang tak beriak?”
Pusaka yang Bergetar
Tetua He berdiri di tangga paviliun. Janggut putihnya berkibar pelan, namun tatapannya seajam sembilu, mencoba menembus pertahanan batin lawannya. Biasanya, pendekar tingkat menengah akan langsung berlutut hanya dengan menatap matanya yang penuh wibawa. Namun Wang Long tetap lurus, napasnya stabil, tak sedikit pun terpengaruh oleh hawa intimidasi tersebut.
“Anak muda,” suara Tetua He berat, mengandung getaran tenaga dalam yang sanggup merontokkan daun-daun di sekitarnya. “Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan. Kesombongan adalah jalan pintas menuju liang lahat.”
“Aku berhadapan dengan seorang sesepuh yang seharusnya bijaksana,” jawab Wang Long datar. Nada suaranya tidak mengejek, namun kejujuran di dalamnya terasa seperti tamparan bagi Tetua He.
“Sesepuh! Jangan beri dia kesempatan untuk bicara lagi!” teriak Luo Jian dengan wajah merah padam karena malu.
Tetua He mengangkat tangan, seketika membungkam putranya. Matanya menyipit. “Aku sudah lama tidak bertarung sungguhan menggunakan pusaka ini,” gumamnya.
Tiba-tiba, tangan sang sesepuh bergerak membentuk segel rahasia.
CLANG!
Dua bayangan hitam melesat keluar dari dalam paviliun utama. Sepasang pedang panjang berwarna hitam legam berputar di udara, membelah angin dengan suara mendesing yang mengerikan. Bilahnya tipis namun panjang, dengan gagang berbentuk kepala ular yang mata merahnya berkilau haus darah.
“Pedang Ular Hitam!” desis Sin Yin. Ia menahan napas. Legenda mengatakan pedang itu bisa bergerak sendiri mengikuti kehendak batin pemiliknya.
Dua pedang itu melayang mengitari tubuh Tetua He seperti dua ular berbisa yang siap mematuk. Namun, di dalam kotak hitam di punggung Wang Long, sesuatu mulai bergetar. Bukan karena gentar, melainkan karena rasa muak akan aura jahat pedang tersebut.
“Pergi!” perintah Tetua He.
Dua kilat hitam melesat ke arah leher Wang Long. Namun, pemandangan mustahil terjadi. Tepat sejengkal sebelum bilah itu menyentuh kulit Wang Long, pedang-pedang itu berhenti mendadak. Logamnya bergetar hebat, mengeluarkan suara berdenging nyaring seperti jeritan ketakutan. Mereka menolak untuk maju, seolah-olah ada dinding keagungan yang menghalangi jalan mereka.
Tetua He terbelalak. “Mustahil! Mengapa pusaka ini gemetar?”
Ledakan Tenaga Naga
Merasa dipermalukan oleh senjatanya sendiri, Tetua He meraung marah. Ia menancapkan sepasang pedang itu ke tanah hingga batu pualam retak seribu.
“Kalau pusaka tak mau tunduk, aku sendiri yang akan menjatuhkanmu!”
Ia melompat turun, tubuhnya meliuk di udara seperti ular raksasa. Tangannya membentuk cakar tajam yang diselimuti hawa hitam kehijauan. “Cakar Ular Hitam!”
Serangan itu datang bertubi-tubi. Cakar Tetua He menyambar dari berbagai sudut, mengincar titik kematian di dada dan leher. Wang Long hanya menggeser kakinya setengah langkah demi setengah langkah. Gerakannya sangat efisien, seolah ia sudah tahu ke mana arah serangan itu sebelum diluncurkan.
Boom!
Setiap kali terjadi benturan hawa murni, debu beterbangan dan lantai batu hancur. Wang Long akhirnya berhenti menghindar. Ia menarik napas dalam, dan untuk pertama kalinya, ia memanggil kekuatan yang terpendam di balik sumsum tulangnya.
“Naga Langit…” suaranya rendah, namun menggetarkan sukma setiap orang yang mendengar.
Udara di sekitar pelataran mendadak terasa hampa. Langit di atas Perguruan Sungai Ular seolah meredup sejenak.
“…Tingkat Pertama!”
Wang Long mendorong telapak tangannya ke depan. Sebuah gelombang energi berwarna keemasan samar meledak keluar. Tidak ada gerakan yang rumit, hanya sebuah dorongan murni yang membawa beban seluruh langit.
BOOOOOM!!!
Ledakan tenaga itu menciptakan gelombang kejut yang dahsyat. Murid-murid di pinggir halaman terlempar seperti daun kering. Pelataran batu hancur membentuk kawah dangkal.
Di tengah kepulan debu, tubuh Tetua He terdorong mundur dengan hebat. Jubah hijaunya terkoyak-koyak. Ia jatuh berlutut, darah hitam menetes dari bibirnya. Tenaga dalamnya yang dipupuk selama puluhan tahun terasa kacau balau hanya dalam satu benturan.
“Tenaga… apa ini?” rintih Tetua He dengan mata membelalak penuh kengerian. “Ini bukan tenaga dalam manusia… ini adalah… kehendak langit.”
Akhir dari Keangkuhan
Seluruh halaman menjadi sunyi. Wang Long berdiri di sana, napasnya tetap teratur, seolah-olah ia baru saja melakukan latihan pagi yang ringan. Aura keemasan itu perlahan memudar, kembali masuk ke dalam pori-porinya.
Tetua He mencoba bangkit, namun kakinya gemetar hebat. Ia menatap Wang Long, tidak lagi dengan amarah, melainkan dengan rasa hormat yang bercampur ketakutan mendalam.
“Pergilah…” suara sang sesepuh parau. “Sungai Ular tidak cukup berani untuk menjadi musuh dari pemilik kekuatan seperti itu.”
Wang Long tidak memberikan komentar apa pun. Ia tidak merasa bangga, juga tidak merasa puas. Baginya, ini hanyalah sebuah keharusan. Ia menoleh ke arah Sin Yin yang masih terpaku menatapnya.
“Ayo. Perjalanan kita masih jauh,” ucapnya pelan.
Sin Yin menyarungkan kembali pedang Bulan Senja dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia mengikuti langkah Wang Long keluar dari gerbang perguruan. Dalam diam, ia menyadari bahwa pria yang berjalan di sampingnya ini bukanlah sekadar pendekar pembawa pusaka.
Ia adalah badai yang sedang tenang.
Dan ketika saatnya tiba bagi naga itu untuk terbang sepenuhnya, dunia persilatan tidak akan pernah sama lagi.